Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 4 kampus

Qinvi melangkah masuk ke gerbang kampus dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Pagi itu udara Jakarta terasa lebih segar setelah hujan semalam, meski jalanan masih basah dan genangan air kecil berserakan di trotoar. Fakultas Seni Rupa di universitas negeri ini selalu punya energi sendiri. Mahasiswa berlalu-lalang membawa easel lipat besar, tas ransel penuh kotak cat dan kuas, atau gulungan kertas sketsa tebal di tangan. Ada yang mengobrol keras tentang tugas deadline, ada yang diam sambil mendengarkan musik lewat earphone, dan sesekali terdengar tawa dari kelompok yang sedang istirahat di bangku taman.

Bau khas kampus seni langsung menyambutnya: campuran cat minyak yang menyengat, terpentin yang tajam, solvent untuk membersihkan kuas, dan aroma kopi hitam murah dari kantin kecil di pojok halaman. Qinvi tersenyum kecil. Sudah tiga tahun ia di sini, tapi setiap pagi rasanya masih seperti hari pertama. Jurusan Seni Murni bukan pilihan mudah. Banyak teman SMA-nya memilih fakultas yang lebih "aman" seperti ekonomi atau teknik, tapi Qinvi tahu hatinya ada di sini, di antara warna dan garis yang bisa bercerita tanpa kata.

Ia langsung menuju gedung studio lantai dua, tempat kelas Teknik Lukis Dasar pagi ini diadakan. Tangga beton yang sudah usang dipenuhi coretan grafiti mahasiswa senior, beberapa berupa quote motivasi, yang lain sekadar doodle lucu. Ruangan studio besar, jendela-jendelanya lebar menghadap deretan pohon mangga dan akasia di halaman belakang kampus. Cahaya alami pagi membanjiri meja-meja kerja kayu yang sudah penuh noda cat lama, bekas goresan kuas, dan tetesan warna yang tak pernah benar-benar hilang meski sering dibersihkan.

Beberapa teman sudah datang lebih dulu. Ada yang sedang menata still life di tengah ruangan: vas kaca sederhana berisi bunga plastik, beberapa buah apel dan pisang asli yang mulai agak layu, serta kain draperi putih untuk latihan bayangan. Sofia sudah duduk di meja biasa mereka, di pojok dekat jendela. Gadis berkulit sawo matang dengan rambut pendek bergelombang itu mengenakan overall jeans lusuh penuh noda cat, seperti seragam tidak resmi anak seni.

"Pagi, Vi! Cepet banget datengnya hari ini," sapa Sofia sambil membuka kotak cat airnya yang sudah compang-camping. Ia tersenyum lebar, tapi Qinvi yang sudah kenal lama bisa lihat ada sedikit lelah di matanya.

"Pagi, Sof. Iya, tadi diantar Kak Dika, lancar nggak macet," jawab Qinvi sambil meletakkan tasnya di kursi sebelah. Ia mulai menata peralatannya: palet kayu kecil, kuas berbagai ukuran, botol air untuk bilas, dan kanvas kecil yang sudah diprime malam sebelumnya.

Sofia adalah teman terdekat Qinvi sejak orientasi mahasiswa baru. Mereka satu kelompok saat itu, dan langsung klik karena sama-sama suka seniman realistis seperti Basuki Abdullah atau Affandi. Sofia pintar, tekun sekali. Ia sering begadang latihan di studio sampai security kampus mengusir, membaca buku teori seni tebal-tebal, dan ikut setiap workshop ekstra yang ada. Kosannya penuh poster pameran internasional yang ia print sendiri. Tapi di balik semua usaha itu, Sofia kadang merasa iri dengan Qinvi.

Bukan iri yang jahat, tapi iri yang diam-diam menggerogoti. Qinvi punya bakat natural yang sulit dijelaskan. Garis-garisnya selalu mengalir alami, proporsinya hampir selalu pas tanpa banyak ukur, dan yang paling penting, karyanya punya "jiwa" yang sering dipuji dosen. Sofia harus berjuang mati-matian untuk hasil serupa: mengukur berkali-kali, menghapus berulang, mencampur warna sampai puluhan kali. Kadang ia bertanya dalam hati, kenapa Qinvi selalu mudah begitu?

"Lukisan keluargamu kemarin jadi nggak? Yang buat anniversary itu?" tanya Sofia lagi, suaranya santai tapi ada nada penasaran.

Qinvi tersenyum lebar.

"Jadi dong. Mereka suka banget. Malah langsung dipajang di ruang tamu, depan TV. Xiao Mei tiap lewat selalu nunjuk, 'Itu Mei tidur!'"

Sofia mengangguk, senyumnya agak tipis. "Wah, hebat ya. Aku kemarin coba gambar potret ibuku dari foto lama. Udah revisi berkali-kali, tapi kok matanya nggak hidup. Kayak boneka gitu. Padahal teknik shading-nya udah aku pelajari dari buku baru."

Qinvi melirik kanvas Sofia yang masih kosong. "Mau aku liat? Mungkin aku bisa kasih masukan kecil."

Sofia ragu sebentar, lalu menggeleng sambil tertawa.

"Ah nanti aja. Takut malah tambah down kalau kamu langsung bilang bagus."

Mereka tertawa bersama, tapi Qinvi tahu ada sesuatu di balik tawa itu.

Tak lama, dosen masuk. Pak Haris, pria paruh baya dengan jenggot tipis rapi dan kacamata bulat tebal, selalu datang tepat waktu. Beliau mengenakan kemeja batik lengan digulung, tangannya penuh map berisi contoh lukisan master dunia. Pak Haris dikenal tegas, tapi juga sangat peduli. Masukannya sering tajam, tapi justru itu yang membuat mahasiswa berkembang pesat.

"Pagi semuanya. Hari ini kita lanjut tugas still life dengan tema benda sehari-hari dari rumah masing-masing. Kalian sudah bawa objeknya kan? Fokus utama pada interaksi cahaya dan bayangan, serta tekstur. Saya akan keliling beri masukan satu per satu," katanya sambil berjalan di antara baris meja.

Kelas berlangsung tiga jam penuh, intens seperti biasa. Qinvi memilih menggambar vas bunga kaca milik ibunya yang ia foto diam-diam, ditambah apel merah dan pisang yang ia bawa dari rumah. Kuasnya bergerak lincah, menangkap pantulan cahaya pagi di permukaan kaca, bayangan lembut di bawah buah, dan tekstur kulit apel yang sedikit berkerut. Ia tambahkan sedikit sentuhan pribadi: bayangan kain meja yang mirip kain sarung ayahnya.

Sofia di sebelahnya mengerjakan komposisi serupa, tapi sering menghentikan kuasnya. Ia menghapus bagian bayangan dengan roti tawar, mengulang lagi, alisnya berkerut dalam konsentrasi tinggi. Sesekali ia melirik karya Qinvi, lalu kembali ke kanvasnya sendiri dengan napas sedikit berat.

Pak Haris mulai keliling. Ia berhenti di beberapa meja, memberi komentar singkat tapi tepat. Saat tiba di depan kanvas Qinvi, beliau diam lama. Matanya menyipit memandang detail demi detail, tangan terlipat di dada seperti sedang menilai karya di galeri sungguhan.

"Qinvi, ini sangat menarik," katanya akhirnya, suaranya tenang tapi penuh keyakinan. "Komposisinya sederhana, tapi ada narasi yang kuat. Cahaya pagi yang kamu tangkap di sini membawa emosi kehangatan rumah tangga. Tekstur kaca dan buahnya hidup, bayangannya lembut tapi tegas. Kamu punya mata yang sangat sensitif terhadap kehidupan sehari-hari, bukan sekadar objek mati."

Qinvi tersipu, pipinya memanas. "Terima kasih banyak, Pak. Saya coba terapkan dari lukisan keluarga yang saya buat untuk orang tua kemarin."

Pak Haris mengangguk pelan.

"Itu terlihat. Saya sudah lihat potensi besar pada kamu sejak semester lalu. Bakat natural memang ada, tapi yang lebih langka adalah kejujuran emosi dalam karya. Jangan sia-siakan. Banyak seniman hebat teknisnya, tapi karyanya dingin. Kamu beda. Nanti setelah kelas, mampir ke ruang saya ya. Saya mau bicara serius tentang pameran mahasiswa akhir semester ini."

Sofia mendengar semuanya. Ia tetap fokus ke kanvasnya, tapi tangannya sedikit gemetar saat mencampur warna. Saat Pak Haris pindah ke mejanya, pujian yang diterima lebih standar: "Bagus usahanya, Sofia. Bayangannya sudah lebih baik, tapi coba longgarkan tanganmu. Jangan terlalu kaku."

Setelah kelas usai, mahasiswa mulai membereskan peralatan. Qinvi singgah ke ruang dosen di lantai tiga. Ruangan Pak Haris kecil tapi penuh: rak buku seni dari lantai sampai plafon, foto-foto pameran lama, dan beberapa lukisan mahasiswa terbaik tergantung di dinding.

Pak Haris menyambutnya hangat, menawarkan kursi di depan meja. "Duduk, Qinvi. Saya serius tadi. Kamu punya sesuatu yang langka di angkatan ini. Saya rekomendasikan kamu jadi salah satu highlight di pameran akhir semester. Tema bebas, tapi saya yakin kamu bisa bawa karya yang tidak hanya bagus secara teknis, tapi juga menyentuh hati pengunjung. Mungkin seri tentang kehidupan keluarga atau rutinitas sehari-hari yang kamu kuasai itu."

Qinvi terkejut sekaligus bahagia luar biasa. "Serius Pak? Saya... terima kasih banyak. Saya akan usahakan yang terbaik. Ini kesempatan besar buat saya."

Pulang kampus sore itu, Qinvi naik angkot sendirian seperti biasa. Jendela terbuka, angin sore menerpa wajahnya. Pikirannya penuh ide lukisan baru untuk pameran. Ia tahu Sofia mungkin sedang kesal atau sedih diam-diam, tapi ia berharap persahabatan mereka tetap kuat seperti dulu. Mungkin nanti ia ajak Sofia diskusi bareng, saling bantu.

Dunia kampus ini penuh warna, penuh persaingan halus, penuh harapan dan keraguan. Tapi hari ini, langkah Qinvi terasa semakin mantap menuju mimpi yang selama ini hanya ia simpan dalam hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel