BAB 9
Dira berlari kecil menghampiri Vio yang tengah merengut menatapi kardus di dekat kakinya.
"Vio"
Panggilnya setelah tiba di depan sahabatnya tersebut. Vio mendongak dan langsung tersenyum lebar melihat Dira berdiri di depannya.
"Pagi, Ra." Sapa Vio ceria seperti biasanya. Melihat senyum ceria sahabatnya, Dira ikut tersenyum lebar. "Pagi juga, Vi."
"Itu apa Vi?" Tanya Dira sambil menatap kardus yang berukuran sedang di depan kaki Vio.
"Oh ini itu isinya makanan yang bakal kita jual di bazar nanti." Vio membungkuk dan mengambil kardus tersebut susah payah. Tak tega melihat sahabatnya kesulitan, Dira lantas membantu Vio untuk mengangkat kardus itu.
"Terima kasih, Ra."
Dira mengangguk kemudian mulai melangkah memasuki sekolah dengan membawa kardus tersebut bersama Vio ke stand yang telah disediakan.
"Kenapa kamu yang bawa makanan ini, Vi? Bukannya yang bertugas ambil makanan itu Bimo sama Putra ya?" Tanya Dira setelah mereka sampai di stand tempat mereka akan berjualan nanti.
Vio menghela napas lelah. Memilih duduk di salah satu kursi yang ada di depan meja stand.
"Kayak kamu tidak tahu mereka aja. Kemarin sih bilangnya iya-iya tapi buktinya apa? Nggak ada. Bahkan aku udah chat mereka dan mereka bilang nggak bisa karena ada yang mau ngantar adiknya lah, terus mau inilah, itulah. Pokoknya alasannya macam-macam deh, sampai aku pusing sendiri." Sunggut Vio kesal pada kelakuan teman sekelasnya.
Dira tertawa geli mendengar Vio yang mulai mengomel akan kelakuan teman-temannya.
"Oh iya Ra, kemarin kamu kenapa tidak masuk sekolah? Kudengar dari Pak Samsul kamu izin karena ada acara keluarga, emang iya?" Pertanyaan Vio membuat Dira secara spontan menghentikan gerakan tangannya yang ingin mengeluarkan makanan dari dalam kardus.
"Iya, ada acara di rumah kemarin." Balas Dira pelan.
"Acara apaan? Kata Dila kemarin, memang ada banyak orang berkumpul di depan rumahmu ketika dia berangkat sekolah."
Glek
Dira menelan ludah gugup. Harus jawab apa dirinya.
"Cu-cuma acara kumpul keluarga biasa kok."
Vio mengernyit. "Tumben banget kamu ikut acara kumpul keluarga di waktu sekolah begini? Biasanya juga kamu lebih milih sekolah dulu." Ujarnya sembari mulai membantu Dira mengeluarkan makanan dari dalam kardus dan menyusunnya di atas meja.
Dira menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Iya, Ibu memaksaku untuk ikut kemarin."
Vio menganguk-angguk mengerti. "Oh iya, kamu berangkat sama siapa tadi, Ra? Kok aku nggak pernah lihat dia?"
"Dia temennya Kak Divo. Kebetulan tadi Kak Divo pinjam motorku dan tidak bisa mengantarku ke sekolah karena buru-buru, jadi terpaksa diantar sama Kak Vino."
"Cuma temen Kak Divo? Bukan yang lain-lain kan?"
"Maksudmu, Vi?" Dira menatap Vio tak mengerti.
Vio menghentikan acara memindahkan barang ke meja. Kemudian memfokuskan diri sepenuhnya pada Dira yang tengah mengernyit bingung.
"Dia cuma temen Kak Divo dan bukan suamimu kan?"
Deg
Dira membulatkan matanya tanpa sadar. Darimana Vio tahu jika dia sudah menikah? Bukannya pernikahannya kemarin itu tertutup ya? Apa mungkin Vio asal menebak? Tapi kenapa ia bertanya seolah-olah dia sudah tahu segalanya.
"Melihat reaksimu, sepertinya memang benar jika ada hubungan khusus di antara kalian." Vio tersenyum culas, ciri khas dirinya saat ia tengah menang telak akan sesuatu. Dan Dira tidak suka jika Vio mulai tersenyum seperti itu.
"Jadi Ra, sebenarnya ada hubungan apa di antara kamu dengan teman dari Kak Divo itu?" Tanya Vio masih dengan senyum yang sama di bibirnya.
Dira menghela napas pasrah. Sepertinya ia tidak bisa membohongi Vio atau lebih tepatnya, ia tidak pernah bisa membohongi Vio. Entah bagaimana, anak itu seperti memiliki insting tajam jika Dira sedang berbohong.
"Iya, dia bukan sekedar teman Kak Divo, tapi dia juga suamiku. Kemarin juga bukan acara keluarga tetapi acara pernikahanku." Aku Dira sambil merengut kesal. Kesal karena Vio tahu rahasianya. Bahkan ini baru satu hari setelah acara pernikahannya dan sudah ada satu orang yang mengetahuinya.
Vio tertawa senang mendengar pengakuan Dira. Dugaannya memang tidak salah. Setelah kemarin secara tak sengaja dirinya melihat postingan Adelia-sepupu Dira di akun media sosialnya yang berisi foto Adel bersama Dira dengan caption mencurigakan, Vio mulai menebak-nebak. Beruntung pula ia yang tak sengaja melihat adegan di dalam mobil antara Dira dengan seseorang yang bernama Vino tadi. Ditambah pula bukti yang cukup jelas, yakni sebuah cincin yang melingkar di jari manis Dira.
"Dira, Vio, Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa serius sekali?" Dila datang dari arah ruang guru sambil membawa selembar kertas di tangannya.
Fyi, Dila adalah salah satu anggota OSIS yang memiliki kedudukan sebagai sekertaris. Sahabat Dira yang sedikit gembul itu adalah anak aktif organisasi kesayangan guru-guru di sekolah. Maka dari itu, bukan rahasia umum lagi kalau Dila banyak digemari siswa laki-laki di sekolah ini.
“La, apa yang kita omongin tadi malam itu bener!” Vio berujar heboh di sebelah Dira.
“HAH?! YANG BENER?” Teriak Dila tak kalah heboh yang seketika memancing beberapa pasang mata untuk sekadar menoleh ke arah tiga sahabat itu.
Seketika Dira memutar bola matanya malas. “Heboh banget sih kalian!”
“Jelas hebohlah! Kamu kan udah nikah sekarang, Ra.”
Dira membulatkan matanya mendengar Dila yang dengan santainya berkata nikah menggunakan suaranya yang nyaring itu. “Sstt.. Pelan dikit kan bisa, La!”
Dira memandang kesal dua sahabatnya yang tengah sibuk tertawa. Jika tahu begini, lebih baik ia berbohong saja tadi.
“Aw! Dira, kesal Vi..”
Dila lagi-lagi tertawa. Membuat Vio terpancing untuk ikut menggoda Dira.
“Duh.. Dira sekali nggak jomblo statusnya langsung jadi istri orang, La.”
“Jiwa jombloku jadi meronta-ronta deh, Vi. Aww, Bang Divo.. Nikahin Dila juga dong.”
Rasanya Dira ingin menenggelamkan dirinya saja saat ini. Salah apa ia dulu sampai punya sahabat semacam mereka. Ingin rasanya Dira menjual mereka di pasar loak. Siapa tahu laku. Dibeli om-om dan akhirnya mereka jadi sugar baby om-om kaya.
***
Saat ini, SMA Garuda sedang merayakan ulang tahun yang ke-10 tahun. Segala persiapan telah dilakukan selama beberapa hari sebelumnya. Bahkan setiap sudut dari sekolah ini telah dihias seindah mungkin untuk mempercantik keadaan sekolah demi kemeriahan acara ulang tahun tersebut.
Pada tahun ini, perayaan diadakan besar-besaran. Kenapa? Karena dikabarkan jika pemilik sekolah berencana untuk datang dan ikut merayakan ulang tahun SMA Garuda. Tentu saja hal itu mengundang kehebohan seluruh penghuni sekolah. Mulai dari siswa, staff dan para guru sekalipun.
Saat ini waktu telah menunjukkan pukul sembilan. Sudah waktunya acara untuk dimulai. Bersamaan itu pula, terdengar pekikan para siswi dari area parkiran sekolah khusus guru yang letaknya berada lumayan jauh dari stand kelas Dira. Dira yang penasaran langsung saja berdiri dan mengedarkan pandangannya ke sekumpulan siswi yang tiba-tiba bergerombol disana.
"Ada apa?" Vio yang sedari tadi duduk diam di samping Dira ikut berdiri.
Dira tak menyahut dan hanya menggelengkan kepalanya sebagai balasan untuk pertanyaan Vio. Ia memfokuskan pandangannya pada gerombolan siswi itu karena ikut penasaran dengan apa yang terjadi disana. Pekikan mereka yang tidak bisa dibilang pelan malah semakin membuat semua siswa-siswi penasaran.
Hingga tak berselang lama, muncul dua pria tampan dari kerumunan tersebut.
Dira terpaku sesaat. Ia tidak salah lihat kan? Dua pria tampan bak dewa yunani yang dapat menyihir para gadis untuk jatuh terpesona dalam waktu sedetik itu adalah seseorang yang ia kenal.
Ya, siapa lagi jika bukan Dion dan Vino, sang suami. Tapi tunggu, untuk apa mereka datang kesini? Ada urusan kah? Atau karena ingin menemuinya?
Tsk! Untuk alasan yang terakhir itu tidak mungkin. Untuk apa juga Dion dan Vino kemari untuk menemuinya? Seperti tidak ada kerjaan lain saja.
Berbagai spekulasi yang muncul di kepala Dira seketika terhenti saat melihat kedatangan Pak Kepala Sekolah dan beberapa guru yang langsung menyambut secara hormat dua pria tersebut. Tapi benarkah itu? Ia masih tak percaya jika belum melihat buktinya secara langsung. Bukti jika sang suami dan sepupunya adalah pemilik sekolah ini.
"Ra, bukannya itu suamimu ya?" Suara Vio yang berbisik di sebelahnya memecahkan pemikiran Dira dari pemandangan di depan sana.
Dira menoleh dan mengangguk pelan pada Vio yang kini ikut menatapnya. Vio terdiam dan kembali mengalihkan pandangannya pada Vino dan Dion yang sedang berjalan menuju tenda dimana telah disediakan ratusan kursi untuk para siswa dan tamu yang akan datang.
"Tak kusangka suamimu seorang konglomerat, Ra." Celetuk Vio tiba-tiba.
"Tau darimana kamu, Vi?" Tanya Dira bingung.
"Suamimu Alvino Direga Geptrion kan?” Dira reflek mengangguk.
“Siapa yang tidak kenal keluarga Direga sang pemilik sekolah ini?"
Dira mengerjap pelan. “Aku tidak kenal mereka, Vi.” Balasnya sambil menatap polos pada sahabatnya itu.
Vio menghela napas pelan. Tak terlalu kaget dengan ketidaktahuan Dira. “Mira Heldiana Putri Direga, anak dari Alfa Reano Direga. Pemilik yayasan pendidikan terbesar di negara kita. Suaminya, Gerdi Anjaya Putra Geptrion pemilik perusahaan otomotif dan properti yang sudah memiliki cabang dan anak perusahaan dimana-mana. Alvino Direga Geptrion, putra tunggal mereka yang saat ini telah memimpin sebuah perusahaan dagang yang ia dirikan sendiri sejak duduk di bangku kuliah.”
Dira sukses terbengong mendengar penjelasan Vio barusan. Sekaya apa pria yang dinikahinya itu? Ia jadi melirik saku bajunya dimana lembaran uang merah masih terlipat rapi disana. Ah, pantas saja uang segitu tidak ada apa-apanya bagi Vino. Jelas saja karena uang bukan perkara sulit untuk mereka dapatkan.
“Dan jika aku tak salah ingat, suamimu telah mewarisi salah satu perusahaan Ayahnya karena Ayahnya lelah bekerja untuk dua perusahaan sekaligus.”
W-O-W !
Hanya itu yang terlintas di pikiran Dira sekarang. Seketika ia merasa insecure mengetahui latar belakang Vino. Vino terlalu tinggi untuk Dira. Perbedaan kasta mereka bagaikan tanah dengan langit. Jauh sekali.
Dira jadi rendah diri sekarang.
“Kamu tahu hal begini darimana, Vi?”
“Aku pernah membaca biografi keluarga Direga dari majalah sekolah. Disana membahas beberapa aset keluarga Direga termasuk suaminya dan dengan suamimu juga tentu saja.”
Oke, kepala Dira jadi pusing tiba-tiba. Kebenaran ini membawa dampak besar bagi Dira untuk memandang Vino. Ia tidak bisa melepaskan rasa segannya jika begini. Vino adalah tuan muda. Sementara dirinya hanyalah anak muda SMA yang belum bisa melakukan apa-apa.
Dira lantas menatap Vino yang duduk menghadap panggung. Jarak antara mereka tidak begitu jauh. Dan entah kebetulan atau apa, Vino mengalihkan pandangannya ke arah Dira hingga dua netra mereka saling bertubrukan.
Dira terdiam. Tak berusaha untuk memutuskan kontak mata diantara mereka. Malah, ia merasa terhanyut oleh tatapan tajam bak elang yang seperti menghipnotisnya untuk tak berpaling. Apalagi setelah melihat senyum tipis yang ditujukan padanya.
Ohh... tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak karuan.
Dira jadi melupakan keseganannya tadi dan jatuh tenggelam dalam pesona Vino yang tak bisa diabaikan. Sepertinya Dira telah resmi terjatuh.
Dira bisa melihat jika senyum Vino semakin melebar. Kemudian, secara tiba-tiba Vino membuka mulutnya dan mengucapkan sesuatu.
Deg
Dira terpaku dengan mata melebar setelah menafsirkan apa yang dikatakan oleh Vino. Apakah matanya tidak salah lihat? Tapi ia merasa melihatnya dengan jelas. Tapi benarkah itu? Ia tergugu sendiri hingga pada akhirnya ia memilih menatap Vino dengan penuh tanda tanya.
Disana terlihat Vino yang tengah terkekeh tanpa suara melihat wajah bingung Dira. Tak lama, ia mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu. Hal itu tak luput dari perhatian Dira sampai ia mendengar ponselnya berbunyi.
Dira mengambil ponselnya di saku dan membukanya. Ternyata sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Dibukanya pesan itu dan segera saja pandangannya langsung kembali tertuju pada Vino setelah membaca pesan tersebut.
From : +628xxxxxxxxxx
Tak perlu bingung begitu. Saat ini apa yang kamu pikirkan, anggap saja itulah apa yang Kakak sampaikan tadi.
Dira menatap Vino tak yakin. Jika menuruti permintaan Vino sesuai pesan yang baru saja ia baca, itu berarti ia diminta untuk menganggap apa yang ditangkap oleh penglihatannya dan dicerna oleh otaknya adalah apa yang dikatakan oleh Vino. Tetapi, apa yang dipikirkannya saat ini begitu tidak masuk akal. Tapi benarkah itu?
Dira terus berpikir keras hingga mengabaikan suasana disekitarnya yang mulai riuh karena kemunculan Vino diatas panggung untuk memberikan kata sambutan yang menarik minat seluruh siswa. Bahkan beberapa guru ada yang kedapatan mengabadikan sang putera tunggal pemilik sekolah yang memiliki tampang yang sangat rupawan. Sesekali juga terdengar pekikan-pekikan dari beberapa siswi yang terpesona dengan ketampanan Vino.
Dira mengabaikan hal tersebut dan masih berpikir dengan serius hingga pada akhirnya ia memilih menyerah karena tidak menemukan jawaban apapun dari otaknya sebab di kepalanya masih terngiang-ngiang akan ucapan Vino tadi.
Dira menghela napas. Kemudian memutuskan untuk duduk dan menatap pada panggung dalam diam meski di kepalanya masih penuh dengan tanda tanya besar.
