Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 10

Alvino Direga Geptrion.

Seorang pria muda berusia dua puluh empat tahun. Anak tunggal dari seorang pengusaha terkenal dan cukup berpengaruh di negaranya. Merupakan seorang Direktur Utama dari perusahaan dagang miliknya serta ikut menghandle milik sang ayah yang bergerak dalam bidang otomotif.

Tampan dan mapan adalah satu kesatuan yang melekat pada diri seorang Vino. Ditambah dengan sikapnya yang terkesan cuek dan dingin serta aura dominan yang begitu menguar darinya membuat Vino begitu digilai oleh perempuan mana saja yang melihatnya. Namun dari semua perempuan yang pernah ia jumpai, tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Sebab, seluruh atensinya telah terpaku hanya pada seorang remaja cantik yang kini sedang duduk di bangku kelas sebelas sekolah menengah atas.

Dira namanya. Seorang yang berperawakan cantik dan manis yang berhasil menjatuhkan seorang Vino hanya dalam sekali tatap.

Jika diingat kembali, Vino telah tertarik pada remaja cantik itu sejak Dira masih berumur sembilan tahun. Umur yang masih terlalu dini untuk diajak berkomitmen. Vino sadar akan hal itu. Maka yang dilakukannya adalah menunggu agar remaja itu tumbuh dewasa dan memilih mengamati dari jauh bagaimana pertumbuhan remaja cantik kesayangannya dari waktu ke waktu. Sampai akhirnya ia mendengar bahwa sang ayah akan menjodohkan dirinya dengan salah satu anak dari Wira, ayah dari Dira.

Vino jelas tak menolak. Tetapi ia mengajukan syarat jika ia akan menerima perjodohan itu jika Dira yang menjadi calon istrinya. Beruntungnya sang ayah menerima keputusannya tanpa berpikir panjang. Ayahnya memang tak mempermasalahkan hal itu. Sebab, ayah dan ibunya sudah lama ingin mempererat hubungan mereka dengan keluarga Dira sejak lama.

Vino tak menyangka jika jalannya untuk mendapatkan Dira begitu mudah. Walaupun ia harus menunggu kurang lebih tujuh tahun untuk benar-benar mendapatkan Dira dan mengikatnya dengan sebuah status pernikahan, itu tak menjadi masalah untuknya. Toh, pada akhirnya remaja kesayangannya itu telah resmi menjadi miliknya.

Vino benar-benar merasa gila sekarang. Tak pernah dirinya begitu tergila-gila pada orang lain hingga seperti ini. Pengaruh Dira begitu besar untuknya. Sampai-sampai ia merasa tingkahnya berubah seperti seorang yang tengah dilanda kasmaran. Seperti sekarang. Dimana ia tengah memberi kata sambutan, namun perhatiannya hanya tertuju pada remaja kesayangannya itu.

Vino tersenyum dalam hati ketika mendapati Dira yang terlihat berpikir keras setelah tanpa sengaja ia mengucapkan sesuatu yang membuat remaja itu terkejut. Jelas saja, terkejut. Bagaimana tidak? Jika kalian berada di posisi istrinya, yang notabenya baru saja menikah kemarin dan baru saling mengenal beberapa hari, tiba-tiba dirinya mengatakan sesuatu yang menyangkut perasaannya pada remaja itu. Namun sebenarnya, Vino tidak tahu apakah Dira mengerti akan apa yang diucapkannya tadi. Tapi melihat dari reaksi Dira, sepertinya remaja itu mengerti.

"Sekian dari saya, kurang dan lebihnya saya mohon maaf."

Vino menutup sambutannya dan segera turun dari panggung untuk kembali duduk di sofa tepat di sebelah Dion yang tengah tebar pesona pada beberapa siswi yang ada di samping panggung.

Vino menyikut lengan Dion saat saudara tak tahu dirinya itu tidak berhenti menebar senyum pada beberapa gadis yang terlihat salah tingkah atau bahkan salah satu guru yang juga terlihat tak berkedip saat menatap Dion.

"Kalau iri bilang, Bang. Dion tahu, Dion lebih tampan daripada Abang. Makanya gadis-gadis disini lebih tertarik sama Dion yang murah senyum ini. Bukannya Abang yang punya muka datar begitu." Dion berseru di samping Vino yang langsung ditanggapi sebuah lirikan tajam yang selalu sukses membuat nyali Dion menciut seketika.

"Benarkah seperti itu?" Tanya Vino kalem.

Dion mengangguk ragu. "Memang seperti itu kan?"

Vino diam. Kemudian ia menatap kumpulan para siswi di samping panggung. Lalu, sebuah ide tiba-tiba melintas dipikirannya. Vino lantas memberikan seulas senyum tipis dibibirnya untuk para siswa dan siswi tersebut. Tak lama, terdengar teriakan-teriakan menggila dari sana. Bahkan teriakan tersebut, menjadi pusat perhatian seluruh orang.

Vino menatap Dion dengan smirk tipis penuh dengan kemenangan yang tercetak jelas di bibirnya.

"See?"

Dion merengut seketika. Pamornya sudah nyata kalah telak jika harus melawan Vino. Abang sepupunya itu jika sudah tersenyum, pesonanya bahkan mengalahkan siapapun yang ada disekitarnya.

Vino melirik datar Dion yang terdengar mendumel. Ia kemudian memilih mengabaikan Dion dan mengambil ponsel untuk mengecek email masuk yang dikirimkan oleh sekertarisnya.

"Maaf, Pak. Seperti yang Bapak bilang tadi, Bapak ingin melihat-lihat sekolah ini kan? Jika begitu mari saya antar untuk berkeliling." Hendri, Kepala Sekolah SMA Garuda berdiri dihadapan kedua pria tampan yang seketika mendongak ketika mendengar suara pria paruh baya tersebut.

Vino mengangguk dan segera berdiri dari duduknya diikuti oleh Dion yang ternyata juga ikut berdiri. Hendri mulai menunjukkan jalan, dan ternyata beliau mengarah pada bagian stand-stand bazar milik siswa-siswi disana. Hal itu sukses menarik perhatian seluruh anak murid SMA Garuda Jaya.

Beberapa siswa yang melihat Vino dan Dion melintas di depan stand mereka, berusaha menarik minat kedua pria tampan tersebut dengan menawarkan barang-barang yang mereka jual. Sesekali Hendri menanggapi mereka dengan berhenti dan melihat-lihat barang dagangan mereka. Meskipun begitu, Vino nampak tak tertarik. Berbanding terbalik dengan Dion yang terlihat begitu bersemangat.

"Jangan begitu lah, Ra.."

Sayup-sayup Vino mendengar seseorang berbicara di tengah keramaian di sekitarnya. Vino mencari asal suara tersebut. Mengabaikan Hendri yang mengajaknya berbicara. Matanya memicing tajam begitu ia mendapati pemandangan yang merusak pengelihatannya.

Yah. Pemandangan dimana istrinya sedang bersama seorang laki-laki yang menurut Vino sepantaran dengan remaja kesayangannya itu.

"Ayolah Dira sayang.. Kita fotbar berdua untuk kenang-kenangan."

Telinga Vino tiba-tiba memanas mendengar laki-laki itu memanggil Dira dengan kata sayang. Dan apa katanya tadi, fotbar berdua?

Ck! Vino tak bisa menahan diri lagi. Ia langsung mendekat ke arah mereka, meninggalkan Dion dan Hendri begitu saja. Jarak antara dirinya dengan laki-laki itu tak begitu jauh. Maka dari itu, dengan beberapa langkah saja, ia telah tiba tepat di depan Dira.

Semua orang yang ada di sekitaran stand Dira mendadak diam melihat kedatangan pria tampan berwajah tanpa ekspresi yang menjadi pemilik sekolahan. Termasuk Dira yang berdiri kaku di depan meja bazar.

"Dira."

Suara Vino yang memanggil Dira disambut tatapan terkejut dari semua orang termasuk laki-laki yang mendekati istrinya itu. Mungkin di benak mereka, bagaimana bisa anak pemilik sekolah bisa mengenal Dira.

Suasana menjadi canggung setelah Vino memanggil nama Dira. Sampai dengan kedatangan Dion bersama Hendri sedikit merubah suasana.

"Oh iya Pak Vino, Pak Dion, Ini Indira. Dia salah satu siswa berprestasi di sekolah ini." Hendri mengenalkan Dira pada Vino dan Dion.

Vino mengangkat sebelah alisnya. "Kebetulan sekali, Pak. Saya sudah mengenalnya."

Hendri nampak terkejut. "Bagaimana anda bisa mengenal Dira?"

Vino tak langsung menjawab. Ia menatap Dira dan memberikan tatapan penuh arti pada remaja itu.

Dira yang ditatap seperti itu oleh Vino hanya berkedip polos. Sebab ia tak tahu arti dari tatapan Vino yang dilayangkan untuknya.

Vino menahan gemas melihat wajah cantik Dira yang berkedip-kedip lucu. Ingin rasanya ia mencium kedua kelopak mata berbulu mata lentik yang sering berkedip polos itu.

"Dira ini adik dari sahabat saya." Ujar Vino untuk membalas pertanyaan Hendri.

"Tetapi dia juga-" Vino sengaja memotong ucapannya untuk melihat reaksi Dira yang seketika membuat Vino tertawa geli dalam hati. Saat ini, Dira tengah memberi tatapan yang bagi Vino seperti mengisyaratkan, 'jangan katakan jika aku adalah istrimu, Kak.' plus dengan tatapan memohonnya.

"-sudah saya anggap seperti adik sendiri." Lanjut Vino yang membuat Dira langsung menghela napas lega.

"woahh.."

Suara-suara tersebut berasal dari siswi di sekitaran Dira yang menatapnya kagum. Siapa yang tidak kagum bisa dianggap adik oleh pria setampan Vino. Pria dengan berjuta pesona yang bisa membuat wanita dengan mudah terpesona.

"Wah.. saya tak menyangka jika Pak Vino sudah mengenal Dira. Apalagi Pak Vino sudah menganggap Dira sebagai adik." Hendri berucap kagum sambil menatap Vino dan Dira bergantian.

Vino tersenyum tipis. Kemudian melirik tajam laki-laki yang tadi mendekati istrinya itu melalui ekor mata. Bisa ia lihat jika laki-laki itu juga tengah menatapnya.

Kemudian tak lama setelah itu, laki-laki itu beranjak pergi. Vino mendengus dalam hati melihatnya.

“Terlalu mudah untuk disingkirkan.” Batin Vino dengan seringai tipis di sudut bibirnya.

***

Dira menatap punggung Vino yang baru saja meninggalkan standnya. Ia tak menyangka jika Vino akan mengerjainya seperti tadi. Jantungnya sudah ketar-ketir jika Vino benar-benar ingin membongkar hubungan mereka. Dira belum siap akan hal itu.

"Ra, suamimu tampan sekali."

Vio tiba-tiba telah berdiri di samping Dira dan berbisik pelan di telinga Dira yang seketika saja membuat remaja itu terkejut bukan main.

"Ya Tuhan, Vi! Kamu bikin kaget aja tau nggak!" Dira memegangi dadanya yang berdetak cepat. Efek terkejut barusan.

Vio dengan polosnya tersenyum tanpa dosa pada Dira yang hanya bisa menahan kesal pada sahabatnya tersebut.

"Maaf deh, maaf. Tapi beneran deh, Ra. Suamimu itu tampan sekali." Vio berucap semangat yang membuat Dira menghela napas bosan.

"Terus kalau dia tampan kenapa?" Tanya Dira tak minat.

"Ya nggak papa sih. Aku juga jadinya pengen punya suami yang tampan juga kayak suamimu."

"Ambil gih, kalau kamu mau." Balas Dira asal.

"Idih, apaan. Gini-gini, aku nggak doyan makan temen, Ra." sentak Vio cepat yang dibalas tatapan tak percaya dari Dira.

"Bener nggak doyan makan teman?" Dira bertanya sembari mengerling menggoda.

"Bener lah. Aku doyannya nusuk dari belakang." Balas Vio sambil tertawa. Tawa yang terdengar nyaring karena suara cemprengnya.

Dira yang mendengar ucapan Vio hanya bisa menggelengkan kepalanya maklum. Candaan yang sudah sering kali di dengar Dira terlontar dari seorang Vio.

"Dira."

Panggilan tersebut segera saja mengalihkan perhatian Dira dan Vio. Dira tersenyum melihat Dion yang sudah berdiri di depan stand bazarnya dengan senyum maut yang menambah pesona pria berambut cokelat tersebut. Sepertinya pria itu kembali lagi ke bazar Dira setelah sebelumnya ikut pada gerombolan Vino yang sudah pergi.

"Kenapa, Kak?"

Dira melangkah mendekati meja bazar dan mengikuti arah pandang Dion yang sedang menatapi satu persatu makanan yang tersedia di atas meja bazar.

“Mau beli dong, Ra.”

“Beli apa, Kak?”

“Beli hatimu boleh?”

Dira mengerjap polos. “Hati Dira nggak dijual, Kak.”

"Ya ampun Ra, kamu kenapa lucu banget sih!”

Dion mencubit pipi Dira gemas. Sementara Dira hanya bisa menahan tangan Dion dan berusaha untuk melepaskan tangan Dion dari pipinya.

"Ekhem"

Vio berdehem ketika dirinya merasa seperti diabaikan oleh mereka berdua. Dion menoleh, kemudian tersenyum lembut pada Vio yang hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Adek cantik siapa namanya?"

Dion mendekat ke arah Vio dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan. “Nama Kakak Dion.”

Vio mengerutkan dahinya bingung. Namun tak ayal ia membalas uluran tangan tersebut.

"Vio.” Balas Vio singkat dan segera melepaskan jabatan tangannya dengan Dion.

Dion yang mendengarnya tersenyum manis. "Nama yang cantik, secantik orangnya."

Bukannya terkesan, Vio malah mengerutkan dahinya makin dalam. Merasa aneh dengan orang bernama Dion itu. Sementara Dira yang menjadi penonton hanya berkedip polos ketika Dion mengeluarkan gombalannya untuk Vio.

Dira merasa jika ia pernah mendengar Dion mengucapkan hal yang sama padanya. Namun setelahnya, Dira memilih mengabaikan kedua orang itu dan menatap pada sekelilingnya. Hingga matanya tertuju pada satu titik dimana sang suami sedang berbincang dengan Kepala Sekolah dan ditemani beberapa guru di sebelahnya.

Melihat Vino, Dira kembali terusik dengan perkataan Vino tadi. Apakah benar jika Vino mengatakan hal yang serupa dengan apa yang kini tengah  dipikirkannya. Jika memang benar, Dira akan menjadi lebih bingung lagi. Bagaimana bisa Vino mengatakan hal tersebut jika mereka saja baru bertemu beberapa hari yang lalu. Mungkinkah jika sang suami hanya sebatas bercanda saja padanya? Tetapi jika hanya bercanda kenapa Vino harus mengucapkan kata itu? Bukankah dia hanya akan membuat sebuah harapan untuk Dira?

Ingin tahukah kalian apa yang ditangkap oleh Dira mengenai ucapan tanpa suara yang dilayangkan untuk Dira hingga membuatnya menjadi seperti ini? Mungkin diantara kalian ada yang bisa menebak.

Yah, Dira menangkap jika Vino mengatakan kalimat sakral yang mengandung tiga kata, delapan huruf, satu arti. Dira yakin sekali jika kalian telah mengerti.

Maka dari itu, Dira bingung luar biasa. Bingung yang dialami Dira ini lebih menjurus pada pertanyaan “bagaimana bisa?”

Dira akui ia tidak tahu bagaimana perasaannya untuk Vino. Ia masih awam dengan hal seperti ini. Tak ada pengalaman dan pengetahuan akan suatu perasaan mendasar dari manusia ini. Dira masih pemula. Masih perlu belajar banyak.

Tapi ia tidak ingin munafik dengan pesona Vino yang terkadang membuatnya terpesona. Dira masih manusia normal ngomong-ngomong. Ia masih dapat terpesona oleh nikmat Tuhan yang tidak bisa didustakan. Terutama pada Vino. Salah satu makhluk Tuhan yang terlahir dengan paras sempurna hingga membuat para kaum hawa menjerit tertahan ketika melihatnya.

Benar kan?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel