Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 8

Dira mengerjap pelan. Rasa kantuk menggelayuti kedua matanya yang membuat ia tidak ingin terbangun. Ditambah dengan kehangatan yang melingkupi dirinya semakin membuat dirinya merasa nyaman dan tak ingin membuka mata.

Tapi tunggu dulu? Kenapa kehangatan yang ia rasakan berbeda dengan kehangatan yang setiap pagi ia rasakan dari selimut abu-abu kesayangannya? Bahkan kehangatan ini terasa baru baginya.

Dira memaksakan kelopak matanya untuk terbuka. Ia sedikit tersentak ketika melihat dada bidang seseorang tengah berada di depan wajahnya. Dada bidang? Ah, ia ingat. Semalam ia tidur bersama Vino. Tapi kenapa bisa ada di depan wajahnya?

Dira merasakan sebuah beban di pinggangnya setelah secara perlahan bergerak untuk bangun dari pembaringannya. Dira tertegun sejenak menyadari jika beban tersebut ialah tangan Vino yang memeluk pinggangnya. Wajahnya seketika merona mengingat kejadian tadi malam. Jadi, Vino yang tidur sembari memeluk dirinya itu bukan mimpi?

Dira menggigit bibirnya disertai rona merah yang semakin menjalar hingga ke telinganya. Dira malu. Sungguh. Semalam, Dira seakan tak sadar jika Vino masih memeluknya bahkan sampai Vino ikut tertidur bersamanya karena ia terlalu takut dengan suara-suara aneh yang mengganggunya tadi malam.

Dira dengan cepat beranjak dari kamar sebelum Vino terbangun dan membuat dirinya semakin bertambah malu.

Aish, mau diletakkan dimana wajahnya nanti.

Dira berjalan menuju kamar mandi di dekat dapur. Di dapur, Dira melihat keberadaan Rani yang tengah sibuk di depan kompor. Ia memutuskan untuk mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum mulai membantu sang Ibu.

"Bu, ada yang bisa Dira bantu?" Dira mendekat pada Rani yang tengah sibuk berkutat dengan sayuran yang ada di tangannya.

Rani menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Dira. "Dira mau bantu Ibu?"

Dira mengangguk cepat dan mulai mengambil alih sayuran yang ada di tangan sang Ibu.

"Ra."

Dira dan Rani serempak menoleh ke belakang dan mendapati Divo yang berdiri di pintu dapur dengan rambut yang basah pada bagian depannya.

"Kenapa, Kak?"

"Vino sudah bangun belum?"

Mendengar nama Vino yang diucapkan kakaknya membuat pipinya seketika merona. Kejadian semalam itu benar-benar memalukan bagi Dira. Ia ingin meruntuki dirinya yang begitu mudah memeluk seseorang hanya karena alasan takut. Ck! jika bisa, Dira ingin menyimpan wajahnya saja.

"Se-sepertinya belum, Kak. Kakak cek saja di kamar Dira."

Dira buru-buru membalik tubuhnya dan menatap sayuran yang ada di tangannya sebelum Divo mengatakan sesuatu yang bersangkutan dengan Vino dan akan semakin berimbas pada pipinya yang akan semakin bersemu merah.

"Kenapa wajahmu memerah, Ra? Kamu sakit?" Rani menatap khawatir sembari menyentuh dahi Dira.

Dira menggeleng cepat, "Tidak, Bu. Dira tidak apa-apa."

"Kamu sakit, Ra?" Divo ikut mendekati sang adik saat mendengar ucapan Ibunya.

Dira memandang Kakaknya yang menatap dirinya khawatir. "Tidak Kak. Dira tidak apa-apa."

Ingin sekali Dira mengatakan jika wajahnya memerah karena malu. Tapi ia tidak senekat itu untuk membongkar kejadian semalam, terlebih pada sang Kakak.

"Benar tidak apa-apa?" Dira mengangguk sekali lagi sembari tersenyum meyakinkan.

Divo menghela napas kemudian mengusap kepala Dira pelan. "Hari ini tidak usah berangkat sekolah. Lebih baik istirahat saja di rumah. Nanti Kakak buatkan surat izin."

Dira spontan menolak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi Divo tetaplah Divo si sulung overprotektif. Ia tidak akan pernah mengizinkan Dira beranjak dari rumah jika sedang sakit. Padahal alasan memerahnya wajah Dira itu bukan karena sakit tapi karena malu.

"Dira baik-baik saja, Kak. Dira tidak sakit sama sekali. Lebih baik Kakak ke kamar Dira aja sana. Bukannya tadi Kakak mencari Kak Vino?" Dira memaksa tubuh Divo untuk berbalik kemudian ia mendorong tubuh Kakaknya menuju pintu dapur.

Divo yang pasrah hanya bisa mengikuti dorongan adiknya. Tapi entah kesialan atau apa untuk Dira, si empu yang tadi dipertanyakan oleh Divo tadi sedang berjalan menuju dapur.

Dira terlihat panik dan segera menjauh dari Divo dengan kembali mendekat pada Rani yang tengah memanaskan minyak.

"Eh, mantu Ibu sudah bangun."

Rani menyapa Vino setelah menyadari kehadirannya yang berdiri di ambang pintu dapur. "Gimana tidurnya tadi malam? Nyenyak?"

Vino tersenyum. "Nyenyak, Bu."

"Gimana nggak mau nyenyak, kan udah dapet guling baru." Divo menyahut sembari mengerling jahil pada Dira.

Sontak saja, wajah Dira kembali memerah. Dira menunduk setelah menghadiahi pelototan tajam untuk Divo.

"Guling baru?" Tanya Rani pura-pura bingung.

"Iya Bu, guling baru." Divo menjawab pertanyaan Rani disertai kekehan pelan.

"Lalu Vin, gimana pendapatmu tentang 'guling barumu' itu?" Divo bertanya masih dengan nada jahilnya yang membuat Dira ingin sekali memukul dan mencubiti Kakaknya itu. Namun, semua itu langsung terlupakan begitu Dira mendengar jawaban Vino.

"Hangat dan nyaman." Balas Vino pelan dengan senyum simpul yang terukir di bibirnya.

Sungguh. Dira ingin menenggelamkan dirinya saat ini. Wajahnya benar-benar tak tertolong. Dira menyentuh dadanya yang bergemuruh. 'Aduh jantung.. kenapa kamu berdetak cepat sekali? Dan kenapa Kak Vino harus menjawab seperti itu?'

Dira sangat berharap untuk dapat kabur dari situasi seperti ini.

Berbanding terbalik dengan Dira, Divo malah tertawa geli bercampur senang. Sementara Rani sendiri tersenyum bahagia mendapati si bungsu menahan malu.

Begitulah suasana pagi itu. Dira yang memerah, Divo dan Rani yang sibuk menggoda Dira dan Vino yang tak berhenti menatap intens sang pasangan pemilik hatinya.

***

Dira harus menahan kesal pagi ini. Bagaimana tidak? Ia tidak henti-hentinya digoda oleh Divo dan Dion yang entah kenapa hari ini terlihat begitu kompak dalam menggodanya dan Vino perihal kejadian semalam yang begitu memalukan bagi Dira. Kemudian ditambah dengan Kiran yang ikut menggodanya saat sarapan bersama tadi.

"Ra." Dira mendongak menatap Divo yang memanggilnya.

"Hari ini Kakak pinjam motormu ya. Motor Kakak bannya bocor. Kalau harus ditambal dulu, Kakak bisa telat ke kantor."

Dira mengangguk saja. Kemudian ia berdiri setelah selesai memakai sepatunya.

"Tapi Kakak antar Dira ke sekolah dulu kan?"

"Kamu diantar Vino saja ya. Kakak nggak bisa kalau harus mengantar kamu dulu. Kakak hampir telat ini." Balas Divo sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Tapi-"

"Maaf Ra, Kakak buru-buru. Kamu sama Vino saja ya. Kakak bener-bener nggak bisa antar kamu dulu."

Dira menghembuskan napas kasar. Akhirnya ia mengangguk pasrah untuk diantar oleh Vino ke sekolah. Tak tega juga tetap memaksa Kakaknya yang terlihat sangat terburu-buru untuk mengantar dirinya.

Tanpa disadarinya, Divo dan Dion mengulum senyum aneh dari masing-masing mereka.

"Kalau begitu Kakak berangkat ya, Ra. Kamu sama Vino hati-hati di jalan."

Divo menaiki motor Dira dan segera meninggalkan perkarangan rumah masih dengan smirk aneh yang menghiasi wajah tampannya.

"Berangkat sekarang?"

Vino bertanya tepat di belakang tubuh Dira. Dira tersentak dan berbalik. Namun detik itu juga ia menyesal karena mendapati Vino yang berjarak beberapa jengkal dari dirinya.

Dira terdiam. Melihat wajah Vino yang tak bisa ia sangkal jika sangat tampan dalam jarak dekat seperti ini membuatnya terpaku. Alisnya yang tebal, netranya yang menyorot tajam, hidungnya yang mancung serta seulas senyum tipis dari bibir Vino benar-benar membuat Dira jatuh terpesona.

"Ra.. Dira.." Dira kembali tersentak dari keterpakuannya dan menatap Vino yang mengernyit bingung.

"Ah, i-iya Kak, kenapa?"

"Berangkat sekarang?"

"I-iya Kak." Rona merah muncul di kedua pipi Dira yang menunduk malu. Ia tak berani menatap Vino yang telah beranjak masuk ke dalam rumah. Belum habis malunya pada kejadian tadi malam, ia telah sukses mempermalukan dirinya lagi.

Ra.. Kamu benar-benar memalukan.

"Tak perlu malu, Ra. Bang Vino memang tampan. Tak aneh rasanya jika kamu terpesona dengannya." Dion bangkit dari kursi teras dan melangkah mendekat pada Dira yang menatapnya.

"Dira tidak malu, Kak. Dan Dira juga tidak terpesona dengan Kak Vino." Elak Dira pelan dengan mata yang menatap pada lantai teras.

Dion menatap Dira gemas. Kemudian, ia mencubit pelan kedua pipi istri dari sepupunya itu.

"Jika tidak malu kenapa bagian ini merona, hm?"

"Kak Dion salah lihat." Balas Dira sekenanya dan masih berusaha mengelak.

"Hoo.. masih tidak mau mengaku juga ternyata." Kali ini Dion tidak hanya mencubit pelan, tetapi juga mengunyel-unyel pipi Dira. Ia sebenarnya ingin sekali melakukan hal ini pada Dira dari pertama kali bertemu dengan remaja cantik dan imut ini. Beruntunglah ia karena keinginannya bisa terkabul.

"A-aduh, Kak Dion apakan pipi Dira?" Dira berusaha melepas tangan Dion dari pipinya. Tetapi tenaga Dira tak seberapa. Tangan Dion bahkan tak bergerak sama sekali ketika ia mendorongnya.

"Kakak gemes sama kamu, Ra. Kalo aja bukan Bang Vino yang jadi suami kamu, udah Kak Dion rebut kamu." Dion masih saja mencubiti pipi Dira hingga sebuah suara deheman seketika menghentikannya.

Dion menoleh dan segera memasang senyum innocent pada Vino yang telah berdiri di belakang tubuhnya. Vino menatap tajam Dion. Kemudian berlalu begitu saja menuju mobil Range Rover Evoque hitam yang terparkir di samping rumah.

"Ayo, Ra." Ajak Vino sebelum masuk ke dalam mobil. Dira mengangguk dan segera menuju mobil Vino. Meninggalkan Dion yang terbengong sendiri di teras rumah Dira.

Bertepatan dengan mobil Vino yang akan meninggalkan rumah, Dion mendapatkan sebuah pesan di ponselnya.

Ting!

From : Sepupu Galak

Menyentuhnya sekali lagi, ucapkan selamat tinggal pada rettymu!

Dion memutar bola matanya malas. "Ck, posessive sekali." Komentarnya. Namun tak urung, ia langsung menelpon asistennya dan menyuruhnya untuk segera mengamankan retty kesayangannya sebelum Vino benar-benar membuktikan ucapannya.

Retty adalah mobil sport kesayangan Dion yang ia beli untuk pertama kalinya dengan hasil dari usahanya sendiri. Kenapa diberi nama retty? Karena warna mobil tersebut adalah merah.

Dion sangat menyayangi mobil itu. Dia bahkan tidak pernah membiarkan seseorang menaiki retty. Yah, sebelum Vino mengancam akan menghancurkan retty, terpaksa ia mengizinkan Farlan-asisten pribadinya menaiki mobil kesayangannya tersebut.

Berdecak sebal, Dion lantas masuk ke dalam rumah dengan hati tak rela.

***

Dira duduk tenang di samping Vino yang sibuk menyetir. Keduanya tak ada yang berbicara atau berniat untuk membuka pembicaraan. Kecanggungan masih menyelimuti mereka. Terutama untuk Dira sendiri.

Kejadian demi kejadian yang membuatnya malu belum hilang dipikirannya. Ia jadi takut untuk berdekatan dengan Vino. Ia takut jika ia kembali mempermalukan dirinya. Ia juga takut untuk jatuh pada pesona suaminya itu. Ia belum siap. Meskipun Vino mengatakan jika ia ingin menjalani hubungan mereka seperti hubungan suami istri pada umumnya, tetapi tetap saja di dalam sudut hatinya masih ada perasaan ragu. Ia hanya tak ingin jika ia benar-benar terjatuh pada pesona suaminya, Vino tiba-tiba akan meninggalkannya.

"Memikirkan apa?" Suara Vino seketika memecah pemikiran Dira dan kembali menyadarkannya. Dira menoleh, menatap Vino sembari menggeleng pelan.

"Tidak memikirkan apa-apa." Balasnya.

Vino menatap Dira dalam. Mencoba mencari-cari jawaban dari dalam netra coklat yang berhasil melemahkannya dalam sekali tatap.

Dira yang ditatap merasa tak tahan. Ia cepat-cepat memutus kontak mata mereka dan langsung menunduk.

"Ja-jangan menatap Dira seperti itu Kak. Lebih baik Kak Vino menatap ke depan dan fokus menyetir."

Tiba-tiba terdengar tawa dari Vino. Dira mengerutkan dahi bingung kemudian kembali menoleh pada Vino yang tertawa.

"Kenapa Kak Vino tertawa?" Tanyanya tak mengerti.

"Apa yang kamu pikirkan, sayang? Untuk apa Kakak menyetir jika kita sudah sampai." Jawab Vino dengan senyum geli yang terpatri di bibirnya.

Dira mengerjap. Kemudian dengan cepat langsung memperhatikan sekelilingnya. Dan benar saja, mereka sudah sampai di depan gerbang sekolahnya. Sontak saja wajah Dira langsung memerah sampai ke telinganya.

Dira meruntuki dirinya. Kenapa ia mudah sekali mempermalukan diri di depan Vino? Jika sudah seperti ini, ia jadi tak berani menatap suaminya kan. Ck, benar-benar kamu Ra!

"Sudah, tak usah malu. Lebih baik segera masuk. Lagipula, kasihan temanmu yang sedang kerepotan itu." Dira mengikuti arah pandangan Vino dan menemukan Vio yang tengah kesulitan membawa sebuah kardus di tangannya.

Dira spontan melepas sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya dan bersiap membuka pintu mobil sebelum sebuah tangan menahan pundaknya.

"Hati-hati di sekolah. Jika sudah waktunya pulang, kabari Kakak. Nanti kakak jemput." Ucap Vino sembari tersenyum simpul. Tak lupa ia menyelipkan sejumlah uang di saku depan Dira yang disambut bingung oleh remaja itu.

“Untuk jajan.”

“Tapi-“

“Sstt.. ingat, kamu istri Kakak. Tidak boleh menolak nafkah dari suami.”

“Tapi sepertinya itu terlalu banyak, Kak.” Dira sempat melihat lembar kertas merah yang dimasukkan ke dalam sakunya. Dira yakin jika itu bukan hanya selembar dua lembar saja dilihat dari ketebalannya.

Bukannya menjawab Dira, Vino malah merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sejumlah uang berwarna sama dan kembali memasukkannya ke saku baju seragam Dira.

“Loh, kok malah Kakak tambahin? Yang tadi aja kebanyakan Kak.” Dira hendak meraih uang dalam sakunya namun kalah cepat dengan tangan Vino yang lebih dulu menahan tangannya.

“Itu tidak seberapa.”

Tidak seberapa katanya?

“Habiskan untuk hari ini. Kalau tidak, akan Kakak tambahi dua kali lipat untuk besok.”

Dira sukses melongo. Menghabiskan uang yang setara dengan uang sakunya selama dua bulan dalam sehari? Mana mungkin ia bisa. Dira bukan tipe orang yang boros dan suka menghambur-hamburkan uangnya begitu saja.

“Dira nggak mungkin bisa menghabiskannya dalam sehari, Kak. Jumlahnya bahkan setara dengan uang saku Dira selama 2 bulan.”

Vino nampak menimbang protesan istrinya itu. “Baiklah. Kalau begitu, Kakak beri waktu 1 minggu untuk menghabiskannya.”

Raut Dira menunjukkan jika ia belum puas dengan keputusan Vino. Namun saat ia ingin kembali menyuarakan penolakannya, Vino sudah lebih dulu berujar, “Please, jangan menolak. Tujuan Kakak bekerja selama ini adalah agar istri dan anak Kakak dapat hidup enak. Kalau kamu tidak mau menghabiskan uang dari hasil kerja keras Kakak, lantas sia-sia saja Kakak bekerja selama ini.”

Dira langsung merasa tak enak hati. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Dira hanya tak pernah hidup secara berlebihan selama ini. Jadi ia sedikit tidak setuju untuk menghabiskan uang saku berlebihnya itu dalam waktu singkat. Tapi kalau sudah begini mana tega Dira untuk menolak.

“Baiklah, akan Dira usahakan untuk menghabiskannya.” Dira tersenyum lebar kali ini. “Terima kasih banyak, Kak.”

“Nope, sudah kewajiban Kakak untuk menafkahimu.” Balas Vino seraya tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Dira.

"Kalau begitu Dira masuk dulu ya, Kak."

Vino mengangguk. Dira yang masih memasang senyuman di bibirnya itu lantas membuka pintu mobil. Namun ia tak langsung keluar dan malah kembali menghadap ke arah Vino.

"Kenapa?"

Dira diam, tetapi tangan kanannya terulur ke depan dan disambut tatapan bingung dari Vino.

"Apa?"

Dira menghela napas pelan lalu menarik tangan kanan Vino dan membawanya ke dahi.

"Karena Kak Vino sudah jadi suami Dira, Dira wajib menghormati Kak Vino." Jawab Dira sukses membuat Vino melebarkan bola matanya, kaget.

"Kalau begitu-"

Cup

Vino mencium kening Dira, "-sebagai balasan karena sudah menjadi istri yang baik."

Kali ini, Vino tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. Dira terpaku dengan pipi yang merebak merah. Buru-buru ia membuka pintu mobil dan berlari kecil menuju Vio yang tengah berkacak pinggang dengan bibir merengut menatap kardus di bawahnya.

Melihat tingkah lucu istrinya, Vino hanya bisa tersenyum geli sekaligus bahagia. Tak pernah ia bayangkan jika jatuh cinta bisa seindah ini. Sebut saja dirinya mirip seperti ABG labil yang baru mengenal cinta. Tak apa, Vino tak masalah akan itu. Sebab, selama ini ia dapat mengagumi tanpa bisa memiliki. Tapi sekarang keadaan telah berubah. Ia sudah memiliki remaja kesayangannya itu secara penuh. Dan apa yang telah menjadi miliknya, tak akan pernah ia izinkan untuk lepas darinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel