BAB 7
Hari sudah beranjak petang. Burung-burung beterbangan untuk kembali ke dalam sarang. Menghiasi langit jingga yang temaram. Suara ciutan burung yang bersahutan semakin menambah keindahan langit senja. Dira suka memandanginya. Langit senja selalu memberinya ketenangan.
Dira sedang berdiri di balkon rumahnya. Menikmati kegiatan rutin yang selalu dilakukannya. Memandangi keindahan matahari terbenam. Dira selalu meluangkan waktunya untuk menyaksikan karunia Tuhan yang selalu membuatnya kagum tersebut. Bahkan tanpa sadar ia sudah menjadikan kegiatan ini menjadi salah satu hobinya.
Dira masih memandang langit dalam diam. Tak ada suara lain selain suara burung dan kendaraan yang berlalu lalang. Dalam keheningan tersebut, Dira kembali memikirkan pernikahannya. Ia sekarang sudah resmi menjadi pasangan orang. Ia bukan lagi seorang remaja yang bebas tanpa terikat status. Ia sudah memiliki tanggung jawab lain, yaitu menjadi istri orang. Dira tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Menikah di usia semuda ini. Enam belas tahun. Kalian bisa bayangkan betapa gilanya ini. Dan betapa gilanya dirinya yang menerima pernikahan tersebut.
Dira menggeleng sembari menghela napas. Tak ada gunanya ia menyesal sekarang. Toh, ia tidak bisa mundur lagi. Tidak mungkin kan ia meminta cerai saat ini. Prinsipnya adalah menikah sekali seumur hidup. Dan ia akan selalu memegang prinsipnya tersebut. Jadi yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk mempertahankan pernikahan yang tidak berlandaskan cinta ini agar bisa bertahan.
"Dira."
Dira menoleh dan mendapati Vino yang sedang berdiri di ambang pintu dengan pakaian santainya. Dira sedikit tertegun. Hanya dengan mengenakan celana pendek selutut dan kaos putih saja ia masih terlihat tampan.
Dira mengerjap. Sepertinya pikirannya mulai melantur kemana-mana. Tapi Vino memang terlihat tampan dan err... sedikit sexy.
Apaan sih! Dira ingin memukul kepalanya yang mulai korslet. Dan tiba-tiba Dira jadi teringat peristiwa waktu itu dimana ia melihat Vino naked.
Aww.. Dira jadi merona jika mengingatnya. Malu coy..
Vino beranjak mendekat. Berdiri di samping tubuh Dira yang terdiam kaku. Ia mengikuti Dira yang sudah kembali menatap langit di depan sana.
"Saya tahu kamu terpaksa menikah dengan saya." Vino membuka pembicaraan tanpa menoleh pada Dira.
"Tapi bagaimana pun juga saat ini kamu sudah menjadi pasangan saya. Kamu sudah menjadi tanggung jawab saya." Vino diam sejenak kemudian kembali melanjutkan.
"Saya tidak akan memaksa kamu untuk ikut dengan saya. Saya tahu jika kamu belum siap untuk meninggalkan keluarga dan teman-temanmu disini. Saya juga tidak akan melarang bila kamu masih ingin melanjutkan sekolahmu disini. Tetapi, saya ingin kamu bisa menerima saya sebagai suami kamu. Saya ingin kita memulai hubungan ini dari awal. Saya ingin hubungan ini bisa berakhir bahagia seperti pernikahan yang lainnya."
Vino beralih menghadap Dira seutuhnya. "Jadi, apa kamu setuju untuk memulai ini semua dengan saya?" Tanya Vino penuh harap namun masih dengan nada tenangnya.
Dira tak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Vino dan menatap tepat di matanya.
"Saya telah menjadi pasangan anda itu berarti saya telah menerima anda untuk menjadi suami saya. Itu juga berarti bahwa saya telah menerima anda untuk masuk dalam kehidupan saya, termasuk untuk mencampuri segala hal tentang saya, termasuk juga menjadi bagian dari keluarga saya. Jadi, perlukah anda bertanya apa jawaban saya?"
Dira mengakhiri perkataannya dengan sebuah pertanyaan retorik yang mau tak mau membuat Vino tersenyum simpul saat mendengarnya.
"Jadi, bisakah kita memulainya dengan aku-kamu?" Vino kembali bertanya untuk meminta persetujuan tentang cara memanggil mereka agar terdengar lebih akrab. Jika mereka memang ingin menjadi lebih dekat, bukankah mereka harus mengubah cara mereka dalam memanggil satu sama lain terlebih dahulu?
Mengerti akan maksud dari pertanyaan Vino, Dira mengangguk tanpa perlu berpikir lagi. Ya, mereka memang harus mulai mendekatkan diri dan juga mulai berusaha mengenali diri pasangan. Jika tidak seperti itu, bagaimana mereka bisa memulai membangun hubungan sebagai pasangan?
"Dira setuju."
Dira tersenyum lembut untuk pertama kalinya pada Vino semenjak mereka bertemu dua hari yang lalu. Vino yang melihat senyum tersebut hanya bisa terpesona dalam diam. Remaja di depannya ini memang cantik dan manis. Sangat cantik malah. Dan remaja di depannya ini telah menjadi miliknya, telah resmi menjadi pendamping hidupnya, telah resmi menjadi istri sekaligus calon ibu bagi anak-anaknya kelak.
Mereka belum bergerak dari tempat masing-masing meski langit telah temaram. Mereka masih menikmati suasana keheningan yang melanda tanpa mengindahkan gelap yang telah bersarang. Lampu balkon memang belum dinyalakan. Sebab mereka tahu ada sesuatu yang mengintip di balik daun pintu yang terbuka lebar. Terutama Vino yang mengetahui penyebab belum menyalanya lampu balkon meskipun hari telah dilahap kegelapan.
Ya, dua sosok kurang kerjaan tengah mengintip sembari tersenyum senang.
Divo dan Dion. Dua orang yang awalnya tak berniat mengintip pasangan yang tengah berdekatan di balkon rumah di saat langit telah temaram. Divo pun awalnya juga membiarkan. Tetapi atas hasutan Dion, Divo mulai berubah pikiran dan ikut mengintip kegiatan adik serta sang teman yang telah berubah status menjadi suami si adik kesayangan.
"Enak kali ya, punya pasangan." Celetukan pelan tak berdasar tersebut keluar dari bibir tipis adik sepupu Vino yang terkenal jahil tidak ketulungan.
Divo mendengus mendengar celetukan Dion yang masih terlarut dalam nuansa kedekatan antara adik dan suami dari adik kesayangan.
"Dih, si jomblo iri.” Balas Divo dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh kedua pasangan.
“Jomblo teriak jomblo. Perlu Dion ambilin kaca Bang biar Abang bisa ngaca?”
“Gelud hayo sini!” Divo meyingsingkan lengan bajunya seperti bapak-bapak yang siap adu gelud.
“Hayu lah! Lu jual gua utang!”
“Lah si goblok!” Divo menggeplak kepala Dion hingga membuat sang empu berteriak karena sakit sekaligus kaget. “Yang ada lu jual gue beli, anjrit!”
Jeritan Dion yang tak bisa dibilang pelan itu membuat Vino dan Dira sama-sama menoleh untuk melihat ke arah pintu balkon dimana Dion dan Divo tengah adu mulut dan adu pukul layaknya anak tadika mesra yang sedang adu gelud.
“Serah gue dong Bang. Mulut-mulut gue juga.” Sahut Dion ngegas.
“Berani lu mukul yang lebih tua? Mana sopan santun lu jadi anak muda?!”
Dira hanya dapat mengerutkan keningnya bingung melihat tingkah absurd dua orang yang sama-sama berumur kepala dua itu. Tingkah mereka tidak mencerminkan usia yang sebenarnya. Sementara Vino hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi dengan tangan yang bersidekap di dada.
“Beraninya bawa-bawa umur! Tangan kosong kalo berani!!”
“Sini lu maju!”
Plak
Plak
Belum sempat mereka adu pukul, sebuah geplakan keras mendarat di masing-masing lengan mereka. Pelakunya? Ialah Kiran yang tanpa rasa bersalahnya telah menyarangkan rasa sakit dan panas itu di lengan kedua pria yang mengaku sudah dewasa itu.
“Inget umur! Udah pada tua juga.”
“Lu yang tua!” Sahut Dion yang sukses mendapatkan pelototan dari Kiran.
“Dasar bocah kampret lu yaa!!”
Dan kini gelud tersebut dimenangkan oleh Kiran yang berhasil membabat habis Dion dengan bantuan Divo serta diiringi oleh suara tawa Dira yang mengalun lembut di penghujung senja tersebut.
***
Dira menekuk wajahnya kesal. Siapa lagi orang yang membuat wajahnya jadi seperti itu jika bukan sang kakak yang sedang berpura-pura asyik menonton televisi tanpa terganggu oleh raut wajah Dira.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Divo untuk mengusili adiknya yang penakut itu. Yap, Dira sangat penakut jika itu menyangkut sesuatu yang tak kasat mata.
"Kak, ganti channelnya ihh.." Dira mulai merengek sambil memasang wajah memelasnya.
Divo tidak menggubris rengekan Dira. Ia malah menyeringai dan semakin mengeraskan volume televisi agar Dira semakin takut. Benar saja, sang adik semakin mengkeret di samping tubuhnya yang sedang duduk di sofa ruang santai.
"Kak.." Dira masih merengek dengan kedua tangannya yang mulai menarik-narik tangan Divo.
Divo mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?”
“Dira kebelet Kak.. Anterin!” Dira memasang puppy eyesnya dengan raut memohon yang sangat cute. Untung Divo kuat iman melihat wajah imut adiknya sendiri.
"Vin."
Vino yang duduk di seberang sofa dimana Divo duduk pun menoleh. "Kenapa?"
"Tolong antarkan istrimu ke dapur. Dia takut ke belakang sendirian."
Dira langsung melayangkan tatapan protes untuk Divo. Namun itu tak berselang lama karena Vino telah berdiri dari duduknya dan menunggu Dira untuk beranjak. Akhirnya mau tak mau Dira juga ikut beranjak dari ruang santai menuju dapur dengan diikuti Vino dari belakang.
"Kakak tunggu disini, ya."
Dira berujar pelan ketika mereka baru saja tiba di dapur. Lantas ia langsung berlalu untuk masuk ke kamar mandi yang bersebelahan dengan pintu belakang rumah tanpa menunggu jawaban Vino terlebih dahulu.
Vino lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat kelakuan istrinya. Istrinya? Ck, Vino senang sekali karena sebutan itu sudah melekat pada Dira yang menandakan jika remaja itu adalah miliknya.
Vino menarik salah satu kursi di depan meja makan dan mendudukkan dirinya disana.
“Sudah?” Tanya Vino setelah Dira keluar dari kamar mandi.
“Hm.” gumam Dira sambil mengangguk.
"Terima kasih Kak, sudah menemani Dira ke kamar mandi." Ucap Dira disela langkah mereka menuju tangga dimana sebagian tangga terlihat cukup gelap sebab lampu ruang tamu telah dimatikan.
"Tidak apa. Bukankah sudah menjadi tugas suami untuk selalu menjaga istrinya?" Balas Vino tenang yang ikut melangkah di sebelah Dira.
Dira mengerjapkan matanya sejenak. Sedetik kemudian ia merasakan jika kedua pipinya memanas.
Dira merasakan keanehan pada keadaan jantungnya saat ini. Kenapa setiap Dira berdekatan dengan Vino, jantungnya selalu berdegup lebih kencang dari biasanya? Dira tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Apakah dirinya telah jatuh cinta pada suaminya itu? Tapi bagaimana ia bisa langsung jatuh cinta, padahal mereka baru bertemu dua hari lalu? Apakah pesona dari seorang Alvino bisa dengan cepat meluluhkan hati seorang Indira?
Dira menggeleng cepat. Tidak. Mungkin saja dirinya hanya terlarut dalam pesona dari Vino yang begitu besar. Ia tidak mau berpikir terlalu jauh. Toh, mereka baru saja saling mengenal dan juga baru saja menikah tadi pagi.
Bertepatan dengan Dira yang baru saja ingin menaiki tangga, muncul Divo dari balik tangga yang cukup gelap dengan lampu senter yang menyinari wajahnya dari dagu hingga ke matanya. Dira spontan berteriak kencang dan berbalik untuk memeluk Vino yang ada di belakangnya.
Divo yang telah berhasil menakuti adiknya, lantas segera pergi menuju lantai atas diiringi tawa tanpa suaranya. Sementara itu, Dira yang sedang memeluk Vino dan menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Vino bergumam ketakutan disertai dengan tubuhnya yang gemetar. Apalagi ditambah dengan suara-suara seram yang terdengar sayup-sayup melintas di telinga mereka. Bertambah gemetarlah tubuh Dira.
"Sudah, tidak apa-apa. Hantunya sudah pergi." Vino membalas pelukan Dira dan mengusap punggung Dira untuk menenangkan istrinya tersebut.
Bukanya bertambah tenang, Dira malah menangis lirih. Ia meremat kencang baju Vino yang ia jadikan pelampiasan rasa takutnya. Dira benar-benar takut. Bahkan sangking takut dan terkejutnya dengan kedatangan Divo tadi, ia tidak bisa membedakan jika yang baru saja mengagetkannya adalah kakaknya sendiri. Bukan salah satu dari makhluk yang ditakuti oleh Dira.
"Sst.. jangan menangis, sayang. Tidak apa-apa, ada Kakak disini." Vino mempererat pelukannya dan beralih mengusap pelan kepala Dira yang terbenam di dadanya.
Ketika Dira tak henti menangis dan terisak lirih, Vino berinisiatif untuk melepas pelukannya dan ingin mengusap air mata istrinya. Tetapi, belum sempat Vino melepas pelukannya, Dira lebih dulu mempererat pelukannya pada Vino sembari menggelengkan kepala.
Vino paham jika Dira menolak untuk melepas pelukannya. Sepertinya istrinya ini benar-benar ketakutan. Vino tidak keberatan, sih. Malah ia senang karena untuk pertama kalinya, Dira memeluk dirinya walaupun dengan alasan ketakutan.
Vino akhirnya berencana menggendong Dira menuju kamar. Tidak mungkin jika dirinya tetap berdiri di dekat tangga seperti ini. Bagaimana jika kedua mertuanya pulang dan mendapati mereka berpelukan seperti sekarang. Kan tidak etis sekali.
Vino mengangkat tubuh Dira dan menggendongnya seperti koala. Ia menunggu sebentar, takut jika remaja itu menolak untuk ia gendong. Tapi Dira tidak menunjukkan sebuah penolakan yang berarti. Malah tangan Dira beralih melingkari leher Vino serta wajahnya ia tenggelamkan pada ceruk leher Vino yang menguarkan aroma maskulin. Tak lupa, Dira juga melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Vino.
Vino tersenyum kecil. Kemudian mulai menaiki tangga secara hati-hati. Ia tak ingin terburu dan dapat membahayakan dirinya serta Dira yang ada di gendongannya. Toh, ia juga masih ingin menikmati hangat tubuh Dira dalam pelukannya. Belum tentu dalam waktu dekat, Dira akan kembali memberikannya sebuah pelukan lagi.
Vino sampai di undakan tangga terakhir dan mendapati Dion yang tengah fokus pada acara televisi di depan mereka sedangkan Divo berdiri tak jauh dari tangga dengan cengiran jahilnya yang semakin melebar melihat Dira yang berada dalam gendongan koala Vino.
Dion yang menyadari jika ada sesuatu yang aneh langsung mengalihkan atensinya. Ia melebarkan iris matanya dan menatap tak percaya pada Vino yang kini tengah menggendong istrinya. Baru saja Dion akan membuka mulut, Divo dengan gesit langsung menutup mulut Dion menggunakan tangannya. Divo juga memberi kode pada Vino untuk segera membawa Dira ke kamar.
Vino menurut saja. Lagipula Vino tahu jika semua ini telah direncanakan dengan baik oleh Divo hanya untuk mendekatkan dirinya dengan Dira. Beruntung sekali dirinya bisa mendapatkan kakak ipar yang sangat pengertian seperti Divo.
Saat Vino hendak menutup pintu kamar, Divo dengan sengaja langsung menyalakan suara-suara seram dari ponsel di genggamannya sehingga membuat tubuh Dira menegang di dalam pelukan Vino.
Vino tertawa geli dalam hati. Ia segera menutup pintu setelah melihat Divo yang mengerling jahil padanya. Entah apa yang akan Divo lakukan esok hari untuk mendekatkan Vino dengan Dira kembali.
Vino berjalan menuju ranjang dan membaringkan tubuh Dira di atas kasur. Baru saja ia hendak berdiri tegak, Dira secara cepat menahan lengan kekar milik Vino.
"Jangan tinggalkan Dira, Kak. Dira takut. Kakak disini saja, Dira mohon." Rengek Dira dengan wajah ketakutan yang sangat kentara.
"Iya, Kakak tidak akan kemana-mana. Kakak akan disini menemani kamu." Balas Vino sembari duduk di samping tubuh Dira.
Dira menepuk-nepuk bagian ranjang yang kosong di sebelahnya. "Kakak tidur disini saja. Ini sudah malam. Kakak juga harus tidur." Ujar Dira pelan. Ia tidak mungkin membiarkan Vino duduk di sebelahnya hanya karena untuk menemaninya saja. Vino juga perlu tidur. Tidak apalah mereka tidur berdua. Toh mereka juga sudah menikah.
Tanpa kata, Vino berdiri dan berjalan menuju pintu kamar Dira. "Kakak mau kemana?" Tanya Dira panik ketika berpikir jika Vino akan keluar dari kamar. Bahkan dirinya sudah terduduk dan akan bersiap bangun jika Vino berniat keluar dari kamar ini.
Vino menoleh dan tersenyum lembut. "Kakak hanya ingin mematikan lampu saja." Jawab Vino sebelum menekan saklar lampu yang kebetulan berada di dekat pintu.
Clap
Lampu mati dan hanya menyisakan remang-remang cahaya yang berasal dari lampu tidur di nakas samping tempat tidur. Vino berbalik, melangkah menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya di tempat dimana Dira memintanya tidur.
Dira membaringkan tubuhnya kembali dalam posisi terlentang. Sementara Vino tidur menyamping, menghadap tubuh Dira yang berjarak beberapa jengkal di depannya.
"Tidurlah. Kakak akan menemanimu sampai tertidur." Vino berucap pelan sembari menarik selimut dan menyelimuti tubuh Dira hingga ke dadanya.
Dira mengangguk, lalu mulai terpejam untuk menjemput sang mimpi. Hampir saja Dira terhanyut dalam mimpi jika saja tidak ada suara-suara pengganggu yang kembali terdengar. Ditambah pula dengan suara lolongan anjing di depan rumahnya yang semakin memperburuk suasana di tengah keremangan ruang kamar tersebut.
Dira membuka kelopak matanya lagi dan menengok pada Vino yang masih menatapnya dalam diam.
"Ada apa? Kenapa tidak tidur?" Vino bertanya lembut saat Dira tak berhenti menatapnya.
"Tidak bisa tidur." Dira menjawab jujur sambil mengerjap dan mencebikkan bibirnya, lucu.
Tak
Sebuah suara seperti batu yang di lempar ke pintu terdengar di telinga Dira. Dira menegang, kemudian menoleh pelan pada pintu kamarnya yang tertutup rapat. Tidak ada siapa pun disana.
Tak
Lagi-lagi suara tersebut kembali terdengar tetapi lebih keras dari sebelumnya. Dira semakin takut. Butir butir keringat perlahan muncul di dahinya.
TAK
“GRAAAA...”
Kali ini suara tersebut diikuti oleh suara teriakan menyeramkan yang seketika membuat Dira terpekik kaget dan langsung menghambur memeluk Vino.
"Huwee.. ada hantu Kak. Hiks, Dira takut." Dira menangis dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Vino jadi merasa tak tega. Ia kemudian membenarkan posisi Dira. Kepala Dira ia posisikan di lengannya. Kemudian ia membenamkan kepala Dira di dadanya. Lalu ia merengkuh tubuh Dira hingga tak ada jarak yang memisahkan tubuh mereka.
"Sst.. jangan takut sayang, hantunya tidak akan berani masuk ke dalam kamar. Ada Kakak disini, Kakak akan menjagamu." Vino bisa merasakan jika tubuh Dira masih gemetar. Vino mengusap-usap punggung Dira hingga tak terasa Dira jatuh tertidur dalam dekapan Vino.
Vino tersenyum senang. Untuk pertama kalinya dari sekian tahun dia hidup, Vino baru bisa merasakan bahagia yang benar-benar membuatnya bahagia. Ia tidak tahu jika hanya dengan kehadiran remaja dalam pelukannya ini bisa membuat ia merasa jika hidupnya telah sempurna. Ia bisa merasakan bahwa ia tidak memerlukan apa pun lagi dalam hidupnya.
"Have a nice dream."
Cup
Vino melayangkan kecupan singkat di puncak kepala Dira sebelum ikut menyusul istrinya untuk menjemput mimpi.
Well, mimpi yang indah di malam pertama mereka.
