Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6

Saat ini Dira sedang duduk di depan meja rias di kamarnya bersama dengan seorang perias pengantin yang sedari tadi mengotak-atik wajahnya. Dira sebenarnya tidak suka bila harus memakai make up. Ia tidak terbiasa. Ia merasa wajahnya seperti diberi beban. Apalagi jika sampai harus memakai lipstik. Ia merasa bibirnya lengket seperti diberi lem. Dira sudah berbicara dengan Ibunya jika ia tidak ingin menggunakan apa-apa untuk wajahnya. Tapi Ibunya menolak dan menyuruh Dira untuk diam dan menerima saja.

Setengah jam berlalu. Dira masih duduk di kursi rias. Kali ini rambutnya yang di remake. Entah akan diapakan rambutnya. Ia tidak peduli. Sekarang ia tengah menahan kantuk.

Dugaannya kemarin benar. Ia tidak bisa tidur tadi malam. Ia baru bisa terlelap sekitar pukul empat dini hari dan dengan teganya sang Ibu membangunkannya tepat satu jam dirinya baru terlelap.

"Selesai, cyin. You cantik sekali. Eike belum pernah merias orang secantik, you."

Dira memaksakan matanya untuk terbuka lebar lalu ia menatap wajahnya di cermin. Dira sedikit terperangah melihat perubahan wajahnya yang terlihat lebih dewasa. Namun ia tak berkomentar banyak karena rasa kantuk mengalahkan segalanya. Bahkan rasa gugup dan gelisah yang melandanya semalaman pun hilang menguap entah kemana.

"Sekarang tinggal ganti baju."

Dira mendengar ucapan perias lekong yang mengaku bernama Anne tersebut meski samar. Kepalanya pusing dan berat serta matanya yang ingin terpejam membuatnya tak bisa berkonsentrasi. Ia sangat mengantuk.

"Cyin, you tak dengar eike?"

Dira menoleh dengan mata sayunya. Kemudian ia bangkit dan mengambil baju pengantin yang tergantung di sisi pintu kamarnya. Ia harus cepat melakukan semua yang dikatakan Anne-meski ia tak percaya perias itu bernama Anne agar ia bisa tidur.

Dira dibantu Anne memakai baju pengantinnya yang berupa kebaya berwarna putih gading langsungan yang sedikit menjuntai di bagian belakang kebayanya. Dira sedikit malu karena harus memakainya di depan Anne. Walaupun lekong begitu, tapi Anne tetaplah laki-laki.

Dira menatap pantulan dirinya di cermin. Melihat bagaimana penampilannya sekarang. Rasa tak percaya mulai muncul dalam benak Dira akan pernikahan yang akan berlangsung. Rasa tak percaya karena ia harus menikah diusia semuda ini.

Dira menunduk. Menatap kedua kakinya datar. Rasa pusing masih bersarang di kepalanya hingga membuat Dira tidak tahan untuk berdiri terlalu lama.

Dira beranjak dari tempat ia berdiri menuju sebuah single sofa yang berada di depan jendela kamarnya. Ia tidak memerdulikan lagi Anne yang masih berkeliaran di sekitarnya. Terlebih ia langsung bernapas lega saat Anne beranjak keluar dari kamarnya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Ia bisa tidur sekarang tanpa ada yang mengganggu lagi. Dira kembali duduk dan bersiap untuk menjemput mimpinya.

***

Dira merengut kesal pada sesosok makhluk tak berperikemanusiaan yang tengah tersenyum polos di depannya. Bagaimana tidak, beraninya sosok itu membangunkan Dira ketika ia sedang menikmati tidurnya.

"Jangan pasang muka begitu lah, Ra. Udah cantik juga. Masa cantik-cantik merengut.” Divo berujar santai tanpa sedikit pun merasa bersalah pada Dira.

Dira mendengus kesal. "Biarin. Siapa suruh Kakak bangunin Dira yang lagi tidur." Dira bersedekap dada dan melengos dari wajah Divo.

Divo lagi-lagi tertawa. “Iya deh, maaf.”

Divo lantas mengambil sepatu pengantin putih yang ada di samping ranjang dan memberikannya pada Dira yang masih duduk di kursinya.

“Pakailah. Kita akan segera berangkat.”

Dira merasakan kembali debaran yang semalam membuatnya tak bisa tidur. Ia menatap Divo dengan wajah gugup sekaligus cemas.

“Sekarang, Kak?”

“Kenapa? Menyesal?”

Dira menggigit bibir bawahnya tak bisa menjawab. Ia ragu sebenarnya. Tapi tak mungkin juga ia mundur. Sudah kepalang tanggung.

Dira lantas menggeleng untuk menjawab pertanyaan Divo. Kemudian ia memakai sepatu pengantin yang disodorkan Divo dengan cepat.

“Ayo, Kak.”

Bukannya mengiyakan ajakan adiknya, Divo malah melayangkan pertanyaan yang membuat Dira bimbang.

“Beneran?”

Nah kan.. Dira jadi bingung.

“Iya!” Jawab Dira tegas setelah dirasa ia yakin dengan keputusannya.

“Itu baru adik Kakak.” Divo tersenyum lebar seraya mencubit gemas pipi Dira. Tadi Divo hanya ingin mengetes Dira atas keputusannya. Divo tak ingin jika Dira menyesal. Jika memang tadi Dira memuskan untuk mundur, Divo akan membantunya untuk membatalkan pernikahan ini bagaimana pun caranya.

Maka setelah Divo mendengar jawaban Dira, ia merasa lega. Dan karena hal itu juga, akhirnya Dira berada di tempat ini. Di depan sebuah gereja di tengah kota yang berjarak lumayan jauh dari rumahnya. Bersama dengan sang Ayah yang berdiri di sampingnya, mengandeng salah satu lengannya.

Semua keluarga Dira sudah ada di dalam. Menanti dengan rasa cemas dan juga bahagia karena salah satu anggota keluarga akan melepas masa lajangnya.

Dira gugup. Ia tanpa sadar meremas lengan Wira. Wira yang menyadari kondisi sang anak langsung menenangkannya.

“Tenang, Ra.. Ada Ayah disisimu..”

Tapi Dira masih saja gugup. Tak tahu mengapa rasanya jantung Dira ingin meledak karena sangking kencangnya ia berdetak. Telapak tangannya sudah berkeringat basah. Bibirnya yang merah muda ia gigit untuk mengurangi rasa gugup.

“Ayah.” panggil Dira tiba-tiba.

“Kenapa, Ra?”

“Siapa?”

“Maksudnya?” Wira tak mengerti pertanyaan dari anaknya.

“Siapa pasangan Dira?”

Wira nampak terkejut mendengar pertanyaan Dira. “Divo belum memberitahumu?”

Gelengan kepala yang diikuti oleh wajah polos anaknya membuat Wira seketika menepuk jidatnya, tak habis pikir. Bagaimana bisa Dira belum mengetahui nama calon suaminya sampai di detik-detik terakhir pernikahannya ini.

“Alvino, lengkapnya Alvino Direga Geptrion.”

Bersamaan itu pula, pintu gereja terbuka dan menampilkan puluhan orang yang memenuhi kursi-kursi disana. Semua orang langsung menatap Dira. Dira jadi bertambah gugup. Kakinya terasa lemas dan tak dapat bergerak. Namun begitu Dira menoleh untuk menatap sang Ayah, ia bisa melihat siratan menenangkan dari netra yang berwarna senada dengan milik Dira.

Okey, Dira sudah lumayan tenang. Dan dengan begitu, Wira mengajak Dira untuk masuk ke dalam gereja dimana karpet merah telah terbentang dan menjadi alas untuk mereka berjalan.

Dira menurut. Ia melangkah perlahan sambil menunduk karena tatapan orang-orang tak lepas darinya. Dira yang notabene tak suka diperhatikan tak ayal merasa malu juga.

Sampai dimana Wira menghentikan langkahnya di depan altar dan menyerahkan tangan Dira ke seseorang yang telah menunggunya sedari tadi disana.

“Jaga putraku, Vino.”

Wira pun undur diri menuju tempat duduknya tepat di sebelah istrinya, Rani.

Dira merasakan sedikit tarikan pada tangannya yang menandakan jika ia harus menaiki beberapa anak tangga di hadapannya. Dira memang belum menatap calon pasangannya. Ia belum mampu untuk itu. Masih terlalu takut.

Dan untuk nama yang ia dapatkan. Alvino.. seperti tak asing di telinganya.

“Apa kalian sudah siap?”

Pendeta yang akan menikahkan mereka bertanya. Dira meneguk ludahnya sebelum meneguhkan hati untuk mengangguk.

Maka saat itu pula, Dira memutuskan untuk mendongak dan menatap sang calon pasangan hidup.

Deg

Dira terpaku saat netranya menubruk netra lain.

Tidak.

Dira sempat menduga namun ia tak ingin percaya.

Tapi apa yang dipikirkannya memang benar. Dia Vino, orang yang bertamu ke rumahnya dua hari lalu. Tapi kenapa bisa?

”Saya, Alvino, membawa Anda, Indira untuk menjadi istri saya. Saya berjanji untuk mencintai dan menghormati Anda sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan kesehatan semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita.” Vino mengucapkan ikrar janji pernikahan mereka sambil tak lepas menatap Dira.

Dira tergugu. Namun tak ayal ia membalas ikrar pernikahan mereka meski harus sambil menahan debaran jantungnya yang berdetak gila-gilaan.

“S-saya, Indira, membawa Anda, Alvino untuk menjadi suami saya. Saya berjanji untuk mencintai dan menghormati Anda sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan kesehatan semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita.”

“Maka saya nyatakan kalian telah resmi menjadi pasangan.”

Tepukan riuh menjadi satu-satunya yang terdengar setelahnya. Dira belum melepaskan pandangannya dari Vino. Mereka masih saling tatap.

“Silahkan cium pasangan Anda.” Sang Pendeta kembali bersuara.

Dira membulatkan matanya saat Vino tanpa aba-aba langsung memberikan kecupan di dahinya. Mungkin hanya berselang lima detik untuk bibir itu menyentuh dahi Dira tetapi mampu menghantarkan gelanyar aneh ke dalam dirinya. Dira tak tahu rasa apa yang sedang merasuk ke dalam hatinya ini hingga membuat jantungnya semakin berdetak kencang. Ia masih asing dengan perasaan seperti ini.

Dira merona. Sorakan dari yang lain menjadi bertambah riuh. Dira malu. Sangat. Wajahnya sudah memanas. Bahkan matanya juga ikut memanas karena menahan cairan bening yang ingin keluar.

"Sekarang waktunya tukar cincin." Seorang wanita yang Dira yakini seumuran dengan sang Ibu mendadak telah berada di samping Vino. Beliau membawa sebuah kotak persegi panjang yang di dalamnya terdapat sepasang cincin emas putih yang cantik sekali.

Vino mengambil cincin yang berukuran lebih kecil dan memasangkan di jari manis Dira. Setelah itu, ganti Dira yang mengambil cincin berukuran lebih besar dan memasangkannya di jari manis Vino.

Vino tersenyum sambil menatap Dira lekat. Dira salah tingkah. Malu sekaligus gugup karena ditatap sebegitunya oleh Vino. Jadilah ia mengalihkan pandangannya kearah lain agar tak bertatapan dengan manik cokelat milik Vino.

"Terima kasih."

Dira spontan menatap Vino ketika mendengar gumaman pelan suaminya. Suaminya? Kenapa Dira mudah sekali memanggilnya sebagai suaminya? Oke, dia memang suaminya dan yeah, dia memang benar-benar suami Dira. Haist, Dira ingin memukul kepalanya sekarang juga.

Dira tak menjawab. Ia hanya diam tanpa mengerti maksud dari kata terima kasih yang diucapkan oleh Vino.

Setelah melewati berbagai ritual pernikahan yang sedikit panjang, akhirnya Dira bisa bernapas lega. Saat ini ia sedang duduk di sebuah sofa berwarna putih gading bersama Vino tentu saja yang duduk di sebelahnya.

Dira menatapi satu persatu orang yang ada disini. Tak terlalu banyak orang yang datang karena yang diundang hanya keluarganya dan keluarga Vino saja. Berbicara tentang keluarga, keluarga Vino sangat baik pada Dira. Mereka menerima Dira dengan baik sebagai keluarga walaupun mereka baru pertama kali bertemu. Terutama Ibu Vino, Mira.

Beliau berkata telah menunggu Dira untuk menikah dengan Vino. Dira entah kenapa cukup senang mendengar hal tersebut. Itu berarti ia tidak buruk untuk menjadi menantu mereka. Dira cukup sadar diri, jika ia tidak pantas untuk anak mereka. Ia masih terlalu muda untuk menjadi pasangan anak mereka. Dira bahkan yakin jika ia ini masih labil, kekanak-kanakan dan belum dewasa. Apalagi setelah mengetahui bahwa Vino adalah anak tunggal. Entah kenapa ia merasa rendah diri.

Dira tersenyum ketika melihat Arra berlari ke arahnya. Ia membuka lengannya cukup lebar supaya Arra memeluknya.

"Kak Dira cantik sekali." Bocah itu berujar semangat setelah melepaskan pelukan Dira.

Dira tersenyum mendengar ucapan bocah perempuan berambut ikal yang notabene adalah sepupunya itu. “Ara juga cantik pakai gaun ini.”

Dua orang itu kemudian sama-sama tersenyum dan mengabaikan Vino yang sedari tadi mengamati tingkah dua manusia menggemaskan itu.

Kemudian Arra beralih menatap Vino yang duduk diam di samping Dira. Arra terlihat meneliti wajah Vino, sampai-

"Woah.. Kakak ganteng sekali." Kalimat bernada polos itu keluar dari bibir mungil milik Arra. Vino terkekeh lalu mengangkat Arra untuk duduk di pangkuannya.

Vino tersenyum lembut pada Arra. Kemudian ia menjulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala bocah perempuan itu.

"Nama kamu Arra kan?"

Arra mengangguk, masih menatap Vino dengan mata bulatnya yang berbinar.

"Nama Kakak, Vino. Arra bisa manggil Kakak, Kak Vino." Arra mengerjap pelan. Sedetik kemudian ia mengangguk senang.

"Yey! Arra punya Kakak baru." Arra melonjak senang di pangkuan Vino. Dira yang melihatnya hanya bisa tertawa geli.

"Wih, ada keluarga baru nih!"

Divo datang dan mengintrupsi kegiatan pasangan pengantin baru itu. Ia datang bersama Dion yang tengah membawa sebuah kamera di tangannya. Tanpa kata, Dion langsung memotret Vino dan Dira. Ia memperhatikan hasilnya dan berdecak kagum diikuti gelengan kepalanya.

"Dira di foto saja cantik, apalagi aslinya."

Dira memilih mengabaikan dan berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sepupu Vino itu. Jujur saja ia malu dipuji seperti itu. Ia jadi merasa tidak percaya diri karena ia merasa jika ia tidak secantik itu.

"Omong-omong Vin, kamu udah cocok lho." Divo menatap Vino dengan senyum menggoda.

Vino tertawa pelan. "Belum waktunya." Ujar Vino kalem.

"Beneran? Berarti jangan serang sebelum waktunya lho ya!"

"Tenang saja, itu masalah gampang." Ketiga pria dewasa itu lantas tertawa senang. Sedangkan Dira dan Arra hanya memandang mereka sambil mengerjapkan matanya heran. Keduanya sama-sama tak mengerti pembahasan apa yang tengah ketiga pria itu bicarakan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel