BAB 5
Dira mengerjapkan matanya pelan. Kepalanya pusing. Pandangannya sedikit buram karena retinanya masih menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Dira menggeliat. Melirik sekitar dan ternyata menemukan jika dirinya sedang ada di kamarnya. Dira memutuskan untuk duduk. Kepalanya masih sedikit pusing. Mungkin efek ia yang baru saja terbangun.
Tunggu?
Jadi yang ia rasakan tadi itu mimpi? Seketika Dira menghembuskan napasnya lega. Tak mungkin Ibunya setega itu untuk menjodohkan dan menikahkan dirinya dengan orang yang tak dikenal.
Ceklek
Pintu kamar Dira terbuka. Divo masuk dengan membawa segelas air putih di tangan. Kakak sulung Dira itu duduk di pinggir ranjang dan menyerahkan gelas di tangannya pada Dira.
Dira mengerutkan kening. Meski kebingungan, Dira menerima saja sodoran air putih dari Divo dan meminumnya.
“Pusing, Ra?”
Dira menggeleng. Kepalanya sudah sedikit mendingan.
“Dira bermimpi, Kak.” Dira memutuskan untuk bercerita pada Divo. Ini sudah seperti kebiasaan Dira untuk menceritakan semua hal pada kakak kesayangannya itu. Kedekatan antara Dira dan Divo berbeda dibanding dengan Kiran. Meskipun sama-sama dekat, tapi Dira merasa lebih nyaman jika bercerita dengan Divo dibandingkan dengan Kiran.
“Mimpi apa?”
“Dira bermimpi jika Ibu menjodohkan dan akan menikahkan Dira dengan orang asing, Kak.” Dira tertawa. “Lucu ya, Kak? Dira sepertinya kebanyakan nonton sinetron makanya bisa random banget mimpinya.” Dira nampak geli dengan ceritanya sendiri. Tetapi berbeda dengan Divo yang menampilkan wajah seriusnya.
“Ra..”
“Hm?”
“Itu nyata. Bukan mimpi.”
Dira nampak terdiam kaku. Otaknya masih memproses apa maksud perkataan Divo.
“HUH?!”
Tolong tampar wajah Dira agar ia segera sadar jika ini bukanlah mimpi.
Dira tertawa meski terkesan sangat dipaksa. “Jangan bercanda Kak. Dira nggak akan tertipu bualan Kakak.”
Divo hanya bisa menghela napasnya kasar. Pria berusia 25 tahun itu kemudian menangkup wajah Dira dan menatapnya serius.
“Dengerin Kakak, Ra.” Divo menjeda ucapannya. “Kakak serius dengan perjodohan itu. Bahkan Ayah dan Ibu juga telah menyetujui pernikahanmu besok.”
What?
Menyetujuinya? Pernikahan?
Sumpah demi pluto yang sudah keluar dari golongan planet, Dira kembali syok mendengarnya.
Ia tidak percaya, Ibunya tega sekali ingin menikahkan dirinya dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Kenapa pula Ibunya sampai repot-repot menjodohkan dirinya? Dan mengapa harus dirinya? Kenapa bukan Kak Kiran saja yang dijodohkan dan menikah dengan laki- laki itu? Bukankah umur Kak Kiran sudah cukup untuk menikah? Umurnya bahkan masih enam belas tahun. ENAM BELAS TAHUN!! Tolong catat saudara-saudara!
Ia masih terlalu dini untuk menikah. Ia masih bau kencur jika kata orang dulu. Ia belum siap untuk mengganti statusnya dari pelajar menjadi ibu rumah tangga. Ini terlalu cepat bagi dirinya. Ia belum siap. Dirinya belum siap.
Jika memang ia ingin dijodohkan, Dira tidak apa-apa. Ia akan menghargai keputusan orang tuanya yang menjodohkan dirinya dengan laki-laki di luaran sana. Bahkan jika dirinya disuruh menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya suatu saat nanti pun tidak apa-apa. Tapi nanti. Setelah dirinya telah lulus kuliah dan sudah bekerja. Ia ikhlas menikahi laki-laki pilihan orang tuanya tersebut jika memang hal itu bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi tidak untuk sekarang.
Tolonglah.. Dira rasanya ingin menangis. Ia kecewa, marah, dan yang pasti ia menolak pernikahannya.
"Ra..”
Divo menghapus lelehan air mata yang tanpa sadar telah mengalir dari netra hazel adiknya. Perasaan bersalah itu sekarang muncul saat menatap mata adiknya yang terlihat sendu. Ia jadi tak tega dengan Dira. Ia jadi terpikirkan untuk meminta orang tuanya agar membatalkan saja pernikahan adiknya.
Dira menunduk. Tak bisa lagi menahan perasaannya. Derasnya lelehan air mata yang mengalir turun menandakan betapa dalamnya rasa kecewa adiknya.
“Mau mendengar penjelasan Kakak?”
Dira tak berkutik di tempatnya. Tapi Divo memutuskan untuk menjelaskan saja.
"Saat itu perekonomian keluarga kita belum seperti sekarang. Ayah masih jadi karyawan biasa dengan penghasilan yang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga. Saat itu Kakek, ayah dari ayah baru saja meninggal dan meninggalkan hutang yang besar. Ayah sebagai anak tertua tak mungkin lepas tangan. Waktu itu juga, Kakak, Kiran dan juga Ibu terlibat kecelakaan akibat bus yang kami tumpangi terguling. Kakak terluka parah saat itu hingga harus menjalani operasi. Sementara Ibu yang sedang mengandungmu harus melahirkan secara prematur karena ada benturan keras saat kecelakaan. Hingga mengharuskan Ibu melahirkan secara ceisar." Divo berhenti sebentar untuk menarik napas, kemudian kembali melanjutkan.
"Ayah bingung saat itu. Hutang Kakek belum bisa beliau lunasi. Kakak yang perlu biaya untuk operasi dan Ibu yang harus melahirkan secara ceisar. Ayah sempat menggunakan uang ansuransi perusahaan, tetapi tetap tidak cukup untuk membayar semua biayanya. Sampai dimana teman Ayah datang kesini dan bertemu dengan Ayah. Ternyata teman Ayah tahu akan kesulitan yang Ayah hadapi sampai beliau berniat untuk melunasi seluruh biaya rumah sakit dan hutang kakek. Ayah merasa tak enak dengan temannya. Ayah sudah banyak merepotkan temannya tersebut. Ayah menerima bantuan dari sahabatnya tetapi Ayah berkata bahwa Ayah meminjam uang, jadi suatu hari Ayah pasti akan menggantinya.”
“Setelah berapa belas tahun, ayah berhasil mengumpulkan uang untuk mengganti pinjaman dari temannya. Ayah juga sudah naik jabatan. Ayah berencana mengembalikan uangnya dan menemui temannya itu. Tetapi teman Ayah menolak uang tersebut dan meminta Ayah untuk menggantinya dengan sebuah perjodohan. Teman Ayah beralasan bahwa dirinya ingin menjalin sebuah hubungan keluarga dengan Ayah. Ayah yang merasa tak bisa menolak akhirnya mengiyakan permintaan sahabatnya. Awalnya Ayah akan menjodohkan anak temannya itu dengan Kiran, tapi setelah beberapa bulan teman Ayah menghubungi Ayah lagi dan mengatakan bahwa anaknya ingin dijodohkan dengan putri bungsu Ayah yang tak lain adalah dirimu, Ra." Jelas Divo panjang lebar.
"Tapi, kenapa anak dari sahabat Ayah ingin dijodohkan denganku?" Tanya Dira pelan.
"Kakak juga tidak tahu. Mungkin dia tertarik denganmu." Balas Divo sambil mengendikkan bahunya.
"Sekarang, Kakak serahkan keputusan di tanganmu, Ra. Kamu bisa memilih menerima atau menolak pernikahan besok. Ikuti kata hatimu dan buatlah keputusan yang menurutmu baik. Kakak akan selalu mendukungmu jika memang kamu menolaknya." Setelah mengatakan hal itu, Divo beranjak dari duduknya dan meninggalkan sang adik. Ia ingin memberi waktu Dira untuk berpikir dan menenangkan diri. Ia tidak ingin Dira menyesal di kemudian hari.
Dira termenung. Sekelebat penjelasan dari Divo seperti menggoyahkan hati Dira. Padahal sebelumnya Dira sudah sangat yakin untuk menolak pernikahan itu. Tapi sekarang keputusannya mulai goyah. Ia jadi merasa tak tega untuk menolak. Ayahnya pasti merasa tidak enak pada temannya jika Dira menolak. Teman Ayahnya sudah banyak membantu keluarganya. Apalagi saat Ibunya harus melahirkan dirinya itu pun juga dibantu oleh teman sang Ayah.
"Bagaimana ini?" Gumamnya pada dirinya sendiri. Air matanya sudah berhenti menetes.
Dira mengusak rambutnya frustasi. Ini bahkan lebih memusingkan daripada soal kalkulus dan trigonometri baginya. Keputusannya ini bagaikan kelanjutan hidup dan matinya nanti.
Arrghh...
Dira mengerang seperti orang gila. Kepalanya tetiba berdenyut kembali. Pusing mendominasi.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menyentakkan Dira untuk kembali dari lamunannya. Ia memandang daun pintu kamarnya yang sedikit terbuka dan menampilkan wajah Wira yang mengintip disana. Tapi saat melihat jika Dira tengah terjaga membuat pria baruh baya itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar putri bungsunya.
“Ra..”
Panggilan penuh kasih sayang yang selama ini selalu terdengar dari Ayahnya membuat Dira semakin dilema. Terlebih saat Ayahnya duduk di sebelah Dira dengan pandangan sendu yang terlihat jelas di raut wajahnya yang tak lagi muda.
"Maafkan Ayah ya, Ra."
Wira menunduk, menyembunyikan iris matanya yang mulai berkaca-kaca. Dira adalah anak kesayangannya. Satu-satunya hal yang sangat ia jaga bersama istrinya dan kedua anaknya. Melihat sang anak yang sangat kentara sekali kecewa padanya membuat Wira tercabik hatinya.
"Jika saja waktu itu Ayah memiliki uang yang banyak, mungkin kamu tidak akan dijodohkan dan dinikahkan dengan anak teman Ayah, Ra."
Wira menyesali ketidakmampuannya dulu dalam membiayai keluarganya hingga berakibat pada putri bungsunya sekarang.
"Ayah salah, Nak. Seandainya saja dulu Ayah tidak menerima perjodohan itu pastinya kamu tidak harus menikah besok. Seharusnya Ayah menolak saja. Seharusnya Ayah tetap mengganti uang pinjaman tersebut dengan uang tabungan Ayah. Bukan menggantinya dengan dirimu. Dengan perjodohan itu."
"Ayah bodoh. Ayah sudah jahat sama kamu. Ayah tidak pantas untuk jadi Ayahmu, Ra.. Maafkan, Ayah. Ayah minta maaf, Ra.." Wira meracau di tengah tangisnya yang sudah pecah. Wira terus saja mengatai dirinya jahat, bodoh dan tak becus menjaga anak.
Dira tak tahan melihat Ayahnya seperti ini. Hatinya terasa sesak mendengar tangisan Ayahnya ditambah dengan racauan Ayahnya yang semakin menambah sakit relung hatinya.
Semua yang diracaukan Ayahnya tidaklah benar. Ayahnya adalah sosok paling tangguh di dunia ini menurut Dira. Beliau sudah berjuang untuk menghidupi keluarganya hingga seperti sekarang. Bahkan setahu Dira, gaji sang Ibu tidak pernah digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga. Gaji Ibu hanya untuk Ibu sendiri. Ayah ingin Ibunya dapat merasakan hasil kerja kerasnya sendiri. Lagipula untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga itu adalah tugas seorang kepala keluarga. Itu kata Ayahnya.
"Ayah.." Dira memanggil lirih. Matanya sudah basah melihat sosok paling tangguh yang sangat disayanginya itu menangis. Ia memegang pundak Ayahnya kemudian beralih menggenggam salah satu tangan Ayahnya yang terkepal kuat.
"Ayah nggak jahat. Ayah nggak bodoh. Ayah adalah Ayah terhebat untuk Dira. Tanpa Ayah, Dira nggak bakal bisa lahir ke dunia ini. Ayah sangat pantas menjadi Ayah Dira. Ayah sudah berjuang untuk menyelamatkan nyawa Dira saat itu. Dira bangga punya Ayah seperti Ayah." Dira ikut menangis bersama Ayahnya. Air matanya menetes deras.
Dira kini merasa pikirannya telah terbuka. Tangisan Ayahnya membuat dirinya sedikit lebih mudah untuk mengambil keputusan.
Dira menghapus air matanya. Ia menarik napas dalam untuk menenangkan diri. Ia sudah yakin dengan keputusannya. Ia tidak ingin menjadi egois. Ia ingin sedikit membahagiakan orang tuanya dengan pernikahan yang akan diselenggarakan besok. Bahkan jika itu harus mengorbankan masa depannya.
"Dira akan terima perjodohan ini." Ia berhenti sejenak. Berusaha menguatkan hatinya atas keputusan yang ia ambil. "Dira terima pernikahan besok."
Wira menoleh lamat-lamat. Beliau menatap Dira dengan pandangan terkejut. "Nak, jangan paksakan dirimu untuk menerima semua ini. Ayah akan mencoba kembali menghubungi teman Ayah dan menolak acara besok."
Dira menggeleng. "Tidak perlu, Yah. Dira tidak ingin Ayah mengecewakan teman Ayah karena Dira. Teman Ayah sudah banyak membantu keluarga kita." Dira tersenyum tulus. Ia tahu, keputusannya pasti akan membawa perubahan dalam hidupnya. Tapi setidaknya, ia tidak membuat keluarganya malu di hadapan teman Ayahnya dan keluarganya pun tak akan mengecewakan teman sang Ayah.
"Tapi, Nak. Ayah-"
"Tidak apa-apa, Yah. Dira sudah yakin sama keputusan Dira. Jadi, Ayah tidak perlu memikirkan ini lagi. Ayah hanya perlu fokus sama pernikahan besok." Potong Dira sambil mengusap air mata Ayahnya.
Dira tersenyum lega. Ia sudah memutuskan dan ia tidak bisa mundur lagi. Lagipula itu hanyalah sebuah pernikahan.
Hanya!
Dira menekankan kembali.
HANYA!
Dira mendesah dalam hati. Sepertinya ia tidak bisa tidur malam ini.
