BAB 4
"Ra, kantin yuk!"
Dila mengajak Dira begitu Pak Joni keluar dari kelas. Padahal bel yang berbunyi tadi adalah bel tanda pergantian pelajaran, bukan bel istirahat.
"Ini kan masuk jam pelajaran Pak Rasyid La, kok malah ke kantin. Ntar yang ada malah di hukum."
Dira memasukkan buku bahasa inggrisnya ke dalam tas dan menggantinya dengan buku fisika.
"Pak Rasyid nggak bakalan masuk, Ra. Istrinya kan lagi melahirkan."
"Hah?"
Dira sukses melongo. Seingat Dira, Pak Rasyid adalah seorang bujangan yang belum menikah. Tapi kenapa sekarang malah sudah punya istri dan anak? Padahal kan Dira berharap kalau Pak Rasyid bisa berjodoh sama Vio karena sahabatnya itu ada rasa sama bapak ganteng satu itu.
"Jangan bercanda, La."
Dila terlihat memutar bola matanya malas. "Aku nggak bercanda, Ra. Kan Pak Rasyid emang udah nikah. Vio nya aja tuh yang kekeh deketin Pak Rasyid. Mau jadi pelakor emang dia tuh." Jelas Dila.
Dira nampak masih terkejut. Tapi ia manggut-manggut saja ketika Dila selesai menjelaskan.
"Udah yuk! Mumpung Pak Rasyid lagi baik dengan nggak ninggalin tugas." Ajak Dila lagi. Biasanya guru ganteng satu itu tak akan sebaik itu dengan meninggalkan kelasnya kosong tanpa adanya tugas yang memberatkan siswanya sendiri.
"Ya udah, yuk!" Dira akhirnya mengiyakan ajakan Dila. Biasanya Dira tak akan pernah mau keluar kelas jika masih dalam jam pelajaran seperti sekarang. Dia kan anak baik. Selalu taat aturan.
Tapi melihat wajah Dila, Dira tak enak juga jika menolak. Biasanya jika untuk urusan membolos jam pelajaran untuk ke kantin, Dila selalu mengajak Vio. Tapi anak itu hari ini tidak turun sekolah karena sakit. Jadilah Dira yang dijadikan pengganti.
Dira berjalan beriringan di samping Dila. Kantin letaknya berada di ujung lorong lantai 1 diantara gedung anak kelas 11 dan 12. Untuk mencapai kesana, Dira dan Dila harus melewati beberapa kelas anak IPS yang letaknya khusus di lantai 1. Sementara anak IPA kelasnya di khususkan berada di lantai 2.
Beberapa kelas yang belum dimasuki guru masih terlihat ramai. Para siswa masih duduk-duduk santai di depan kelas. Ada yang bermain gitar, ponsel bahkan ada pula yang hanya sekadar mengobrol dan tertawa.
Dira menghela napas begitu matanya tak sengaja mendapati salah satu siswa laki-laki yang ikut duduk bersama gerombolannya. Remaja itu nampaknya juga melihat keberadaan Dira hingga membuatnya berdiri dan meninggalkan teman-temannya untuk menghampirinya.
"Apa!" Tanya Dira tak santai. Gadis cantik itu sudah memasang wajah juteknya.
"Galak banget sih, Yang." Angga menampilkan senyum tampannya.
"Sayang-sayang pala lo peyang." Dira mendengus tak suka dan hendak menarik Dila untuk pergi sebelum Angga yang lebih dulu menggenggam tangannya.
"Apaan sih, Ngga. Lepas!" Dira menarik kasar tangannya. Raut wajahnya sudah tak sedemikian enak. Angga memang laki-laki aneh yang selalu dihindari oleh Dira. Angga selalu mengganggu ketenangannya. Entah bagaimana Angga selalu mengatakan menyukai Dira dan mendeklarasikan ke seluruh antero sekolah jika Dira adalah miliknya.
Dira kan tidak suka. Ia bukan milik Angga. Terlebih ia tidak suka dengan laki-laki itu.
"Ra, dipanggilin Angga tuh!" Dila yang digeret paksa oleh Dira setelah berhasil kabur dari cegatan Angga menatap Dira dari samping.
"Nggak usah diladenin!" Dira berujar tajam. Moodnya kini berubah buruk akibat makhluk astral gila itu. Padahal sudah seminggu ini Dira merasa tenang karena Angga sudah jarang menemui dirinya di kelas.
"SAYANG, DI KANTIN JANGAN SELINGKUH YA.. AKU CINTA KAMU.." Teriakan lebay itu terdengar nyaring di koridor kelas. Semua pasang mata menatap bergantian kearah Angga dan juga Dira. Seketika keadaan langsung berubah riuh. Beberapa siswa nampak bersiul menggoda terutama gerombolan dari teman-teman Angga sendiri.
Dira mengutuk Angga dalam hati. Semua sumpah serapah ditujukan khusus untuknya. Padahal seumur hidup Dira, ia belum pernah mengumpati orang. Bahkan dalam hati sekalipun. Tapi kali ini pengecualian untuk Angga. Laki-laki pemilik bibir sexy itu memang pantas untuk dikutuk.
"Kamu nggak ada niatan buat balas perasaan Angga, Ra?" Tanya Dila begitu mereka telah tiba di kantin.
Dira merengut protes atas pertanyaan yang diajukan oleh Dila. Apa-apaan. Sudah jelas sekali jika jawaban Dira akan tetap sama seperti satu tahun silam. Waktu dimana Angga pertama kali menyatakan perasaannya pada Dira di tengah jam pembelajaran.
Ck. Mengingatnya saja membuat Dira kesal setengah mampus.
"Udah gila kalik aku kalau sampai nerima dia."
Dila terkekeh melihat wajah sebal Dira. Sahabatnya itu meskipun tengah cemberut, aura cantiknya tidak pernah hilang. Mimik wajahnya juga malah terlihat lucu. Dila saja gemas. Pantas saja Dira selalu dilirik semua murid sekolah mereka. Dila tak akan heran lagi jika Angga bisa tergila-gila dengan sahabatnya ini.
***
Dira tiba di rumah tepat ketika matahari tengah berada di puncaknya. Hari ini para siswa di pulangkan lebih cepat karena akan diadakan rapat antara Guru dengan para pengurus OSIS yang membahas tentang perayaan HUT SMA Garuda. Perayaan akan diadakan lusa dengan agenda yang telah dirancang sejak jauh-jauh hari.
Dira memandang heran halaman rumahnya yang dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan yang terparkir rapi disana. Kemudian ia beralih melihat teras rumahnya dimana beberapa anak kecil tengah asyik bermain bersama.
Sepertinya Dira kenal semua anak itu. Dan benar dugaannya karena mereka semua adalah para sepupu dan keponakannya.
"Ara.." Panggil Dira pada salah satu anak perempuan berambut ikal berbaju biru dengan motif kupu-kupu yang tengah memakan sesuatu.
Anak perempuan itu menoleh dan langsung tersenyum saat melihat Dira yang berjalan ke arahnya. Anak itu cepat-cepat berdiri dari duduknya dan berlari menghambur ke arah Dira untuk meminta pelukan.
"Ara kangen Kak Dira." Anak perempuan berumur lima tahun itu berkata dengan nada riang dalam pelukan Dira.
Dira terkekeh gemas. "Kak Dira juga kangen Ara."
Ara adalah anak dari adik ibunya yang tinggal di luar kota. Sudah sebulan mereka tidak bertemu. Ara anak yang sangat menggemaskan. Dira suka sekali dengan sepupunya yang satu ini.
"Dira?"
Shina, Ibu dari Ara datang dari dalam rumah. Wanita yang masih terlihat cantik itu mengernyit melihat keponakan cantiknya sudah tiba di rumah.
"Kok sudah pulang?"
Dira tersenyum pada sang bibi. "Iya, Bi. Hari ini pulangnya dipercepat karena ada rapat.”
Shina tersenyum. “Ya udah, masuk dulu gih. Ganti baju baru kita makan bareng." Shina mengambil alih Ara dari gendongan Dira dan menyuruh Dira untuk masuk ke dalam rumah. Dira tanpa pikir panjang menuruti perkataan bibinya.
“Ini acara keluarga seperti biasa, Bi?” Tanya Dira seraya melepaskan sepatunya.
Shina mengangguk. “Iya, Ra.”
“Tumben ngambil di hari kerja. Biasanya ngadainnya di hari libur.”
Shina menurunkan Arra yang ada di gendongannya. Anak itu memberontak di dalam pelukan sang ibu karena berniat ingin kembali bermain. “Bibi juga nggak tahu, Ra. Nenek yang meminta untuk berkumpul hari ini.”
Dira kemudian hanya ber’oh’ria untuk membalas sang Bibi. Kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumah. Netranya langsung suguhkan oleh keadaan rumah yang sudah berubah. Sofa-sofa yang biasanya tersusun rapi di bagian tengah ruang tamu kini beralih tempat menjadi di pinggir ruangan dan di gantikan oleh hambal-hambal yang telah di susun sedemikian rupa. Tak lupa bagian atas hambal sudah tersaji beraneka ragam makanan yang siap untuk di santap. Kemudian ia beralih menuju ruang keluarga yang telah di penuhi oleh keluarga besarnya, mulai dari bibi, paman, nenek bahkan sepupu-sepupunya pun ada disana.
Semua langsung menoleh ke arah Dira saat gadis itu datang. Ibunya yang sedang duduk di tengah-tengah keluarga besarnya tersentak saat melihat anak bungsunya sudah pulang.
“Ra? Sudah pulang?”
Dira mengernyit saat menyadari tingkah ibunya yang sedikit aneh. Terutama pada pertanyaan retoris yang dilayangkan ibunya. Wanita paruh baya itu jelas seperti terkejut dengan keberadaan Dira di rumah.
“Iya, Bu.. Hari ini dipulangkan lebih cepat.”
Rani terlihat melirik Wira sejenak sebelum kembali menatap Dira. Wanita paruh baya itu tersenyum. “Ganti baju dulu ya, Nak. Habis itu kumpul disini.”
Dira menganggukkan kepalanya dan beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Entah mengapa Dira merasakan sesuatu yang tak mengenakkan disana. Seperti akan ada pembicaraan penting yang ingin disampaikan padanya. Gerak-gerik Ibunya begitu terbaca.
Dira jadi penasaran. Jiwa keponya meronta-ronta. Maka dari itu Dira melangkahkan kakinya lebar-lebar dan mempercepat gerak tubuhnya untuk mengganti baju seragamnya.
***
Semuanya telah berkumpul di ruang tamu. Dira sendiri telah menganti seragamnya dengan baju kaos lengan panjang berwarna biru serta celana kain berwarna hitam. Mereka baru saja selesai makan bersama dan sekarang mereka sibuk membersihkan peralatan makan yang telah digunakan. Dira awalnya ingin membantu, tetapi Rani melarang keras Dira dan menyuruhnya untuk tetap duduk diam di tempat.
Dira bosan.
Ia menghela napas untuk kesekian kali. Disini memang penuh dengan keluarganya, tetapi mereka sibuk mengobrol dengan topik yang tidak Dira ketahui. Para pamannya sibuk membicarakan pekerjaan. Sementara para bibi sibuk menggosip. Divo dan Kiran pun ikut nimbrung bersama para paman dan Ayahnya. Dira sebenarnya sempat terkejut saat melihat kedua kakak kembarnya ada di rumah. Pasalnya seingat Dira, Divo dan Kiran tadi pagi berangkat bekerja. Tapi entah kenapa siang ini mereka sudah ada di rumah. Mungkin mereka diminta untuk pulang oleh Ibu pikir Dira yang tak ingin ambil pusing.
Ting.
Sebuah notif masuk ke dalam ponsel Dira. Dengan segera ia membukanya. Ternyata pesan dari sahabatnya, Dila.
Dila :
Ra, lagi kumpul keluarga ya?
Me :
Iya, La
Dila :
Pantes rame banget rumahmu kayak lagi ada acara kondangan.
Dira tertawa. Keluarganya memang sangat banyak. Neneknya memiliki banyak anak. Jadilah jika sedang berkumpul begini, bisa seperti satu rt.
Me :
Iya. Kondangan nikahannya Kak Divo
Sama kamu, La.
Dila :
Apaan sih, Ra.
Bukan rahasia umum lagi jika Dila menyimpan rasa pada kakak sulung Dira. Namun sayang, Divo terlalu cuek dan terkesan tak peka dengan rasa yang diberikan sahabat embul Dira yang satu ini.
Me :
Pokoknya Dira maunya Dila yang
jadi cakapar Dira. Nggak boleh yang lain.
Dila :
Cakapar apa?
Me :
Calon Kakak Ipar hahaha..
Dila :
Apa sih, Ra..
Me :
Aww.. Pasti Dila lagi malu-malu
dugong kan sekarang :v
Dila :
Ya nggak dugong juga kali, Ra..
Dira tertawa senang. Menjahili Dila adalah sesuatu yang menyenangkan untuk Dira. Tidak seperti Vio yang selalu menggodanya. Anak itu pintar sekali berkelit dan malah menyerang balik dirinya jika ia jahili.
Sampai dimana sang Ibu mendatangi Dira dengan gurat serius dan menghentikan tarikan senyum di wajah manis remaja bermanik hazel itu.
"Besok kamu akan menikah dengan seseorang yang telah dijodohkan denganmu." Tanpa aba-aba dan permulaan apapun, tiba-tiba Rani mengatakan sesuatu yang hampir membuat Dira serangan jantung mendadak.
"Apa?!"
Reflek Dira berteriak tak percaya dan membuat Ibunya menatapnya sedih. Dira tidak salah dengar kan? Dira yakin sekali bahwa telinganya tidak rusak dan pendengarannya pun baik-baik saja. Tapi apa? Menikah?
Sungguh. Dira tidak mengerti jalan pikiran Ibunya. Bagaimana bisa Dira akan dinikahkan sedangkan umurnya masih dibawah kelegalan. Akan jadi apa pernikahannya nanti jika Dira saja masih duduk di bangku sekolah menengah atas? Dan apa itu tadi? BESOK?! Ya Tuhan. Dira mau pingsan saja rasanya.
"Bu, ini bukan april mop. Jadi jangan bercanda, nggak lucu." Dira memilih untuk tak mempercayai perkataan Ibunya. Dira sudah mengenal karakter Rani yang sudah sering kali mengerjainya dan Dira tak ingin terjebak lagi dalam permainan Ibunya.
"Ibu nggak bercanda, sayang." Rani menatap Dira serius. Semua orang disana pun ikut menatap Dira serius.
Tidak. Ini semua pasti hanya candaan Ibunya saja. Tidak mungkin mereka tega membiarkannya menikahi seseorang yang bahkan tidak ia kenal.
"Bu, please. Jangan main-main lagi. Dira tahu Ibu hanya ingin mengerjai Dira saja kan?"
Dira menatap memelas pada Ibunya. Berharap semoga Rani langsung berteriak keras dan mengatakan kata prank disertai tawa bahagianya. Namun kali ini sang Ibu malah balik menatap Dira memohon dengan manik mata yang berkaca-kaca. Wajah ibunya sudah memerah menahan tangis dan saat itu pula Dira mengakui jika Ibunya tak sedang mengerjainya.
"Kenapa harus Dira, Bu? Dira bahkan masih sekolah."
Dira mencoba mencari penjelasan dari Rani. Tidak. Dira bukan tipe orang yang akan langsung marah jika kedua orang tuanya memaksakan sesuatu padanya. Dira akan mencoba meminta penjelasan dari mereka.
"Karena pria itu hanya ingin dijodohkan denganmu saja, Ra."
“Apa? Kenapa Dira?”
Dira rasanya ingin mati berdiri. Tidak maksudnya mati duduk karena posisinya kini sedang duduk.
Astaga. Dira tak percaya akan semua ini.
Tidak.
Ini pasti mimpi.
Tolong bangunkan Dira sekarang!
Tidak!
Tidak!!
TIDAKK!!!!!!!!!!
