Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3

Dira menghela napas panjang. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan rasa kantuk belum menyerangnya. Ia masih duduk di depan televisi yang tengah menampilkan sebuah film luar negeri bergenre action.

Jam tidur Dira memang tergolong aneh. Ia akan tidur sekitar jam setengah 9 malam setelah selesai membaca materi pelajaran untuk keesokan harinya dan kemudian akan bangun pukul 3 pagi untuk kembali belajar dan mengulas materi lanjutannya. Entah kenapa Dira sangat suka bangun dan belajar di pagi buta. Otaknya terasa ringan dan materi pelajaran jadi sangat mudah untuk dipahami dan meresap dalam kepalanya.

Dira mengerang bosan. Tangannya meraih ponsel yang ada di atas meja dan melihat beberapa notif yang masuk. Keningnya berkerut saat salah satu temannya mengirim pesan untuk menanyakan tugas powerpoint hasil kerja kelompok mereka.

Seketika Dira menepuk jidatnya kala menyadari ia lupa memindahkan tugasnya ke flashdisk untuk persentasi besok.

Dira beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar untuk mengambil flashdisk. Setelahnya ia berjalan pergi menuju kamar Kakaknya yang tepat berseberangan dengan kamarnya. Laptopnya sedang rusak. Beberapa minggu ini ia selalu meminjam laptop milik Kakak laki-lakinya itu.

Dira membuka pintu kamar Divo tanpa mengetuk seperti biasa. "Kak Divo pinjem lap-" Tapi ia menyesali kebiasaannya ini saat matanya disuguhkan pemandangan toples dari tubuh tamu Ayahnya yang berdiri tepat di depan pintu "-top dong." Lanjut Dira dengan suara yang hampir menghilang di ujung kalimatnya.

Dira terpaku di tempat. Matanya melotot kaget dengan Vino yang juga ikut terdiam di tempatnya.

"Ma-maaf." Dira tergagap. Buru-buru menutup pintu kamar Kakaknya sampai hampir membanting pintu kayu tersebut.

Dira meruntuki dirinya sendiri. Wajahnya sudah memerah sampai ke telinga. Ia malu bukan main. Walaupun dia memiliki saudara laki-laki dan seorang Ayah, tapi sepanjang 16 tahun hidupnya, ia tidak pernah melihat seorang lelaki telanjang di depan matanya.

Arghh.. Dira sudah tak punya muka untuk bertemu dengan pria bernama Vino itu.

"Hei." Seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

Dira membuka tangannya yang menutupi wajah memerahnya. Tapi sedetik kemudian ia kembali menyesal karena yang memanggilnya tadi adalah orang yang sama dengan yang membuat wajahnya memerah seperti layaknya kepiting rebus.

"Maaf, Kak. Dira nggak tau kalau Kakak sedang tak pakai baju." Dira menangkupkan tangannya di depan dada. Malunya masih sangat luar biasa terlebih Dira kembali mengingat bentuk tubuh Vino begitu matanya tak sengaja menyorot perut Vino ke bawah.

Ugh. Perut berbentuk kotak-kotak delapan milik Vino dan sesuatu yang tersembunyi di balik celananya. Untung saja saat itu Vino sudah mengenakan celana dalamnya. Kalau tidak, mungkin otak polos Dira akan tercemar dengan gambar nyata milik Vino yang sedang tertidur.

Vino meringis dan tersenyum canggung. "Jangan meminta maaf. Itu bukan salahmu. Tapi kesalahan saya yang tak mengunci pintu." Dira hanya dapat menunduk sambil menggigit bibir bawahnya canggung.

"Ini. Kamu mau pinjam laptop Bang Divo kan?" Vino menyodorkan sebuah laptop berwarna hitam kepada Dira.

Dira mengangguk. Ia mengambil laptop tersebut dan memeluknya ke depan dada.

"Makasih, Kak."

Dira buru-buru berbalik untuk membuka pintu kamarnya sebelum Vino sempat memanggilnya kembali.

Vino hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Dira. Remaja yang sangat menggemaskan.

***

Dira berbaring nyaman di kursi ruang santai yang ada di lantai 2 setelah selesai memindahkan tugasnya ke dalam flashdisk. Tempat ini disediakan oleh Ibunya untuk Dira dan kedua Kakaknya bersantai. Televisi 32 inc sengaja disediakan supaya tidak mengganggu kedua orang tuanya yang lebih senang menonton berita dibanding anaknya yang suka menonton film.

"Dek."

Dira melongok ke arah atas kepalanya begitu mendengar namanya dipanggil. Ia mendapati Divo berjalan ke arah sofa beserta dua orang lain di belakangnya. Seketika Dira langsung bangun dari posisi baringnya.

Lagi-lagi Dira harus menahan malu saat matanya tak sengaja bertemu tatap dengan Vino. Tapi kali ini ia harus bersikap biasa agar Kakaknya tak menaruh curiga.

Divo duduk di sebelah Dira. Sementara dua lainnya memilih duduk di masing-masing single sofa. Yang tak mengenakan Dira adalah Vino yang duduk di posisi yang menghadap langsung ke arahnya.

Dira jadi merasa tak nyaman. Ia memutuskan untuk mengambil bantal sofa dan meletakkannya di atas paha Divo. Kepalanya ia baringkan disana dengan posisi wajah yang sengaja ia arahkan ke televisi agar tak dapat melihat Vino.

"Dek kok malah tiduran sih?! Kan mau Kakak kenalin sama temen Kakak." Divo menunduk untuk melihat wajah adiknya.

"Udah kenal kok, Kak." Balas Dira tanpa menatap Divo dan memilih memfokuskan dirinya ke televisi.

"Kan baru tau nama, Dek."

"Terus mau kenal apa lagi, Kak?" Dira nampak tak tertarik dengan pembicaraan Divo.

"Ya siapa tau aja kamu mau kenal lebih jauh sama satu dari mereka berdua." Divo menoel-noel pipi Dira untuk menarik perhatian adik perempuannya itu.

Dira mengerutkan dahinya bingung. "Maksud Kakak?"

"Udahlah. Lupain aja." Divo memilih berhenti karena tahu adiknya itu pasti akan terus bertanya. Padahal ia hanya ingin mendekatkan Dira dengan Vino. Siapa tahu saja adiknya itu tertarik dengan temannya.

Dira kembali memfokuskan diri dalam alur cerita film di depannya. Ia mengabaikan tiga orang pria dewasa yang sibuk membicarakan pekerjaan yang tak dimengerti Dira. Sampai beberapa waktu berlalu, Dira merasa sangat mengantuk sampai tak sadar tertidur di pangkuan Kakaknya.

"Dia tidur." Vino menunjuk Dira dengan dagunya. Dira kini tengah meringkuk dengan wajah yang hampir terjatuh dari bantal sofa jika saja Vino tidak bergerak cepat menahan kepala berhelaian cokelat itu dengan tangannya.

"Aku akan membawanya ke kamar." Vino menyelipkan tangannya di bawah bahu dan lutut Dira. Mengangkatnya semudah mengangkat beban ringan di kedua tangannya.

Dira bukannya merasa terganggu malah semakin menyamankan kepalanya untuk bersandar di dada bidang Vino.

"Jangan kamu apa-apakan adikku, Vin." Divo berkata sebelum Vino membuka pintu kamar adiknya. Pria yang paling tua diantara mereka itu melayangkan tatapan menggodanya pada si pria minim ekspresi.

"Mungkin hanya keperawanannya saja yang akan hilang, Bang." Sahut Vino yang ditimpali kekeh tawa Divo dan juga Dion.

"Dasar bujang gila." Cibir Divo yang menambah keras tawa dari Dion Admaja.

Vino membaringkan Dira secara perlahan di atas ranjang milik gadis cantik itu. Menarik selimut yang terlipat di samping bantal Dira dan menyelimuti tubuh mungilnya.

Vino tak langsung pergi begitu saja. Ia mendudukkan diri di samping tubuh Dira dan memandangi wajah cantik dan manis itu dalam diam. Semuanya tergambar dengan jelas di kepala Vino saat untuk pertama kalinya ia tertarik dengan pemuda ini.

Mungkin akan terlihat konyol saat pria berego tinggi seperti Vino langsung takluk pada seorang bocah hanya dalam sekali pandang. Tapi Vino tidak bisa menolak pesona seorang Indira. Pesonanya terasa sangat kuat hingga membuat Vino detik itu juga langsung jatuh bertekuk lutut tanpa bisa untuk bangkit kembali.

"Kenapa kamu indah sekali, Ra?" Vino mengusap lembut helaian cokelat milik Dira. Berharap dapat semakin menyenyakan tidur sang pujaan hati.

"Kalau sudah seperti ini, aku tidak kuat untuk menahannya lebih lama." Vino lantas tersenyum. "Jangan salahkan aku jika dalam waktu dekat aku akan benar-benar mengikatmu."

Vino merendahkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Dira. Kemudian bibirnya mengecup lembut kening Dira dalam beberapa waktu hingga Vino melepasnya.

"Mimpi indah, Ra."

Sekali lagi Vino mengusap kepala Dira sebelum akhirnya pria dewasa itu beranjak pergi dari kamar si remaja cantik.

****

"Tumben Dila belum jemput, Dek? Biasanya jam segini sudah majang aja di depan rumah." Divo bertanya pada Dira yang tengah sibuk mengikat tali sepatunya.

Dira menoleh ke arah Divo yang sedang duduk di kursi teras. "Dila hari ini memang nggak jemput Dira, Kak."

"Loh kenapa? Dia sakit?" Divo bertanya lagi.

Dira menggeleng. "Nggak kok. Cuma hari ini dia dijemput sama Dhanni."

Kening Divo mengernyit. "Dhanni siapa? Kok dia bisa jemput Dila?"

Kali ini Dira menatap Divo seolah mengejek. "Kenapa Kakak kepo? Kakak cemburu?"

Divo buru-buru mengelak. "Cemburu apa sih, Ra. Kakak kan cuma penasaran."

"Yeah. Mengelak saja sampai lebaran gajah." Gumam Dira pelan tanpa terdengar oleh kakaknya itu.

"Cowoknya Dila kali." Balas Dira sambil mengambil helmnya di atas meja dekat Divo duduk.

"Hah? Yang bener kamu, Ra?" Divo terlihat sangat terkejut atas ucapan adiknya.

"Hm." Dira bergumam sebagai jawaban.

"Dira berangkat dulu, Kak. Sudah hampir telat." Dira cepat-cepat menarik telapak tangan Divo dan membawa punggung tangan itu ke dahinya.

Dira hanya tak ingin berlama-lama dengan pria tak peka seperti Divo. Bisa-bisa ia tertular penyakit kakaknya itu. Sudah cukup Dila saja korban kebodohan dari Divo. Dira tak ingin suatu saat nanti pasangannya menjadi korban ketidakpekaannya akibat tertular oleh Divo. Kakaknya itu benar-benar payah dalam urusan cinta. Sudah tak peka, tsundere lagi.

Ck. Untung Dila sabar. Kalau itu Dira, sudah dapat dipastikan jika ia lebih memilih mencari orang lain dibandingkan harus menunggu pria macam kakaknya itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel