BAB 2
Pagi ini Dira telah siap dengan seragam sekolah putih abu-abu yang bertuliskan logo dari SMA Garuda Jaya dibagian dada kiri sebagai ciri pembeda dari sekolah lain. Ia telah menggendong tas punggung berwarna abu-abu miliknya, kado dari Divo pada ulang tahun ke-15 nya tahun lalu.
"DEK!!"
Teriakan keras itu terdengar dari arah depan rumah. Membuat Dira mau tak mau melangkah tergesa ke arah asal suara.
Dilihatnya Divo yang sedang duduk santai di kursi dengan koran yang berada di salah satu tangannya. Terlebih lagi ia masih mengenakan pakaian biasa.
"Loh, Kakak nggak kerja?" Tanya Dira heran. Biasanya jam segini Divo sudah siap untuk berangkat kerja. Kiran saja sudah tak terlihat batang hidungnya di rumah.
Divo menggeleng. "Kerja, tapi nanti. Kakak disuruh Ayah untuk jemput tamu dari kantor pusat di bandara dulu."
"Oh.." Dira mengangguk mengerti.
"Ya udah. Kamu berangkat sekolah gih. Udah jam segini. Udah ditungguin sama Dila daritadi."
"Kalo gitu Dira berangkat dulu, Kak." Dira meraih tangan kanan Divo, lalu membawanya untuk dicium. Setelahnya, Dira beranjak untuk menuju Dila yang telah siap di atas motornya.
Merasa bahwa Dira telah duduk dengan benar di atas jok motornya, Dila langsung menoleh ke arah Divo untuk berpamitan.
"Berangkat dulu, Kak.." Dila nampak menganggukkan kepalanya yang terbungkus helm hitamnya.
Divo menjawab dengan anggukan pula. "Iya, hati-hati."
Dila tersenyum. Lalu mulai menjalankan motornya meninggalkan perkarangan rumah Dira.
Kurang lebih sekitar 10 menit berkendara, akhirnya Dira dan Dila sampai di sekolah. Mereka memarkirkan sepeda motornya tepat di sebelah motor Vio yang kebetulan juga baru tiba.
"Pagi, Ra.." Sapa Vio lengkap dengan senyum ceria khas remaja manis itu.
"Pagi juga, Vi.." balas Dira tak kalah ceria.
"Kuy, masuk kelas." Ajak Dila setelah selesai memarkirkan motor dan menghampiri kedua sahabatnya. Dua remaja lainnya langsung mengangguk dan pergi ke arah lorong di dekat parkiran sekolah.
Mereka berjalan tenang di koridor sekolah. Berjalan dengan berjejer tiga sambil sesekali membalas sapaan atau senyuman teman-teman mereka. Sebenarnya mereka bertiga termasuk siswa populer. Dila yang ramah, Vio yang periang, dan Dira yang selalu dapat menarik perhatian semua orang dengan senyumnya. Selain itu mereka juga diberi kelebihan berupa kecerdasan otak diatas rata-rata dalam hal akademik. Bahkan Vio yang notabene berumur 1 tahun dibawah Dira, dapat dengan mudah menyusul Dira dan Dila dengan lompat kelas agar dapat bersatu dengan kedua sahabatnya. Tapi dibanding itu semua, Dira lah yang sangat diidamkan oleh semua orang. Kepolosannya yang menyerempet ke bego membuat semua orang gemas dan tertarik untuk memilikinya.
Mereka tiba di pintu kelas. Kelas mereka terletak di lantai dua yang terhubung dengan kantin yang tepatnya berada di balik tangga.
"Dira!" Teriakan itu menyambut kedatangan mereka yang baru saja tiba di kelas XI-IPA 1. Beberapa dari mereka berlari menghampiri Dira.
"Ra, kita boleh lihat PR fisikamu nggak?" Putri, salah satu temannya memandang dengan melas. Tangannya menangkup di depan dada tanda berharap akan kebaikannya berbagi jawaban PR nya.
"Tentu." Balas Dira yang langsung disambut pekikan senang dari teman kelas Dira.
"Dira emang yang terbaik deh. Jadi makin sayang kan." Salah satu dari mereka menyahut cepat.
Dira hanya dapat menggeleng heran. Kemudian menyerahkan buku fisikanya pada Putri. Gadis itu langsung bergerak cepat menuju tempat duduknya diikuti siswa lainnya yang ingin menyalin jawaban Dira.
Dira tersenyum. Tak apa kan membantu temannya agar sama-sama mendapat nilai yang bagus?
***
Tepat jam 4 sore, Dira tiba di rumah. Ia membuka pintu kayu rumahnya dengan wajah lelah. Seharian duduk di kelas tanpa bisa berbaring membuat tubuhnya pegal juga.
Dira naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Meletakkan tas punggungnya dan menarik handuk yang tersampir di belakang pintu kamar.
Ia ingin cepat-cepat mandi agar dapat beristirahat dan berbaring nyaman di kasur kelabunya. Jika menunggu nanti-nanti, yang ada Dira akan semakin malas dan berakhir dengan ia yang memilih untuk tak mandi hingga esok pagi.
Kamar mandi hanya ada di lantai 1. Hanya kamar kedua orang tuanya saja yang dilengkapi oleh kamar mandi. Jadilah Dira turun ke bawah dan menuju dapur dimana kamar mandi berada.
Tak butuh waktu lama untuk Dira mandi. Kini tubuh Dira sudah terlihat segar.
"Bibi masak apa?" Dira yang melihat keberadaan Bi Yuni lantas mendekat. Kepalanya melongok kearah wajan untuk melihat masakan Bi Yuni.
Bi Yuni adalah asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh sang Ibu untuk membantu membereskan rumah. Ibunya yang juga bekerja tak sempat untuk mengurusi rumah. Wanita tua yang bahkan lebih tua dari Ibunya ini sudah Dira anggap sebagai Ibu keduanya.
"Tumis cumi asam manis kesukaan Neng Dira ini mah." Jawab Bi Yuni sambil tersenyum.
Wajah Dira nampak berbinar senang. "Wah.. Dira jadi lapar nih, Bi." Dira yang hanya sedang memakai bathrobe itu ingin sekali langsung mengambil piring dari rak di dekatnya. Tapi sadar jika ia belum memakai pakaian dan masakannya juga belum matang membuat keinginannya ia urungkan.
"Kalau gitu Dira naik dulu ya, Bi. Nanti kalo udah matang teriakin Dira aja."
Bi Yuni menjawab Dira dengan gerakan tangannya yang membentuk tanda oke. Melihatnya, Dira langsung meninggalkan dapur dan bergegas menuju tangga di perpotongan ruang tamu dan ruang keluarga.
Tapi sebelum kakinya menginjak undakan pertama, suara bel ditekan terdengar keras dari depan. Dira sejenak menoleh ke dapur. Tak enak jika mengganggu Bi Yuni memasak. Namun ia memandang juga tubuhnya yang hanya mengenakan bathrobe selutut.
Ah tak apalah. Mungkin itu Risa dan Meira, salah dua temannya yang memang berniat untuk mengambil mading hasil dari tugas kerja kelompok mereka.
Ceklek
Pintu rumahnya ia buka. Saat itu juga dua sosok pria dengan gestur wajah yang berbeda masuk ke indra penglihatannya. Pria pertama yang berdiri tepat di depan Dira memakai sebuah kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga ke siku tengah menatapnya kaget namun langsung tergantikan dengan tatapan tajam dari kedua matanya. Sedangkan pria kedua yang berada di sebelah kanan si pria pertama juga memakai kemeja namun berbeda warna. Kemeja pria itu berwarna dark blue dengan aksen titik putih yang menghiasi seluruh kemejanya. Pria yang ini nampak lebih ramah dengan senyum simpul yang ditampilkannya.
"Cari siapa ya?" Tanya Dira. Menyadari jika tamu yang datang bukanlah temannya dan juga malah seorang pria, Dira cukup tau diri untuk menyembunyikan tubuhnya di balik pintu. Hanya kepalanya saja yang melongok ke luar rumahnya.
"Kami mencari Pak Wira." Jawab pria berkemeja hitam dengan suara beratnya. Dira entah kenapa tiba-tiba bergidik.
Dira mengerjap polos. "Ayah tidak ada di rumah. Beliau sedang keluar kota."
"Kami tahu. Kami pun sudah menghubungi Pak Wira sebelumnya. Dan beliau meminta kami untuk menunggu di rumahnya karena saat ini beliau sedang berada dalam perjalanan pulang." Kali ini pria satunya yang menjawab.
"Kalau begitu silahkan masuk." Dira membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah. Sedetik itupula Dira langsung melepas handuk yang melilit rambut basahnya dan menggunakannya untuk menutupi dadanya yang sedikit terbuka.
"Silahkan duduk." Dira kembali mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Mau minum apa?" Tanya Dira sopan. Matanya bergantian menatap dua pria tersebut yang telah duduk manis di sofa panjang yang menghadap langsung ke arah tangga rumah.
"Terserah saja." Balas mereka kompak. Mendengar itu, Dira langsung pergi ke arah dapur. Disana ia melihat Bi Yuni yang masih sibuk memasak.
"Ada tamu, Neng?"
"Ada, Bi. Tamunya Ayah." Dira mengambil dua cangkir gelas untuk membuat minuman.
"Biar Bibi aja, Neng. Neng Dira pakai baju dulu aja. Bibi juga tinggal nunggu masakannya matang juga kok."
Dira tanpa bantahan mengangguk saja. Ia juga malu dengan dua tamu Ayahnya jika hanya mengenakan bathrobe.
Tak sampai 10 menit bagi Dira untuk berpakaian dan merapikan diri. Ia kemudian mengambil ponselnya di dalam tas sekolah untuk mengirimi Divo sebuah pesan yang isinya memberitahukan keberadaan tamu Ayahnya di rumah.
Dira memutuskan untuk turun. Ia melihat ke arah meja tamu yang masih kosong tanpa adanya minuman disana. Maka ia membelokkan langkahnya kembali ke dapur.
Ternyata Bibi masih mengaduk cuminya. Jadilah Dira yang mengantar dua gelas kopi beserta dua toples kaca berisi kue kering dalam satu buah nampan.
Dira meletakkan minuman serta kue keringnya tepat di depan kedua tamu tersebut. Selesai dengan itu, Dira malah dilanda kebingungan. Ia harus menemani kedua tamu ayahnya ini atau tidak. Tapi tak mungkin juga jika mereka ia tinggal berdua.
Maka ia memutuskan untuk duduk di single sofa yang berhadapan langsung dengan kedua pria itu. Suasana canggung langsung menyelimuti Dira. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Membuka pembicaraan juga bukan keahliannya.
"Ehem."
Deheman dari pria yang tadi Dira pikir ramah reflek membuatnya dan pria satunya menoleh untuk menatapnya.
"Kalau boleh tau, nama adik siapa?" Tanya pria itu dengan mata cokelatnya yang menatap Dira.
"Indira. Panggil aja Dira." Jawab Dira pelan sambil melempar senyum tipis.
Pria itu tersenyum lebar. "Wah, nama yang cantik. Secantik orangnya."
Dira hanya tersenyum simpul mendengarnya. "Makasih, Om."
Pria itu langsung memberengut setelah mendengar jawaban dari Dira. Dira yang menyadari perubahan mimik wajah dari pria tersebut langsung merasa tidak enak.
'Apa ia salah bicara? ' batin Dira.
"Jangan memanggil saya Om. Saya belum setua itu."
Dira meringis, merasa bersalah. Namun tak ayal ia memilih untuk mengangguk saja. Canggung ia dengan situasi ini.
"Nama saya Dion. Sedangkan pria di samping saya ini, Vino."
Dira menatap ke arah pria yang sedari tadi diam. Vino. Nama yang cocok untuk dirinya yang terkesan pendiam dengan ditopang dengan wajah datar tanpa ekspresinya.
"Loh, Vino?" Kak Divo datang dari arah dapur. Dira mengernyit. Sejak kapan Kakaknya datang? Kenapa ia tidak mendengar suara motor milik Kakaknya?
Vino tersenyum dan berdiri dari duduknya. Kak Divo mendekat dan mereka berpelukan sebentar.
"Lama nggak ketemu, Vin. Kemana aja kamu? Nggak pernah ngasih kabar." Divo tampak sangat senang dengan kedatangan Vino.
Vino terkekeh pelan. "Nggak kemana-mana kok, Bang. Kemarin-kemarin sibuk sama urusan kantor." Balas Vino.
Kemudian secara tak sengaja, Divo menoleh ke arah Dira. Senyumnya langsung merekah dan ia menatap kembali Vino dengan pandangan menyelidiknya. Vino hanya tersenyum simpul menyadari maksud dari tatapan Divo.
"Dasar." Gumam Divo yang ditujukan untuk Vino.
"Hai, Yon. Jangan menatapi adikku seperti itu. Kamu mau macannya mengamuk?" Dion yang ketahuan diam-diam mengamati Dira langsung terlihat gelagapan dan memandang Divo dan Vino bergantian.
"Eh, nggak gitu Bang Vin. Dion cuma ngelirik dikit kok."
Vino hanya melirik Dion tajam. Pria itu tak berkomentar apa-apa yang malah membuat Dion makin ketakutan. Salahnya juga yang berani main goda padahal macannya ada di sampingnya.
Divo tertawa senang melihat wajah ketakutan Dion. Sebuah hiburan tersendiri jika kedua saudara sepupu itu saling bertengkar.
Sementara itu, Dira yang tak mengerti apapun hanya menatap mereka dengan wajah polosnya. Sesekali kelopak matanya mengerjap lucu yang tanpa disadarinya membuat seseorang disana menahan gemas akan tingkahnya.
