Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 13

Dira masih duduk di sofa ruang santai. Ia tidak bergerak sesenti pun dari duduknya. Padahal sudah lima belas menit berlalu semenjak Vino mengatakan cinta dan menciumnya.

Dira masih tidak percaya jika Vino benar-benar melakukan tindakan tadi. Tapi untuk mengelak pun Dira tidak bisa karena masih terasa jelas kecupan bibir Vino di bibirnya.

"Ra, ngapain bengong disitu? Kesambet setan baru tau rasa."

Dira tersentak kaget mendengar seseorang berbicara di sebelahnya. Dira mendongak dan mendapati Divo berdiri di sampingnya dengan pakaian rapi.

"Kakak udah ganteng belum?" Divo bertanya sembari tersenyum tampan dengan jari telunjuk serta ibu jari yang diletakkan di dagunya.

Dira memutar bola matanya malas. Mendengus melihat kelakuan Kakaknya yang terlihat aneh.

"Biasa aja." Jawab Dira singkat dengan wajah tak tertarik. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang terpampang di hadapannya.

Malam ini, Divo terlihat sangat tampan dengan sebuah kemeja berwarna navy dengan jaket yang membalut tubuh atletisnya dan dipadukan dengan celana chino berwarna hitam yang melekat sempurna di tungkai pria yang memiliki tinggi 174 cm itu.

"Bilang aja Kakak ganteng, Ra. Nggak perlu bohong begitu."

Dira memutar bola matanya, lagi. Tak berniat membalas perkataan Divo yang Dira yakin jika Kakaknya itu tak akan berhenti memuji dirinya sendiri dan memilih menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa.

"Eh Vin, bagaimana penampilanku? Bagus tidak?"

Mendengar nama Vino disebut oleh sang kakak, secara reflek Dira kembali menegakkan badan tanpa berani menoleh ke arah belakang tubuhnya. Dira masih merasa malu jika harus bertatap muka dengan Kak Alpin-nya itu.

Entah kenapa disini ia yang merasakan malu padahal jika dilihat dari posisinya tadi, Vino lah yang mencium Dira. Vino juga yang menyatakan cinta padanya. Dan seharusnya Vino yang merasa malu, bukan dirinya.

Dira berniat untuk kabur. Ia sudah berdiri dan segera berlari dari sana hingga-

Brukk..

Dira menabrak sesuatu yang keras. Dira mengusap keningnya yang sedikit sakit karena menabrak dada bidang seseorang.

Tapi tunggu...

Dada bidang??

Dira secara spontan mendongak dan bersitatap langsung dengan orang yang ingin dihindarinya. Dira dapat merasakan pipinya yang memanas sampai ke telinganya. Dira hendak ingin kabur kembali, namun sayang, pergerakannya kalah cepat dengan lengan Vino yang telah merengkuh pinggangnya terlebih dahulu.

"Mau kemana, hm?" Vino berucap sedikit menunduk karena tinggi Dira hanyalah sebatas dadanya saja.

"Eh.. Anu.. Itu.. Anu.. Dira mau ke dapur, Kak. Iya ke dapur." Jawab Dira dengan  nada yang terdengar tak yakin.

"Dapurnya sedang tidak bisa dimasuki. Sedang dipel sama Bi Yuni." Balas Vino asal. Dan bodohnya, Dira percaya saja akan perkataan tak jelas suami tampannya itu. Sudah jelas jika Bi Yuni telah meninggalkan kediamannya karena langit telah gelap. Jam kerja Bi Yuni hanya sampai jam 6 sore.

"Dilarang bermesraan disini." sentak Divo yang merasa jengah melihat adegan romantis di depannya.

"Yang solo mah iri aja." Cibir Vino datar.

Divo berdecak, kemudian memilih pergi dari ruangan itu dan masuk lagi ke dalam kamar. Lebih baik ia menyiapkan jiwa dan raga untuk bertemu dengan remaja pujaannya daripada harus melihat adegan yang membuat matanya panas itu.

***

"Kak, bisa lepasin tangannya?" Dira sedikit menggerakkan tubuhnya agar Vino mau melepas rengkuhannya. Namun bukannya melepas, Vino malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Kalau Kakak tidak mau, bagaimana?" Vino berucap pelan. Mendekatkan wajahnya pada istri manis kesayangannya itu.

Masih dengan wajah memerah, Dira lantas menunduk untuk menghindari tatapan netra coklat yang sepertinya tengah mengodanya.

"Lepaskan, Kak. Nggak enak kalau dilihat yang lain." Dira mendorong pelan dada bidang di hadapannya. Tetapi, sesuatu terjadi. Dira bisa merasakan degupan jantung yang berdetak dengan kencang dari dalam diri Vino.

"Kak Alpin.. " Dira menatap tak percaya.

"Kamu tahu, inilah yang terjadi jika Kakak berdekatan denganmu, Ra." Vino menekan salah satu tangan Dira yang masih menempel di atas dadanya. Tepatnya di bagian jantungnya yang berdegup kencang.

"Kakak tidak berbohong mengenai pernyataan cinta Kakak tadi. Kamu bisa merasakannya sendiri." Vino menatap dalam mata Dira yang telah menjatuhkan dirinya dalam pesonanya. Menatapnya dengan pancaran rasa cinta yang selama ini dimilikinya untuk remaja tersebut.

“Kakak benar-benar mencintaimu, Ra. Sejak dulu, hingga sekarang. Rasa itu masih tetap sama dan tidak akan pernah berubah."

Vino mempersempit jarak diantara mereka. Merunduk untuk kembali mengecup bibir merah muda tersebut untuk yang kedua kalinya. Merasa tak mendapatkan penolakan, Vino akhirnya mendaratkan bibirnya di atas bibir Dira. Mengecup bibir merah muda tersebut dengan penuh perasaan.

Dira sendiri memilih memejamkan matanya untuk menikmati ciuman Vino yang membawa kehangatan pada hatinya. Merasakan perutnya yang seperti dipenuhi oleh puluhan kupu-kupu terbang. Juga dengan jantungnya yang ikut berdebar kencang namun terasa nyaman.

Entah kenapa Dira tak menolak saat Vino hendak menciumnya lagi. Yang berada dalam pikirannya saat itu adalah bayangan bibir Vino yang sedang menciumnya. Dan Dira ingin merasakan bibir itu untuk kembali menciumnya.

Ciuman itu berselang lama dengan Vino yang pada akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Vino mengusap pelan pipi Dira yang merona merah. Vino tersenyum lembut yang dibalas juga dengan senyuman tulus dari Dira.

Segera saja Vino membawa Dira dalam pelukan hangatnya. Menyalurkan rasa cintanya pada remaja itu. Mengatakan betapa ia sangat menyayangi dan mencintai Dira melalui pelukannya. Kurang lebih tujuh tahun berlalu sejak Vino menyimpan perasaannya untuk remaja dalam pelukannya ini. Dan sampai dimana hari ini, ia bisa menyampaikan perasaannya pada sang kekasih hati.

Dira menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Vino. Meresapi kehangatan serta kenyamanan yang diberikan oleh Vino padanya. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini saat berpelukan dengan Divo maupun Kiran bahkan kedua oramg tuanya juga.

Ternyata pelukan yang diberikan oleh Vino terasa berbeda dengan yang selalu diberikan oleh keluarganya untuknya. Baginya dulu, sebuah pelukan akan terasa sama saja meski siapa pun yang memberi. Tetapi setelah ia merasakannya sendiri, pemikirannya seketika berubah.

Dira juga tak menyangka jika ia akan merasa senyaman ini jika sedang berada di samping Vino dalam rentan waktu beberapa hari ini. Kemudian ia bertanya pada hatinya. Apakah gerangan yang tengah dirasakannya ini? Apakah ini cinta? Atau hanya sekedar rasa sayang?

Dira bingung akan perasaannya. Dulu boleh ia berharap bila Vino mencintainya, mengingat ucapan tanpa suara yang Vino ucapkan waktu itu. Tetapi setelah ia mendengar sendiri Vino menyatakan cinta, ia jadi merasa bingung.

Apakah tidak terlalu cepat jika ia menyebut ini cinta? Namun, jika melihat dari segala yang ia rasakan, ia berpikir bahwa ini adalah cinta. Perasaan yang ia rasakan pada pria ini adalah cinta.

Tidak. Dira tidak ingin salah kaprah. Ia harus meyakinkan dirinya dahulu sebelum mengatakannya pada pria yang sedang merengkuhnya ini.

"Hentikan, kalian!" seru seseorang di belakang sana.

Vino reflek melepas pelukannya dan menoleh untuk melihat si empu perusak suasana. Vino mendatarkan wajahnya melihat Divo yang tengah menatap pada mereka dengan tangan bersidekap dada sembari bersandar pada dinding di samping pintu kamarnya.

Divo melangkah mendekat. Kemudian menepuk bahu Vino pelan sebelum mengacak cepat puncak kepala Dira.

"Ku ingatkan kembali Vin, adikku masih di bawah umur."

Setelah mengatakan itu, Divo beranjak pergi untuk mengajak jalan Dila, sahabat dari adik kesayangan.

Sepeninggalan Divo, keheningan merayap diantara mereka. Dira yang diam karena malu akibat kepergok sang kakak. Sementara Vino diam karena berusaha menahan diri untuk tak kembali menyentuh sang istri lebih jauh lagi.

"Kalian sedang apa?" Kiran berdiri di ujung tangga dengan kening berkerut melihat dua anak manusia yang baru menikah beberapa hari yang lalu dalam keadaan diam dengan Vino yang menatap pada si adik penuh minat.

"Tidak sedang apa-apa, Kak. Iyakan, Kak Alpin?" Dira menatap Vino untuk mendukung jawabannya.

"Iya." Balas Vino singkat.

"Kalau begitu, ayo cepat turun. Kita makan malam bersama."

Kiran lantas meninggalkan sepasang suami istri tersebut dengan menuruni tangga untuk kembali ke ruang makan.

Dira melirik sekilas Vino yang saat ini sedang menatapinya. Baru saja Dira ingin membuka mulut untuk mengajak sang suami itu untuk turun, Vino sudah terlebih dahulu meraih tangan Dira dan menariknya pelan untuk menuju ke ruang makan di lantai bawah.

***

"Bagaimana, Kak?!" Teriak Dira mendapati Divo yang baru saja pulang dan menapakkan kakinya di lantai atas. Wajah kalem pria itu terlihat lelah.

Niat awal ingin segera beristirahat di kamar, Namun Divo batalkan dan memilih berbelok kemudian ikut duduk dengan adiknya di sofa panjang.

"Bagaimana? Bagaimana?" Dira dengan semangat memberondong pertanyaan pada sang kakak.

Divo diam. Tak berniat menjawab. Namun ekspresi mendung bercampur sendu muncul di wajah pria berusia dua puluh lima tahun tersebut. Seketika saja wajah ceria Dira berubah bingung dan tak lama, ekspresi sedih muncul di wajah cantiknya.

"Gagal ya, Kak?" Tanya Dira lirih. Ia jadi tak tega dengan kakaknya itu.

"AAA... KAKAK BERHASIL DEK, KAKAK BERHASIL!!!" teriak Divo tiba-tiba yang membuat Dira terkejut bukan main. Secara reflek Dira memukul kencang lengan Divo sebagai akibat kelakuan Divo yang mengagetinya.

"Dira kaget tau, Kak!" sungut Dira kesal sambil mengelusi dadanya.

Divo tertawa kemudian menarik Dira untuk masuk ke dalam pelukannya dan mengguncang-guncang tubuh adiknya akibat terlarut dalam perasaan bahagianya.

"Aduh duh, Kakak ngapain sih?!" Dira berusaha melepaskan pelukan Kakaknya dengan mendorong kuat bahu Divo. Tapi yang namanya tenaga perempuan, bergerak pun tidak.

"Sekarang Dila jadi milik Kakak, Ra!" seru Divo dengan bahagianya. Dira yang melihatnya pun ikut terbawa suasana. Kali ini ia tidak mau kalah untuk ganti mengguncang tubuh Divo.

"Beneran, Kak? Beneran? Ah, Dira ikut senang, Kak."

Kakak beradik itu tampaknya sedang dilanda kebahagiaan. Mereka berdua sedang tertawa bersama karena Divo yang bercerita tentang acara penembakannya yang disambut tatapan berbinar-binar dari si adik bungsu. Dan hal adegan itu tak luput dari sepasang mata yang kini berdiri di ujung tangga.

Vino kemudian datang untuk bergabung. Divo dan Dira tak menyadari kedatangannya. Mereka masih asyik bercerita dan tertawa-tawa bahagia.

Saat hendak melewati Dira, Vino menyempatkan diri untuk mengusak pelan rambut Dira. Dira menoleh, sesaat kemudian rona merah menjalar di pipi mulusnya. Ia masih malu saat Vino melakukan skinship dengannya. Apalagi ada Kakaknya disini. Belum habis malunya karena kepergok berpelukan atau bahkan berciuman oleh Divo, pria itu malah menyentuhnya lagi.

"Bagaimana?" Vino bertanya dengan wajah penasarannya.

Divo tersenyum lebar. "Sukses dong." selorohnya senang.

Vino tersenyum simpul melihat sang kakak ipar senang. Lalu mengalihkan pandangannya pada si manis istri kesayangannya.

Vino duduk di sebelah Dira. Mengamati dalam diam segala ekspresi yang dilayangkan remaja itu. Sesekali ia hanya menimpali obrolan. Selebihnya, semua atensinya ia tujukan hanya untuk Dira seorang.

Tak terasa, sudah lebih dari dua jam mereka bercerita disana. Tak ada yang berniat mengakhiri pembicaraan mereka. Sampai akhirnya, Dira melirik jam dinding yang menempel di atas televisi yang telah menunjukkan waktu larut malam. Jika begini terus jam tidur Dira bisa semakin berantakan. Tapi Dira sama sekali tak merasa keberatan karena waktunya dihabiskan bersama dengan Vino dan juga kakaknya.

"Kakak nggak ngantuk?" Dira sengaja menggunakan kata Kakak untuk bertanya agar dua orang disana merasa ditanya.

"Belum." Jawab Divo cepat. Sementara Vino, ia hanya diam.

"Sudah larut lho, Kak. Nanti cepat tua kalo keseringan tidur malam." ujar Dira menasehati Kakaknya.

Bukannya menanggapi serius ucapan adiknya, Divo malah jadi berpikir untuk menggoda Dira.

"Vin, sudah dikasih kode tuh."

Vino mengangguk dan bersiap untuk berdiri jika saja Dira tak kembali bertanya pada Divo.

"Kode apa, Kak?" Dira menatap bingung Divo akan maksud dari perkataannya.

"Kode minta dikelonin."

Bug

Dira memukul Divo dengan bantal sofa yang ada di genggamannya. Mengabaikan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus akibat ucapan kakaknya.

"Apaan sih, Kak! Siapa juga yang minta dikelonin." sewot Dira pelan.

Divo tertawa senang mendapati wajah merona Dira yang terlihat lucu. Vino yang merasa kasian dengan sang istri, segera menarik lengan Dira untuk pergi dari sana.

"Vin, ingat! Adikku masih di bawah umur. Jangan kamu apa-apa kan dia dulu. Usahakan jangan cium bibirnya seperti tadi jika tidak ingin kebablasan. Aku belum siap jadi paman!"

Dira meraih kotak tisu yang ada di meja dekat pintu kamarnya dan langsung melemparkannya pada Divo yang dibalas dengan tertawaan dari Kakaknya tersebut.

Dira menutup wajahnya yang memanas dengan salah satu telapak tangannya.

Astaga, ia malu sekali..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel