BAB 14
Siang ini, rencananya Dira akan mengerjakan tugas kelompok di rumah Dila. Kebetulan hari ini adalah tanggal merah, jadi para pelajar dan pekerja diliburkan dari rutinitasnya untuk satu hari. Dira sudah berkemas dengan memasukkan buku-buku serta beberapa barang yang harus ia bawa ke dalam tas ranselnya.
"Mau kemana?" suara itu menghentikan pergerakan Dira dan membuat remaja itu menoleh ke belakang tubuhnya.
Disana, diambang pintu kamarnya, berdiri Vino dengan sebuah tab di tangannya.
"Kerja kelompok." Balas Dira sembari menutup tasnya dan meletakkannya di sofa tunggal dekat jendela.
"Dimana?"
"Tempat Dila."
Terdengar helaan napas kasar dari si pria.
"Kenapa tidak disini saja?"
Dira menatap Vino yang telah duduk di ranjang dengan tab yang telah ia letakkan di atas nakas. Vino senang sekali membawa benda persegi itu kemana-mana.
"Dira sudah janjian sama yang lain kalau kelompoknya di tempat Dila." papar remaja cantik itu.
"Kemari." Vino memerintahkan Dira untuk mendekat padanya. Tanpa dikomando untuk kedua kalinya, Dira bergerak maju dan berhenti dua langkah di depan sang suami.
"Kenapa, Kak?"
Pertanyaan Dira disambut tarikan cepat yang dilakukan oleh Vino pada salah satu lengannya hingga membuat Dira jatuh terduduk di atas pangkuan Vino.
Dira spontan saja kaget dan reflek hendak bangkit dari posisinya jika Vino tak segera melilitkan tangannya pada pinggang Dira.
"Ka-Kak Vino.." Cicit Dira salah tingkah.
Dira baru menyadari jika jarak wajah mereka hanya tinggal sesenti saja. Bahkan kini kedua hidung mereka saling bersentuhan tanpa ada jarak yang memisahkan.
Dira menunduk. Berusaha menenangkan jantungnya yang bergemuruh hebat di dalam dadanya. Wajahnya pun ia yakin sudah memerah bagai kepiting rebus. Ditambah dengan tatapan tajam dari netra cokelat di hadapannya membuat Dira merasa malu luar biasa sampai tak berani hanya untuk sekedar meliriknya.
"Kelompoknya disini saja. Kakak tidak mau berjauhan denganmu." ucap Vino pelan dan dalam.
Seperti disugesti, Dira langsung mengangguk tanpa berpikir terlebih dahulu.
Vino tersenyum tipis. Kemudian segera mendekap tubuh istrinya ke dalam pelukan setelah sebelumnya mencuri satu kecupan cepat pada bibir merah muda itu.
Wajah Dira semakin memerah. Kemudian memutuskan untuk menguburkan kepalanya di ceruk leher Vino yang berbau maskulin menenangkan.
Merasa nyaman dengan posisi tersebut, tanpa sadar Dira membalas pelukan Vino. Bahkan ia juga sampai tak merasa jika kedua kakinya telah melingkar di pinggang sang suami.
Vino lagi-lagi tersenyum tipis. Merasa senang sekaligus bahagia dengan keadaan ini. Ia mengusap rambut cokelat milik Dira. Kemudian semakin mempererat pelukannya disaat remaja itu tidak bereaksi apapun saat ia mencium kepala Dira dari samping.
Entah berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Namun yang jelas, mereka baru melepaskan pelukannya saat mendengar pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang.
***
Seperti yang diminta oleh Vino, Dira telah memohon pada teman-temannya untuk memindahkan tempat kerja kelompok menjadi di rumahnya. Beruntungnya mereka tak mempermasalahkannya dan tak banyak bertanya pada Dira alasan Dira memohon seperti itu. Kebetulan juga, rekan kelompoknya adalah teman dekatnya sendiri, yakni Dila, Vio dan Putri yang dalam beberapa waktu ini entah mengapa menjadi dekat dengan mereka.
Kini Dira tengah duduk bersama teman-temannya di ruang tamu dengan buku-buku yang telah berhamburan di atas meja. Gelas-gelas minuman dan snack yang disajikan Dira pun sudah tidak beraturan letaknya.
"Ra." Dira dan lainnya langsung menoleh tepat saat seseorang memanggil Dira.
"Kenapa, Kak?" Tanya Dira sambil menatap Divo yang berdiri di belakangnya.
"Kakak mau pergi, ada masalah di kantor. Kalau nanti ada orang yang mencari Kakak bilang aja suruh nyusulin Kakak ke kantor.”
Dira mengangguk saja. Selepas mengatakan itu, Divo lantas menatap pada remaja di sebelah Dira yang juga sedang menatap padanya.
"Kakak pergi dulu." Divo tersenyum lembut dan mengusak pelan puncak kepala Dila. Remaja gembul nan manis itu mengangguk dan balik tersenyum pada kakak dari sahabatnya itu.
"Iya. Hati-hati, Kak.”
Divo segera beranjak pergi meninggalkan Vio yang tengah melongo bodoh melihat pemandangan barusan. Berbeda dengan Putri yang hanya memasang wajah bingungnya.
"La, kamu ada hubungan apa sama Kak Divo?" Vio langsung menodong Dila dengan pertanyaan setelah kepergian saudara Dira itu.
"Kamu belum tahu?"
Vio menatap Dira bingung. Sementara Dila memilih untuk menunduk, menatap buku yang ada di tangannya.
"Tahu apa?" Tanya Vio penasaran.
"Dila sudah jadian sama Kak Divo."
"Hah?! Kok bisa?!!"
Vio berteriak kencang yang membuat Dira, Dila dan Putri harus menutup telinganya agar tak rusak karena suara cempreng itu.
"Ya ampun suaramu, Vi.” Dira yang duduk tepat di samping Vio hanya bisa mengusap-usap telinganya yang berdengung akibat teriakan Vio tadi.
"Sorry.." cengirnya tanpa merasa bersalah.
“Beneran La?” Tanya Putri setengah mendesak Dila untuk menjawabnya. Padahal ia tidak tahu apa-apa mengenai situasi disana tapi ia ikut bersemangat untuk mendesak Dila agar bercerita. Siapa tahu bisa jadi gosip baru kan.
Kini, atensi telah berpusat penuh pada remaja gembul nan manis yang masih menunduk sedari tadi.
“Ya, bisa dibilang gitu.” Jawab Dila malu-malu.
“Cerita cepat!” Vio ngegas mode on.
“Em, Kak Divo mengajakku makan di cafe dekat pantai. Kemudian ia mengajakku ke pinggir pantai dan menyatakan perasaannya disana padaku.”
“Apa yang Kak Divo katakan?” Vio semakin kepo.
“Kak Divo bilang jika ia cemburu pada Dhanni. Entah bagaimana Kak Divo bisa tahu soal Dhanni. Padahal setahuku Kak Divo tak pernah bertemu dan mengenal Dhanni.” Dila dan Vio sama-sama menatap Dira memicing. Dira yang di tatap langsung memasang wajah seolah tak mengetahui apapun.
“Setelah itu Kak Divo mengatakan jika ia punya perasaan yang lebih padaku. Selama ini dia tidak pernah berani mendekatiku karena ia pikir aku tidak menyukainya karena selalu menghindar. Padahal kalian tahu sendiri jika aku sangat canggung jika harus berdekatan dengan Kak Divo.”
Dira dan Vio sangat tahu jika Dila memang akan selalu menghindar jika Divo mendekatinya. Dila terlalu malu untuk menghadapi situasi dimana ia harus berdekatan dengan orang yang ia suka.
“Untuk kelanjutannya pasti kalian sudah tahu.” Dila mengakhiri ceritanya.
“Apa kalian ciuman?” Tanya Putri.
Dira dan Vio langsung menatap Putri dengan wajah horor. Dila sendiri membulatkan matanya namun merah di pipinya seakan menjawab pertanyaan frontal tanpa filter dari Putri.
“Aw, aku yakin ia menciummu.” Putri tertawa senang.
“Tidak!” Dila mengelak keras. “Em..” merah di pipinya makin terlihat jelas, “Itu tidak seperti apa yang kalian bayangkan.”
“Lalu, apa yang harusnya kami bayangkan?”
“Itu..” Dila memainkan jari jemarinya, “Kening.. Kak Divo hanya memberiku di kening saja.”
“Upsie..” Vio tertawa terbahak diiringi kehebohan Putri yang juga tertawa sambil menepuk-nepuk tangannya.
Dila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Panas di wajahnya menjadi bukti bahwa rona merah itu makin kentara di wajah putihnya.
“Permisi.”
Seseorang mengetuk pintu depan rumah Dira. Kemudian sebuah kepala menyembul dari salah satu daun pintu yang terbuka.
Mereka semua menghentikan tawa dan Dira yang selaku pemilik rumah langsung berdiri. Berjalan mendekat sambil bertanya.
“Iya, cari siapa?”
“Boss Vino ada?” Semula ia kira jika pria ini mencari Divo mengingat saudaranya itu telah menitipkan pesan padanya. Tetapi ternyata ia salah.
“Oh, Kak Vino ada. Ayo masuk dulu nanti saya panggilkan.”
Pria yang memakai kemeja navy itu masuk dan duduk di salah satu sofa tunggal di dekat Putri. Vio yang duduk berhadapan dengan pria muda itu langsung berbinar matanya.
“Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan,Vi.” batin Vio dengan tatapan yang tak lepas dari pria di depannya itu.
“Ada apa?”
Vino datang bersama Dira. Pria bermata sipit itu langsung menatap sekertarisnya tajam.
Vero tersenyum kikuk. Wajah bossnya sudah tak enak. Bossnya itu sangat galak jika sedang marah. Vero selalu ciut jika harus menghadapi kemarahan Vino.
“Saya membawakan black dokumen yang harus Anda lihat, Boss.”
Mata Vino semakin memicing tajam. “Ikut, saya.”
Vero mengangguk. Namun sebelum itu, Vino menyempatkan diri untuk mengusak sayang rambut Dira. “Lanjutkan tugasmu, sayang.”
Dira tersenyum dan mengangguk.
“Duh, yang udah di panggil sayang sama mas suami.” Bibir Vio gatal jika tak menggoda salah satu sahabatnya.
“Apaan sih, Vi.”
“What?! Suami?!” Putri yang dari awal syok karena melihat kedatangan Vino pun bertambah kaget saat mendengar perkataan Vio barusan. Ingat, posisi Putri disini hanyalah orang asing yang tidak mengetahui apa pun mengenai tiga serangkai itu.
“Eh..” Vio menutup bibirnya dengan telapak tangan. Ia baru menyadari kebodohannya sendiri karena melupakan kehadiran Putri disana.
Ketiga sahabat itu saling tatap-tatapan. Vio yang nyengir tak bersalah, Dila yang diam karena tak tahu harus melakukan apa dan Dira yang menepuk dahinya karena tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya.
"Ra kamu beneran udah nikah sama Kakak yang punya sekolah kita?” Tanya Putri dengan raut keterkejutannya yang sangat kentara.
Dira menggigit bibir bawahnya. Nampak sedikit ragu untuk menyuarakan jawabannya.
“Tenang aja Ra, aku nggak akan bilang ke siapa-siapa kok.”
Dira akhirnya menghela napas dalam sebelum menganggukkan kepalanya pelan. “Iya, Put.”
Oh, wow.
Putri tak bisa berkata-kata karena sangking tak percaya nya. Vino, si pria idaman siswi SMA Garuda Jaya semenjak kedatangannya ternyata sudah menjadi milik Dira. Salah satu siswi populer di SMA-nya.
“Sepertinya kita alihkan saja pembicaraan ini.” Dila buka suara.
“Ah, iya.” Putri yang merasa jika atmosfer mereka nampak canggung ikut membalas.
“Tapi Ra, aku sedikit penasaran.”
“Penasaran tentang apa?”
“Em, itu..” Vio memainkan jari jemari tangannya, nampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.
Dira mengerjap-ngerjap bingung. "Itu, apa?"
"Itu loh yang sering dilakukan oleh sepasang suami istri yang telah menikah.."
Dira diam, seperti berpikir. Emang apa yang dilakukan sepasang suami istri setelah menikah? Tidur bersama kah? Kalau itu sih ia dan Vino sudah sering melakukannya.
Sementara teman Dira yang lain juga berpikir keras maksud dari perkataan Vio.
"Maksudmu, tidur bersama?" Tanya Dira sesuai dengan asumsinya.
"Iya, seperti itu. Tapi tidur bersama yang lebih spesifik lagi."
"Vio mesum!!" Dila dan Putri berteriak bersamaan setelah mengerti maksud yang dibahas Vio sedari tadi.
"Vio mesum kenapa?" Dira lagi-lagi tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh para sahabat dan temannya ini.
"Kalian sedang membicarakan apa sih? Tidur bersama? Emang itu jorok ya, sampai Vio kalian bilang mesum?" Dira kembali bertanya saat diantara kedua sahabatnya itu tidak ada yang menyahutinya.
"Ya ampun Ra, kamu masih polos ternyata." Dila menanggapi pertanyaan Dira tanpa berniat menjawabnya.
"Aku pakai baju La, darimananya kamu bilang aku polos?"
Semua orang disana langsung menepuk jidatnya sesaat setelah mendengar jawaban polos Dira.
"Dira yang cantik, yang manis, yang baik, yang pintar, yang rajin menabung... maksudnya Dila itu, bukan polos kamu nggak pake baju. Tapi, otakmu yang masih bersih. Belum terkontaminasi sama hal-hal yang berbau dewasa." Jelas Vio dengan nada pelan agar Dira tak kembali salah persepsi.
"Emang otakmu kotor, Vi?"
Skak mat.
Vio seketika tak berekspresi. Kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menyerah sekarang. Berbicara dengan orang polos ternyata tidak mudah. Ia tahu jika Dira terlalu mencintai belajar sampai-sampai tak pernah mengurusi hal lain selain buku-buku pelajaran kesayangannya. Pergaulannya juga hanya sebatas Vio dengan Dila yang tidak pernah mengajarkan macam-macam padanya. Jadi masih dapat disimpulkan jika pengetahuan Dira dalam hal ‘itu’ masih dibawah standar orang normal seusianya. Terlebih keluarganya yang terlalu menjaga kepolosan Dira sehingga remaja itu masih murni dan tak pernah mengetahui hal semacam itu.
"Pulang yuk, pulang." Vio bangkit berdiri sembari merapikan buku-buku serta barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas diikuti oleh yang lain.
"Loh, kok pada mau pulang?" Dira menatap heran teman-temannya yang sibuk mengemasi barang mereka.
"Iya Ra, aku buru-buru mau ngeliat nenekku melahirkan." Jawab Vio asal.
"Lho, sejak kapan nenekmu hamil, Vi?"
"Sejak manusia kawin dengan burung! Bye!" Vio dengan cepat pergi dari sana sebelum Dira bertanya lebih jauh lagi dan membuatnya semakin pusing.
"Kami pulang dulu ya, Ra." Pamit Dila dan Putri bersamaan.
"Iya. Hati-hati di jalan."
Selepas mereka berpamitan, Dira mengantar mereka ke teras rumah. Menunggu mereka untuk benar-benar pergi dari halaman rumahnya.
"Mereka sudah pulang?" Vino bertanya di ambang pintu rumah dengan salah satu tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Di sampingnya sudah ada Vero yang sepertinya juga akan pergi.
Dira berbalik sembari mengangguk. “Kakak juga mau pulang?” Tanya Dira pada Vero.
Vero tersenyum dan mengangguk sekali. “Kalau begitu saya pamit, Boss.” Vero segera beranjak setelah mendapat tanggapan berupa gumaman dari Vino.
Dira masuk kembali ke dalam rumah, membereskan buku-bukunya yang berhamburan di atas meja. Menyusunnya menjadi satu tumpukan rapi agar mudah dibawa. Juga dengan gelas-gelas yang berhamburan serta bungkus snack yang bertebaran di sekeliling meja dan mengumpulkannya di atas meja.
"Kak Alpin." Panggil Dira pada pria yang sudah duduk di salah satu sofa panjang disana.
"Ada apa?" sahut Vino cepat sambil menepuk bagian sofa di sampingnya agar Dira duduk disana.
Dira menurut. Ia bergerak mendekati Vino dan mendudukan dirinya di tempat yang diminta oleh Vino.
"Kak, tidak mungkin kan manusia kawin dengan Burung?"
Vino mengerjap sejenak. Tak mengerti maksud dari pertanyaan sang istri.
“Maksudmu, sayang?”
"Tadi Vio bilang, kalau neneknya hamil sejak manusia kawin dengan burung. Itu nggak mungkin kan Kak?"
Vino seketika mengerti. Ia tak menyangka jika istrinya masih polos begini. Jika sudah seperti ini Vino jadi terpikirkan sesuatu dalam kepalanya. Seperti memolosi remaja disampingnya ini, mungkin?
"Ya jelas tidak mungkin, sayang. Manusia tidak bisa kawin dengan hewan." jawabnya sambil menahan gemas pada wajah Dira yang menatapnya dengan tatapan polos persis seperti bocah lima tahun yang tidak tahu apa-apa.
"Lalu, kenapa Vio berkata seperti itu, Kak?"
"Mungkin dia hanya asal bicara saja."
Dira manggut-manggut mengerti kemudian menyenderkan kepalanya pada bahu Vino ketika tangan Vino merangkul bahunya.
"Lalu apa tidur bersama itu sesuatu yang jorok, Kak?" Dira lagi-lagi bertanya mengenai asumsinya, hasil dari ia menyimpulkan apa saja yang dikatakan oleh para sahabatnya.
"Tidak. Kenapa kamu berpikir seperti itu, sayang?"
"Tadi Vio ada bilang tidur bersama tapi yang lebih spesifik. Terus Dila dan Putri langsung bilang dia mesum. Mesum itu berarti jorok kan, Kak?"
Astaga, Vino gemas setengah mati pada istrinya ini. Ia senang sih jika Dira masih polos dan lugu seperti ini. Tapi jika begini terus, Vino jadi semakin gemas. Gemas pengen gigit. Gigit apanya? Gigit bibirnya boleh?
"Tidak jorok sayang, kan Vio bilangnya tidur bersama yang lebih spesifik.”
Vino bisa mendengar Dira ber'oh'ria sambil sesekali mengangguk.
"Lalu, tidur bersama yang lebih spesifik itu bagaimana, Kak?"
Vino tersenyum miring. “Kamu mau tahu?”
Dira jelas mengangguk semangat. Suatu hal yang baru selalu menarik minat remaja itu.
“Mau melakukannya malam ini?”
Dan Vino tersenyum licik saat istri polosnya itu menjawab dengan nada riangnya.
“Mau!”
