Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 12

Dira tahu jika Vino itu tampan. Tapi Dira tidak tahu jika ketampanan sang suami itu bisa membuat kehebohan teman-teman di sekolahnya. Ini berawal dari kejadian saat bazar waktu itu dimana Vino mengatakan jika ia telah menganggap Dira seperti adiknya sendiri.

Dari perkataan Vino itu, sukses membuat teman-teman Dira heboh dan memberondong Dira dengan berbagai pertanyaan mengenai sang suami. Bahkan beberapa hari telah berlalu sejak kejadian itu, tetapi teman-temannya itu tidak pernah berhenti untuk mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan meraka yang membuat Dira bosan. Terutama teman-teman betinanya.

"Dira, ceritakan kepribadian Kak Vino dong!"

Clara, teman seangkatan Dira yang merupakan siswi kelas XI IPS-7 pun dengan sukarela datang jauh-jauh dari kelasnya yang letaknya di ujung koridor lantai satu bersama teman-temannya yang lain ke kelas Dira yang berada di lantai dua hanya untuk bertanya mengenai Vino.

Dira berdecak dalam hati. Risih sudah melingkupi dirinya sejak tadi. Ingin berteriak mengusir mereka pun dirinya juga merasa tak enak. Ingin menanggapi, tapi rasanya malas sekali. Pada akhirnya ia mengalah dan kembali menceritakan kepribadian sang suami di depan para siswi yang masih penasaran dengan Vino.

“Dira, kalau boleh tahu, pria yang bersama Kak Vino itu siapa?" Devy, sahabat dari Clara kali ini yang ganti bertanya.

"Dia Kak Dion. Adik sepupu Kak Vino." Balas Dira singkat.

"Kira-kira, Kak Dion sudah punya pacar belum?"

Dira mengendikan bahu tanda tak tahu. Terdengar nada kecewa dari beberapa siswi yang mengidolakan Dion.

"Kalau nomor telepon Kak Vino kamu punya tidak, Ra?"

Dira langsung menoleh cepat ke arah Clara yang sedang menatapnya penuh harap.

"Tidak. Aku tidak sempat bertukar nomor telepon."

Selalu. Untuk pertanyaan ini Dira akan selalu berbohong pada teman-temannya. Ia hanya tak ingin jika privasi sang suami akan terganggu oleh teman-temannya itu.

Baru saja Dira bersiap untuk pertanyaan selanjutnya yang akan diajukan kembali oleh Clara, suara ponselnya berbunyi. Dira mendesah lega dalam hati. Setidaknya, orang yang menghubunginya ini adalah dewa penolongnya.

Dira berdiri dari duduknya dan memilih menyingkir dari kerubunan teman-temannya untuk mengangkat telepon.

Ternyata nama Kak Vino tertera di layar ponselnya.

"Halo, Kak."

"Kenapa tidak menyingkir jika tidak mau menjawab pertanyaan mereka?"

"Huh?"

Dira tak mengerti kenapa Vino tiba-tiba menelponnya dan langsung berbicara seperti itu saat Dira baru mengucapkan kata pertama.

"Kamu sedang diinterogasi oleh teman-teman perempuanmu kan?"

"Kak Alpin tahu darimana?" Dira memutar pandangannya ke segala arah siapa tahu menemukan sang suami sedang berada di sekolahnya.

"Tidak perlu mencari Kakak. Kakak tidak ada di sekolahmu."

Dira semakin bingung. "Kakak paranormal, ya? Kok bisa tahu Dira sedang diinterogasi mereka."

Terdengar kekehan tawa dari seberang telepon. "Kamu tidak perlu tahu Kakak tahu darimana. Lebih baik kamu menyingkir dari kelasmu dulu. Ajak juga kedua temanmu yang sedang menguping itu."

Dira yang mendengar ucapan Vino langsung menolehkan kepalanya ke samping dan sontak terkejut melihat keberadaan dua sahabatnya yang entah datangnya darimana.

"Ya Tuhan!! Bikin kaget aja!" Dira berseru kaget pada Dila dan Vio yang tengah tersenyum polos tanpa merasa bersalah.

"Kalau begitu, Kakak tutup telponnya. Jaga dirimu baik-baik. Ingat pesan Kakak semalam."

"Iya, Kak."

Tut!

Panggilan berakhir. Dira menghela napas pelan. Kemudian segera menarik tangan kedua sahabatnya untuk pergi dari kelasnya seperti pesan yang diucapkan oleh Vino.

"Mau kemana, Ra?" Dila bertanya sambil tetap mengikuti langkah Dira yang semakin menjauhi kelas mereka.

"Perpus." jawab Dira singkat masih dengan menyeret kedua sahabatnya.

"Tapi kan ini sudah masuk jam pelajaran, Ra." Kali ini Vio yang berucap.

"Bu Ana nggak masuk. Beliau lagi sakit."

"Ohh.." balas Dila dan Vio berbarengan.

Tak sampai sepuluh menit berjalan, akhirnya mereka tiba di perpustakaan. Tak banyak siswa yang ada di sana. Hanya segelintir orang yang hobi membaca yang memadati beberapa kursi yang telah disediakan. Dira membawa kedua sahabatnya untuk duduk di kursi paling pojok yang sedikit tertutup oleh beberapa rak buku.

"Mau ngapain kita kesini, Ra?" Vio bertanya setelah mendaratkan bokongnya pada kursi kayu di sebelah kanan Dira.

"Nggak mau ngapa-ngapain." Dira menjawab sembari meletakkan wajahnya diatas meja dengan beralaskan salah satu telapak tangannya.

"Bilang aja mau menghindar dari orang-orang itu, Ra." Ujar Dila santai.

"Tau lah. Aku pusing."

"Resiko dianggap adik sama orang ganteng mah gitu, Ra." kata Vio sambil tertawa pelan. "Kalo aku yang jadi kamu, udah aku pasang tarif per satu pertanyaan." Lanjut remaja yang memiliki rambut pendek itu.

"Itu mah maunya kamu, Vi." Ujar Dila menimpali ucapan Vio.

"Eh, ada Dira."

Dira mengalihkan pandangannya ke samping dan seketika mendatarkan wajahnya saat tahu ada gerombolan Angga datang dan duduk di samping mereka.

"Dira makin cantik aja. Bikin tambah cinta deh."

Dira reflek memutar bola matanya malas mendengar ucapan Angga barusan.

"Ngapain sih kamu disini? Pergi sana! Kayak nggak ada kerjaan lain aja." Sentak Dira kasar pada segerombolan Angga agar pergi menjauh dari sana. Tapi bukannya menjauh, Angga malah pindah ke belakang kursi Dira.

"Jangan galak-galak dong, Ra. Nanti kamu jadi cinta loh sama aku."

"Idihh, najis!" Balas Dira cepat.

"Geli banget sih kamu, Ngga." Vio ikut menimpali ucapan Angga yang terdengar geli di telinganya.

"Tenang aja Ra, suatu saat kamu bakal luluh sama aku. Tinggal tunggu waktunya aja. Okey sayang.”

Setelah mengatakan hal itu, Angga dan kawan-kawannya pergi dari perpustakaan yang disusul hembusan napas lega dari Dira.

“Sarap tuh orang!”

Dira tak habis pikir dengan tingkah Angga yang sangat annoying padanya. Ingin rasanya Dira melakukan sesuatu agar Angga berhenti bertingkah. Tapi ia tak tahu harus melakukan apa. Ini bahkan sudah berlangsung selama lebih dari satu tahun.

“Dia gila karena cintamu kali, Ra.” Dila tertawa mengejek. Vio pun juga ikut-ikutan menertawakannya.

"Dila." Mereka semua menoleh ketika mendengar seseorang memanggil nama Dila.

"Kenapa, Dhan?" Dila bertanya ketika Dhanni sudah berada di depannya.

Dhanni ini bisa dikategorikan sebagai salah satu laki-laki tampan di SMA Garuda. Dengan postur tubuh yang tinggi serta memiliki badan atletis kemudian juga ditunjang dengan perawakannya yang tampan, tak sedikit siswa di sekolah ini yang tidak tertarik dengannya. Ditambah ia juga seorang Ketua Osis yang membuat ia memiliki popularitas yang tinggi di sekolah ini. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Dhanni Renggana.

Tetapi, bukan rahasia lagi jika Dhanni menyimpan rasa pada sang sekretaris osis. Namun sayangnya, Dila sama sekali tak terpesona ataupun tertarik pada Dhanni. Sebab, remaja gembul itu menyimpan nama lain di hatinya.

"Eh, foto dulu dong." celetuk Dira tiba-tiba.

"Untuk apa, Ra?" Tanya Dila bingung.

"Buat kenang-kenangan aja." Balas Dira sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

Dira membuka aplikasi kamera dan segera mengarahkannya pada pasangan tersebut.

"1, 2, 3 say chees.."

Dira melihat hasil jepretannya kemudian tersenyum simpul. "Kalian berdua cocok tau."

Bisa Dira lihat jika wajah Dhanni sedikit memerah. Tak lama setelah itu, ia memilih untuk segera kabur dari kumpulan para siswa pintar itu sebelum mereka membuatnya lebih malu lagi dihadapan Dila, sang pujaan hati.

Dira menyimpan kembali ponselnya ke dalam celana sembari menyungingkan sebuah senyum miring di sudut bibirnya.

"Apa yang akan kau lakukan, Kak?" Batin Dira diiringi tawa jahat di dalam hatinya.

***

Dira sampai di rumahnya dengan selamat. Ia membuka pintu rumahnya setelah melepas sepatu dan menyimpannya di atas rak di samping pintu.

"Dira pulang!"

Tak ada sahutan dari dalam rumah. Dira segera masuk dan melangkah menuju anak tangga dan mendapati Vino yang hendak turun ke lantai bawah.

"Sudah pulang?" Tanya Vino di ujung tangga atas tanpa berniat untuk turun.

Dira mengangguk sambil menaiki tangga demi tangga hingga sampai di depan Vino. Dira mengulurkan tangannya untuk menyalami Vino. Vino yang mengerti langsung mengulurkan tangannya. Sudah seperti kebiasaan Dira untuk menyalami tangan Vino sebelum atau seusai pulang sekolah.

"Kak Alpin sudah makan siang?" Tanya Dira sembari melangkah menuju kamarnya untuk meletakkan tasnya yang lumayan berat. Vino mengikuti dari belakang.

"Udah, tadi dimasakin sama Bi Yuni."

Dira manggut-manggut mengerti. "Kalau gitu Dira mandi dulu, Kak. Gerah." Dira kembali menuruni tangga dengan membawa handuk serta baju gantinya.

"Mandi bareng Kakak aja gimana, Ra?" Suara Vino sedikit keras dari lantai atas.

"Hah?" Dira memasang wajah bodohnya. Otaknya meloading sejenak.

“Ih, apaan sih Kak Alpin!!” Teriak Dira kencang sambil berlalu cepat menuju kamar mandi. Malu dia tuh. Membayangkannya saja sudah membuat Dira bergidik ngeri.

Vino tertawa geli melihat kepergian Dira.

"Ekhem."

Sebuah suara terdengar dari lantai bawah membuat Vino mau tak mau menatap ke arah sumber suara. Disana berdiri Divo dengan setelan kantornya tengah tersenyum menggoda.

"Jadi, sudah berhasil menaklukkan adikku?" Divo bertanya dengan kaki yang sibuk menaiki tangga untuk mencapai lantas atas.

Vino tertawa geli, kemudian menyenderkan tubuhnya pada pembatas pagar lantai atas. "Aku tidak pernah berpikir untuk menaklukkan adikmu, Bang."

Divo mengangkat sebelah alisnya, "Lalu?"

"Aku lah yang selama ini telah ditaklukkan olehnya."

Kali ini Divo tertawa lepas karena jawaban yang keluar dari bibir si pria berwajah datar. Tak habis pikir dengan jalan pikiran teman atau bisa dibilang adik iparnya ini.

"Cinta telah membuatmu gila, Vin." Cibir Divo sembari meninggalkan Vino begitu saja dan memilih masuk ke dalam kamarnya.

"Suatu saat, kamu akan mengerti apa yang aku rasakan, Bang."

***

"Dek!!!"

Divo muncul dari pintu kamarnya dengan sedikit berlari untuk mencapai Dira yang sedang duduk di sofa ruang santai bersama dengan Vino.

Dira menoleh dan terkejut melihat Kakaknya yang berlari menuju ke arahnya. "Kenapa, Kak?"

"Ini!" Divo menunjukkan sesuatu di layar ponselnya yang membuat Dira langsung memutar kedua bola matanya malas. Sebuah foto Dila dan Dhanni di perpustakaan tadi siang yang Dira posting di snapgramnya.

"Apa maksudmu, Dek?" Divo bertanya dengan nada tak enak didengar.

"Dira nggak bermaksud apa-apa kok, Kak. Lagian, kenapa Kakak yang kebakaran jenggot? Kakak kan nggak ada hubungan apa-apa sama Dila."

“Jelas ada, Ra!”

“Apa?! Kasih tau Dira coba apa hubungan Kak Divo sama Dila?” Tantang Dira. “Pacaran enggak. Gebetan juga bukan. Hubungan dari mana coba.”

Divo mati kutu.

"Ya harusnya kamu mendukung Kakak, bukan mendukung si Dhanni Dhanni itu."

“Untuk apa Dira dukung Kakak kalau Kak Divo nggak mau bergerak. Nggak akan ada gunanya juga.”

“Y-ya tapi-“

“Sekali lagi Kakak nggak bergerak untuk masalah ini, Dira nggak akan mau bantu Kakak lagi.” Potong Dira cepat dan membungkam Divo untuk kesekian kali.

"Oke, Kakak akan bergerak kali ini.” Divo mendesah frustasi. “Tapi kamu tahu kan Kakak tidak pandai dalam masalah seperti ini. Kakak-“

“I know, i know. Kak Divo tidak perlu khawatir. Serahkan semuanya pada Dira.” Potong Dira lagi yang disambut kekehan geli oleh Vino.

“Bagaimana caranya?”

"Caranya mudah."

Dira tersenyum lebar. Kemudian ia mengetuk beberapa kali layar di ponselnya sebelum menempelkan di telinga.

"Halo, La." Divo melotot menatap Dira yang sedang menelpon Dila.

"Halo Ra, kenapa?"

"Nanti malam kamu ada kegiatan nggak?"

"Nggak ada, Ra. Emang kenapa?"

"Kak Divo mau ngajak kamu jalan." Divo hendak menyanggah jika saja Dira tak lebih dulu melotot dan mengancam Divo untuk tetap diam.

"Jalan? Kemana?"

"Entah, aku juga tidak tahu. Kak Divo tidak ada bilang padaku secara jelasnya. Pokoknya nanti malam jam 7 Kak Divo jemput kamu di rumah. Oke, bye, La." Dira dengan cepat mematikan sambungan teleponnya.

"Dek, kok jadi gitu sih. Kakak kan nggak ada rencana buat ngajak dia jalan. Kakak kan nggak tau harus ngajak dia kemana. Kakak kan nggak pernah jalan sama gebetan sebelumnya. Selain kamu. Kakak nggak punya pengalaman buat ngajak anak orang jalan. Apalagi malam. Kakak kan belum izin sama orang tuanya. Belum tentu orang tuanya ngizinin. Kalo kakak ke rumahnya terus orang tuanya nggak ngebolehin kan kakak bisa malu. Pokoknya kakak nggak terima ya. Kakak nggak mau pokoknya. Dek, ngajak anak orang jalan itu punya resiko yang besar loh dek. Kakak nggak mau nanti kalo terjadi apa-apa sama Echan karena jalan sama Kakak. Kakmphff-.. "

Dira membekap mulut Divo yang tak berhenti bicara.

"Kak, kalo ngomong itu jangan panjang kali lebar terus pake kecepatan gitu. Dira pusing tau dengernya." Dira mengomeli Divo masih dengan tangan yang membekap mulut kakak laki-lakinya itu.

"Udah deh, Kakak nggak perlu mikirin izin dari Bibi Ranti. Dira jamin, Kakak diizinin. Terus kalo kakak bingung mau ngajak kemana, ajak aja makan di kafe dekat pantai. Disitukan romantis tempatnya. Baru deh, Kakak ungkapkan apa yang mau Kakak ungkapin ke Dila." Dira menjelaskan panjang lebar sambil berkacak pinggang.

"Emang apa yang harus Kakak ungkapin buat Dila?" Ucap Divo dengan polosnya.

Dira menepuk jidatnya gemas. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Kakaknya ini.

"Ya Tuhan, punya Kakak kok ya gini amat?!" Dira membatin dalam hati.

"Ya terserah, Kakak. Pokoknya Kakak ungkapin aja apa yang ada di hati kakak. Udah sana masuk kamar! Siap-siap. Sebentar lagi jam 7." Dira mendorong punggung Divo menjauh agar sang Kakak masuk ke dalam kamarnya.

Dira menghempaskan tubuhnya di atas sofa tempat dimana ia duduk tadi. Rasa lelah begitu terasa hanya karena mengurusi urusan percintaan Kakaknya.

"Ra." Vino yang sejak tadi diam menyaksikan adegan kakak beradik tersebut kini bersuara.

"Kenapa?"

“Love you..”

Cup

Vino mengecup cepat bibir Dira dan langsung pergi begitu saja dari hadapan istrinya.

Dira terpaku diam seperti sebuah patung. Tak bisa bergerak karena tiba-tiba otaknya membeku. Dira mengerjap beberapa kali, kemudian setelah beberapa detik terdiam, ia menyentuh kedua bibirnya yang baru saja dicium oleh sang suami. Itu adalah ciuman pertamanya.

Dan apa benar jika Vino mengatakan jika dia mencintai Dira?

Dira tidak salah dengar kan?

Oh.. Astaga! Dira merasa jika jiwanya terbang ke angkasa.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel