BAB 11
Dira membuka pintu mobil dengan sedikit terburu-buru. Kemudian duduk dan menatap seseorang di balik kemudi mobil.
"Maaf Kak, lama. Tadi Dira harus membereskan stand dulu."
Dira berucap pada seseorang yang duduk disebelahnya. Orang itu tersenyum dan menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa."
"Giliran Dira aja, nggak papa. Coba Dion, diomeli iya." suara tersebut berasal dari jok belakang mobil yang membuat Dira menoleh ke belakang.
"Iri aja kamu."
Dion mendengus, kemudian membuang pandangannya ke arah kaca mobil.
Vino segera menyalakan mobil dan bergegas untuk pergi dari pelantara parkir SMA milik Ibunya. Tak banyak pembicaraan yang terjadi di dalam mobil. Hanya sesekali Dion mengajak Dira berbicara dan itupun hanya ditanggapi Dira dengan jawaban seperlunya saja.
"Sudah makan?" Suara Vino memecah keheningan diantara mereka. Dira menoleh dan melihat Vino yang juga tengah melihat ke arahnya.
Dira menggeleng. "Belum, Kak."
"Kalau begitu, kita makan dulu." Vino menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah warung makan di pinggir jalan.
Dira mengernyit. Sedikit tak menyangka jika orang kaya seperti Vino mau untuk makan di warung sederhana pinggir jalan.
"Mau makan apa?" Vino bertanya setelah mereka duduk di salah satu kursi dan meja panjang yang menghadap langsung pada jalanan yang sedikit lenggang.
"Nasi campur, Kak."
"Tunggu, kakak pesankan dulu." Vino berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati si penjual.
"Loh Bang, Dion nggak ditanyain?"
Dion sedikit berteriak setelah melihat Vino yang langsung pergi begitu saja tanpa menanyai dirinya terlebih dahulu.
"Bang!" Dion berteriak memanggil namun Vino tetap berjalan lurus seakan menulikan pendengarannya dan mengacuhkan panggilannya.
"Ish.. Dasar abang sepupu jahat. Dion sumpahin budeg beneran baru tahu rasa."
Dion menggerutu dengan suara keras yang mau tak mau terdengar oleh beberapa pembeli yang tengah makan di sekitar mereka. Dira sendiri hanya bisa tertawa melihat Dion yang misuh-misuh di depannya.
"Kak Dion mau pesan apa memangnya? Biar Dira yang pesankan." Celetukan Dira membuat Dion yang sedari tadi menggerutu langsung terdiam dan menatap Dira senang.
"Beneran, Ra?"
Dira mengangguk dan membuat Dion tersenyum lebar. "Kakak pesan nasi campur juga terus minumnya es jeruk."
"Oke."
Dira bersiap untuk berdiri jika saja tidak ada sebuah tangan yang menahan lengannya.
"Duduk saja. Biar Kakak yang pesankan."
"Eh, Iya Kak."
Dira menatap punggung Vino yang berbalik untuk kembali memesan makanan. Itu adalah sebuah sentuhan ringan. Namun benar-benar membawa gelenyar aneh untuk tubuh Dira. Seperti ada aliran listrik statis yang menyebar ke tubuhnya.
Vino kembali. Ia mendudukan diri di kursi samping tempat Dira duduk. Sementara Dion duduk di hadapan Dira.
"Bagaimana bazarnya?"
"Ramai, Kak. Yang beli juga lumayan banyak." Balas Dira sambil menoleh menatap Vino.
"Lalu, siapa laki-laki yang bersamamu tadi?" Tanya Vino to the point tanpa mengalihkan pandangannya dari Dira.
Dira tertegun sejenak sambil mengerjab pelan. “Laki-laki yang mana?”
Seingat Dira, di sekolah tadi ia cukup banyak berinteraksi dengan teman laki-laki sekelasnya.
“Yang ada di sampingmu saat Kakak datang ke standmu.”
"Angga maksud Kakak?"
Vino mengendikkan bahu. "Mungkin."
Dira terdiam. Tak mengerti mengapa Vino menanyakan hal itu kepadanya.
"Apa hubunganmu dengannya?"
"Kami hanya berteman, Kak." Balas Dira cepat.
Vino tak menyahuti kembali. Pria itu sibuk mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Dira tak ingin mengintip meski mudah saja baginya untuk melihatnya.
Tak lama, ponsel milik Vino bergetar dan menampilkan sebuah tampilan panggilan dari seseorang.
"Hm." Gumaman Vino menjadi jawaban awal panggilan.
"Maaf, Bos. Tuan Ryo dari perusahaan HNG Group ingin bertemu dengan Boss sesuai dengan perjanjian yang kemarin telah disepakati." Terdengar suara Vero, asisten pribadi Vino dari seberang telepon.
"Undur jadwal pertemuannya menjadi lusa depan. Jika mereka masih tidak mau, suruh mereka mencari investor yang lain." Vino dengan cepat mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa memikirkan reaksi dari seseorang di seberang sana.
"Kenapa?" Dion bertanya penasaran sambil menatap Vino meminta jawaban.
"Hari ini kamu kembali. Gantikan aku dalam pertemuan dengan Pak Ryo lusa."
Dion sontak menggeleng tegas. Ia tak mau. Apa-apaan Abang sepupunya itu. Tiba-tiba memerintahnya seenak jidat seperti itu. Menjadikan dirinya sebagai tumbal dalam pertemuan itu.
Dion jelas tak sudi kembali hanya karena untuk menghadiri pertemuan dengan Pak Ryo. Dion kenal sekali dengan pria paruh baya dengan segudang akal bulus yang siap menipu siapa pun. Dion sih ogah bertemu dengan orang seperti itu.
"Tidak mau, Bang. Dion ogah ketemu sama orang macam dia. Lebih baik Dion disini. Lagian kan itu pertemuan Abang. Jadi sudah seharusnya kalo Abang yang datang, bukan Dion."
Vino menatap Dion dengan tatapan tajam. "Menolak? Ucapkan selamat tinggal pada mobil kesayanganmu."
Dion seketika melotot horor dan menatap tidak terima Vino. Abangnya ini senang sekali mengancam dirinya dengan merusak mobil merahnya. Apa salah mobilnya sampai ingin dihancurkan seperti itu.
"Kok jadi ngancem Dion sih, Bang. Dion kan nggak mau balik. Lagian Dion juga udah ngajukan cuti untuk seminggu ke depan." Dion tetap kekeuh menolak perintah Vino.
Vino yang mendengar jawaban Dion hanya diam. Namun dibalik keterdiamannya, ada sebuah tindakan yang mau tak mau memaksa Dion untuk kembali hari ini.
"Halo, Drew."
"Ada apa, Bos?"
"Hancurkan mobil Ferari merah milik Dion di kediamannya sekarang juga! Jika tidak ada, temukan dan bakar sampai tak bersisa!" Vino menekankan kata terakhirnya yang membuat Dion seketika tergangga tak percaya.
"Bang.. Bang.. Jangan gitu dong Bang. Jangan hancurin mobil Dion. Itukan mobil kesayangan Dion."
Dion menyahut cepat saat Vino hendak mematikan sambungan teleponnya dengan orang kepercayaannya.
"Oke, oke. Dion bakal balik hari ini!" Putus Dion terpaksa yang disambut smirk kemenangan yang tersungging di sudut bibir Vino.
"Batalkan perintah." ucap Vino pada anak buahnya sebelum benar-benar menutup sambungan teleponnya.
"Jahat banget sih, Bang. Dion kan masih mau liburan disini.”
Dion merengut sebal. Jika saja Vino bukanlah Abang sepupunya, mungkin sudah Dion kubur hidup-hidup manusia menyebalkan ini. Masalahnya pula, ia punya hutang budi pada Vino. Jadilah ia tak bisa berbuat banyak saat Vino mulai bertingkah semena-mena padanya.
Dira yang melihat adegan barusan hanya dapat mengamati dalam keheningan. Sedikit banyak ia mulai mengetahui sifat Vino. Dari tingkahnya barusan, sangat menggambarkan sikap otoriternya yang tak mau dibantah. Vino memang memiliki aura dominan yang sangat kuat. Dira akui itu.
“Ra, boleh minta nomor Vio?”
Dira tersentak dari pemikirannya sendiri dan lantas menatap Dion.
"Untuk apa, Kak?"
"Ada yang ingin Kakak selesaikan dengannya."
"Oh, oke.” Dira dengan polosnya mengambil ponsel di tas untuk kemudian memberikan nomor Vio pada Dion.
Dion tersenyum sumringah. Tak apalah jika ia harus kembali asalkan ia bisa mendapatkan nomor dari remaja mungil pemilik suara cempreng yang berhasil membuatnya gemas itu.
Yah.. sepertinya si Tuan Muda Admaja telah tertawan pada pesona sahabat dari istri sepupunya sendiri.
***
Beberapa hari telah berlalu semenjak Dion kembali. Semenjak itu pula, banyak sekali perubahan yang terjadi pada hubungan Vino dan Dira. Mereka sudah tak canggung untuk duduk berdua tanpa ada seorang pun. Bahkan mereka sudah banyak berbincang dan saling bertanya akan kehidupan privasi masing-masing.
Sebenarnya yang berusaha mendekat adalah Vino. Ia benar-benar gencar dalam mempersempit jarak hubungan diantara mereka. Vino tak mau jika ketika ia kembali nanti, hubungannya dengan Dira masih terasa canggung.
"Kak Vino kenapa mau menikah dengan Dira?"
Dira bertanya sembari memperbaiki bantal yang ada dipangkuannya. Saat ini mereka sedang berada di dalam kamar dengan Dira yang duduk bersila sambil memandangi Vino di depannya yang sibuk menatap layar i-pad di tangannya.
Dira sudah selesai belajar dan jarum jam pun sudah hampir menunjukkan waktu untuknya tidur. Tapi semenjak menikah dengan Vino, jam tidurnya jadi semakin malam dan berimbas pada jam bangunnya di pagi hari.
Vino mendongak untuk sekadar menatap Dira balik. Kemudian ia mematikan layar i-pad dan meletakkan di samping tubuhnya.
"Kenapa bertanya hal itu, hm?" Vino balik bertanya.
Dira mengerjap. Ia juga binggung kenapa bertanya seperti itu. Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari bibirnya tanpa bisa ia cegah. Tapi jika boleh jujur, Dira sebenarnya juga penasaran akan jawaban Vino.
"Tidak papa, hanya penasaran saja."
"Benar mau tahu?"
Dira menggangguk cepat yang di balas senyuman oleh Vino.
"Jawabannya ada disana."
Vino menunjuk lemari kaca di samping meja belajar milik Dira. Dira mengernyit bingung. Bagaimana bisa jawabannya ada di lemari kaca itu? Bukannya di dalam lemari kaca itu hanya berisi boneka-boneka hamster milik Dira.
"Iya, jawabannya ada di boneka-bonekamu." balasan Vino seakan menjawab pertanyaan yang ada di kepala Dira tadi.
"Maksud Kak Vino?"
Dira masih tidak mengerti maksud dari ucapan pria tampan di hadapannya ini.
Vino tersenyum lembut, kemudian mengusak pucuk kepala Dira pelan. "Kamu akan tahu setelah kamu mengerti pesan yang ada di boneka-boneka itu."
Dira semakin mengerutkan dahinya bingung. Tetapi tiba-tiba Dira terdiam karena mengingat akan sesuatu.
"Jangan bilang Kak Vino yang mengirimi Dira paket-paket yang berisi boneka hamster itu?" Spekulasi Dira berkata demikian.
Tapi rasanya sangat tidak mungkin karena mereka bahkan baru bertemu hampir dua mingguan ini.
Vino hanya tersenyum. Tak berniat untuk menjawab ataupun menyangkal. Ia malah membaringkan tubuhnya di samping Dira setelah sebelumnya meletakkan i-pad nya di atas nakas.
"Kak Vino.." Dira menggoyangkan lengan Vino sambil merengek bak anak kecil.
"Kenapa, hm?" Tanya Vino pura-pura tak mengerti.
"Jawab pertanyaan Dira, Kak. Benar Kakak yang mengirimi Dira paket itu?" Tanya Dira sekali lagi. Namun Vino sepertinya ogah menjawab dan malah berkelit dengan menyuruh Dira untuk tidur.
"Sudah malam, lebih baik tidur. Besok sekolah."
Dira mencebik imut ketika Vino tidak mau menjawab pertanyaannya. "Tidak mau. Kakak jawab pertanyaan Dira dulu.."
Vino menghela napas pelan. Gemas sendiri melihat tingkah istrinya yang bergitu memaksa. Apalagi bibirnya yang ikut mencebik membuat Vino merasa tak tahan untuk mencium benda kenyal berwarna merah muda itu.
Vino menarik Dira untuk ikut berbaring di sebelahnya tanpa menghiraukan pekikan terkejut dari remaja itu.
"Tidur, sayang.." Vino berucap lembut yang seketika membuat Dira terdiam dalam posisinya yang berbaring di samping Vino. Namun itu tak bertahan lama karena dalam detik selanjutnya, Dira kembali merengek persis bocah kecil.
"Kak, jawab pertanyaan Dira.."
Vino lagi-lagi menghela napas kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Dira hingga jarak diantara mereka tersisa beberapa senti saja. Dira terpaku dengan wajah merona melihat wajah tampan sang suami dalam jarak sedekat ini. Bahkan Dira bisa merasakan hembusan napas Vino yang berbau mint menyegarkan.
"Memang Kakak yang mengirim paket itu untukmu." Jawaban Vino sukses membuat Dira membulatkan matanya tak percaya.
"Ta-tapi bagaimana bisa? Kita kan baru bertemu sekitar dua mingguan yang lalu, Kak?"
Dira masih ingat jika pertama kali paket yang berisi boneka hamster itu datang pada saat dirinya masih menginjak usia dua belas tahun. Dan sekarang dirinya telah berusia enam belas tahun. Itu berarti sudah lima tahun berlalu sejak kiriman paket itu datang padanya setiap beberapa bulan sekali.
"Siapa bilang kita baru bertemu sekitar dua mingguan ini?" Tanya Vino yang disambut tatapan bingung milik Dira.
"Kita sudah pernah bertemu saat kamu masih berumur sembilan tahun." Dira lagi-lagi terkejut. Kenapa dirinya sama sekali tak ingat?
"Sembilan tahun?"
"Iya, sembilan tahun. Mungkin kamu lupa dengan laki-laki yang memberimu cokelat dan boneka hamster di hari ulang tahunmu waktu itu."
Dira langsung saja memutar otaknya untuk kembali mengingat kejadian masa lalu yang menyangkut dirinya dengan seorang laki-laki yang dibicarakan oleh Vino. Seketika saja ingatannya membawa dirinya pada satu kejadian saat Dira tengah duduk di salah satu kursi di rumah sambil menangis.
Hari itu adalah ulang tahunnya. Tapi kedua orang tuanya tidak ada di rumah karena harus ke luar kota. Jadilah Dira sedih dan menangis karena orang tuanya tak ada bersamanya di hari spesialnya. Dan saat itu pula seorang laki-laki tiba-tiba datang dan duduk tepat disebelahnya. Laki-laki itu memberikan Dira dua buah cokelat dengan sebuah boneka hamster berukuran lumayan besar. Dira yang saat itu sedang menangis langsung saja tersenyum senang sampai memeluk laki-laki tersebut sembari mengucapkan terima kasih.
"Ah! Dira ingat!” Dira berseru heboh.
“Kakak itu Kak Alpin temannya Kak Divo kan?!" Seru Dira senang saat berhasil mengingat kejadian itu. Bahkan dirinya sampai terbangun dari posisi berbaringnya.
Vino tertawa geli melihat reaksi Dira yang begitu menggemaskan. Dira menatap Vino dengan mata yang berbinar-binar senang. Dira tak menyangka jika teman Kakaknya yang sering bermain dengannya dulu itu adalah Kak Vino, suaminya sendiri.
"Dira kangen Kak Alpin."
Dira reflek langsung menubruk tubuh Vino dan memeluknya erat yang disambut senyum lebar oleh pria itu. Dira senang sekali karena bisa bertemu dengan Kakak kesayangannya sewaktu ia kecil dulu.
Vino balas memeluk Dira. Vino bisa merasakan tubuh remaja dalam dekapannya ini menegang. Kemudian, Dira melepas pelukannya dan segera saja ia membaringkan dirinya di samping Vino. Namun dengan posisi memunggungi suaminya itu.
Dira malu sekali. Kenapa ia tidak bisa mengontrol dirinya untuk tak memeluk Vino? Ia meruntuki dirinya yang begitu agresif. Padahal ia bukan anak kecil lagi yang bisa seenaknya main peluk orang lain.
Vino tersenyum geli mendapati tingkah istrinya itu.
"Kenapa?" Tanya Vino dengan nada menggoda.
"Tidak. Lupakan apa yang baru saja terjadi." Dira menjawab dengan suara pelan. Wajahnya sudah merona merah hingga ke telinganya. Ia benar-benar malu.
"Kenapa harus dilupakan? Bukankah itu pelukan kedua yang kamu berikan setelah sekian tahun kita tak bertemu?"
Rona merah semakin menjalar di wajah Dira. Dira menguburkan wajahnya diatas bantal untuk menutupi rasa malunya dari Vino.
"Kakak tidak dengar apa yang kamu katakan, Ra." ujar Vino ketika mendengar gumaman Dira yang terdengar samar karena wajahnya berhimpit dengan bantal.
Dira tetap tak bergeming dari posisinya dan membuat Vino gemas bukan main. Maka dari itu, Vino menarik pelan badan Dira yang membuat posisinya berubah menjadi menghadap dirinya.
"Mulai sekarang, tak perlu malu seperti itu. Kamu harus membiasakan diri karena mulai saat ini, Kakak tak akan segan lagi untuk menyentuhmu."
Cup
Vino mengecup cepat dahi Dira yang disambut tatapan terkejut dari dari remaja cantik itu.
"Ingat baik-baik, kamu adalah milik Kakak. Itu berarti tidak boleh ada seorang pun yang boleh menyentuhmu selain Kakak. Dan itu juga berlaku sebaliknya. Kamu mengerti?"
Seperti dihipnotis, Dira langsung mengangguk tanpa pikir panjang.
"Bagus. Itu baru istri Kakak." Vino segera membawa Dira untuk masuk ke dalam pelukannya. Tanpa penolakan, Dira malah mengusel-nguselkan kepalanya di dada bidang Vino untuk mencari posisi yang nyaman.
Entah sejak kapan Dira terbiasa tidur dalam pelukan hangat sang suami. Tetapi untuk saat ini, Dira hanya ingin membiarkan saja perasaannya menghangat karena kehadiran Vino serta perhatian pria itu padanya. Biarlah hatinya yang menuntun Dira untuk menemukan rasa cintanya untuk pria yang mendekapnya ini. Biarkan saja kehidupan pernikahannya ini mengalir seperti air dimana ia tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang karena ia hanya akan memasrahkan pada sang waktu.
