Bab. 6. Pertemuan Kembali
Part 5
**
“Jasmin, kamu kenapa?”
Ibu terlihat kaget melihat Jasmin berjalan pincang.
“Gak apa, Bu.”
“Gak apa gimana, Nak? Itu kakimu sampai jalannya pincang begitu.”
“Jatuh sedikit.” Jasmin berusaha cuek, padahal kakinya memang ngilu dan sakit. Tadi motor yang terguling sempat menindih kakinya.
“Jatuh banyak' kali.” Ibu tetap kawatir. “Kamu tuh bukan wonder woman yang jagoan, Bukan pula Lara Croft, tokoh Tomb Raider. Bukan pula Mulan, legenda kesukaanmu. Kamu itu Jasmin, yang tetap harus berhati-hati. Kamu tetap akan sakit kalau jatuh,” omel Ibunya Jasmin.
Jasmin tertawa, Ibunya tahu saja tokoh-tokoh jagoan favorit Jasmin. Yang tokohnya selalu ia ikuti ceritanya. Jasmin jadi halus tingkat Dewa, bisa sekuat mereka—tokoh jagoan di film.
“Sini, Ibu lihat kakimu, sudah diurut belum?” tanya Ibu bersikeras.
“Gak apa kok, Bu. Cuma memar sedikit.”
“Sini, Ibu lihat!” Ibu tetap memaksa. Kalau menyangkut keselamatan atau sakitnya anaknya, Ibu berubah bawel dan galak. Itulah, emak- emak.
“Kakimu memar, Nak. Biar ibu bikini ramuan beras kencur.”
“Jangan, Bu. Malah jadi panas dan sakit.”
“Iya, bukan panas tapi hangat, lama- lama sembuh memar dan bengkaknya.” Ibu bersikeras. “Masa jagoan takut sama beras kencur, sih?”
"jagoan Neon, Bu," kilah Jasmin sambil tertawa.
Jasmin mesem- mesem mendengar sindiran Ibunya. Ya, sudahlah! Ibu tetap akan bawel sampai Jasmin mau di obati. Kaki Jasmin lumayan terasa senut- senut juga ini.
Jasmin segera duduk di lantai Menjulurkan kaki yang terasa nyeri. Tadi tidak terlalu sakit. tetapi sekarang malah tambah bengkak dan memar. Tangannya mencoba memijat sebelah kaki yang memar. Motornya tadi jatuh ke samping dan menindih kaki, diiringi tertawanya para ibu yang ahli gosip itu tanpa perasaan. Tega banget!
Pelan tangan Ibu mengusap memar itu dengan racikan beras kencur. Dengan telaten, tangan yang harusnya berjari lentik dan halus itu, terasa sedikit kasar sekarang.
Ibu bekerja keras supaya ibu dan Jasmin tetap bisa melanjutkan hidup. Supaya Jasmin tetap mengenyam pendidikan tinggi. Beliau tidak ingin putrinya bernasib sama dengannya. Hanya lulusan SMA.
Ibu...
Hati Jasmin merasa tersentuh pilu. Di wajah ibunya yang cantik, tersimpan banyak luka. Hidup sebatang kara, ditinggal selamanya oleh orang tua sejak masih kecil. Lalu hidup diasuh Neneknya sampai dewasa Tidak punya Kakak atau adik. Neneknya pun meninggal ketika sang Ibu gadis. Tak hanya sampai di situ saja kisahnya. Ketika sudah menikah dalam keadaan hamil, malah ditinggal pergi selamanya oleh suami. Sang ibu berakhir menjadi single mother selama dua puluh tahun ini. Mengurus dan mendidik Jasmin seorang diri.
Hana adalah wanita yang kuat. Tak pernah mengeluh. Kenyataan hidup yang keras membuatnya seperti itu. Di bibirnya selalu mengulas senyum. Ada ribuan, jutaan bahkan milyaran cinta tercurah untuk putrinya--Jasmin. Tak peduli dengan hidupnya yang begitu banyak cemoohan. Hana terus berjuang. Melawan kerasnya hidup.
Ibu..
Kalau melihatnya, hati Jasmin langsung mencelos sakit. Ia selalu berjanji dalam hati, harus bisa membahagiakan Ibunya. Membuatnya bangga dan tersenyum. Menghapus semua kesedihan yang bergelayut dalam hatinya. Jasmin berjanji akan terus ada untuk Ibunya Membelanya di garis depan dari semua cemoohan. Ibunya bukan perusak rumah tangga siapa pun. Gosip yang kejam yang terus ditiupkan oleh orang yang tak suka pada, membuat reputasi ibunya Jasmin jadi buruk.
Fisik ibunya yang begitu cantik adalah anugerah murni dari Sang Pencipta. Kadang banyak mata yang nakal melihatnya secara berlebihan sehingga timbul fitnah.
Dan Jasmin adalah kebalikan dari Ibunya. Fisiknya tidak cantik, tidak selembut Ibunya, malah terkesan galak, fisiknya juga lebih condong ke tomboi. Dengan rambut pendek dan kulit coklat eksotis. Berbeda dengan Ibunya yang berkulit kuning Langsat, berwajah cantik dan lembut.
“Kenapa bengong Jasmin? Tuh sudah ibu obati memarnya,” ucapan Ibu menyentakkan lamunan Jasmin.
Eh ...oh nggak kok, Bu,” Jasmin tergagap.
Ibunya tersenyum. “Ya, sudah! sekarang istirahatlah dulu. Biar beras kencurnya menyerap dulu ke memarmu ya."
Jasmin mengangguk.
“Oh ya, Bu boleh aku bertanya?”
“Tanya apa Jasmin?”
“Kenapa banyak sekali yang tidak suka sama kita, Bu?”
Sang Ibu terdiam dengan pertanyaan Jasmin.
“Sayang, kita tidak bisa memaksa orang buat suka sama kita.”
“Tapi kita kan tak pernah julid sama mereka? Bu Prima, Bu Ica, dan Bu Hena. Kentara sekali tak suka pada kita, hanya gara- gara suami mereka baik sama kita, Bu. Padahal kita kan tak pernah minta tolong apa pun.”
“Itu wajar, sebagai istri mereka tidak rela, suaminya baik pada wanita lain. Lagian memang tak pantas jika pria sudah berumah tangga memberikan kebaikan hanya pada satu wanita, harusnya kan ke semua orang kalau niat sedekah,” tutur Ibu.
“Makanya, aku selalu galak, menampik pemberian para suami yang ganjen itu.”
Sang ibu tertawa. “Ya, kita harus tegas, Nak. Cuma aneh, kenapa mereka tak jera ya kita tolak, terus saja menawarkan ini itu.”
“Itulah yang namanya muka badak, Bu.”
Ibunya Jasmin tertawa.
“Ya, sudahlah! Sekarang ibu di rumah saja. Menghindari fitnah. Biar Jasmin yang kelayapan ke sana kemari," putus Jasmin.
“Lha, memang kan Ibu sekarang sudah di rumah terus?” tukas Hana.
“Eh, iya. Aku lupa!” Jasmin terkekeh. “Kakiku sudah agak mendingan. Nanti setelah beres- beres, berangkat kuliah.”
Ibu tersenyum. “Biar ibu yang beres-beres. Kamu istirahat dulu kakinya. Setelah itu baru pergi kuliah."
"Baiklah, Bu."
****
Meski jalannya masih terpincang, Jasmin tetap pergi kuliah. Niatnya hanya ingin cepat lulus. Sehingga ibunya tidak perlu susah payah lagi membiayai.
Untuk menambah-nambah uang biar tidak merepotkan Ibunya, Jasmin sering juga ngojeg atau jadi kurir jika ada temannya yang butuh. Meski masih sekitar teman-temannua saja yang kebetulan mager alias malas gerak. Lumayan uangnya bisa ditabung, buat menambah uang kuliah semesteran. Butuh uang dalam jumlahnya besar.
Saat perlu ponsel pun Jasmin bisa beli sendiri dengan cara membantu proyek dosen. Membuat proposal dan studi kelayakan. Begitu gol langsung bisa beli ponsel. Tak perlu ribet merepotkan Ibunya terus.
Bahkan tak segan, Jasmin ikut menawarkan dagangan teman. Sekarang sudah tidak aneh pakai sistem dropshipper.
Hari ini ada jadwal kuliah manajemen keuangan. Dosennya sangat ontime. Jadi Jasmin tidak boleh terlambat, karena kalau telat sedikit saja langsung diteriaki suruh keluar.
Setelah parkir motor, gegas kaki Jasmin melangkah ke gedung fakultas ekonomi.
Memaksa kakinya bisa berjalan cepat membuat Jasmin meringis menahan sakit. Karena tergesa, kaki yang sakit ini terantuk tangga masuk. Akibatnya tubuh Jasmin hilang keseimbangan, lalu terhuyung hampir jatuh.
“Eh... hati-hati!”
Sepasang tangan berhasil menahan tubuh Jasmin yang hampir jatuh. Jasmin yang kaget langsung segera menyeimbangkan kembali tubuh, yang tadi terhuyung hampir jatuh. Jasmin mencoba mengurut kakinya yang terasa nyeri.
“Kamu gak apa- apa kan?” Suara itu terdengar kawatir.
“Gak apa-apa.” Jasmin segera tersenyum dan menoleh ke arah sang penolong. Bermaksud mengucapkan terima kasih.
Mata Jasmin malah membulat kaget. Orang yang barusan menolongnya, dialah yang kata Nadine mirip Oppa korea. Lelaki yang ada di rumah Nenek! “Siapa dia sebenarnya? Kenapa aku selalu bertemu dengannya terus?” Hati Jasmin bertanya-tanya.
“Hei, kamu...?” ucapnya. Dia terlihat kaget.
“Iya, ini aku!” Jasmin tersenyum dan berpura- pura tenang. “Btw... Makasih sudah menolong aku, ya." Ucapan terima kasih ini terasa kaku di lidahnya.
“Kita ketemu lagi,” ucap lelaki itu ramah. “Btw ... siapa namamu? Gak nangis lagi kan sekarang?”
“Nangis apaan? Apa cuma itu yang diingat di otakmu?” sahut Jasmin ketus. “Btw... aku telat masuk kuliah. Makasih ya, bye!”
Jasmin bergegas meninggalkan lelaki yang sudah menolongnya itu. Di akhiri kata ketus dan begitu saja nyelonong menghindar, bahkan tak menggubris pertanyaannya tentang namanya.
Aku kembali tak peduli tatapan herannya. Kuliahku lebih penting sekarang, telat sedikit langsung di usir dosen tidak boleh masuk kelas.
***
“Selamat siang!”
Mata Jasmin mengerjap berkali- kali. “Itu orang ngapain masuk kelas ya? Waduh, gawat! kalau aku sekelas dengannya. Alamat sering ketemu dia di kampus,” gumam Jasmin kaget. Mendadak rasa malas melandanya.
Jasmin saling pandang dengan Nadine, Bimo dan Cakra yang duduk di barisan bangku kedua.
“Siapa lelaki itu?” bisik Jasmin pada Bimo.
“Gak tahu!” Bimo mengangkat bahunya.
“Mahasiswa baru'kali,” sahut Cakra.
Lelaki yang bikin penasaran itu berjalan penuh percaya diri ke depan kelas, Lalu berdiri seraya tersenyum. Sungguh senyumnya manis dihias dekik di pipi.
“Mungkin kalian heran melihat saya di sini. Perkenalkan, nama saya, Arya putra Arnold. Bisa panggil saya Arya bisa juga Arnold."
Kelas mendadak riuh mendengar nama Arnold disebut. Termasuk Jasmin juga. Teringat Arnold Swarzeneger, pemeran Terminator. Akan tetapi kenapa nama Arnold nyempil di belakangnya? Apa buat gaya- gayaan? yang jelas ni orang baru saja masuk, bikin sensasi begini hebat di kelas.
“Nama saya keren , ya? Ketahuilah Arnold itu, nama ayah saya yang keturunan Amrik sana. Saya sendiri lebih suka dipanggil Arya saja. Cuma orang tua saya suka panggil Arnold Junior.”
Lelaki bernama Arya atau Arnold itu masih asyik mengoceh di depan kelas. Para mahasiswa dibuat bingung dengan tingkahnya yang terus pidato di depan.
“Ketahuilah saya sedang belajar jadi dosen, menggantikan dulu Pak Herman yang sakit. Saya baru saja pulang studi dari Jepang. Kebetulan dapat beasiswa di sana.”
Oooh ..banyak mulut membentuk O besar. ‘Yaelah...berarti lelaki ini bakal jadi dosenku? OMG ...ini kebetulan atau kebenaran?’ keluh Jasmin dalam hati.
“Aku bakalan betah kuliah nih. Dosennya kayak Oppa Korea gini, siapa yang ngga betah?” bisik Nadine. Matanya terlihat berbinar penuh cinta.
“Giliran lihat yang bening, matamu ijo!” gerutu Jasmin melihat tingkah Nadine yang norak.
Nadine hanya cengengesan cuek.
Jasmin mengembuskan napas kasar. “Ah, harus bagaimana sikapku sekarang? Beberapa kali ketemu, dia selalu kujutekin. Semoga dia tidak balas dendam dengan menyetrap aku atau memberikan tugas aneh- aneh.” Jasmin mengeluh dalam hati.
Sambil mengenalkan dirinya, bibir lelaki itu tak lepas dari senyum. Bahkan dia melihat ke arah Jasmin seperti meledek
. Haduh! Jasmin kali ini kena skakmat pak Dosen. Mati kutu dia. Ia tak menyangka sama sekali lelaki yang sering ia bikin jutek, dan bertemu di tempat Neneknya itu adalah seorang dosen? masih sangat fresh untuk ukuran dosen yang biasanya sudah usia matang. Jasmin sungguh tak menyangka. Akan ada kisah apa lagi setelah ini?
**
.
