Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Siapa lelaki itu?

“Jasmin!” seru Nadine yang sudah terlebih dulu datang di kampus. “Tadi kamu pulang dari mana? Diteriakin cuek saja!”

“Kan kamu tahu kebiasaan si Jasmin. Kalau naik motor, dia pakai kaca mata kuda. Nggak bisa lirik kiri kanan.” Bimo yang malah menjawab.

Dua orang ini heboh banget kalau kuliah. Termasuk orang yang datang paling awal di kampus kalau ada jam kuliah.

“Eh ya, lupa!” Nadine menepuk jidatnya, lalu tertawa.

“Dosen Statistik suka rada telat datang, aku mau ke kantin dulu. Kamu ikut nggak, Jasmin?” ajak Nadine.

“Boleh. Kebetulan tadi aku tak sempet makan siang.”

Jasmin akhirnya mengikuti langkah Nadine ke kantin kecil yang ada di samping kampus, bersatu dengan koperasi.

“Kita beli cemilan saja, jangan makan. Makan kamu di emut sih kayak marmut, bukan dikunyah, kayak cheetah. Lama banget!” protes Jasmin sambil menjejeri langkah Nadine.

“Iyaa, lu itu bikin perumpamaan gitu amat!" sahut Nadine sebal. Jasmin malah tertawa. Nadine memang lemot dalam menghabiskan makanan.

Tiba di kantin keadaan lumayan ramai juga, karena waktunya makan siang. Mata Jasmin memindai sekitar, mencari cemilan yang biasa ada di samping meja hidangan.

Ah,itu dia! Jasmin tersenyum senang pisang keju kesukaannya dan gorengan hangat tampak menggugah selera.

Akan tetapi, Jasmin tertegun kaget ketika matanya tertuju pada cemilan kesukaannya yang sedang dikunyah seseorang. Lelaki itu seperti tidak asing lagi wajahnya. Jasmin berusaha mengingat.”

Aha! Jasmin tersenyum tipis ketika ingat. Bukankah dia cowok yang ia tabrak di rumah Neneknya?

Jasmin mengerutkan dahi. Siapa dia ya, bisa ada di kampus ini? Jasmin jadi urung mendekat ke arah tempat meja cemilan. Akan ia tanya terlebih dulu pada Nadine siapa lelaki itu. Barangkali Nadine tahu.

Mata Jasmin celingukan mencari Nadine. Ah, itu dia, sedang asyik memilih lauk pauk.

Jasmin berdecak kesal. Sudah dibilang Nadine itu beli cemilan saja. Ini malah sengaja makan. Duh! Alamat lama ini nungguin. Jasmin jadi bete.

“Nadine!” panggil Jasmin sambil menghampiri Nadine. “Kamu lihat lelaki itu?” Tangan Jasmin menunjuk seseorang.

“Mana? “ Mata Nadine ikut mencari.

“Tuuuh!” Telunjuk Jasmin mengarah pada lelaki gagah yang sedang asyik makan camilan.

“Matamu awas terus ya kalau lihat yang bening," goda Nadine. “Woow...! wajah si oppa itu.”

“Apa? Siapa Oppa. Baru denger namanya tuh!”

“Elu kudet, Jasmin! Makanya gaul dong sama Si Oppa!” dengkus

Jasmin garuk kepala. Oppa yang katanya saragheo itu memang digandrungi para wanita, tua muda. Termasuk si Nadine ini.

“Tahu nggak lelaki itu jurusan apa?” tanya Jasmin masih penasaran

“Nggak tau! Tanya aja sendiri,ya!” Nadine masih jutek. Efek lapar, Si Nadine memang suka aneh.

Jasmin menghela napas. Ya, sudah! Biarkan saja dulu.. Jasmin akan menunggu sampai lelaki itu menjauh dari meja camilan, baru nanti ia ke sana. Sekalian menunggu si Nadine makan.

Jasmin melirik jam dinding. Masih ada waktu seperempat jam lagi ke jam kuliah. Lagian Pak Rahmat sering ngaret kalau mengajar!

Jasmin malas mendekat karena lelaki itu pasti ada hubungan dengan keluarga Neneknya, karena pernah Jasmin tabrak ada di pintu rumah neneknya.

Jasmin alergi akut sekarang, pada apa saja yang berhubungan dengan sang Nenek dan keluarganya. Tak peduli meski wajah lelaki itu cakep seperti Oppa Korea sekalipun. Masih terngiang ucapan Nenek yang menyakitkan. Hatinya ini masih berdarah.

**

“Jasmin, kue di warung Nasi Bu Ombah sudah lama tidak dilihat, coba kamu lihat ke sana ya,” titah Ibu pagi- pagi ketika Jasmin bersiap ke pasar.

Memang sekarang sang ibu bagian produksi di rumah saja. Jasmin yang ke sana kemari antar jemput pesanan kue-kue ibunya, atau makanan lain produk Ibu.

Jasmin larang Ibunya keluar rumah. Kasihan dia selalu kena smash ucapan ibu-ibu yang julid. Kecuali jadwal mengaji atau ada acara undangan, Hana bisa bebas keluar.

Karena di tempat itu Hana aman dari julidan ibu-ibu yang lain. Masa di tempat mengaji atau undangan orang bisa seenaknya berghibah sih? Kan tak mungkin itu. Malu, kan?

“Oke, Bu. Nanti pulang dari pasar Jasmin mampir ke warung Bu Ombah,” ucap Jasmin.

Kalau mau jujur Jasmin malas harus pergi ke warung Bu Ombah. Karena jalannya harus melewati gang Rumpi. Di sana Ibu- ibunya lebih julid lagi. Sering berkumpul lebih banyak lagi dan bicaranya lebih pedas dari Bu Prima.

Ada seorang Ibu bernama Hena yang giginya ompong satu di depan. Dialah istri Bang Parman, pemilik kios bahan kue langganan Ibunya Jasmin di pasar.

Dan Bang Parman sering memberi tips ke Hana. Beli dua kilo terigu ditambahkan seperempat lagi. Jadi 2 kilo seperempat. Hana selalu berusaha menolaknya dan mengembalikan kelebihan bahan kue itu.

Namun ketika pegawai kios ada yang membocorkan tingkahnya pada Bu Hena, istrinya itu jadi marah besar, lalu menuduh Ibunya Jasmin selalu menggoda suaminya hingga jadi over akting.

Sejak saat itu Jasmin tidak membolehkan Ibunya belanja lagi ke pasar takut difitnah macam-macam lagi.

Nah, apa yang ditakutkan Jasmin benar saja kejadian. Setelah pulang dari pasar dan mampir ke warungnya Bu Ombah. Pulangnya Jasmin terpaksa lewat ke tempat mangkal kumpulan ibu-ibu gang Rumpi yang hobinya menggosip.

Motor Jasmin yang tadinya sengaja tancap gas supaya cepat lewat kumpulan Genk itu, tapi terpaksa di rem dadakan supaya tidak menabrak kucing melintas. Decitan suara rem menarik perhatian para ibu yang sedang asyik berkumpul. Di sana ada Bu Hena juga yang antipati pada Jasmin dan ibunya.

Motor Jasmin oleng setelah direm mendadak, apalagi banyak belanjaan di motor sehingga berat , tak seimbang. Akhirnya tanpa bisa ditahan motor terguling ke samping.

Dan lebih gilanya lagi, kumpulan para ibu penggosip itu malah tertawa melihat Jasmin jatuh terguling dari motor. Di antara ibu-ibu itu, tawa Bu Hena yang paling keras. Tak ada yang berniat menolong atau mendekat.

“Syukuriin!” teriak mereka sambil tertawa.

Jantung Jasmin bergemuruh karena kesal. Teganya mereka menyoraki orang yang hampir celaka. Dengan susah payah Jasmin berusaha bangkit dan menarik motor supaya berdiri kembali.

Tengah Jasmin kesulitan bangkit, ada sepasang tangan kekar menolongnya membantu menarik motor hingga kembali berdiri.

“Kamu tak apa- apa kan?” tanyanya kawatir

Jasmin menggeleng sambil berusaha tersenyum.

“Tidak apa-apa. Terima kasih.”

Jasmin tentu saja tahu, lelaki gagah itu anak Bu Hena. Dia seorang Polisi.

“Ibu- ibu, lihat orang celaka kenapa malah tertawa?” protes lelaki itu keras ke kumpulan Ibu-Ibu rumpi itu.

Jasmin melihat wajah Bu Hena merah padam. Serasa tertampar dengan protes putranya sendiri.

“Ibu juga kenapa tak nolongin sih?” Kali ini anak lelaki itu protepadada ibunya sendiri yaitu Bu Hena. “Kasihan kan tadi motornya jatuh. Untung tidak cedera!”

Bu Hena salah tingkah dan terlihat membisu. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.

“Gak apa-apa, Fadil. Makasih ya udah nolongin!” jasmin berusaha melerai. “Aku pulang dulu.”

“Iya, syukurlah kamu tidak apa-apa kan, Jasmin?” tanya Fadil sambil tersenyum

“Tak apa-apa.” Jasmin tersenyum tipis melihat Fadil yang terlihat kawatir padanya. “Pulang dulu, ya.”

“Oke. Hati-hati.” Fadil balas tersenyum.

Segera Jasmin melajukan motor kembali, sebelum suasana jadi panas dengan tingkah ibu-ibu yang merasa tak berkutik karena ada Fadik. Yang pasti Jasmin tak ingin memancing perdebatan kali ini. Kakinya yang terasa sakit tergencet bodi motor ingin segera diobati jadi Jasmin bergegas pergi.

Melihat tingkah Fadi—putranya Bu Hena yang ramah dan baik, berbanding terbalik dengan ibunya yang jutek tak ketulungan.

Terlintas di pikiran Jasmin, ternyata buah jatuh bisa jauh dari pohonnya. Fadil berbeda dengan orang tuanya, terutama Ibunya. Seperti halnya Jasmin sangat berbeda jauh dengan Ibunya.

Kok bisa gitu ya? Ya, bisalah namanya juga hidup. Terkadang ada hal-hal di luar perkiraan manusia ternyata.

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel