Bab 7. Bunga Misterius
Part 7
Bunga misterius
**
Selama kuliah berlangsung, Jasmin dibuat berdecak kagum. Cara Arya menerangkan dan menyampaikan mata kuliah Manajemen Keuangan, yang kadang njelimet itu, begitu santai dan menyenangkan.
Tak perlu waktu lama untuk segera mengerti materi yang diberikan. Bahkan ada beberapa hitungan juga tidak rumit untuk segera masuk ke otak.
Well, tak pernah Jasmin sangka lelaki itu sangat smar seperti ini. Tambah kepenasaran Jasmin, dia itu sebagai apa di keluarga Neneknya karena saat bertemu ada di depan rumah Nenek Jasmin. Jasmin nanti akan coba tanya pada Ibunya, barangkali beliau tahu tentang lelaki yang baru dikenal ini.
Usai mengikuti kuliah pertama, ada waktu dua jam lagi untuk mata kuliah berikutnya. Jasmin putuskan untuk pulang dulu ke rumah. Toh ada motor, jadi ia bisa bolak- balik ke kampus. Daripada dua jam gabut, menunggu jadwal kuliah berikutnya di kampus.
Tiba di tempat parkir kampus, tak sengaja mata Jasmin melihat keberadaan Arya. Dia sedang membuka pintu mobil. Akan tetapi, tunggu dulu, Jasmin tertegun, melihat seseorang yang mendekat ke arah Arya dan turun dari mobil?
Mata Jasmin membulat. Itu kan Erika, anaknya Tante Dinar, alias ponakan Jasmin. Jasmin pun heran. Bukankah Erika tidak kuliah di sini, kok bisa ada di area kampus dan mendekat ke arah Arya? Hati Jasmin bertanya-tanya.
Oh ya, lupa! Jasmin tepuk jidat. Mungkin masih ada hubungan saudara, karena pernah melihat Arya di pintu rumah Neneknya tempo hari. Itulah sebabnya Erika berjalan mendekat ke arah Arya.
“Ah, sudahlah! Biarkan saja. Itu bukan urusanku!” gumam Jasmin. Ia segera mencari letak parkir motornya. Dari sekian banyak motor berderet, Jasmin suka bingung dan linglung mencari motornya. Rasanya semua motor yang berderet itu sama. Kalau terburu- buru ya seperti ini. Lupa di mana tadi letak parkirnya.
Tengah Jasmin kebingungan, satu suara menegurnya. “Sedang apa? Bingung mencari motormu ya?”
Jasmin lalu menoleh ke arah sumber suara. Matanya tak percaya, Arya sedang berdiri di sebelahnya. Membuat Jasmin salah tingkah.
“Ayo diingat dulu di mana letaknya motor tadi,” cetus Arya sambil tersenyum. Lesung pipinya tercetak jelas di wajahnya yang tampan dan bersih.
Jasmin tersenyum kecut Malu ketahuan sedang bingung mencari letak motornya.
“Nama kamu siapa, kenapa kalau ditanya malah menghindar terus sih?” tanya Arya kembali tetap kukuh ingin tahu nama Jasmin.
"Jasmin!" sahut Jasmin pendek
“Oh, ya Jasmin. Ada yang bisa dibantu? Berapa nomor plat motormu? Biar Kubantu cari!”
“D2011HH."
“Oke. Kita cari.”
“Arya!” satu suara keras menyentakkan langkah Arya ketika tengah celingukan bantu mencari motor Jasmin.
“Aku dari tadi memanggilmu!” seru gadis itu yang ternyata Erika. Ketus suaranya. Lalu matanya mendelik ke arah Jasmin. “Ngapain kamu dekat pacarku?”
Alis Jasmin bertaut. Baru menyadari ternyata Pak Dosen muda ini pacarnya Erika? Seperti pangkuan Etika barusan?
'Hmm... pantas saja ada di sekitar rumah Nenek waktu itu. Ternyata dia pacar Erik.’ Jasmin membatin.
“Siapa yang dekati pacarmu? Aku lagi cari motorku kok,” kilah Jasmin tak kalah ketus.
“Yes, dapat! Tuh deretan lima motor dari sini. Motormu warna hitam kan? itu ada dekat Ninja hijau." Arya menunjuk ke arah letak motor Jasmin. Dia tak menggubris ucapan ketus Erika. “Betul kan yang itu?”
“Betul!” sahut Jasmin lega. “Oke, thank's, Pak Arya." Ia berusaha sopan. Jasmin harus bisa jaga sikap, Arya sekarang dosennya di kampus.
“Sudah, sana pergi! Nanti kita ketularan sial darimu, Jasmin!” usir Erika tiba- tiba dengan wajah angkuh.
“Lagian ini juga mau pergi. Aku juga ogah dekat kamu!” balas Jasmin tak mau kalah.
“Kalian saling kenal? Oh ya, aku lupa, aku'kan ketemu kamu di rumah Neneknya Erika. Kamu siapanya Nenek Erika?” tanya Arya tiba-tiba melerai dua wanita yang sedang saling ketus.
“Tanya saja pada pacarmu, siapa aku,” sahut Jasmin ketus seraya mengangkat bahu. '"Oke.., thank's sekali lagi Pak Arya. “
“Baiklah!” Arya mengangguk sambil tersenyum.
Jasmin lalu melangkah ke arah motor tanpa menoleh lagi pada Erika yang wajahnya jadi terlihat masam. Namun, Jasmin tak peduli. Bergegas mengambil motor dan menaikinya.
Ketika motor Jasmin melintas, Arya tersenyum lalu naik ke mobilnya. Jasmin pun heran, karena diosennya itu memakai mobil kategori mewah. Jeep keluaran baru, bukan mobil murah biasa.
Jasmin lalu mengangkat bahu. Entahlah, siapa Arya sebenarnya. Apa statusnya hanya sebagai dosen saja? Pikir Jasmin.
Dalam perjalanan pulang, tak sengaja mata Jasmin melihat sesuatu yang menarik perhatian. Pak Prima.
Motor Jasmin kebetulan berhenti di lampu merah. Terlihaterlihat Pak Prima menggandeng seorang wanita muda cantik, hendak menyeberang jalan. Tumben juga dia jalan kaki, tidak pakai kendaraan dengan pemandangan seperti ini. Pikir Jasmin.
Akan tetapi, Jasmin heran. Dari caranya bergandengan tangan, rasanya tak mungkin jika dia hanya sebagai saudara atau sekedar teman. Ada keintiman lebih atau bisa dikatakan mesra.
Atau mungkin teman kantornya? teman tapi mesra. Jasmin jadi tersenyum sendiri. Istilah yang basi untuk TTM.
Sayang sekali, Pak Prima Satrio adalah pria yang ramah, wajahnya juga lumayan tampan. Di usianya yang empat puluh tahun malah makin terlihat matang dan gagah. Dia juga punya jabatan lumayan di kantornya, sebagai manajer penjualan. Para pegawai divisi Pak Prima, pesan makan siangnya pada Ibunya Jasmin, atas rekomendasi dari pak Prima.
Dan itulah yang membuat Bu Prima jadi sering curiga dan sering salah paham pada ibunya Jasmin. Istrinya menganggap Ibunya Jasmin yang menggoda suaminya. Nyatanya sekarang terbukti suaminya yang suka jelalatan dan sekarang dia bersama wanita lain.
Jasmin menghela napas dalam. Memang Pak Prima, sering cari perhatian pada ibunya. Dan Jasmin yang galak sering protes pada Pak Prima. Sekarang karena sering diprotes sudah mulai mendingan, Pak Prima sudah tidak ganjen lagi pada ibunya Jasmin.
Orderan makan siang, tadinya mau dihentikan, namun para pegawai menyukai masakan sang ibu. Sampai rela kirim kurir khusus ke tempat Ibunya Jasmin, untuk mengmbil makan siang mereka.
Jasmin kembali menghela napas. Miris. Kasihan Bu Prima. Ibu rumah tangga yang terkenal sebagai Orang Kaya Baru itu dan sering julid pada siapapun yang tidak di sukainya, ternyata suaminya main belakang, seperti yang sering dicemburuinya selama ini.
Konyolnya Bu Prima, dia malah menuduh Ibu Jasmin penyebab suaminya ganjen. Pikirannya tertutup, padahal bahaya pelakor bisa dari mana saja, apalagi Pak Prima adalah pria mapan dan gaul. Tongkrongannya keren, kalau tidak memakai mobil, dia biasa pakai motor tipe keluaran baru.
Jasmintak bisa berlama-lama memperhatikan Pak Prima. Ia segera melajukan motor kembali karena traffic light sudah menyala hijau.
Tak bisa Jasmin ikuti lagi ke arah mana Pak Prima berjalan. Yang ia tahu, di daerah sana ada Mall, Restoranl dan hotel. Entah tempat mana yang mereka tuju. Dan ini jam istirahat kantor. Sekitar pukul dua belas lebih. Jadi pria itu mengambil waktu istirahat untuk berjalan- jalan dan bersenang- senang.
Smart! Dia memanfaatkan waktu sibuknya hanya untuk begini, sehingga lolos dari kecurigaan istrinya.
Hmmm...mode baru SLI rupanya. Selingkuh Itu Indah, pikir Jasmin.
Skarang Jasmin punya bukti dan tidak akan tinggal diam lagi jika Bu Prima kembali menuduh Ibunya macam-macam. Akan ia kuliti semua yang Jasmin tahu jika Bu Prima kembali berulah. Belang Pak Prima ada di tangan Jasmin sekarang.
**
Tiba di rumah, mata Jasmin tertuju pada dua tangkai mawar merah di depan pintu. Bunga itu masih segar. Berarti belum lama disimpan. Jasmin menautkan alis. Kerjaan siapa ini yang kirim bunga? Pak Prima? Tidak mungkin. Barusan Jasmin melihatnya dengan wanita lain.
Orang iseng kah atau fans berat ibunya Jasmin lagi?
Entah! Kalau Fans kok kepikiran romantis, sampai kirim mawar segala, pikir Jasmin.
Masih terheran-heran, Jasmin mendorong pintu, masuk rumah sambil mengucap salam.
Ibunya menjawab salam sambil tersenyum. Celemek berlepotan terigu masih dikenakan, bertanda Ibunya sedang sibuk membuat adonan kue.
“Ibu, ternyata punya fans rahasia lagi ya?” goda Jasmin yang jiwa keponya meronta, sambil meletakkan dua tangkai mawar di meja makan. “Nih, ada bunga tuh di depan pintu.”
Kening ibu berkerut. “Siapa yang kirim bunga ini, Jasmin?”
“Jasmjn gak tahu, Bu. Ada di depan tadi.”
Ibu menghela napas. Di amatinya dua tangkai mawar itu. Wajahnya tiba-tiba terlihat berubah.
“Buang mawar ini Jasmin! Tidak pantas ada di rumah ini!" seru Ibunya tegas, membuat Jasmin kaget.
“Ada apa, Bu?”
“Buamg saja, cepat!” Ibu mengulang perintah. Wajahnya terlihat menegang. Jasmin terus melihatnya dengan pandangan bingung.
“Jasmjn!”
“Eh ya, Bu.” Jasmin tersentak kaget. “ Ini juga mau dibuang!” Jasmin segera mengambil bunga itu, membuangnya di tong sampah depan rumah. MasihMasih dengan pikiran yang penuh tanda tanya. Tak biasanya ibunya tegas seperti itu. Terlihat tidak suka bahkan cenderung benci. Ada apakah gerangan. Siapa yang kirim bunga itu? Jasmin bertanya-tanya sendiri.
“Ibu siapa sih pengirim mawar itu?” Jasmin jadi penasaran ingin tahu. “Apa ibu mengenalnya?”
Ibu menarik napas panjang. Wajahnya terlihat menegang.
"ibu?" desak Jasmin tak sabar.
“Orang itu, Jasmin !”
“Siapa, Bu?”
“Pembunuh ayahmu!”
“Apa?” Mata Jasmin sontak melotot. “Orang itu mau apa lagi? Tidak jera dengan penjara?"
“Entahlah! Karena Ibu dengar, dia sudah bebas dari penjara beberapa bulan lalu.”
Gawat! Kenapa orang jahat itu masih penasaran dengan Ibu? Pikir Jasmin.
"Ibu tenang ya, jangan panik!" Jasmin berusaha menenangkan Ibunya, padahal hatinya juga ikut gelisah.
"Sampai kapan Ibu bebas dari orang itu, Jasmin?” keluh Ibu. Wajahnya terlihat gelisah. "Apa kita pindah rumah lagi, biar dia tak ganggu kita?"
Jasmin terdiam. Tidak mungkin terus lari dari kenyataan. Jujur, Jasmin lelah harus pindah kontrakan lagi.
"Kita harus bisa menghadapinya, Bu! Lari tidak selesaikan masalah. Dia akan terus mencari kita lagi!” putus Jasmin.
"Bagaimana caranya?" keluh Ibu lagi. Terlihat wajahnya bingung. "Andai kita punya sosok lelaki yang bisa menjaga kita."
"Berarti Ibu harus menikah lagi biar ada yang menjaga kita."
"Hah? kenapa harus ke sana sih jalan keluarnya?" Wajah Ibu Jasmin memerah. Entah malu atau marah.
"Habis, itu jalan instan kita, Bu!" kukuh Jasmin.
"Kamu kira cari suami itu kayak cari kerikil di jalan? Butuh proses dan seleksi ketat, biar dapatnya bukan batu koral. Tapi berlian!"
“Wah, filosofi Ibu keren juga. Berlian!” Jasmin terkekeh sendiri.
"Maksudnya berlian itu apa, Bu?" Jasmin kembali bersikap bloon, masih bingung mencerna maksud Ibunya.
"Maksud Ibu...orang itu harus berhati baik. Hatinya bersinar bagai berlian, yang butuh proses panjang hingga jadi berharga seperti itu!" terang ibu.
Mungkin Jasmin bisa sedikit mengerti maksud Ibunya kali ini. Namun hal itu pasti sulit mencarinya, bagai mencari jarum di tumpukan jerami, di gudang yang gelap gulita lagi. Nah lho! kapan ketemunya?
"Kita punya Tuhan, Bu. Kita berdoa saja. Dialketemunya-baik penjaga."
Ibu menghela napas lagi. “Iya, Jasmin. Kita berdoa saja."
Lalu Ibu tersenyum. “Tumben kamu bijak, Jasmin!"
Meski diliputi cemas, setidaknya bibir Jasmin tersenyum sedikit mendengar celoteh Ibu kali ini.
Ah, hubungan manis dan dekat antara ibu dan putrinya itu. Saling mendukung dan saling mengasihi tanpa syarat.
***
