Bab 4. Hana Berkorban Rasa
Akhirnya Jasmin pulang dengan wajah penuh senyum. Tadi wajah ini bersimbah tangis, namun sekarang berhias senyum. Kebahagiaan itu sederhana, jika bisa membuat orang lain bahagia. Anak- anak polos di panti asuhan itu, begitu menikmati kue tart yang Jasmin beri.
Masya Allah!
Sesederhana itu untuk bahagia
Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan, Jasmin?
Baru tadi hatinya serasa tercabik dan terpilin sakit. Namun sekejap, Allah gantikan dengan senyum kebahagiaan. Sesederhana itu bagi Allah, untuk membolak-balikkan hati manusia.
‘Semoga suatu hari, hati Nenek yang akan berbalik menjadi penuh kasih,’ harap Jasmin dalam hati. Ia percaya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan mengubah apa pun seperti kehendak-Nya.
***
Di belokan jalan menuju ke rumah, Jasmin melihat Bu Icha dan Bu Prima berjalan beriringan.
Jasmin menyeringai Tumben duo orang julod ini pergi berbarengan. Pelan motor Jasmin mengikuti langkah mereka. Rupanya mereka ke arah toko kelontongan Hajah Lila.
Jasmin teringat kue kering buatan Ibunya juga dititip di sana. Itu satu-satunya toko di daerah ini, yang mau menampung kue buatan ibunya lumayan banyak. Pemilik toko tidak mempan dengan demo para ibu-ibu pembeli.
Ketika Bu Icha dan Bu Prima masuk toko kelontongan itu, diam- diam Jasmin mengikuti.
“Eh, Jasmin! Kamu mau ambil uang kue Ibumu, ya?”
Jasmin tertegun, rupanya Bu Hajah memergokinya sedang berjalan di belakang Bu Icha dan Bu Prima itu. Jadi saja keberadaan Jasmin diketahui dua rivalnya. Bu Icha dan Bu Prima menoleh ke arahnya. Jasmin pura- pura tidak melihat mereka.
“Iya, Bu. Kebetulan lewat jadi mampir," katanya beralasan, sambil tersenyum tipis pada Bu Hajah. “Sudah habis stoknya, Bu?”
“Iya, ini tinggal sedikit. Nanti kirim lagi yang banyak. Kue buatan Ibumu banyak peminatnya, Jasmin. Renyah dan enak, sih!”
"Siap, Bu. Nanti saya kirim yang banyaaaak,” sahut Jasmin girang. “Walaupun cuma di toko ini saja yang mau terima. Tapi omzetnya cetar, tuh! Makasih ya, Bu, tidak takut didemo para ibu julid."
Aku mengerling ke arah Bu Joko dan Bu Yani yang terlihat cemberut.
Bu Hajah Lila tertawa. “Kamu bisa saja, Jasmin. Rezeki itu di tangan Allah. Bukan di tangan yang demo!”
Duaaar! Kena Lo! Jasmin bersorak. Ucapan Hajah Lila menohok langsung ke hati Bu Icha dan Bu Prima. Wajah mereka jadi merah padam. Jasmin tertawa senang dalam hati, setidaknya masih ada orang yang berpikiran waras di daerahnya, seperti Bu Hajah Lila.
“Permisi ya, Ibu-Ibu. Biarpun wajah saya buruk, yang penting bawa hoki,” pamit Jasmin setengah meledek ke arah Bu Prima dan Bu Icha
Kalau saja Hana tahu Jasmin meledek kedua ibu julid itu, tangan Jasmin pasti bakal kena cubit Ibunya. Ya, terkadang sifat usil Jasmin ini keluar, karena sering di ejek dua ibu itu. Masa Jasmin mau diam saja jadi keset yang diinjak-injak?
Jasmin rasanya tak Sudi terus jadi bahan olok-olokan para ibu yang memang julid itu.
"Dasar si Jasmin, si anak burik. Mulutnya tajam!" gerutu Bu Icha pelan, tapi Jasmin masih sempat mendengarnya ketika berjalan melewati kedua ibu julid itu.
"Sirik tanda tak mampu, Wew!" Jasmin menghentikan langkah dan masih sempat ia membalas ucapan Bu Icha. “Kasihan, deh. Orang sirik tak disayang Allah!”
Balasan Jasmin makin membuat kedua ibu julid itu makin tak suka pada Jasmin.
“Awas, lu!” gumam Bu Prima kesal.
“Wajah burik sudah sombong,” dengkus Bu Prima ikut sewot.
“Awas saja kita nanti kita kerjain!” geram Bu Icha Lalu mereka bisik-bisik sambil cekikikan. Hati Jasmin tergelitik, ia menghentikan langkah yang tadinya mau keluar dari toko kelontongan. Segera berbalik badan dan berdiri di depan kedua ibu tadi.
“Eh, saya lupa! Peristiwa kirim beras kemarin itu jadinya bagaimana, Bu Prima? Salah alamat kan? Ibuku tak terima beras dari suamimu lho, Bu. Malah Pak Prima sendiri yang minta maaf. Kok, istrinya lempeng saja ya, sudah menuduh dan marah- marah pada Ibu saya?"
"Kalau salah itu, mbok ya klarifikasi gitu, lho, Bu Prima. Kasih ajaran yang baik sama anak muda kayak saya,” lanjut Jasmin menyentil kelakuan kedua ibu julid itu, sambil menatap berani ke arah Bu Prima.
Wajah Bu Prima kembali merah padam. Dia salah tingkah karena pembeli yang lain juga ikut mendengar lalu melihat ke arahnya
“Seperti saya sekarang ini jujur minta maaf, kalau sudah bikin Bu Prima malu hari ini. Jadi impas ya, Bu." Jasmin tersenyum nakal. "Permisi, saya pulang dulu.”
“Huh, dasar! Anak itu beda banget sama Ibunya yang baik. Anaknya sudah jelek, tengil lagi!” gerutu Bu Icha membela sohibnya yang kena skakmat Jasmin.
Namun, Jasmin tak peduli, terus melenggang, keluar toko tanpa menoleh lagi. “Tidak ada gunanya berdebat lagi dengan mereka.” Gerutu Jasmin.
**
“Bagaimana, Jasmin? Kuenya sudah diberikan pada Nenek 'kan?” tanya Hana antusias ketika putrinya baru saja masuk rumah.
Jasmin membisu. Bingung mau jawab apa. Ia hanya bengong sambil memandangi wajah Ibunya yang terlihat antusias. Sepertinya Ibunya berharap kue itu bisa diterima Nenek dan bisa sedikit menghiburnya.
“Jasmin?” tegur Ibu sekali lagi. Matanya seakan menyelidik melihat Jasmin yang terditerdiam.
Jasmin menelan ludah, ia bingung sendiri harus jawab apa kali ini? Apakah mesti bohong bahwa kue itu diterima sang Nenek? Kalau bohong, apa nanti malah Ibunya bahagia, namun hal itu semu belaka belaka hanya menyenangkan sesaat?
Kalau Jasmin mengatakan jujur Neneknya tidak terima kuenya, ibunya pasti sangat kecewa. Tak tega rasanya, kalau mengingatnya kemarin Ibunya begitu bersemangat mengerjakan kue itu, bahkan sampai tidak tidur semalaman demi menghiasnya dengan cantik.
“Jasmin, Ibu tahu yang ada di pikiranmu," lirih Ibunya bijak. “Tak apa-apa, Nak. Yang penting Nenek dan semua orang tahu, bahwa kita masih mengingat dan menghargai Nenek.”
Jasmin menghela napas berat. 'Maaf, Bu. Aku juga membela diri di sana demi Ibu dan aku,' batin Jasmin bergumam. ‘Maaf, untuk kali ini reaksiku keras pada Nenek dan yang lainnya.’ Jasmin terus berbicara dalam hatinya, tak bisa ia ungkapkan, karena Ibunya pasti sedih dan kesal karena Jasmin membangkang pada Neneknya.
“Maaf, Bu!” Jasmin menunduk dengan lirih.
“Sekarang kuenya di kemanakan?” tanya Ibunya lembut. Dia mengerti kebungkaman putrinya. “Bicaralah. Jangan membisu terus.”
“Aku kasih ke panti asuhan, Bu.”
Akhirnya Iasmin bicara jujur. Suaranya serak dan sedikit bergetar. Rasanya hatinya ini tak tega kalau melihat Ibunya kecewa lagi.
“Syukurlah. Kalau kue itu akhirnya berguna bagi orang lain.” Ibu menghela napas lega. Semburat kecewa di wajahnya tersamar dengan seulas senyum lega.
“Ibu ngga marah kan, aku langsung kasih kue itu ke orang lain?”
“Tidak , Sayang. Ibu bahagia jika kue itu membahagiakan orang lain.” Ibu berusaha tersenyum manis.
“Bahagia itu sederhana, Sayang. Melihat kebahagiaan orang lain, hati kita juga akan merasa hangat dan berarti. Itulah bahagia yang sejati,” ucap Ibu bijak.
Jasmin menatap ibunya sangat lekat. “Ah, Ibu. Di balik wajah cantiknya, tersimpan hati yang jauh lebih cantik,” gumam hati Jasmin. “Andai hatiku bisa secantik Ibu. Namun hatiku masih dipenuhi duri tajam, yang kadang menyakiti orang lain.” Jasmin terus bicara dengan dirinya sendiri.
‘Kapan ya hatiku bisa selembut dan secantik Ibu?’ Entahlah, karena kenyataan hidup yang begitu keras. Sehingga hatiku ikut juga mengeras.’ Jasmin mendesah.
“Jasmin tidak kuliah hari ini?” tanya Ibu mengalihkan perhatian karena dia hapal pasti Jasmin sedang menyalahkan dirinya sendiri. Hana tak ingin putrinya merasa tak enak hati terus.
“Kuliah, Bu. sebentar lagi berangkat. Mau ganti baju dulu dan salat.” Jasmin berusaha tersenyum.
“Ya, sudah. Pergilah. Nanti telat. Ini sudah mau jam satu. Waktu kuliahmu jam segitu' kan?”
“Iya, Bu. Aku siap- siap dulu.”
Jasmin segera beranjak untuk berganti pakaian terlebih dulu, sekalian menunaikan salat Zuhur..
Hana menghela napas dalam. Sebenarnya hatinya sangat sakit mengetahui kuenya tak diterima Nyonya Rosana. Itu menandakan sampai detik ini dirinya tak pernah punya arti apa pun dan tak dianggap apa pun oleh mertuanya itu. Ibu dari lelaki terkasih yang telah tiada. Nenek dari putrinya, Jasmin. Demi mereka, Dirga dan Jasmin, Hana bertahan menebalkan muka untuk terus berbuat baik pada Nyonya Rosana. Kalau saja dia mau, dia bisa pergi jauh dan tak akan peduli lagi pada mantan mertuanya itu.
Namun, hati Hana tak bisa Setega itu. Masih ada Jasmin yang butuh pengakuan dari nenek dan keluarganya. Demi Jasmin, Hana rela bertahan dalam kesendirian dan rasa sakit hati. Demi masa depan putrinya, Hana rela mengorbankan semua harapan dalam hidupnya.
Hana yang cantik, pasti tak akan sulit mendapat lelaki mana pun yang ia inginkan. Bahkan yang kaya raya sekalipun. Namun, Hana wanita yang lembut hati. Punya banyak cinta dalam hatinya untuk putri semata wayangnya itu.
Biarlah, dia terus bersabar menghadapi kesulitan bahkan hinaan dari siapa pun termasuk dari keluarga lelaki terkasihnya itu. Sekalipun cintanya itu sudah tiada. Hana setia dengan kenangan cintanya itu.
