3. Bahagia Itu Sederhana
Jasmin disuruh ibunya memberikan kue ulang tahun untuk neneknya Meskipun enggan Jasmin menuruti keinginan ibunya itu.
Namun, kue tart yang diberikan tak diterima Neneknya, Jasmin malah dihina begitu rupa oleh neneknya : “Aku tak butuh kue. Aku tak butuh apa pun dari orang pembawa sial!” hina neneknya. "Ambil kuemu! Gak akan ada yang sudi memakannya di sini!”
Jasmin menelan ludah pahit. Seperti ada ribuan belati menyayat hatinya. Sakit. Perih. Terluka.
Ucapan Neneknya sangat menyakitkan. Teramat sakit! Sampai kapan julukan pembawa sial itu bisa lepas dari Jasmin dan Ibunya?
"Tapi Nek--"
"Sudah, Pergi sana! Tak ada yang butuh kamu di sini!"
Jasmin tertegun. Rasa sesak yang ditahan hampir tumpah. Namun, tidak! Ia tak boleh menangis! Ia teringat Ibunya yang semalaman tidak tidur menghias kue tart ini dengan cantik. Hana melakukannya dengan tulus penuh cinta.
Inikah balasannya?
Hati Jasmin berontak. “Tidak, aku tidak boleh begitu saja menyerah! Aku tak ingin dianggap kotoran dan pembawa sial terus!” Jasmin berteriak dalam hati.
“Aku harus bisa membela diri. Aku harus bisa membela ibuku. Aku harus bisa membela surgaku yang ada di bawah telapak kaki ibu!” desis Jasmin pelan, sambil menguatkan hatinya.
Pelan Jasmin mengangkat wajah, menatap lurus ke mata nenek. Tak ada takut dan gentar sama sekali.
Jasmin menatapn mata Nenek dengan tajam. Mengumpulkan segenap keberaniannya. Ia tak ingin dihina seperti ini.
“Aku kira dengan bertambah usia, Nenek akan jauh lebih bijak dalam berpikir, ternyata aku salah. Nenek tetap berpikir picik,” desis Jasmin datar. Menghirup sejenak udara. Mengontrol emosi yang hendak tumpah.
“Nenek tetap berpikir sempit, menganggap aku dan Ibu sebagai pembawa sial. Pernahkah Nenek berpikir kami juga merasa sedih kehilangan sosok ayah dan suami ibu? Pernahkah Nenek menghargai, sedikit saja. Selama dua puluh tahun ini, ibu tak pernah menikah. Dia tetap setia menyimpan cinta untuk putramu? Setidaknya hargailah sedikit pengorbanannya, Nek!”
Wajah Nenek Rosana tampak menegang. Rahangnya mengeras. Matanya berkilat marah. Namun Jasmin tak gentar. Akan ia bela Ibunya. Akan ia bela surganya yang berada di bawah telapak kakinya.
“Tolong jangan bilang kami pembawa sial, Nek. Sudah cukup dua puluh tahun ini, kami sakit di cap seperti itu. Kematian ayah bukan salah Ibu atau aku. Ini adalah takdir, Nek. Takdir kematian yang pasti akan datang pada kita semua. Nenek paham kan itu?” tuturnya berapi- api.
Tak dipedulikan tatapan kesal semua orang yang hadir. Tak dipedulikan Nenek yang menatapnya semakin benci. Jasmin ingin mereka tahu, bagaimana sakit hatinya diperlakukan tidak adil oleh Neneknya sendiri.
Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Berapa banyak air mata tertumpah selama itu? Berapa banyak sakit yang ia dan Ibunya harus tanggung.
“Selama ini aku tak pernah mengemis apa pun pada Nenek dan Tante semua. Aku Cuma minta, tolong hargai kami sedikit saja!”
“Cucu kurang aja! Berapa harga yang harus dibayar supaya kamu tidak selancang ini, hah?" hardik Nenek. Matanya menyorot benci. Wajahnya merah padam. Nenek terlihat begitu murka.
“Aku tak butuh bayaran apa pun, Nek.” Jasmin mencoba merendahkan suara.
“Kalau begitu, dengarkan!” geram Nenek. “Tahu apa kamu rasa sakit kehilangan anak lelaki satu- satunya? Menurutmu mudah untuk melupakannya begitu saja? Dengar! Kalau saja putraku tidak menikahi wanita bodoh seperti Ibumu, dia pasti tak akan mati seperti itu. Jadi Ibumulah penyebab mati putraku! Dan anak yang dikandungnya ikut juga bawa sial. Karena aku terpaksa harus terikat terus dengan anak si pembawa sial itu seumur hidup!”
Suara Nenek begitu menggelegar. Matanya begitu tajam dan penuh kebencian. Jasmin tertegun. Ia kaget begitu besarnya kebencian Nenek padanya dan Ibunya.
“Sudah! Pergi sana!” usirnya. “Kenapa anakku sampai punya anak kurang ajar sepertimu, Jasmin?”
“Kamu pergi, cepat!” Tante Dinar ikut marah dan menyeret lenganku. Hampir saja dus yang Jasmin pegang terjatuh ketika lengannya terseret.
Jasmin segera mengibaskan lengan yang dicengkeram Tantenya.
“Lepas, Tante,! Aku juga mau keluar. Tak ingin berlama-lama di keluarga yang tidak beradab ini!" sergah Jasmin tak kalah berani. “Aku kira keluarga ini terhormat. Nyatanya hanya sekumpulan orang yang picik!” lanjutnya.
Jasmin segera berbalik. Namun ia belum puas dengan unek- unek yang ingin dikeluarkan.
“Dengar ya, mungkin Nenek dan semua orang di sini menganggap aku ini rendah dan pembawa sial! Tapi ingat, suatu hari kalian yang akan mendatangi dan memohon padaku!" ucap Jasmin tajam sebelum kakinya melangkah pergi.
Terlihat wajah- wajah kaget pada keberanian Jasmin ini. Jasmin tak peduli, biarlah disebut kurang ajar! Nyatanya ia memang harus membela diri kali ini. Stok kesabarannya sudah habis.
Ya, Allah, sakit!
Jasmin teringat Ibunya yang selalu mengalah dan sabar. Siapa yang akan membelanya selain dirinya? Siapa yang akan menyusut air matanya yang selalu diam- diam mengalir? Jasmin merasakan hatinya pilu jika ingat ibunya.
Tiba-tiba, mata Jasmin terpaku pada satu foto dengan pigura indah terpasang di dinding. Foto ayahnya! Ia sering melihatnya di dompet Ibunyq. Meski sudah usang, namun ia masih mengenali wajah yang tersenyum itu, yang wajah, kulit dan sosoknya sangat serupa dengan Jasmin.
Perlahan hati Jasmin yang bergolak sirna. Matanya terus terpaku melihat senyum ayahnya di foto.
“Maaf, Yah! Jika hari ini aku terlalu berani pada Nenek. Tolong beritahu Nenek, kepergianmu pada Sang Pencipta adalah takdir. Bukan salah Ibu atau aku,” lirih hati Jasmin.
Bergegas Jasmin berjalan keluar, sebelum bulir di matanya ini turun. Melihat foto Ayahnya, hampir jebol pertahanan gadis itu. Tergesa kakinya melangkah melewati pintu dan bertabrakan dengan seseorang.
“Hei, hati- hati dong! Jalan kok seperti banteng serudukan!” omel seorang pemuda yang ditabrak Jasmin.
Jasmin mengangkat wajah yang telah basah oleh air mata. Ingin melihat siapa yang ia tabrak.
Seraut wajah tampan namun asing. Jasmin tak pernah melihatnya di barisan keluarga ayahnya. Wajah berkulit kuning itu berbeda dengan kulit keluarga ayahnya yang coklat.
Entah siapa dia.
“Maaf!” ucap Jasmin singkat
Mata lelaki itu yang tadi berpendar marah mendadak redup.
“Kamu menangis. Kenapa?” tanyanya lembut. “Kamu jelek kalo menangis!”
Jasmin mendengkus. "Kepo aja. Aku sudah minta maaf!” sahutnya ketus dan segera berlalu melewati lelaki itu. Tak dihiraukan keheranan di wajah sang lelaki. Segera kaki Jasmin menuruni tangga teras dengan cepat. Jasmin tak ingin lelaki itu melihat air matanya . Ia tak ingin terlihat lemah di depan siapa pun!
Segera disimpannya dus kue di keranjang yang ada di depan motor. Menghidupkan mesin motor dan langsung tancap gas.
***
Jasmin melajukan motor dengan pelan. Takut tidak fokus. Dadanya teramat sakit menahan isak yang ingin keluar.
Sabar...sabar! Jasmin mengusap dada Ya, Allah beri ketegaran hati ini! Gumamnya pedih.
Ketika melewati suatu bangunan, dengan plang tulisan Yayasan Yatim piatu, segera Jasmin hentikan motor. Timbul niatnya berbuat sesuatu. Kue tart yang ditolak Nenek akan Jasmin berikan pada mereka. Anak-anak kurang beruntung itu, tentu senang kalau makan kue tart yang telah dihias cantik, pikir Jasmin. Perlahan motornya memasuki parkir yayasan. Berhenti dan segera turun. Mengambil dus di keranjang bagasi. Pelan berjalan ke depan pintu. Terdengar sayup- sayup suara anak yang mengobrol.
Perlahan mengetuk pintu. Tak berapa lama seorang wanita berjilbab membuka pintu.
“Assalamualaikum, Bu," sapa Jasmin.
“Waalaikumsalam. Cari siapa, Neng?” tanya ibu itu ramah.
“Saya mau memberikan ini Bu, buat anak-anak panti.”
Pelan Jasmin menyodorkan dus berisi kue tart.
“Apa ini?”
“Kue, Bu. Semoga anak-anak suka."
Ibu itu tersenyum senang.
“Ayo, masuklah, Neng. Kita kasihkan langsung pada anak- anak. Oh ya, nama Neng siapa?”
“Jasmin, Bu!”
“Saya, Bu Nani.”
“Ayo, ikuti saya,” ajak Bu Nani sambil tersenyum.
Jasmin menurut, mengikuti langkah Ibu Nani memasuki ruang tengah yang luas.
Terdapat jejeran kamar dan ruangan luas yang di alasi karpet. Ada sekitar sepuluh anak nampak asik duduk. Sebagian membaca buku, sebagian lagi menggambar.
“Anak-anak. Ini ada Kak Jasmin, mengirim kue tar buat kalian," ucap Bu Nani sambil tersenyum
Anak- anak langsung menoleh dan menatap ke arah Jasmin... Pelan Jasmin ikut duduk sambil menyimpan dus kue di depan anak- anak. Dia buka tutup dusnya.
“Waaaw!” desis mereka melihat tampilan kue tart yang dihias cantik.
Hati Jasmin merasa sejuk melihat binar di mata mereka. Wajah mereka terlihat senang dan tertarik ingin segera makan.
“Ibu ambilkan pisau dan piring kecil ya,” ucap Bu Nani segera berlalu.
Tak berapa lama dia kembali membawa pisau dan pisin. Lalu memotong kue dengan irisan yang sama besarnya dan dibagikan di piring kecil.
“Terima kasih, Kak!”
"Terima kasih, Kak."
Ucapan terima kasih yang bersahut- sahutan dari bibir mungil itu, mampu membuat hati Jasmin teraaa sejuk dan bahagia. Dan ini berhasil melupakan kesedihan yang tadi menggelayut di hatinya.
Ternyata berbagi itu begitu menyenangkan, dan membuat damai di dalam hati.
AUasmin menatap haru pada wajah-wajah polos yang terlihat sangat bahagia memakani kue yang dibawa Jasmin. Kue yang ditolak Neneknya Jasmin, malah menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Sesederhana itu untuk bahagia. Sesederhana itu Tuhan membilak-balikan hati manusia, dari sedih jadi bahagia..
'Ah, Ibu, maafkan! Kue yang dihias semalaman itu, tidak diterima Nenek. Namun, menjadi kebahagiaan indah pada orang lain. Aku yakin Ibu juga pasti bahagia kalau mengetahuinya.” Jasmin membatin.
Apakah memang ibu bahagia seperti harapan Jasmin?
