Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2. Dituduh Tanpa Alasan

**

Pagi hari terdengar suara ketukan pintu yang keras. Lebih tepatnya gedoran di pintu.

Jasmin berpandangan dengan Ibunya Alisnya bertaut karena kesal.

“Ini siapa sih, pagi-pagi gini gedor pintu, Bu? Gak punya etika banget!” gerutu Jasmin

“Biar Ibu lihat! kamu teruskan saja sarapan. Nanti telat ke kampusnya,” ujar Hana

“Biar aku saja, Bu. Kalau penjahat yang datang, bagaimana?”

“Nggak bakalan ada penjahat ke rumah kecil begini. Apa yang mau dirampoknya, coba?” kilah Ibunya Jasmin.

“Ada, Bu. Perampok hati,” ucap Jasmin kalem sambil menyuap nasi goreng buatan Ibunya.

“Kamu ini." Hana tersenyum. "Sudah, biar ibu yang buka!" Hana berlalu dan berjalan ke pintu depan.

Ceklek!

Kunci pintu dibuka. Jasmin perhatikan Ibunya dari tempat makan dengan was-was.

“Hei, jangan coba-coba rayu suamiku ya!” Tetiba terdengar hardikan begitu pintu terbuka.

Mata Jasmin membulat, suara cempreng itu sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan Bu Prima. Mau apa dia ke sini dan mengamuk?

“Maaf, Bu, ada apa? Kenapa marah-marah di sini?” Hana bertanya masih dengan nada lembut.

“Cari kamu lah, Hana! Situ suka banget godain suami orang. Lancang banget minta dikirim beras segala sama suamiku!”

Jasmin segera menghentikan suapan nasi goreng, ketika mendengar tuduhan Bu Prima tentang beras. Teringat perdebatan kemarin dengan Pak Prima yang ingin kirim beras.

Wah, rupanya betul juga. Berita ini langsung tembus ke Bu Prima bagaikan rudal tempur dengan kecepatan tinggi.

Bergegas Jasmin menghampiri Ibunya, yang tertegun bingung dengan tuduhan Bu Prima

“Eh, Bu Prima! kalau mau ngamuk cek dan ricek dulu, jangan main damprat saja!” sahut Jasmin sengit.

Jasmin segera menarik lengan Ibunya supaya menyingkir dari pintu dan ia merangsek maju berhadapan dengan Bu Prima

“Kemarin itu pak Prima nawarin kirim beras , tapi kutolak. Saksinya banyak tuh, termasuk pemilik kios. Kenapa Ibu jadi merepet kesini? Tanya dulu yang benar sama suamimu!"

Jasmin berusaha merendahkan nada suaranya. Meski dalam hati ingin teriak memaki Bu Prima. Jasmin ingat ucapan Ibunya. Jangan membalas kemarahan dengan emosi. Yang ada malah hancur.

Mendengar jawaban Jasmin, Bu Prima diam. Namun kedua matanya masih tetap nyalang. Rupanya kecemburuan pada suaminya masih belum reda.

Jasmin melirik ke arah kiri. Suara teriakan Bu Prims menarik perhatian tetangga sebelah. Mereka keluar dan mulai menonton.

Ah, ini harus segera di akhiri, pikir Jasmin. Kalau tidak, semua orang menyangka Ibunya memang bermasalah dan berusaha menggoda Pak Prima.

“Bu Prima yang terhormat, dengan amat sangat, tolong Ibu bertanya dulu ke suami, apa betul dia kirim beras? Perasaan dari kemarin tak ada beras nyasar ke sini, Bu. Entah kalau kirimnya jadi ke orang lain,” kilah Jasmin sedikit menyindir. . “Kalau tidak ada, berarti Ibu sudah menuduh kami yang bukan-bukan, itu ada pasal hukumnya, lho. Bisa dituntut. Perbuatan tidak menyenangkan. Ibu harus tahu itu!”

Ucapan Jasmin penuh penekanan. Susah payah menahan kejengkelan di dada. Ingin ia tumpahkan, namun dari tadi Ibunya mencubit lengannya. Terpaksa ia tahan sekuat tenaga dan napasnya hampir ngos-ngosan seperti habis lari marathon..

.

“Ibu mengerti ucapan saya barusan? Silakan cek dan ricek ke suamimu dulu jangan mendamprat tanpa bukti. Paham?” tandas Jasmin.

Bu Prima mendelik. Wajahnya cemberut dan merah padam. Entah karena malu atau marah yang ditahan.

“Awas ya kalau benar ada kiriman beras. Saya bakal ke sini lagi!” ancamnya.

“Ya, silakan cek dulu. Kalau Anda salah, apa jaminannya?" tantang Jasmin.

Bu Prima terdiam. Akhirnya wanita itu mau pulang setelah ditantang seperti itu.

“Ada apa, Jasmin? Kenapa pagi-pagi Bu Prima marah-marah?” tanya Bu Dian. Tetangga satu ini lumayan baik. Tidak suka nyinyir kayak yang lain.

“Itu salah paham saja. Bu Prima menyangka ada kiriman beras ke sini. Tetapi memang tidak ada." Hana menjawab mendahului, mulut Jasmin yang sudah terbuka mau menjawab pedas terpaksa tutup mulut lagi.

Hana mendelik pada Jasmin yang membuatnya mengerti dan berusaha diam.

"Oh, begitu, Bu Hana. Ya, sudah kalau itu salah paham.” Bu Dian tersenyum. “Saya permisi, Bu.”

“Iya, silakan, Bu.”

Ibunya menarik lengan Jasmin supaya masuk dan kembali menutup pintu.

“Ibu, kenapa nggak pernah marah sih sama kelakuan emak julid itu?" protes Jasmin yang masih sebal pada kelakuan Bu Prima. “Setidaknya Ibu harus membela diri.”

“Sudahlah, Nak. Bu Prima orangnya seperti itu, kalau diladeni makin meradang nanti. Kita yang waras harus mengalah!"

“Tetapi 'kan setidaknya Bu Prima jadi sedikit keder bahwa Ibu nggak bisa diinjak-injak!”

Ibunya tersenyum. “Duduklah, habiskan sarapanmu dulu!” titahnya.

“Ada kalanya kita mengalah pada tetangga sendiri. Biarlah, orang juga tidak buta. Pasti tahu siapa yang salahnya!”

“Justru orang suka pura-pura buta kalau lihat ketidakadilan!” protes Jasmin. Rasanya sekali-kali ibunya Ini harus diajari jadi macan betina cantik biar tak mengalah terus, pikir Jasmin.

“Ya, kita pilih-pilih keadaan, kapan waktunya jadi macan betina yang mengaum, Jasmin!”

Jasmin bengong, Ibunya kok tahu isi kepalanya, ya? Padahal kan tidak diucapkan?

“Ibu tahu pikiranmu, Jasmin!” Hana terkekeh.

Tuh, kan? Fix...Ibu bisa sulap! Jasmin membatin

“Apa Ibu paranormal sampai tahu isi pikiranku?” Jasmin menggosok hidung yang tidak gatal.

Ibu tertawa. “Aku Ibumu, Jasmin. Bukan hanya tahu pikiranmu. Tetapi juga isi hatimu!” ucap Ibu kalem. “Sekarang cepat habiskan sarapanmu. Nanti telat ke kampus. Jangan khawatirkan Ibu, ya!”

“Siap, Bos!”

Kali ini Ibu tertawa begitu merdu. Membuat hati Jasmin tidak ragu untuk segera berlalu ke kampus

***

Baru saja keluar dari rumah hendak menaiki motornya. Terdengar panggilan.

“Jasmin”

Itu teriakan Pak Prima dari atas motor yang sengaja berhenti, membuat langkah Jasmin pun terhenti.

“Maaf, Jasmin. Tadi istri saya marah- marah ya ke Ibumu?”

Ruupanya dia merasa tidak enak karena istrinya tadi melabrak Ibu.

“Bapak sudah kasih tahu sama istri bahwa tidak mengirim beras ke sini, kan?” tanya Jasmin menyelidik.

“Sudah tadi. Makanya saya minta maaf!” Pak Prima menatap Jasmin dengan mata menyesal.

“Baguslah!” Jasmin mengembuskan napas lega. “Bapak harus tegas sama istri, biar tidak meradang terus sama Ibu saya.”

“Iya, Jasmin!” Pak Prima tersenyum.

“Dan satu lagi, Bapak jangan caper sama Ibuku terus!”

“Caper itu apa sih, Jasmin? Saya memang belum sempat sarapan tadi.”

“Itu laper, Pak. Caper itu cari perhatian. Jadi Bapak jangan cari perhatian terus sama Ibu. Nanti istri Bapak ngamuk lagi!” Jasmin mendengkus sebal. ‘Hah! apa Pak Prima lagi mencoba melucu, ya?’ gerutu Jasmin dalam hati.

“Hehe, saya tahu, Jasmin. Ini lagi belajar melawak kayak kamu!” Pak Prima terkekeh bikin hidung Jasmin langsung mengkerut sebal.

“Ya, udah, saya berangkat dulu ke kantor, ya. Kamu juga mau ke kampus 'kan?” pamit Pak Prima.

“Iya, Pak!”

Pak Prima lalu melajukan motornya sambil tersenyum. Jasmin hanya mengangkat bahu.

Sebenarnya Pak Prima itu pria ramah dan baik sama semua orang. Namun Jasmin tak suka, kalau dia terlalu baik pada Ibunyq. Bukan apa-apa, karena istrinya terkenal cerewet dan julid, jadi sering cemburu pada Ibunya Jasmin. Sering membully dan mengghibah jelek Hana. Otomatis, emak-emak yang lain jadi dikompori ikut was-was suaminya suka sama Hans. Bu Prims ini kayak provokator. Paling jago ngomporin yang lainnya.

“Iasmin, kamu masih belum berangkat? Ntar telat lho ke kampus!” tegur Hana yang tiba- tiba sudah berdiri di belakang Jasmin.

“Eh, ini mau kok, Bu!” tukas Jasmin kaget.

Bergegas ia naik ke atas motor dan menyalakannya sebelum Ibunya menegur lagi.

***

"Jasmin, besok ulang tahun Nenekmu. Ibu mau bikin kue. Tolong kamu kasihkan ke Nenek, ya?” pinta Ibu ketika Jsdmin pulang dari kampus.

“Ulang tahun Nenek?” Jasmin mengerutkan kening. “Ibu masih inget ultahnya Nenek Lampir itu?”

“Jasmin!” Suara Ibu sedikit meninggi. “Biar bagaimanapun dia Nenekmu! Kamu jangan menyebutnya seperti itu, Nak. Ibu tak pernah ngajarin kamu tidak sopan seperti itu!”

Jssmin terdiam. Ibunya selalu mengalah dan tidak sakit hati meski diperlakukan buruk oleh Neneknya---ibu dari almarhum Ayah Jasmin.

“Tapi Bu, kalau Nenek jutek lagi sama kita gimana?”

“Biarkan saja, Nak. Yang penting kita tetap baik dan masih menghargai Nenek!"

Jasmin menghela napas berat.' 'Ah, Ibu. Kenapa tidak pernah ada kemarahan dalam hatimu? Selalu mencoba memaklumi pada perlakuan orang lain. Meski itu menyakitkan hati.' Jasmin membatin.

“Baiklah, Bu. Nanti Jasmin yang antar kue ke Nenek!” Akhirnya Jasmin menyerah

“Bagus, Nak. Mungkin dengan Ibu, Nenek bisa menganggap ada bekas, yaitu bekas menantu. Tetapi padamu, tidak akan ada bekas cucu. Darah kalian sama. Dan itu tak akan bisa terputus sampai kapanpun,” terang Ibu dengan lembut.

Jasmin mengangguk. “Bahan- bahan kuenya sudah ada?"

“Ada sebagian stok di dapur. Yang habis itu telur dan terigu, karena sering dipakai. Nanti tolong belikan ya di toko bahan kue langganan Ibu, sekalian sama whipscreamnya.”

“Ya, Bu. Tapi aku makan dulu ya, laper!”

Ibu menggangguk sambil tersenyum.

**

Esoknya. Sebelum kuliah siang, Jasmin sempatkan dulu ke rumah Neneknya.

Kembali menatap rumah mewah berlantai dua itu membuat perasaan Jasmin tak menentu. Ia melihat ada beberapa mobil mewah terparkir di halamannya.

Jasmin menghela napas dan menghembuskannya cepat. Rumah Neneknya. Perlu waktu satu jam dari tempatnya untuk mencapai rumah ini.

Sebenarnya ... Jasmin malas sekali memasuki rumah mewah ini. Penghuninya sangat kaku tanpa senyum, kalau ia dan Ibunya menginjakkan kaki di rumah ini.

Jika bukan karena permintaan Ibunya untuk memberikan kue ini di ulang tahun Nenek, Jasmin takkan sudi datang ke sini. Serasa jadi orang asing yang tidak diinginkan. Pandangan dingin dan cibiran sinis dari Nenek dan para Tante, membuat hatinya sakit dan bergolak marah.

Padahal jelas-jelas, ia adalah cucu kandungnya, namun Nenek selalu menatapnya asing. Julukan pembawa sial itu ampuh membuat Jasmin dan Ibunya seperti kotoran yang membuat mereka jijik.

Perlahan kaki Jasmin melangkah ke depan pintu besar terbuat dari kayu jati berukiran mewah. Menekan bel pintu disertai debaran hati yang semakin cepat. Serasa mau masuk ke kandang singa.

Perlahan pintu terbuka. Sosok Tantenya bernama Dinar berdiri di ambang pintu.

“Mau apa ke sini?” tanyanya tak ramah.

“Aku mau berikan kue ini pada Nenek. Sekarang ulang tahun Nenek, kan?” sahut Jasmin berusaha meredam hati yang mulai bergejolak melihat reaksi Tante Dinar.

“Kasihin saja. Belum tentu Ibuku mau terima!” sinisnya.

Jasmin tak peduli reaksi sinisnya. Pelan ia langkahkan kaki masuk ruangan luas nan indah itu.

Terlihat Neneknya sedang duduk di kelilingi anak, menantu dan cucu lainnya. Di meja terlihat banyak kue dan makanan lainnya. Rupanya Nenek sedang merayakan ulang tahunnya! Hanya Jasmin dan Ibunya yang tak pernah diundang di acara apapun di rumah ini.

Dengan menguatkan hati, Jasmin hampiri Nenek. Sorot mata dingin terlihat dari adik- adik ayahnya yang lain.

“Selamat ulang tahun, Nek. Ini ada kue tar buatan Ibu. Semoga Nenek suka," ucap Jasmin

Pelan ia sodorkan dus yang dihias cantik berisi kue di dalamnya.

Nenek hanya mendengkus, tidak menjawab. Matanya menatap dingin sambil tersenyum miring.

"Aku tak butuh kue. Aku tak butuh apapun dari orang pembawa sial!” sahutnya dingin. "Ambil kuemu! Gak akan ada yang sudi memakannya di sini!”

Aku menelan ludah pahit. Seperti ada ribuan belati menyayat hati. Sakit. Perih. Terluka.

Ucapan Nenek sangat menyakitkan. Teramat sakit! Sampai kapan julukan pembawa sial itu bisa lepas dari aku dan Ibu?

"Tapi Nek--"

"Sudah, Pergi sana! Gak ada yang butuh kalian di sini!"

Jasmin tertegun. Rasa sesak yang ia tahan hampir tumpah. Namun, tidak! Ia tak boleh menangis! Teringat Ibunya yang semalaman tidak tidur menghias kue tart ini dengan cantik. Ibunya melakukannya dengan tulus penuh cinta.

Inikah balasannya?

Hatinya berontak. "Tidak, aku tidak boleh menyerah kali ini! " gumam hati Jasmin.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel