Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1. Awal di bully

“Itu ibumu kan, Jasmin?”

Jasmin mengangguk. “Iya!“

“Cantik banget ya, kok beda,--“

“Beda banget ya, aku burik, Ibu cantik,” potong Jasmin langsung pada ucapan Bu Hena yang nyinyir.

“Tuuh...tahu!” sahut Bu Hena sambil tertawa meledek.

"Tapi heran juga, wajah cantiknya tidak laku. Buktinya jadi janda 'mulu. Apa tak bosen, tuh? Nanti bisa lumutan, lho!"

“Iya, suruh cepat kawin, Jasmin. Biar kita-kita di sini tenang. Para lelaki di sini aman matanya tak jelalatan lagi!” timpal Bu Icha ketus. “Heran, ibumu itu cari lakinya yang seperti apa sih? Kawin saja kok susah. Mentang-mentang cantik, pilih-pilih sampai tak kawin lagi puluhan tahun!”

Jasmin tersenyum kecut, mendengar ucapan dua tetangganya itu Entah sudah berapa puluh kali perbedaan fisiknya dan ibunya jadi bullyan. Bahkan status rawan ibunya yang terus menjanda lama, sampai 20 tahun lebih, sering diungkit dan jadi bahan olok-olokan.

Mungkin Bu Icha takut, karena suaminya selalu ramah dan sering pesan nasi box ke ibunya Jasmin kalau ada acara di kantornya, bisa terpikat Ibunya Jasmin.

Jasmin ingin sekali berteriak, seandainya mereka tahu, berat sekali menjadi ibunya Jasmin yang bernama Hana, yang menjadi janda karena suaminya dibunuh saat baru saja dua bulan menikah. Ada trauma dan kepedihan yang sulit dihilangkan dalam hidup Hana, sehingga betah hidup menjanda dalam waktu lama. Hana yang terus menyimpan cinta mendiang suaminya dalam hati.

Selain status janda yang disandang Hana, perbedaan wajah dan fisik Jasmin dan ibunya juga jadi bahan olok-olok. Hana sangat cantik, berkulit kuning langsat dan bersifat lembut, berbanding terbalik dengan Jasmin, yang wajahnya biasa saja, berkulit coklat, dan terkesan tomboi.

Sifat Jasmin yang tomboi, keras dan galak, bisa jadi diakibatkan sewaktu gadis itu kecil, berusia 7 tahun, sering di olok-olok teman dan tetangga, bahwa ia lebih pantas jadi anak tetangga daripada anak kandung Hana.

Fisik mereka yang berbeda mencolok, membuat Jasmin minder dan mempertanyakan perbedaan fisik itu pada ibunya.

“Betulkah aku bukan anak kandung ibu? Kenapa aku tak secantik dan seputih Ibu?” itu pertanyaan Jasmin kecil.

Lalu Hana akan menenangkan, dan menghiburnya dengan kasih sayang.

“Kamu anak kandung Ibu, Nak. Fisikmu mirip dengan ayahmu. Keluarga ayahmu berkulit sama denganmu. Kulitmu eksotis. Banyak orang bule sana ingin kulitnya coklat sampai rela berjemur. Kenapa kamu malah mengeluh dan minder, Sayang?”

Jasmin terdiam dengan ucapan ibunya Matanya menatap wajah sang ibu.

“ibu tak bohong, kan?” tanya Jasmin lagi memastikan.

“Tidak, sayang. Kelak kalau kamu sudah besar, bakal bisa merawat diri, pasti Jasmin makin manis dan menarik!” sahut Hana meyakinkan.

Ucapan ibunya terbukti, setelah dewasa Jasmin jadi lebih manis, tidak sehitam waktu kecil. Hanya sayangnya, karena terlalu seringnya dibully antara dirinya dan ibunya, sifat Jasmin jadi berubah pemberontak dan cenderung tomboi.

Karena status janda ibunya, sudah enam kali Jasmin pindah kontrakan. Bukan karena dikejar penagih utang, tetapi dikejar ibu-ibu yang julid, karena para suaminya sering jelalatan menggoda ibunya Jasmin. Entah, pura- pura memborong makanan untuk acara di kantor, atau menawarkan boncengan kalau mau ke pasar.

Demi membela ibunya dan menghalau para pria genit, Jasmin jadi berubah galak sehingga dijuluki herder ibunya. Badan Jasmin yang tinggi besar, berkulit coklat dan terkesan tomboi, mampu membuat para bapak ganjen tidak berkutik dan tak lagi menggoda Hana. Namun, tetap saja para istri tetangga itu waspada dan mengawasi ketat Hana meskipun para suaminya mulai mundur teratur karena ada Jasmin yang seperti herder ibunya.

Dulu makanan ringan buatan Hana sering dititip di banyak warung. Namun setelah banyak yang memborong para bapak, warung pun mulai banyak didemo para ibu yang belanja. Kalau ada makanan buatan ibunya Jasmin nangkring di warungnya, otomatis para Ibu ogah belanja ke sana. Akhirnya si tukang warung menyerah, tak lagi terima makanan buatan Hana, daripada warungnya sepi didemo pembeli.

Jasmin tak menyangka ternyata jadi orang cantik itu mengundang banyak masalah. Padahal orang di luar sana berlomba ingin jadi cantik. Akan tetapi, ibunya yang sudah cantik dari kodratnya, malahan selalu bernasib malang. Kena cemoohan para ibu tetangga, disebut pelakor lah atau bahkan disebut gatal.

Ibunya Jasmin tak pernah meladeni semua orang yang nyinyir dan Julid. Beliau tetap sabar dan selalu tersenyum. Sebaliknya putrinya, Jasmin, yang meradang dan galak kalau ibunya di kata-katai tetangga. Pantaslah jika gadis itu dijuluki herder ibunya.

Untuk antisipasi cemoohan terus, Jasmin sering menyuruh ibunya menikah lagi, biar terbebas dari fitnahan atau ghibah para tetangga.

"Pernikahan itu sakral, Nak. Butuh komitmen seumur hidup, bukan hanya sesaat untuk menghilangkan cibiran orang," ujar Ibunya bijak saat Jasmin mendesaknya untuk segera menikah lagi.

Akhirnya Jasmin pun menyerah kalau ibunya sudah berkata seperti itu. Ucapan bijak itu sulit dibantah.

Masa lalu Hana sangat pahit dan membuat trauma. Suaminya meninggal dibunuh oleh laki- laki yang sakit hati, karena Hana menolak menikah dengannya. Hana yang cantik, memang banyak ditaksir pria. Dan salah satu di antaranya tak terima Hana menikah dengan orang lain.

Sejak suaminya meninggal karena dibunuh, Hana sangat dibenci oleh Ibu mertuanya, bahkan ia diusir dari rumah suaminya sendiri. Hana disebut sebagai pembawa sial. Nyonya Rosana-- mertua Hana-- sangat terpukul dan menyalahkan Hana terus menerus sebagai penyebab putranya tiada.

Kejadian sangat berat, kehilangan suami, keluarga, termasuk rumahnya diambil alih ibu mertua dan adik-adik iparnya, membuat Hana trauma.

Seharusnya Hana tidak perlu hidup susah banting tulang membuat aneka makanan ringan. Kekayaan Dirga banyak karena berasal dari keluarga berada. Namun ibunya Dirga dan ketiga adik wanitanya yang membenci Hana, mengambil alih kekayaan, berupa saham perusahaan juga rumah dan tanah.

Mertua dan tiga adik Dirga tidak Sudi harta itu jatuh ke tangan Hana yang berasal dari kelas berbeda. Hana berasal dari keluarga sederhana.

Kebencian makin bertambah karena Dirga meninggal dibunuh oleh orang yang mencintai Hana. Hingga Hana dan anaknya disebut pembawa sial.

Bertahun-tahun julukan itu tersemat terus. Dan entah sampai kapan keluarga Dirga bisa menghilangkan cap yang menyakitkan itu

**

“Jasmin, kamu ini benar anak kandung ibumu, Apa anak tetangga, ya?” kembali terdengar lagu lama yang sumbang itu berkumandang meledek Jasmin.

Jasmin mencoba cuek. Celetukan Bu Prima yang membully dirinya itu hanya karena suaminya, bernama Prima ikutl-ikutan mengidolakan Hana.

“Kamu tuh lebih pantas jadi bulldog ibumu, daripada anaknya, hehe!” Bu Prima terkekeh.

Jasmin yang sedang mengantar makanan ke warung desa sebelah, segera menghampiri Bu Prima dan sekumpulan ibu-ibu tukang gosip terkenal di desa sana.

“Ibu-ibu, kalau takut bapak- bapaknya kesengsem Ibu saya, nggak usah bully aku sebagai pelampiasan. Harusnya kalian sibuk mengawasi suami biar tak jadi kucing garong,,” sindir Jasmin santai. “Mereka itu justru menunggu kalian lengah untuk beraksi. Jadi sekarang jangan bergosip terus, nanti ketinggalan kereta. Para suami sudah ada di bulan, kalian masih berbuih ludah di sini.”

Bu Prima melotot sebal mendengar sindiran Jasmin. Jasmin sendiri merasa puas. 'Rasain, siapa suruh bully aku Pasti aku balas telak!’ Jasmin malah bersorak dalam hati.

“Permisii ... kalau aku jadi kalian, mending sekarang siapkan surprise buat suami deh. Misal dandan cantik, bikin makanan enak, pokoknya sesuatu yang bisa bikin suami terlena dan betah di rumah, dibanding kumpul tak manfaat begini. Wew!” lanjut Jasmin.

Setelah puas membuat Ibu-ibu hobi bergosip itu kesal, gadis tomboy itu pun melenggang santai meninggalkan Bu Prima. Menaiki dan menghidupkan mesin motor, lalu tancap gas sebelum diteriaki ‘Huuuh’.

Ketika melewati kios beras, Jasmin teringat persediaan beras di rumah sudah menipis. Kebetulan ia pegang uang hasil pembayaran dari warung barusan. Ia memutuskan berbelanja beras lebih dulu.

Jasmin segera memarkirkan motor. Lalu masuk ke kios yang selalu ramai pembeli itu. Namun langkahnya terhenti, karena melihat ada Pak Prima ada juga di sana. Jasmin mematung, jadi malas meneruskan langkah untuk membeli beras.

Pak Prima termasuk pria yang menyukai ibunya. Berbagai cara dilakukan untuk menarik perhatian Ibunya Jasmin. Jadi tak heran, Bu Prima selalu nyinyir dan julid karena cemburu.

Jasmin menghela napas. Baru saja ia bertemu istrinya yang melontarkan bullyan. Eh, sekarang ketemu Pak Prima juga. Jasmin lalu putuskan balik badan.

“Hai, Jasmin. Mau belanja beras juga ya?” tegur Pak Prima. Rupanya dia sempat melihat Jasmin. Terpaksa Jasmin balik badan lagi menghadap Pak Prima.

“Ngga Pak, mau mancing,” jawab Jasmin ketus.

Pak Prima terkekeh. “Kamu ternyata bisa melawak juga, Jasmin!”

Jasmin hanya mengangkat bahu, lalu berbalik meneruskan langkah untuk keluar

“Lho, mau ke mana? Nggak jadi berbelanja?”

“Kebelet pipis, Pak. Nanti saja!” jawab Jasmin cuek tanpa menoleh.

Pak Prima kembali terkekeh makin membuat Jasmin sebal dan bergegas keluar. Namun, ternyata lelaki itu mengekor di belakang Jasmin.

“Nanti kalau mau, berasnya dikirim ke rumahmu saja, ya!” tawarnya tanpa diminta.

“Eeh, jangan!” Jasmin menghentikan langkah dan menoleh ke arah pak Prima.”Ibu nggak akan terima berasnya, Pak!"

“Kenapa? Jangan menampik rezeki, lho. Pamali!” Pak Prima bersikeras.

"Bukan menampik rezeki. Ibu bilang, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

“Nggak apa-apa, sekali-kali sedekah ke janda kan dapat pahala."

Ucapan Pak Prima yang santai, tetapi telak mengena ke hati Jasmin, tentang sedekah pada ibunya yang janda, mampu membangkitkan emosinya.

“Janda yang bagaimana dulu, Pak? Ibuku janda bermartabat. Tidak terima sedekah apa pun, yang ada niat udang di balik batu!” ucapnya sengit.

Sengaja jasmin mengeraskan suara supaya pembeli lain mendengar, karena ia bosan status Ibunya selalu jadi sasaran empuk orang-orang dengki dan nyinyir.

“Aduh, jangan marah dong, Dira. Saya kan cuma bercanda,” sahut Pak Prima.

“Candaan Bapak tak lucu!” tukas Jasmin sengit. "Tuh, urus saja Bu Prima, dia suka banget membully aku karena sikap Bapak ini!”

Pak Prima terdiam. Suara Jasmin yang keras sepertinya didengar pembeli yang lain. Buktinya mereka menoleh ke arah gadis itu yang terlihat sedang berdebat dengan Pak Prima.

“Aku pulang dulu. Moodku ambyar buat belanja!” gerutu Jasmin yang lalu bergegas naik ke motornya.

Sebelum motor melaju, sekilas Jasmin melihat Bu Hena dan Bu Icha di barisan pembeli. Ibu-ibu si tukang gosip dan nyinyir itu juga ada di sana. Sepertinya peristiwa barusan dengan Pak Prima bakal jadi berita gosip heboh tetangga lainnya.

Siap- siap saja Jasmin dan ibunya bakal diserang gosip lagi nanti. Jasmin harus menyiapkan mental dari sekarang untuk menangkis berita dan membela ibunya yang selalu jadi sasaran empuk.

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel