Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9

Sinar matahari menyapu seluruh wajahnya, Meta segera mengerjapkan kedua manik miliknya seraya dengan menguceknya pelan. Ia tahu jika ada seseorang yang dengan sengaja membuka gorden kamarnya, memang menyebalkan! rutuknya dengan menguap lalu menggeliatkan tubuhnya.

Berusaha mengumpulkan semua kesadaran miliknya, ia menoleh ke arah jam di atas nakas. Oh Lord! baru jam delapan dan ia sudah bangun? sungguh sebuah rekor baru.

Meta kembali menggeliatkan tubuhnya sampai selimut bermotif doraemon itu terlepas dari tubuhnya, dan ia lupa jika setiap malam ini, ia selalu memakai Lingerie dan pintu tidak terkunci.

Dari sudut ruangan, terdengar suara seseorang yang tersedak sesuatu. Meta menoleh dengan sembari cengengesan kuda tak lupa kedua tangannya kembali menarik selimut itu untuk menutupi belahan dadanya yang sangat rendah.

Axel, pria itu tersedak minuman hangatnya karena tanpa sengaja melihat pemandangan siapa pun prianya pasti akan bergairah, ia lantas menepuk-nepuk dadanya berharap jika alur napasnya kembali normal. "Sejak kapan kau memakai lingerie?" Axel bertanya dengan nada ketus.

"Setiap malam kak," sahutnya dengan menggaruk tengkuknya. "Lagi pula biasanya itu pintu Meta kunci, kenapa malam tadi lupa." protesnya tak kalah sengit.

"Pakai piyama saja, bahaya bisa mengundang Setan kalau kau memakai pakaian kekurangan bahan seperti itu." Axel kembali berucap tak kalah sengit, sudah biasa kakak beradik ini bertengkar hanya karena hal sepele, lebih condong kepada Axel sang kakak laki-laki itu selalu melarang hal yang menurutnya tak pantas atau tak baik untuk adiknya contohnya pada saat pagi ini, Meta memang selalu menggunakan lingerie pengganti piyama untuknya tidur, sudah menjadi kebiasaan dan ia yakin Axel tak pernah mengetahuinya.

Meta selalu belajar hal-hal baru untuk menjadi wanita dewasa maklum sebentar lagi usianya menginjak dua puluh enam tahun sudah sepantasnya ia juga belajar mengenal sex, dari beberapa sumber yang ia dapatkan dari internet. Hal yang mampu meningkatkan gairah pasangannya adalah dengan memakai pakaian yang seksi, bukankah ia akan menikah sebentar lagi?

Damn! kenapa ia harus bersusah payah belajar untuk menjadi wanita dewasa? bercinta dengan pria kaku itu? oh God! semua itu takkan terjadi sebelum itu terjadi Meta akan mengajukan perjanjian pra-nikah.

"Kenapa kakak menatapku begitu?"

Axel mendengus marah, "Jangan ulangi lagi! kau tak cocok memakai pakaian seksi seperti itu," ucapnya dengan seraya mengangkat bokongnya dari sofa, pria itu menatap tajam ke arah adiknya. "Aku sangat memperingatimu!"

karena itu sangat menggoda gairahku, Axel membatin setelah beberapa detik berdiri di ambang pintu lalu menoleh ke belakamg dengan sudut matanya, ia tahu jika adiknya itu tak mungkin membantah.

'kau setannya!' rutuk Meta dalam hati dan kembali menyatukan wajahnya ke dalam hangatnya selimut, Meta memilih untuk kembali tertidur.

Tok! tok!

Meta menenggelamkan seluruh wajahnya semakin dalam di balik bantal dengan motif yang sama yaitu doraemon, masa bodo dengan suara nyaring dari balik pintu.

Shit! shit! shit!

Tak bisakah mereka membiarkan dede imut ini bobo kembali lalu bangun pukul satu siang, Meta membatin ketika suara ketukan pintu kamarnya tak kunjung reda, "Masukklah!"

"Kakak?" Meta terkejut karena raut wajahnya berbeda dari sebelumnya, "Adik laknat!" dengan sigap satu tangannya menjewer telinga kanan Meta melupakan bahwa adiknya itu masih memakai lingerie dan kini sudah terlambat karena satu tarikan tanpa penolakan tubuh seksi milik adiknya kini menjadi tontonan menggairahkan di hadapannya.

Meta terus memberontak tak suka, "Dasar kakak kurang ajar! sakit tahu."

Axel bengong tanpa dosa, pria itu hanya fokus ke arah dimana lingerie yang Meta gunakan benar-benar seksi dengan belahan dada yang sangat rendah memperlihatkan kedua piramida itu nampak menggembul berdesakan, Astagfirulah! nyebut-nyebut Axel! batin Axel dengan segera ia mengerjapkan kedua maniknya. "Bersiaplah kita akan pergi."

"Kemana?" Meta masih mengelus-ngelus daun telinganya yang terasa panas, "Lagi pula Meta malas keluar, mau bobo seharian saja hari ini Meta libur kuliah."

Axel masih menutupi kedua matanya, "Kau akan bertemu dengan Bara, dia sendiri yang meminta kakak untuk mengantarkanmu ke apartemennya."

Meta terkekeh pelan, "Lalu ada apa dengan kedua tanganmu kak? baru saja melihat hantu ya?" godanya tanpa sadar bahwa hantu yang ia maksud adalah dirinya sendiri.

Axel menaikkan telunjuk tangannya mengarah ke arah adiknya dan Meta mengikuti intrukstur dari Axel dan betapa terkejutnya karena seluruh penampilannya sudah terlihat jelas, "Dasar kakak mesum!!!"

Meta lari terbirit-birit lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Blam!

Axel memarik napas sebanyak-banyaknya karena saat melihat penampakan tadi jujur saja persediaan oksigen miliknya mendadak sekarat, begini rasanya terlalu sayang dengan adik sendiri tanpa sadar ia mulai kesusahan untuk mencari pasangan hidupnya, menyebalkan!

***

Tak perlu banyak waktu, Meta telah siap dengan gaun hitamnya dengan belahan di bagian paha kirinya menampilkan kaki jenjangnya, setelah berhasil bergadang semalam demi mencari beberapa tips untuk menjadi seorang wanita, ralat untuk memiliki penampilan menarik untung saja Meta memang sudah cantik sejak lahir maka ia tak perlu repot-repot untuk melakukan banyak perawatan tubuh dan wajah.

Wanita itu merapikan surai hitam yang ia biarkan tergerai panjang, dengan seulas senyum penuh percaya diri Meta mantap untuk bertemu kembali dengan pria kaku itu, dan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mengenal sifat aslinya.

'kau memiliki waktu delapan hari untuk mengenalku' perkataan itu lebih cocok seperti ungkapan perpisahan, ada apa dengannya? saat ini seluruh pemikirannya hanya tertuju padanya? Meta menggeleng cepat, sudah cukup! tak banyak waktu untuk memikirkan hal yang tabu.

Dengan segera Meta melenggang keluar kamar lalu berniat untuk menuruni anak tangga, setelah berhasil menapakkan kedua high heels miliknya di atas lantai tepat di hadapannya kedua orangtua beserta kakak satu-satunya itu sedang menyantap roti tawar, mereka terkejut dan melotot tak percaya.

Meta tersipu malu.

Meta menautkan tangan kirinya seraya tersenyum manis, "Kalian kenapa?"

Semuanya hanya melongo, berbeda dengan Axel yang menatap kagum adiknya dari ujung rambutnya sampai ujung kaki, benar-benar mengejutkan.

"Ini anak mama?" Ayunda berhasil membuyarkan keterkejutannya lalu segera menyuruh anak bungsunya itu untuk bergabung sarapan pagi.

Meta tertawa kecil, "Iya, ini anak gadis mama udah gede ya?" kedua wanita itu bercengkrama hangat tak lupa kecupan kecil mendarat di kening Meta.

Berbeda dengan kedua pria di hadapannya, Ralat! hanya Axel yang masih terkejut melihat penampilan adiknya.

"Lihat kakakmu sampai bengong begitu, saking cantiknya adikmu. Iya kan Axel?" tegas sang papa mengejutkan pria yang ia maksud.

"Eh, begitulah Pa," ucap Axel setengah gelagapan, bisakah author merubah alurnya? jika di biarkan aku benar-benar akan jatuh cinta dengannya. Batin Axel dan itu percuma.

"Mau kemana sudah cantik pagi-pagi?" goda sang Mama, "Sepertinya Mama punya saingan sekarang."

"kau, ingat umurlah." Brian menyambar untuk meledek Ayunda, Brian nama sang papa, ayah dari Meta Anderson dan Axel Anderson tentu saja nama ayahnya Brian Anderson.

Lalu bagaimana dengan Ayunda? Ayunda memiliki nama kepanjangan yang sederhana, sesuai dengan kehidupannya dahulu sebelum bertemu dengan Brian. Nama lengkapnya Ayunda wulandari, Ayunda lahir di indonesia lebih tepatnya di kota Bandung. Dan Brian memiliki keturunan China maka kedua buah hati mereka memiliki raut wajah campuran, sedangkan agama yang mereka anut tentu saja agama islam.

Axel mendapatkan ketampanan karena turunan dari ayahnya sedangkan kecantikan Meta? tentu saja dari ibunya. Mereka keluarga yang harmonis dan penuh kehangatan, bahkan saking dekatnya jika hanya orang selintas pasti banyak yang menduga jika Meta dan Axel adalah sepasang kekasih.

Banyak perilaku yang Axel tunjukkan untuk mengungkapkan betapa ia menyayangi adiknya, contoh kecilnya memakaikan tali sepatu di tengah-tengah trotoar atau mengecup kening adiknya di saat hujan. So sweet! namun kenyataannya mereka adik kakak yang sedarah maka tidak mungkin mereka bersama.

Meta sering bertanya bahkan berulang kali kenapa Axel selalu memperlakukannya dengan special? ini bukan mengenai martabak manis atau makanan yang lainnya, Meta selalu protes jika kakaknya memperhatikan nya terlalu intens. Saat ini jika boleh jujur Meta sangat tak nyaman merubah penampilan Masa bodonya dengan feminim alasan kenapa ia berpenampilan seperti laki-laki yaitu untuk menghindari kakaknya.

Tak banyak mata memandang bahwa penampilan Meta seperti bukan dari kalangan berada lebih tepatnya seperti pengamen jalanan saking masa bodonya saat itu, jujur saja Meta sengaja agar kakaknya mampu melirik wanita lain.

Meta merasa jika ada perasaan lebih untuknya.

'Jangan menatapku seperti itu aku mohon kak' Meta membatin ketika kedua manik mereka saling bertemu.

'Kenapa kau semakin cantik' Batin Axel tak kalah gusar, kenapa dan hanya kenapa pertanyaan nya saat ini? kau menakdirkan sesuatu yang indah bukan untuk ku raih? ia kembali membatin dengan tatapan yang tak lepas terkesima melihat perubahan adiknya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel