Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8

Di dalam rumah, seorang wanita tengah duduk santai di atas sofa yang empuk kedua kakinya saling bertumpu di atas meja, jangan lupa layar yang lebar di hadapannya sedang menyuguhkan sebuah acara gosip, wanita itu sesekali meremas pelipis matanya yang tak terasa lelah melainkan seperti sedang merasa tak habis pikir.

Dia adalah Ayunda, penampilannya selalu kekinian tak perduli bahwa usianya sudah tak lagi muda.

Meta berjalan mengendap-endap dengan kedua kakinya saling berjinjit bukan waktunya mendengarkan siraman kalbu, sungguh ia lelah dan ingin segera membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.

Double shit! kedua mata itu seperti seorang petugas yang siap mengintrogasi pelaku kejahatan sudah berdiri tepat di sampingnya seraya bersidekap kedua tangan, wanita itu berdehem keras.

"Dasar anak laknat!" teriaknya nyaring bahkan sang mama tak segan-segan menjewer telinga kanan Meta.

Tentu saja anak laknat yang ia maksud adalah Meta, anak itu memang tak suka berjauhan dengan masalah makanya saat ini wajah imutnya masuk ke dalam acara gosip di televisi, "Kau memang benar-benar anak kurang ajar Meta! mau ditaruh dimana muka mama?"

Meta terkekeh pelan, "Ma, tarik napas hembuskan perlahan. Ayo ulangi lagi." perintahnya seperti seorang intrukstur senam.

Sang mama mengikutinya, wanita itu menarik napas lalu menghembuskannya melalui mulut. "Baiklah, sekarang kita duduk."

Selamat, selamat tak ada pukulan kemoceng kali ini. Meta membatin dengan mengelus-ngelus dadanya merasakan ketakutannya mereda. Biasanya sang mama selalu melayangkan pukulan kemoceng di sekujur tubuhnya.

"Jadi bisa kau jelaskan kenapa wajahmu ada di acara gosip itu?" sang Mama menunjuk ke arah televisi.

Meta menoleh ragu, Astaga! dasar papparazi baru siang tadi ia berakting sekarang wajahnya sudah masuk tranding topik. Gumaman itu seperti tak berguna, entah harus di mana wajahnya berada kali ini bukan hanya malu tapi sangat malu.

Meta duduk dengan resah, jemari tangannya saling menguatkan memang benar mau di taruh di mana muka mereka? kedua maniknya berusaha menelusuri setiap sudut ruangan berharap apa yang ia cari muncul di waktu yang tepat, saat ini Meta tak tahu harus memberikan alasan apa? Come on ini tak semudah yang kalian pikirkan, jujur dengan perbuatan? ia rasa semua orang pasti merasakan hal yang sama persis dengannya saat ini.

"Meta?!" sang Mama kembali berang, kali ini nyaris saja satu cubitan mendarat di area lengan kanannya. "Maneh nanaonan?" dengan logat khas orang sundanya, Ayunda nama sang mama mulai kehabisan kesabarannya.

Meta nyengir kuda, "Teu nanaonan Ma, ngan nanaonan coba?"

Ayunda kembali mencubit lengan satunya, "Dasar budak laknat! di tanya balik nanya, itu pria Billionaire saha? tong macem-macem Meta, maneh rek ngerakeun indung jeung bapak?" ucap Ayunda dengan suara logat orang sunda, wanita itu menghela kembali dan menyandarkan tubuhnya dengan kecemasan yang semakin membludak, di hadapannya sebuah acara gosip sedang berbincang kabar hangat.

Di acara itu terputar jelas kejadian beberapa jam sebelumnya, Ya dimana Bara merengkuh pinggangnya dengan erat lalu Meta mengalungkan kedua tangan di tengkuk pria tadi mereka berfoto mesra, dan banyak kesimpulan yang di ambil sepihak. Namun yang membuat kedua maniknya berputar malas yaitu dengan satu ucapan.

Hotnews, Bandung 10 januari

Seorang Billionaire atau bisa kita sebut milyarder yang bernama Bara Wijaya anak kedua dari pemilik perusahaan ternama di kota Bandung kini nampak menunjukkan kabar terhangat kembali, pria itu di perbincangkan sedang dekat dengan seorang wanita. Banyak kesimpulan sepihak yang beredar, baru kali ini mereka melihat kejanggalan di mana sosok Billionaire itu tersenyum hangat menghadap kamera.

Meta menekan tombol merah untuk mematikan benda persegi panjang itu dengan cepat, jadi pihak acara gosip pun merasa aneh jika pria kaku itu tersenyum? ah, sudahku duga pria itu memang terkenal dingin. Batin Meta ikut memikirkannya, saat ini yang harus ia lakukan adalah menjelaskan akan pernikahannya yang memang terkesan mendadak, bagaimana ia menjelaskan semuanya dari awal, sepertinya Allah SWT sedang menghukummu Meta.

Mengaku hamil? Big no!

Itu bukan jalan terbaik, bagaimana bisa ia mengaku hamil bahkan berciuman saja ia belum pernah melakukannya, shit! suasana macam apa ini? gelisah dan ketakutan yang semakin bergejolak semakin banyak. Ya Allah, tolong hamba-Mu ini. Meta berdoa dalam hati memikirkan alasan apa jika kedua orangtua nya tahu jika mereka akan menikah dalam waktu yang dekat?

Ayunda masih tertunduk lesu, harus ia apakan kali ini. Anak perempuan satu-satunya memang suka melibatkan diri dalam masalah terbukti kali ini wajah imutnya masuk ke dalam acara gosip, ia tak habis pikir kemungkinan besar semua acara gosip sedang membicarakannya.

Ayunda menghela napas dengan kasar, memikirkannya saja membuat kepalanya sakit luar biasa. "Dia siapa?"

"Pacarnya Ma."

gedebug! Demi apa pun di dunia ini, saat ini ia ingin segera terlelap dalam selimut tebalnya. Meta menoleh kasar ke arah sumber suara, pria itu menuruni setiap anak tangga dengan nyengir kuda tanpa dosanya. Siapa lagi kalau bukan Axel, kakak satu-satunya karena mereka hanya dua bersaudara.

Axel masih berdiri di ujung anak tangga, ketampanannya selalu berhasil menghipnotis kedua mata siapapun yang melihatnya, seandainya jika Meta mampu berandai-andai jika mereka bukan kakak beradik kemungkinan ia sudah jatuh cinta sejak lama.

"Dan mereka akan segera menikah, Surprise!" sambungnya dengan tepuk tangan singkat ala kadarnya.

Axel memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, dengan berjalan santai menuju kedua wanita yang masing-masing memiliki ekspresi berbeda. Di sana yang sangat terkejut tentu saja sang Mama, mendengar jika anak gadisnya akan menikah dan ia tak tahu apa-apa? bahkan sosok pria itupun belum pernah terlintas dalam pikirannya.

"Ma, senang bukan akhirnya anak gadis mama menikah juga?" Axel mengecup pipi kanan sang mama lalu menoleh ke arah adiknya, jelas tatapan Akan ku bunuh kau! terpampang jelas namun harus bagaimana lagi? sudah tak mungkin berbohong lagi.

Ayunda menggibaskan satu tangannya tanda ia menyerah untuk berpikir semuanya terlalu mengejutkan, "Dan kau sebagai kakaknya kapan menikah? Mama khawatir tak ada satu wanitapun yang kau dekati."

Axel manyun manja, "Kok mama jahat sekali? anakmu ini tampan jodoh pasti datang jika sudah tepat waktunya."

"Alah, jodoh orang di tunggu?di jemput bang di jemput!" Meta menerobos langsung dengan menjawab ketus, bisa-bisanya sang kakak berekspresi datar padahal dirinya sendiri sangat ketakutan.

"Sepertinya kakak lebih memilih jadi bujangan lapuk! Mama tau kan jika Axel itu pria dingin dengan wajah datar? sedatar lantai yang kita pijak ini, wanita mana yang mau dengannya? tersenyum saja bisa dengan hitungan jari," ucap Meta sarkas ia benar-benar marah dan ingin meninju wajah glowing in the dark kakaknya.

Axel hanya membalas dengan senyuman tipis jika seandainya kau tahu bahwa kakakmu ini sulit melihat wanita lain karena dirimu.

Meta mendelik malas, "Please kak, tersenyum itu ke wanita di luaran sana coba, pasti mereka jatuh cinta langsung sejak pandangan pertama, bukan tersenyum ke adikmu ini."

kakak ingin kau wanita itu, batin Axel melihat wajah imut adiknya. Lalu ia membuyarkan lamunan gilanya! apa-apaan tadi itu?

Ayunda memilih berpamitan untuk beristirahat melihat kedua kakak beradik ini saling lempar candaan membuatnya semakin lelah, wanita itu segera menaiki anak tangga dan meninggalkan kedua anaknya yang masih bersitegang di dalam ruang keluarga.

Axel mendudukkan bokongnya santai di salah satu sofa tepat di samping Meta, "Jadi sekarang sudah mulai perhatian nih dengan kakakmu?"

Meta menghela napas malas dengan memijat pelan pelipis matanya, tak ada jawaban. Wanita itu segera melenggang pergi tanpa permisi, bukan waktunya berdebat sungguh ia hanya ingin beristirahat kali ini.

"Mau kemana?" tiba-tiba Axel menghadangnya ketika gerak-gerik mencurigakan terendus olehnya. Axel setengah berlari menyusul Meta yang hendak menaiki anak tangga, "Kita berbicara, okay?"

Meta enggan menjawab tak bisakah jika kakak satu-satunya ini melihat ekspresi lelah dari wajahnya saja? berhadapan dengan satu pria saja sangat menguras tenaganya di tambah satu pria lagi? Oh God, ini bukan keadaan yang baik.

"Nanti saja kak, Meta lelah."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel