Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10

Perasaan memang tak pernah mengenal dia siapa, dia bagaimana, dia kenapa atau dia seperti apa? semua tak dapat menduganya apalagi menahannya. Axel tahu, perasaan terhadap adiknya semakin menggila tak jarang sang kakak suka berfantasi liar hanya karena melihat foto manis adiknya, tak banyak yang menduga bahkan si empunya juga tak pernah menduga bahwa perhatiannya selama ini menjadi boomerang baginya. Ya, dia begitu mencintai adiknya sampai sulit membedakan mana perasaan normal layaknya seorang adik dan kakak lalu perasaan terhadap lawan jenis.

Memikirkan semuanya, membuat Axel resah luar biasa pasalnya semakin ia pendam semakin terasa menusuk seluruh hatinya. Axel sempat mencintai seorang wanita yang berhasil membuatnya percaya bahwa membuka lembaran baru itu tak seburuk pikiran nya, sebelum akhirnya semuanya kandas dan kisah cintanya hancur berantakan.

Axel berulang kali menarik napas seraya dengan menoleh ke arah Meta, aroma lembut dari adiknya selalu membuatnya penasaran. sejak kapan ia memakai parfum? biasanya adiknya itu tak begitu peduli dengan penampilannya, dan saat ini semuanya berubah seratus sembilan puluh derajat, ada bidadari baru yang siap mengepakkan sayapnya.

"Kau yakin akan menikah?" akhirnya setelah beberapa menit mereka saling berdiam diri, Axel memilih untuk angkat bicara dan memulai obrolan.

Meta menoleh dan mengalihkan pandangan sebelumnya, raut wajah penuh ke khawatiran itu berhasil membuatnya berpikir kembali. "Pertanyaan aneh," sahutnya.

Axel nyaris mencubit lengan adiknya namun ia urungkan. "Bukan begitu."

"Lalu?"

"Kakak hanya takut, itu saja."

Meta membalasnya dengan sebuah senyuman manis dan singkat, siapa juga yang ingin menikah. Harus berapa kali ia ingatkan bahwa pernikahan ini hanya karena taruhan gila itu, sejujurnya Meta sedikit menyesal.

"Kakak tenang saja, Meta bisa jaga diri." Dengan percaya diri ia meyakinkan Axel untuk berhenti mengkhawatirkannya.

"Baiklah."

Perbincangan kali ini selesai ada perasaan aneh setelahnya, perasaan itu kembali terulang.

***

Flashback On.

Axel masih berkutat dengan sarapan paginya di atas meja makan, suasana masih sepi karena hanya ada dirinya.

Meta?

Gadis itu masih betah kemungkinan di balik selimut, lagi pula saat ia menoleh arloji di pergelangan tangannya jam masih menunjukan pukul setengah tujuh, masih banyak waktu sebelum ia ke kantor.

Axel sedikit bersiul pelan dengan perlahan ia mengunyah makanan dalam rongga mulutnya, sudah menjadi kebiasaan jika ia sarapan pagi dengan bersiul.

Udara sejuk pagi ini sedikit membuatnya mampu sesekali menghela napas, ada perasaan tak ikhlas terbesit di sana. Di saat kedua manik miliknya memejam, bayangan itu menjadi penggugah selera untuk menyantap sarapan paginya dengan semangat.

Penasaran?

Siluet beserta senyuman manis itu terngiang jelas dalam otaknya yang tak seberapa, menjadi pengagum rahasia itu ternyata berat juga. Axel mengurai senyuman di saat benda pipih yang ia letakkan sebelumnya berdering cukup mengganggu khayalannya.

Axel mengerjapkan matanya lalu mengacak pelan surai hitamnya, sebuah panggilan dengan username yang enggan ia sebutkan itu sedikit mengganggu aktifitasnya.

Axel berdecak kesal, moodnya turun drastis. "Ada apa?"

"Bisakah kau mengantar gadis kecilku?" suara bariton di sebrang sana dengan serak basah khas miliknya, siapa pun wanita nya masih tergugah imannya.

"Gadis kecil? siapa maksudmu?" Axel meradang nampak jelas rahangnya mengetat.

"Adikmu, aku menunggunya di apartemen. Apa aku yang jemput?"

Axel terpekik dengan memutar bola matanya, malas. "Baiklah."

flashback off.

***

Bandung, jawabarat

Meta lebih dulu menapakkan kedua kaki jenjangnya, di hadapannya sebuah gedung pencakar langit terpampamg jelas, saat ini kembali ke tempat kemarin, Apartemen seorang Billionaire.

Entah kenapa, detak jantungnya berdegup dua kali lebih cepat bahkan perutnya tiba-tiba saja terasa mual padahal ia yakin sudah sarapan tadi meski hanya sedikit.

Di ikuti Axel yang turun dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, pria itu merapikan surai hitamnya dengan jemari tangannya, Astaga! Meta terperangah setengah mengagumi, kakaknya memang sangat tampan meski Bara agak di atasnya.

Meta masih menatap kikuk kakaknya yang masih merapikan pakaian formalnya, ia Axel memakai suit untuk pergi ke kantor.

"Kau sedang memperhatikanku, nona?" suara bariton yang ia dengar sangat tak asing bagi kedua indra pendengarannya, Meta menoleh ke arah sumber suara.

"Iya, memangnya kenapa? liat para gadis yang melintas pada gelagapan melihatnya." Meta setengah mengalihkan topik pembicaraannya.

Axel terkekeh pelan dengan mengacak pelan puncak kepala adiknya, "Bukan itu pertanyaanku."

"Eh? benarkah?" Meta menghentikan langkah kakinya, Memangnya pertanyaan yang mana lagi?

"Sudahlah lupakan saja, kakak bisa telat pergi bekerja." Axel menggamit lengannya yang masih bengong indah.

Tuhan tolong kendalikan! batin Axel merasakan tak rela untuk mengantarkan adiknya bertemu pria bastard itu. Ya, Axel tahu sisi buruk dari pria yang akan menjadi adik iparnya itu, oh lord! adik ipar? menggelikan hanya dengan mendengarkannya saja.

Kedua makhluk hidup itu akhirnya melangkah bersamaan dengan Axel yang menggamit lengan adiknya dengan posesif lagi dan lagi tatapan Serasi atau cocok terlintas di beberapa pasang mata, bagaimana tidak Meta memakai gaun hitam di balut blazer berwarna putih dan Axel memakai suit dengan warna senada yaitu hitam pula. Sudah seperti pasangan kekasih bukan?

Keduanya bercengkrama sangat akrab, bahkan Axel tak segan-segan memberikan cubitan manja di kedua pipi adiknya sudah menjadi kebiasaan jika ia gemas pasti kedua pipinya akan menjadi sasaran, untung lift kosong Axel masih menggodanya sampai rona wajahnya memerah karena Malu.

Axel menceritakan bagaimana penampilannya dahulu, bahkan ia sendiri tak yakin jika adiknya bisa seperti saat ini, tatapannya tak berhenti untuk mengagumi dan berpikir seandainya gadis di sampingnya bukan adiknya sendiri, terlalu dekat juga rupanya memberikan dampak buruk.

Ting!

Kedua pintu lift terbuka bersamaan, Axel berpamitan ketika ia telah selesai menjalani tugasnya untuk mengantarkan adiknya dengan selamat meski hanya depan pintunya saja Axel sungguh malas menyapa si empunya Apartemen.

Meta memeluk hangat tubuh Axel, "Terima kasih kak."

Axel membeku seluruh tubuhnya tiba-tiba kaku di saat pelukan itu memdarat di tubuhnya, "Sama-sama." Axel melebarkan kedua tangannya lalu membalas pelukan sang adik. "Telpon kakak jika pria itu macam-macam," sambungnya.

"Siap bos!" Meta memberi hormat di iringi senyuman sumringah.

Manisnya! Axel kembali membatin dan akhirnya memutuskan untuk membalikkan tubuhnya dan pergi.

Meta menarik napas beberapa kali, mengelus dadanya lalu memejamkan mata sesaat. Entah apa yang membuatnya gugup luar biasa padahal mereka sudah bertemu sebelumnya bukan? namun debaran menyebalkan itu terasa semakin mengusiknya, semakin ia menolak semakin bertambah juga gejolak keresahannya.

Meta mengurai kepalan di kedua tangannya, apa pun yang terjadi keputusannya sudah bulat ia akan menikah dengan pria itu sang Billiomaire. Meta berniat untuk menekan bel itu namun tangannya terhenti ketika pintu di hadapannya terbuka.

Menampilkan sosok wanita dewasa, penampilannya jauh lebih seksi darinya tubuhnya juga sangat sempurna idaman para kaum adam. Meta mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dan kembali dengan kesadarannya. Penampilan wanita itu memang seksi namun, Meta mulai menerawanh di temani surainya yang sedikit berantakan dan pakaiannya agak sedikit terkoyak menjelaskan bahwa telah terjadi sesuatu sebelumnya.

Shit! lagi dan lagi ia seperti cenayang saat ini. Meta membatin dengan pandangannya masih fokus ke depan, Wanita berambut pendek itu mendengus kesal.

"Apa kau bitch selanjutnya? hati-hati tuan sedang marah," ucapnya sebari berbisik wanita itu lantas memakai kembali high heels miliknya lalu merapikan pakaiannya dan melenggang pergi tanpa dosa.

Bitch? jalang? pelacur? Astaga! Meta masih membeku di ambang pintu, pikirannya terlalu Soak dengan kenyataan yang barusaja yang ia terima.

Dengan ragu Meta memantapkan diri untuk masuk ke dalam tanpa menunggu perizinan dari sang empunya, Wanita itu mengurai keresahannya dengan terus-terusan menarik napasnya. Di dalam tak nampak kekacauan namun Meta terkejut mendengar teriakan yang lantang.

"Dasar wanita kurang ajar! sudahku bayar mahal namun kau tak kunjung memuaskan juniorku!" teriaknya tanpa malu, ketika ia menoleh dengan bertelanjang dada hanya handuk putih yang membelit diarea pinggangnya membuat Meta mau tak mau berteriak histeris dengan segera menutup kedua matanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel