Bab 7
Bara hanya fokus memamerkan wanita di sampingnya, beberapa kali mereka berfoto mesra bersama. Lain halnya dengan Meta, ia jelas sangat gelisah mendapati perlakuan yang belum terbiasa baginya.
Bara sesekali menatapnya genit dengan mengedipkan satu matanya, Meta pikir bahwa pria itu kemungkinan cacingan dan lupa meminun obat. Namun, satu kecupan mendarat di pipi kanannya yang berhasil menyadarkan pikirannya.
Meta menoleh dengan ekspresi bengong indah, kedua manik kembali bertemu. Nyaris protes jika tidak karena Bara yang segera menarik tangannya dan menubrukkan lengan kanannya tepat di wanita angkuh tadi, "Aku lupa ada orang di situ." Bara menjawab angkuh.
Sesampainya di dalam mobil, Meta menepis tangannya. "Apa-apaan tadi? aku yakin kau sengaja."
"Akting yang bagus baby, aku sangat puas." Bara kembali duduk di kursi mengemudi menyalakan mesin mobilnya lalu menginjak pedal gas. Wajahnya kini hanya fokus kejalanan, tak perduli bagaimana wanita di sampingnya ingin kembali protes.
Meta menghela napas, yang ia lakukan saat ini hanya meremas seatbelt dengan erat melerai rasa emosi yang kini menimpanya. "Aku ingin pulang, Bara!" pernyataan yang menuntut itu berhasil membuat Bara jengah, baru saja ia berniat berbaik hati dengan wanitanya? sekarang lihatlah bagaimana wanita itu memohon dengan sarkas.
Bara segera menggeleng, "Kita akan berkencan, oke?"
"Tapi, ada urusan yang lebih penting." Meta langsung menyambar ucapannya tanpa perduli bagaimana rahang pria itu mulai mengeras menahan amarahnya.
"Sepenting itukah? jadi, di sini sebenarnya siapa yang di butuhkan? aku merasa telah salah menerima tawaran kakakmu baby," ucapnya datar tanpa ekspresi, come on! seharusnya ia menjadi prioritasnya bukan malah sebaliknya, cerita macam apa ini.
Meta menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar. "Aku ingin menghajar kakakku, kau puas?"
jadi hal yang penting itu kakaknya? oh shit! kenapa sekarang ia merasa cemburu. Tidak! ia jelas tak memiliki urusan dengan kata cemburu ia baru melihat gadis itu tadi siang kurang lebih baru enam jam mereka bersama, jadi jauh-jauhlah perkiraan yang sangat menggelikan dalam tubuhnya. Tanpa sadar, sedang bergumam kedua kepalan tangannya sesekali menepuk stir mobil yang tak bersalah.
Meta menunggu jawaban, rupanya ia salah memilih pasangan. "Kau budeg?"
"Apa?!" Bara mengacak surai hitamnya yang sebelumnya sudah tertata begitu rapi, gelak tawa mengiringi rasa prustasinya. Rupanya gadis itu yang tertawa tak tertahankan, "Kenapa?"
"Kau nampak lucu Bara, tak kusangka kau seperti anak kecil yang kehilangan mainannya." Tanpa sadar pria di hadapannya kembali merubah ekspresi wajahnya kembali datar dan dingin.
Mainannya?
siluet itu kembali menyerangnya, cukup lama sampai si pemiliknya tak ingin kembali mengingatnya, atau berduka dengan masa lalunya.
Sudah cukup baginya, menderita sekian lama. Bagaimana semua kebahagiaan itu dengan cepat pergi meninggalkannya tanpa ada ucapan selamat tinggal untuknya.
Bara kembali menundukkan pandangannya, kali ini pria itu lebih memilih menghidupakn kembali mesin mobilnya melajukannya dengan kecepatan sedang, jangan tanya ia sudah tahu alamat gadis itu sebelum mengenalnya, tentu saja ia sudah mengenal kakaknya terlebih dulu jadi tak asing dengan alamat rumahnya bukan.
Berbeda dengan Meta, gadis itu seperti sedang terhipnotis kedua manik miliknya hanya asik melihat betapa tampan pria di sampingnya, banyak berita miring menimpanya dari berbagai skandal. Meta sangat penasaran, pria itu nampak seperti mayat hidup yang terluka. Meski tatapannya datar tanpa tujuan, jauh di belakangnya ada sesuatu yang mengharuskan pria itu bersikap waspada.
Meta menerka-nerka dengan berbagai tebakan yang menghujani otaknya dan sejak kapan ia seperti seorang cenayang? Damn! pernyataan itu segera mengganggunya dan menghentikan semua rasa penasarannya. "Kau tahu alamat rumahku?"
"Hmmm." sahutnya datar tanpa ekspresi atau menoleh ke arahnya.
Suasana semakin hening, apa ada yang salah dengan ucapannya? tapi yang mana? Kenapa pria itu tak kembali bawel atau menyebalkan seperti sebelumnya. Sekarang seperti benar-benar ia berbicara dengan zombie, Meta yakin jika pria itu bukan zombie ada kehidupan dari tubuhnya.
"Apa kau baik-baik saja?" akhirnya kalimat itu lolos dengan sendirinya setelah seperkian detik ia mencoba menahannya susah payah, sejak kapan seorang Meta mengurusi urusan pribadi seseorang? ia yakin karena perasaan gugup menjelang hari pernikahan.
Pria itu tak menjawab.
"Aku masih di sini, Bara!" Meta tak suka di abaikan, ia masih berada dalam kenyataannya tepatnya di depannya namun pria itu baru menoleh setelah ia menahan amarahnya cukup lama.
Pria yang ingin ia hajar habis-habisan itu akhirnya menatap jelas kedua manik miliknya, "Masih ada waktu delapan hari untuk kau mengenalku, jika tidak suka. Kita batalkan saja pernikahannya," ucapnya sarkas tanpa memperkirakan konsekuensi yang akan ia terima.
Dia menantangnya bukan? satu kata yang ia tangkap setelah ucapan menyebalkan itu ia terima dengan kedua pendengarannya yang masih berfungsi sangat baik.
"Aku tak ingin-" Bara menggantung ucapannya dengan beberapa kali pria itu nampak ingin menarik napas seperti ada sesuatu yang mengganjal dadanya. "Kau menyesal," sambungnya dengan nada gemetar tersirat ada sesuatu yang sedikit menyalahkannya suara bariton miliknya nampak seperti suara keputus asaan, dan itu menarik simpati seorang Meta.
"Baiklah, aku akan menggunakan waktu singkat itu untuk lebih jauh mengenalmu." Meta melepaskan seatbelt dan berniat untuk keluar mobil sebelum tarikan di pergelangan tangannya berhasil mengejutkannya.
Bara rupanya yang menahan pergerakannya, wajahnya kini sulit untuk di tebak. Sejak awal memang pria itu selalu mengubah setiap ekspresi wajahnya, "Kau yakin tak akan menyesal setelahnya?"
"Why? karena kau seorang pengusaha yang terkenal playboy itu? atau gosip yang sering menyerangmu dengan berbagai tuduhan?" Meta lupa akan batasannya, seharusnya ia menyaring terlebih dahulu kearah mana pembicaraan awalnya, "Aku tak akan mempercayai gosip itu semua sebelum kedua mataku ini melihatnya secara langsung." Meta menekankan akhir kalimatnya, "Aku memiliki hati baja, jadi menangis bukan hobiku."
"Baguslah." Bara menjawab singkat seraya dengan cekalan di pergelangan tangan Meta ikut terlepas ketika si empunya meregangkan cekalannya, Meta ingin protes kenapa jawaban pria itu sangat menyebalkan seharusnya pria itu menjawab Aku tak ingin kau terluka terkesan lebih manusiawi bukan? atau Aku tak ingin melihatmu terluka itu lebih cocok sebagai seorang pria yang dewasa.
Sudahlah percuma Meta! pria yang sedang kau hadapi itu berbeda. ia memang sempurna dari penampilannya, namun sifat dan sikapnya bertolak belaka. Meta yakin jika gosip murahan itu tak sepenuhnya benar, kalaupum benar kemungkinan hanya sebagian.
Tunggu dulu! ada apa dengamu Meta? sejak kapan mengurusi hidup seseorang?
Shit! baru beberapa jam bersamanya semuanya nampak sangat melelahkan bagaimana jika ia sudah menikah menyisakan semua waktunya untuk menemani pria itu? sudah jelas terbayangkan pasti sangat membosankan bukan? Meta yakin jika kisahnya dalam cerita ini akan lebih banyak menguras emosi jiwa dan raga.
Konsekuensi yang patut di terima! jika bukan karena gengsi dan pertaruhan gila itu, percayalah ia tak ingin menikah muda apalagi dengan pria kaku seperti patung itu, lebih tepatnya patung yang diberi nyawa namun nampaknya patung itu lebih memilih berdiam diri tanpa memanfaatkan kehidupannya.
Dasar bodoh!
