Bab 6
flashback On.
Axel duduk di kursi kebangsaannya dengan kegelisahan yang entah dari mana asal muasalnya, pria itu sesekali meremas tengkuknya atau mengepalkan tangannya. Bodoh! kenapa dengan mudah ucapan itu terlontar dari mulutnya.
Damn dan Shit!
Bayangan di mana adiknya memohon minta bantuan terus terbayang dalam pikirannya. Seharusnya ia memberi nasihat untuk sang adik lebih baik mengalah. Toh, itu bukan hal yang buruk mengakui ketidak mampuan diri sendiri.
Axel memutar pikirannya, bagaimana caranya? Meta menikah dengan Bara? pria itu tidak mudah di dekati jika bukan seorang Bitch!
Axel ingat, jika Bara adalah pria penyuka ketenangan memberikan satu pulau tropisnya tak akan membuatnya bangkrut.
iya, Axel memilih memberikan satu pulaunya untuk membujuk Bara menerima tawarannya.
"Mia, tolong tunda meeting hari ini. Saya ada suatu hal yang mendadak," ucapnya kepada sekertarisnya.
Axel bergegas menuju apartemen Bara, sebelumnya ia menghubungi pria itu melalui pesan whatsapp.
Jaraknya memang tak begitu jauh, suasana kota Bandung siang ini cukup sepi. Axel menancap pedal gas, "Hallo?"
"Apa kau yakin dengan tawaranmu tadi?" suara seseorang dari sebrang sana.
Axel menjawab ketus jika bukan karena adiknya, tentu saja tidak dasar bodoh! Axil membatin. "Iya."
Tut!
Panggilan ia matikan, Axel kembali fokus dengan jalanann sebenarnya kakak mana yang rela membiarkan adiknya menikah dengan pria yang terkenal Bastard!
Axel berharap jika langkahnya tidaklah salah, ia hanya ingin membantu adiknya.
Sebuah apartemen mewah sudah nampak di depan mata, pria itu memasuki area parkiran dan keluar dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya. "Apa pun demi Meta," gumamnya.
Sesampainya di tempat tujuan, kedua manik itu kembali berjumpa Bara dan Axel kembali bertemu setelah sekian tahun mereka menjauh, bukan hal mudah bagi Axel menerima sahabatnya itu yang dengan terang-terangan bercumbu dengan mantan kekasihnya.
Menjalin hubungan selama lima tahun bukan hal yang mudah, namun dalam satu hari semuanya sirna beserta perasaannya, saat itulah keduanya memutuskan untuk berjalan dengan langkah mereka sendiri.
"Senang bertemu kembali denganmu Axel Anderson," sapa Bara yang terlihat dari raut wajahnya pria itu nampak puas.
Axel membalas tak kalah ketus, "Aku kesini bukan untuk berbasa-basi."
"Kau ini masih saja galak, apa wanita itu belum kau lupakan juga?"
shit!
Butuh bertahun-tahun ia melupakannya, dengan enteng Bara mengungkit semua masalalu kelamnya. Axel menghela napas lalu tersenyum tipis, "Aku sudah tidak ingat lagi namanya."
"Bagus kalau begitu, aku tak perlu repot-repot merasa bersalah lagi." Bara melebarkan pintu apartemennya di ikuti Axel yang masuk.
"Mau minum?" tawarnya.
Axel menggeleng, "Aku sibuk, tidak perlu."
"Sekali-kali tak apa. Kau ini calon kakak iparku, lagi pula kenapa kau menawarkan sebuah pulau tropis untukku dengan adikmu? aku bisa saja membelinya." Bara acuh, pria itu hanya duduk bersidekap santai.
Axel terdiam sejenak, apa ia harus menjelaskan taruhan gila yang adiknya terima? "Jangan banyak tanya, aku memberimu tawaran yang tak biasa."
"Kau ini tak banyak berubah, pemaksamu tidak luntur juga? by the way adikmu cantik juga jika berdanda sedikit, apa dia masih perawan?"
Pertanyaan yang konyol, Axel mengepal dan siap menonjok wajah Bara yang glowing. "Jaga ucapanmu! tentu saja adikku masih perawan."
"Baiklah, aku terima tawaranmu bukan karena pulau tropismu. Namun, karena keperawanannya." Bara tersenyum menyeringai kapan lagi ia mencicipi seorang gadis?
Ah, rasanya sangat tidak sabar.
flashback off.
***
Axel merebahkan seluruh tubuhnya di atas ranjang, beberapa kali pria itu menarik napas lantas menghembuskannya dengan cepat.
Detak jantungnya berdetak tak jelas, tentu saja ia gelisah meninggalkan adiknya bersama pria Bastard itu bukan hal yang baik, berulang kali Axel mencoba menghubungi ponsel Meta dan tak ada jawaban darinya.
Axel membanting ponselnya lalu meremas puncak kepalanya, "Kau bodoh Axel!" rutuknya.
Beberapa kali Axel mencoba kembali menghubungi Meta, entah apa yang mereka lakukan sampai Meta tak kunjung mengangkat panggilannya. Cukup lama pria itu termenung, satu panggilan masuk dengan username Bara.
"Hallo Axel?" ucapnya di sebrang sana.
Axel hanya diam tak menjawab ucapan Bara. Sebelum suara kegaduhan terdengar olehnya yang akhirnya Axel mau tak mau setengah berteriak, "Apa yang terjadi?"
Suara kegaduhan itu lenyap seketika.
"Bara apa yang sedang kalian lakukan? aku akan membunuhmu jika macam-macam dengan adikku!"
Tut!
Panggilan diputuskan sepihak, Axel segera meraih kunci mobilnya di atas nakas bergegas berlari menuju mobilnya.
Aku akan menghajarmu Bara jika kau berani berbuat macam-macam dengan adikku! Axel membatin.
***
Meta terus mengelus kasar kedua bibirnya, adegan yang baru saja menimpanya benar-benar membuatnya hilang harga dirinya, itu memalukan.
Berbeda dengan pria yang sepertinya hanya mampu tersenyum meledek, tak ada penyesalan dari raut wajahnya yang membuat Meta menggeram kesal. Come on! tak mudah bagi Meta menerima jika kedua bibirnya mengecup pipi seseorang, suasana hening seketika. Tak ada yang berbicara untuk menghangatkan suasana, mereka hanya duduk berhadapan.
Menyebalkan!
Meta bergumam dalam batin, hanya itulah usahanya untuk meredamkan sedikit amarahnya karena ia ingat harus tetap anggun, jika sudah resmi menjadi istrinya ia berjanji akan menunjukkan sifat aslinya dan menjadikannya mimpi buruk bagi pria di hadapannya, keduanya saling berbalas tatapan meski Meta mendengus sebari memalingkan wajahnya, tidak dengan Bara. Pria itu hanya bersandarkan punggungnya lalu tersenyum kecil ketika tatapannya di balas oleh dengkusan dari wanita di depannya.
Bara menegakkan tubuhnya, "Baiklah, aku menyerah!" kedua tangannya ia angkat bersamaan. "Kau memang wanita aneh."
Meta mendelik, dia bilang ia wanita yang aneh? demi Tuhan! kedua tangannya sangat tidak sabar untuk memberikan sebuah kecupan dengan tonjokan yang tepat di pipi glowingnya.
"Bagaimana kalau sekarang, kita makan bersama?" ajaknya seraya mengulurkan tangan kanannya. "Untuk pengenalan awal kita."
Meta meremas setiap jemari tangannya, haruskah?
Cukup lama Bara berdiri dengan tetap memperhatikan aura wajahnya, menebak-nebak apa yang ada dalam pikirannya? "Ayolah!" Tanpa basa-basi Bara segera menarik pergelangan tangannya dan berhasil membuat Meta terkejut.
"Kau sangat kasar!" Meta menahan langkahnya berusaha melepaskan cekalan di pergelangannya.
Bara menoleh dengan tatapan mata elangnya, "Lalu? aku harus menunggumu sampai berakar?"
Eh? Meta sedikit keheranan, wanita itu memilih mengalihkan pandangannya dan kembali melangkahkan kedua kakinya namun satu cekalan di lengan kirinya kembali ia dapatkan siapa lagi pelakunya? Bara Wijaya.
Demi Tuhan kak! aku ingin menghajarnya. Meta membatin tak kuasa, "Apa lagi?"
Bara menggendong tubuhnya, mau tak mau Meta mengalungkan tangannya di tengkuk Bara, pria itu menoleh dengan senyuman manis. "Mari kita berakting sweety."
Berakting katanya? mari kita lihat, dia telah salah berurusan dengan Meta Anderson. Meta mengedipkan satu matanya, meski jijik ia harus berlaga sedikit genit.
Keduanya masuk kedalam lift dengan posisi masih dalam gendonganya, sesekali Meta melirik ke arahnya. Wajah tampan, rahang yang kuat dan berkharismatik itu sangat disayangkan mengingat kelakuannya, tak sopan terhadap seseorang.
Seandainya tampan namun baik hati kemungkinan Meta bisa belajar mencintainya saat ini juga namun tak berlaku untuk pria Bastard di hadapannya, akan sia-sia jika ia mencobanya.
Terlalu banyak bitch dan para wanita yang senang hati jika tubuhnya di jamah dengan sebuah iming-iming hadiah, memalukan memang.
Tanpa sadar jika si pemilik mata elang itu membalas pandangannya, membiarkannya menikmati setiap lekuk wajahnya jika bukan suara pintu lift terbuka mungkin Meta sudah hanyut dalam di lema.
Ting!
Kedua pintu lift terbuka secara bersamaan, Meta menoleh ke arahnya. Bukan main, ia jelas sangat terkejut entah berapa banyak wartawan di sana. Menghitungnya sudah jelas tidak mungkin, Meta bergidig ngeri ini pertama kali dalam hidupnya ia melihat langsung para wartawan dengan kilatan blitz kamera menghujani pandangannya, bagaimana dengan eksprsi pria yang masih menggendongnya? sudah jelas sebuah senyuman merekah menghiasi wajahnya.
Bara menurunkan tubuh Meta tepat di hadapan kerumunan para wartawan, "Lakukan tugasmu Baby," bisiknya lembut membuat alarm dalam tubuhnya menyala.
Aroma Musk begitu lembut dan menyengat tubuhnya, bahkan dengan sengaja Bara mengecup lembut daun telinganya. What the hell? seharusnya ia langsung menghajarnya habis-habisan, sayang Meta harus melerai kepalan di kedua tangannya dan membiarkan aliran menyengat itu semakin menjalar di setiap aliran darahnya.
"Aku akan membunuhmu baby!" Meta membalas dengan kembali berbisik di daun telinganya, menarik pelan punggungnya lalu mencengkeramnya kuat. "Jika kau macam-macam denganku!"
Kekehan pelan mulai terdengar, posisi mereka saat ini seperti sedang berpelukan, bagaimana dengan intens Bara merengkuh pinggangnya dan Meta memeluk punggungnya tanpa celah.
Double shit!
Bara mengumpat tak habis pikir, kenapa dalam situasi seperti ini libido nya kumat. Come on! ini bukan hal yang bagus mengingat barusaja semalam ia menghabiskan satu wanita dalam ranjangnya, dan Bara mulai berpikir keras sejak kapan ia mudah tergoda?
Astaga!
Harus berapa banyak bitch dan uang yang harus ia keluarkan untuk melerai napsu lelakinya saat ini? Bara tak kuasa untuk menghindar, begitu kenyal, lembut dan penuh kedua piramida miliknya sampai ia berpikir untuk sejenak mengintip dalamnya atau membiarkan otak mesumnya bekerja sesuka hatinya.
Meski bentuknya sama namun Bara yakin jika milik Meta belum tersentuh, pasti sangat menyenangkan jika menyentuh setiap inci lekuk tubuhnya. shit! ia harus menghentikannya saat ini juga, jika tidak ia tak yakin untuk terus menahannya dan tak memaksanya untuk membuka selangkangannya dengan paksa.
"Sudah cukup, kedua piramida milikmu cukup membuatku penasaran sayang." Bara melepaskan rengkuhannya yang di balas sebuah tatapan mengerikan, "Sekarang mari kita bermain."
Bara membalikkan tubuhnya lalu menggandeng telapak tangannya setelah wanita itu berhasil terleps dari gendongannya, Meta masih mematung berusaha menetralkan degup jantungnya dan melupakan ucapan tak bermutu itu untuk segera lenyap dalam otaknya, menarik napas dalam-dalam lalu kembali fokus dengan pandangannya.
Bara tersenyum di iringi lambaian tangan kanannya, berbeda dengan Meta sepertinya wanita itu kehilangan sifat bar-barnya ia lebih memilih merundukkan pandangannya dan fokus dengan langkah kakinya sampai pada ambang pintu, langkah mereka terhenti lebih tepatnya langkah kaki Bara yang berhenti mendadak.
Meta menengadahkan pandangannya, dan kedua matanya bulat sempurna. Tanpa siaga, Meta kembali dapat sebuah kejutan Bara menarik pinggangnya untuk semakin rapat dengan tubuhnya dan satu jari tangannya bermain di sana dengan mengelus lembut namun Meta yakin bahwa ada tekanan untuk tak ada pemberontakan.
Wanita dengan penampilan seksi itu bersidekap dengan menghadang langkah mereka, Meta tak tahu siapa dia? apa urusannya dengan Bara? dan sejak kapan ia mengurusi urusan pra di sampingnya?
Damn!
Sepertinya seharian ini akan banyak energi yang terkuras, tak terbayangkan jika ia sudah resmi menjadi istrinya? bisa-bisa mendadak keriput disaat usianya masih muda, suasana hening. Mereka berdua hanya saling berbalas tatapan, Meta hanya menoleh ke arah Bara yang nampak dengan senyum penuh kemenangan.
Dasar pria gila!
"Bisakah kau minggir?" Bara angkat bicara, pria itu semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggang Meta. "Kami ingin berkencan, bukan begitu baby?"
Meta segera menoleh ke arah depan, dengan sambutan sebuah tatapan mematikan. Wanita itu sangat serius melihatnya dari atas sampai bawah, untungnya ia menyerahkan semua penampilannya tadi jika tidak mungkin ia akan di rendahkan, Meta dengan sigap menyandarkan kepalanya tepat di dada bidang pria itu lalu mengelusnya perlahan, "Tentu saja."
"Sejak kapan seleramu menjadi rendah? jangan bilang kau belum Move on dariku?" tanyanya penuh percaya diri.
Bara meremas pelipis matanya dengan satu tangan masih memeluk erat pinggang Meta, "Kau sangat percaya diri, tak lihatkah wanita cantik di sampingku ini? atau kau buta? dia adalah calon istriku."
Sontak semua lensa kamera menghujani ketiganya, beberapa pertanyaan mulai berdesakan minta jawaban. Meta nyaris melompatkan kedua bolamatanya, detak jantungnya semakin tak terkendalikan.
Meta tersenyum ramah, "Siapa dia baby?" sebenarnya ia sangat jijik mengucapkannya jika bukan karena ingin menyempurnakan akting keduanya mau tak mau ia harus menurunkan gengsinya.
Bara menoleh dengan tersenyum kecil, "Dia bukan siapa-siapa."
