Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

Axel menyadari kecanggungan yang terasa mengganggu nya, pria itu segera mengalihkan topik pembicaraannya. "Senang berjumpa kembali dengan anda, Bara Wijaya."

Si empunya nama menoleh dan sadar jika ia sedang di perhatikan, "Ah, saya lupa silahkan masuk." Bara melebarkan pintu lalu mempersilahkan kedua tamu specialnya itu untuk masuk.

Meta memperhatikan setiap interior dalam apartemen itu seperti kalian tahu jika di dalam sana sangatlah luar biasa, penuh dengan kemewahan. Contohnya sofa yang sedang ia duduki seperti sedang duduk di atas busa sabun, sangat lembut.

Axel mengelus punggung Meta, "Tenanglah." pria itu berucap di sela-sela si pemilik apartemen sibuk menerima panggilan, seseorang sudah menyiapkan dua gelas kosong sebelum mereka datang untuk menemaninya minum wine.

Meta mengangguk sebal, ia sudah sangat tidak sabar untuk menghajar wajah sang kakak. "Setelah ini tak ada kata ampun!" Meta menekankan setiap kalimat yang terucap dari kedua bibirnya.

"Terlihat feminimlah, semua demi kebaikanmu." Axel semakin menggodanya karena hanya saat seperti inilah ia bisa habis-habisan menggoda adiknya, ada kebahagiaan tersendiri baginya.

Meta mengangkat bogemannya, gemelatuk gigi saling beradu semakin terdengar. Ia tak terima jika harus tunduk terhadap pria, "Kakak!"

"Kalian sangat serasi, kenapa tidak menikah saja?" Suara bariton namun lembut itu muncul setelah tanpa sadar pria yang berdiri di dekat jendela tak jauh dari posisi Axel dan Meta duduk lenyap tanpa di sadari.

Bara tersenyum smirk ke arah Meta, namun dapat balasan sebuah tatapan tajam yang khas dari seorang Meta. "Kau menggemaskan." Bara menuangkan wine di setiap gelas, "Mari bersulang, karena status playboyku ini akan segera lenyap."

Bara nampak percaya diri, berbeda dengan kedua manusia di hadapannya yang tak menanggapi serius candaannya. Itulah Bara hobinya menyombongkan diri dengan pencapaian yang telah ia raih beberapa tahun berkecimpung dalam dunia bisnis, banyak hal yang ia nikmati termasuk wanita.

Axel mengepal sampai buku tangannya memucat, "Sebenarnya aku tak sudi memiliki adik ipar sepertimu," dengusnya penuh penekan marah. Sayang, elusan pelan di lengan kirinya akhirnya meluluhkan emosi Axel saat menoleh Meta adiknya tersenyum lembut ke arahnya.

"Biar aku yang menghajarnya, tenanglah." Meta berbisik yang berhasil di tanggapi senyuman geli dari mulut Axel.

Bara memperhatikan, ia merasa tak di anggap. Padahal ia adalah tuan rumahnya namun seperti benalu yang merugikan, "Jangan begitu kakak ipar, aku sangat terluka mendengarnya."

Axel memicingkan kedua matanya, "Aku pikir kau tak memiliki hati, jadi sudah terbiasa mendapatkan ketidak senangan dari seseorang."

"Kau masih sangat mengenalku, jadi kita deal bukan?" Bara mengangkat gelasnya untuk mereka saling bersulang, pria itu yakin jika Axel tak menjelaskan perjanjian pengalihan kepemilikan sebuah pulau tropis di Raja Ampat, pasti menggemaskan melihat wanita di sampingnya geram karena marah.

Axel menelan salivanya berusaha tetap tenang untuk tidak menanggapi ucapan Bara yang licik. "Tentu saja, apapun demi adikku."

Aku mohon bersikaplah anggun sebentar saja.

Axel meremas setiap jemari tangan Meta, ia memberi satu tekanan untuk memperingati adiknya dengan raut wajah penuh permohonan. Axel terus mengusap punggung tangan adiknya sesekali memberikan pandangan yang sulit untuk di artikan, itulah Axel ia hanya mampu mengagumi saja tanpa berniat memiliki.

Meta sesekali membalas tatapan sang kakak, lalu menghela napas dengan berat. Jika tidak, wajah tampan khas Bara ia akan mudah memberikan sebuah tanda yang sulit untuk pria itu lupakan, Meta berjanji akan menjadi mimpi buruk bagi calon suaminya.

"Jadi kapan kau mau menikahinya?" Axel berseru karena muak meladeni sikap omong kosongnya, Come on! suasana semakin terasa memanas.

Bara terkekeh di barengi dercapan bibir, "Kau sangat tidak sabar?" dengan tatapan silih bergantian ke arah Axel dan Meta. "Minggu depan, aku akan menikahinya."

Meta tercengang, hanya dia yang merutuk semua kebodohan dan persetan dengan pertaruhan menyebalkan itu, jika Tuhan berbaik hati padanya untuk memberikan solusi lain. Ia berjanji akan menjadi anak baik mulai sekarang, Meta membatin saking terkejutnya ia tak fokus bagaimana Bara tersenyum smirk ke arahnya penuh dengan makna lain.

Axel meremas dahinya, mau tak mau ia mengangguk menyetujuinya. "Baiklah, aku serahkan semua urusanmu. Dan serahkan urusan Meta kepadaku," tutur Axel seraya menggandeng tangan adiknya untuk beranjak bangun.

"Aku atau kau calon suaminya?" Bara menaruh minumannya di atas meja, "Siapa suruh kau membawa calon istriku pergi dari sini?"

Meta memicingkan tatapannya, bergantian dengan ia menatap Axel dan Bara saling bergantian. Dua pria dewasa itu silih beradu tatapan tajam dengan mengepalkan jemari tangannya, Meta mengelus dada bidang milik Axel meredakan deru napas yang nampak tergesa-gesa.

"Aku di sini dulu, kakak bisa pulang." Meta tersenyum ke arah Axel memberi tanda bahwa ia akan baik-baik saja.

Axel nampak tak suka, terlihat dari aura wajahnya yang berdominan banyak mencemaskannya. "Kau yakin Meta?"

Meta mengangguk pelan.

"Baiklah, apa pun yang terjadi segera hubungiku apalagi jika iblis itu melakukan hal macam-macam." Axel menekankan setiap kalimatnya ke arah Bara.

Bara tersenyum, "Akan aku antar kau keluar, kakak ipar."

"Aku sangat memperingatimu Bara!" Axel berbisik.

Bara terkekeh dengan memegangi perutnya, entah apa yang pria itu tertawai. "Kau sangat mengenalku bukan? aku hanya penasaran bagaimana tubuh seksi adikmu itu," sahutnya dengan kembali berbisik.

"Baiklah, hati-hatilah kakak ipar." Bara tak menggubris ekspresi Axel, dengan cepat ia menutup pintu.

Meta duduk menyandarkan punggungnya, wanita itu memandangi seluruh ruangan apartemen milik Bima. Sedikit terkagum jika suara deheman berhasil menyadarkannya, Meta menoleh sebal. "Ada apa?"

"Aku hanya ingin kita saling mengenal, Ah kau pasti sudah mengenaliku bukan?" dengan penuh percaya diri Bara kembali duduk di sofa berhadapan dengan Meta.

Meta tak peduli, "Aku tidak perlu mengenal iblis sepertimu!"

"Jaga ucapanmu sayang," sahutnya santai.

Bara memasukan satu tangannya ke dalam saku celana, lalu ia beranjak bangun dengan sesekali menyesap wine kedua manik miliknya hanya fokus melihat langit yang mulai meredup.

Meta mendengkus, ia merasa tengah menjadi objek mainan. Seharusnya ia ikut saja ajakan sang kakak untuk kembali pulang. "Aku pulang."

"Duduk!"

Meta memutar kedua bolamatanya malas. "Kau budeg? aku mau pulang."

"Selangkah saja kakimu melangkah, aku pastikan pernikahan kita batal!"

"kau!" Meta meremas jemari tangannya penuh amarah, bisa-bisanya pria itu mengancamnya? "Lakukan saja!" Meta balik menantangnya.

Bara menyunggingkan senyuman kesamping, "Baiklah."

Pria itu meraih benda pipih di dalam sakunya, "Hallo, Axel?"

Meta terkesiap mendengar nama kakaknya, ia berniat untuk berlari menghampiri Bara sebelum pria itu mengadu hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan.

kyaaaaaaa!

Karena Meta tak terbiasa mengenakan sepatu ber hak tinggi, wanita itu tak menyeimbangi langkah kakinya yang tergesa-gesa maka kejadian memalukan untuk pertama kali dalam hidupnya bersama dengan pria di hadapannya tak bisa terelakkan.

Cup! sebuah kecupan mendarat tepat di pipi kiri Bara karena tersandung Meta tak mampu menahan beban tubuhnya.

"Ah, aku minta maaf." Meta segera terbangun dari atas tubuh Bara dengan aura wajah memerah menahan malu.

Kau sungguh bodoh Meta, seharusnya kau memilih flat shoes ketimbang high heels! batin Meta merutuk dirinya sendiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel