Bab 4
Di dalam sebuah butik, Meta terus menerus meremas pelipis matanya. Sedikit heran, kenapa ia harus mengitari banyak pakaian.
Di sini yang jauh lebih antusias tentu kakaknya, pria itu mencari pakaian yang pas untuk adiknya kenakan.
Meta mencekal lengan Axel, "Kak, pacar kakak Ultah?" tanyanya ragu apa Axel memiliki kekasih gelap?
Axel berdecak setengah ingin mengumpat, "Aku jomblo. Nyonya Meta Anderson."
"Lalu, tempat ini?
Meta mengedarkan pandangannya, seharusnya tempat yang cocok untuk ia kunjungi itu jalanan malam. Seleranya bukan menghabiskan uang demi membeli pakaian baru.
"Untukmu." Dengan nada suara datar Axel berhasil membungkam mulut adiknya yang ingin terus menghujaninya pertanyaan, sebelum semuanya terlambat dan kupingnya pengang, Axel memilih segera menjawab pertanyaan yang akan menjebaknya.
Meta terkesiap dengan cepat ia melangkahi sang kakak. "Aku sudah memakai pakaian, lihatlah apa kau buta?" protesnya dengan menunjuk dirinya sendiri dari atas sampai bawah. "Berhenti bersikap berlebihan atau oranglain akan salah duga."
Axel meremas dahinya, bukan hanya lelah melainkan perasaan penat yang entah kenapa ia harus selalu berdebat dengan adiknya. "Seandainya jika kita tidak sedarah-" Axel menarik napas pelan, "Aku akan menikahimu." sambungnya dan berhasil membuat wanita di depannya ingin menghajarnya habis-habisan.
Kedua manik milik Meta membulat sempurna, ucapan Axel barusan membuat ia ingin melayangkan pukulan.
Axel dengan sigap mencekal pergelangan tangannya, "Kurangi sifat bar-bar mu."
"Masa bodo!" protesnya, Meta bersiap menyerang dengan tangan satunya. "Kakak memang kurang ajar!"
"Astaga! Meta kau ini wanita bukan petarung MMA. Lakukan semua keinginanku karena ini bersangkutan dengan Bara, jika tidak mau. kakak akan mengantarmu menemui Rino dan mengaku kalah darinya!" Axel memasukan satu tangannya ke dalam saku celana setelah berhasil menghalau serangan adiknya, "Kakak sangat senang hati mengantarmu."
Oh no! tak semudah itu ferguso melepaskan gelar di jalanan liar tidak semudah membalikkan telapak tangan, Meta masih berdiri dan menatap punggung Axel penuh kilatan. Berniat menyerang diam-diam ia harus urungkan ketika siluet nama Bara bergema dalam otaknya. "Tenang Meta, demi harga dirimu."
"Baiklah kakakku yang tampan jadi baju seperti apa yang akan aku kenakan?"
Nampak aura mencekam mengitari tubuh Axel dengan senyuman smirk pria itu mengangkat dua gaun. "Pakailah, aku menunggu."
"Kak, apa kau gila?" Meta mengeratkan kepalannya. "Baiklah, mari kita bermain-main siapa yang akan terpukau melihatnya." Meta bergumama seraya masuk ke dalam sebuah ruangan bertuliskan ruang ganti dan lenyap setelah pintu berwarna coklat itu tertutup rapat.
Sedangkan Axel, hanya mengindahkan posisi duduknya sibuk dengan benda pipih dalam genggamannya, tak perduli bagaimana pengunjung wanita berdecap kagum melihat pesonannya. Nampak dingin dan masa bodo, mereka semakin penasaran setelah Axel menoleh sejenak lalu kembali menatap layar ponselnya membuat para wanita itu nyaris berteriak girang.
Axel tak peduli.
"Kak, bagaimana?"
Mendengar suara sang adik, Axel memutuskan kontak matanya dari ponsel miliknya ketika Meta sedang bergaya bak seorang model.
Axel menggeleng, "Terlalu ribet ini pertemuan santai bukan pesta, coba pakaian satunya lagi."
Meta kembali mengumpat, bertemu seorang Bara saja ia harus memilih pakaian yang pas untuk ia kenakan? Come on! ia merasa jika pria tampan itu tak sesempurna yang mereka lihat.
Dengan sangat terpaksa Meta kembali masuk ke dalam, kali ini tak perlu banyak memakan waktu karena dress yang ia kenakan cukup simple dari sebelumnya.
Meta nampak ragu, pertama kali dalam hidupnya ia berpakaian sefeminim mungkin bukan geli hanya saja ia tak percaya rupanya ia tak cukup buruk jika berpenampilan seratus persen seperti wanita. "Kalau sekarang bagaimana?"
Meta bergaya lucu, kedua jari telunjuknya ia kaitkan bersamaan seraya menyentuh dagu.
Axel terperangah, kedua maniknya tak berhenti menatap lurus ke arah Meta. Seperti seorang bidadari turun dari kayangan, setelah wanita itu membiarkan rambutnya tergerai bebas tanpa ada halangan. Semakin menyempurnakan penampilannya, Axel bergeming sejenak menetralkan degup jantungnya yang sedikit bermasalah.
Ini bukan pertama kalinya, ia melihat wanita cantik. Namun, perasaan aneh itu sedikit mengganggu di kala wanita itu adalah adiknya sendiri.
"Perfect." Axel berucap setelah sadar dari alam bawah sadarnya, "Sedikit polesan di wajahmu akan semakin sempurna."
Meta terus menyilangkan kedua tangannya, menyembunyikan keseksiaan dadanya yang sedikit terlihat. "Apa ini tidak berlebihan? aku sedang merasa akan di jual setelahnya."
Axel terbatuk-batuk dan mengacak pelan pucak kepala Meta, "Percayalah aku hanya ingin membuktikan bahwa kau itu sangat cantik dan Bara akan menyadari itu setelah melihatmu sekarang, maka bersiaplah membuatnya bertekuk lutut padamu."
Meta mendelik seraya mengamati dengan penuh selidik, kenapa ia harus membuat pria mayat hidup itu bertekuk lutut padanya? bau-bau mencurigakan mulai tercium alarm berbahaya mulai bereaksi, "Aku tak perlu membuatnya bertekuk lutut, kakak lupa yang aku butuhkan hanya menang dari taruhan menyebalkan itu."
Meta duduk santai di atas kursi di depannya banyak sekali peralatan make up dan wanita itu sudah sangat yakin tidak paham benda apa mereka sampai berserakan memenuhi meja, di depannya pantulam cermin dengan ukuran cukup besar menghipnotis Meta, ia sedikit terkejut melihat penampilannya saat ini.
"Kau cantik bukan? sedikit sentuhan bubuk ajaib kau layak menjadi seorang putri," bisik Axel dari arah belakang di balas tatapan mata melotot khas seorang Meta yang melihatnya dari pantulan kaca.
Meta mendengkus, "Setelah ini aku akan menghajarmu habis-habisan!"
"Aku menanti." Axel terkekeh.
***
13:00 WIB
Bara duduk santai dengan segelas Wine di tangan kanannya, beberapa kali ia menyesapnya perlahan. Aura wajah tak biasa memang menjadi ciri khas seorang Bara, ia seperti Protozoa yang berkembang biak dengan membelah diri. Seperti memiliki banyak kembaran, mata-matanya ia sebarkan di berbagai sudut.
Untuk berjaga-jaga lalu bersenang-senang.
Pertemuan pertama untuk awal pembalasannya, ia memilih tempat yang penuh privasi. Apartemen pribadinya itulah pilihannya karena Bara sangat tidak sabar melihat gadis tomboy itu secara langsung, "Sangat mendebarkan."
Bara merebahkan sejenak punggungnya setelah meletakkan gelas berisikan Red Wine di atas meja. Meremas sejenak dahinya lalu mendesah pelan, sekelebat siluet masa lalunya menoleh perlahan.
Bara segera beranjak bangun lalu mengumpat, "Axel!"
Ting!
Suara bel apartmennya berbunyi, Bara menoleh sesaat lalu menarik napas. Melangkah perlahan menuju pintu, setelah berhasil mengintip dari video intercom ia melihat seorang pria dan wanita sudah berdiri di sana.
Dengan senyuman menyeringai Bara menyambutnya, "Sudah lama menunggu?"
Tatapan kali ini hanya fokus satu arah yaitu wanita yang ada di samping Axel, Bara sedikit tertegun melihatnya sampai lupa jika wanita di hadapannya sudah mengepal sangat geram mendapatkan sebuah tatapan mesum dari pertemuan awal untuknya.
Beberapa detik tertahan dengan suasana geming, Axel angkat bicara. "Ini Meta Anderson," ucapnya dengan datar. Dan berbeda dengan Meta, wanita itu mendengus sesaat lalu memperkenalkam diri.
Ia menundukkan tubuhnya sembilan puluh derajat, " Perkenalkan saya Meta Anderson, senang bisa berjumpa dengan anda." uluran tangannya berhasil membuat pria di depannya tersadar dari lamunannya.
Meta mengernyit tak menduga dengan pandangannya saat ini seorang Bara Wijaya berjabat tangan dengannya, haruskan ia mencubit pipinya untuk segera terbangun dari mimpi? ia rasa ini bukan mimpi karena Axel sudah menyenggol lengannya saat kedua manik itu saling berpautan.
"Tidak perlu terlalu formal, panggil saja calon suami."
What the hell? calon suami?
Meta meyakini dirinya sendiri bahwa pria di hadapannya sedang lupa ingatan, dengan mudah ia menyuruhnya untuk memanggilnya dengan sebutan 'caon suami'
Minta di tonjok sepertinya, itulah kesimpulan Meta si wanita tomboy yang terkejut melihat wujud iblis aslinya, tak ada kesan datar justru ia merasa jika seorang Bara terkesan sangat menyebalkan dan pantas kena tabokan, Meta bersumpah akan menghajar pria maskulin di depannya.
Aku bersumpah akan menghajarnya karena menatap mesum ke arahku!
