Bab 3
Beberapa hari dari kekalahannya, Meta selalu menghindari kehadiran Rino. Jelas, ia harus menghindari pria itu jika tidak mulut pedasnya akan selalu mengolok-ngoloknya.
Seperti pagi ini, Meta berniat untuk sarapan pagi dengan memesan semangkuk bubur ayam langganannya. Belum sempat mulutnya mencicipinya orang yang ia maksud sebelumnya duduk tepat di hadapannya dengan nyengir kuda.
Shit!
Sebuah umpatan lolos di dalam hatinya, laripun percuma. Ia sudah tertangkap basah.
"Hai, sendirian aja neng?" Goda Rino dengan kedua tangan ia telungkupkan di atas meja, memang hobinya menggoda wanita terlebih wanita itu adalah dirinya Meta Anderson.
Meta mendengkus malas, Astaga! kenapa pria itu sangat menyebalkan. "To the point."
"Kau selalu galak padaku," ucap Rino merasa tak suka. Memang pria itu akui bahwa kedekatan mereka tak begitu harmonis, setidaknya dengan berbuat sedikit menyebalkan ia bisa melihat dan bertemu dengan wanita yang sedikit ia menyukainya.
Rino menyukai Meta, tapi wanita itu tak pernah merespon kode yang selalu ia berikan.
Rino berniat pergi tanpa melanjutkan pertanyaan mengenai taruhannya beberapa hari yang lalu, karena sejujurnya ia tak ikhlas jika Meta menikah.
Meta tak acuh dengan tatapan sedikit keheranan menyaksikan punggung Rino mulai hilang dari pandangannya, "Pria aneh." desisnya.
Kembali dengan semangkuk bubur yang hanya ia aduk-aduk tak karuan, pikirannya hanya berkutat dengan pria yang tak pernah ia bayangkan kehadirannya. Kata beberapa orang, Bara Wijaya sangat berkarismatik apalagi tatapan dinginnya mampu membuat siapa pun yang melihatnya semakin penasaran.
Semenarik itukah? sadar Meta, itu hanya bujukan author saja.
Berusaha membuyarkan pikiran-pikiran aneh yang semakin liar, kenapa harus mengarah ke pembahasan kemesuman? tak dapat di pungkiri jika seorang pria kaya pasti memiliki banyak 'wanita' dalam artian pemuas ranjang.
Meta kembali mendengus kasar lalu menyerah, ia tak berselera lagi dengan sarapan paginya. Belum bertemu saja pria itu seperti terus mengincarnya. Mete meremas pelipis mata, niat awalnya masuk kuliah namun salah satu teman prianya mengirim pesan whatsapp ada banyak jam kosong.
Good!
Berarti wanita yang tak memiliki kegiatan ini bisa kelayapan bebas sebelum akhirnya benda pipih dalam saku celana bergetar dan menghentikan beberapa kegiatan yang ingin ia lakukan, wanita yang berpenampilan sederhana itu akhirnya memilih untuk mengswipe tombol hijau dan berucap, "Hallo kak?"
"Kau di mana? kakak menunggu di pintu depan, aku tahu jam kosong hari ini."
"Kak, Meta lagi sibuk. Elah," sahutnya dari tempat berbeda.
Sebelum ia mengakhiri panggilan dari Axel secara sepihak, suara bariton khas milik kakaknya itu berhasil menarik semua umpatan yang nyaris ia lontarkan.
"Bara Wijaya menunggumu!"
Meta kembali menatap layar ponselnya, bersorak ria? ah, tentu saja tidak sebenarnya ini bukan kabar yang baik. Jika bukan karena taruhan, Meta memiliki waktu kedamaian yang jauh lebih lama lagi.
Mau tak mau wanita yang memakai celana jeans itu mengakhiri penyesalannya, setelah taruhan ini selesai ia berjanji akan memberikan pembalasan setimpal dengan Rino. Fokus merapikan sedikit surai miliknya yang berantakan karena tertiup angin, Meta memilih menggelungkan surai hitamnya.
"Terlalu feminim," ucapnya seraya menatap kaca di hadapannya. Sebenarnya ia merasa was-was siapa tahu ada seseorang yang muncul dari balik jendela mobil yang tengah ia manfaatkan untuk bercermin.
Cukup lama dengan perasaan absurd kenapa ia harus memperhatikan penampilannya sedemikian rupa? ini pilihan hidupnya, ini penampilannya. Whats wrong? dia hanya berjumpa dengan seorang pria kaya bukan dosen dalam mata kuliahnya, penampilan menarik? Tidak! mendengarnya saja terasa menggelikan bagi Meta.
Meta melangkah penuh percaya diri, kesan pertama untuk bertemu pria mayat hidup itu adalah meyakinkannya untuk menikah dengannya, Demi apa pun ia ingin sekali merebus si bastard Rino!
Dari sebrang jalan, mobil Range Rover berwarna hitam itu perlahan terbuka di bagian jendela mobil. Memperlihatkan seorang pria segera melambaikan tangan kanannya pelan, Axel sudah menunggu cukup lama sampai ia nyaris lumutan.
Meta setengah berlari masuk ke dalam mobil lalu cengengesan, "Sudah lama kak?"
Axel melepaskan kacamata hitamnya, "Nampaknya bagaimana baby?"
"Bisakah tidak berpenampilan terlalu mencolok seperti ini? atau sekali-kali bolehlah memakai kaos oblong lalu celana boxer menjemput adikmu ini."
"Why?" tanya Axel keheranan.
Meta meremas dahinya, kakaknya itu memang ganteng tapi sedikit lamban berpikir. "Cepatlah, malas berdebat dengamu!"
"Cieee, gak sabar bertemu calon suami?" goda Axel dengan menghidupkan mobilnya lalu perlahan mobil yang mereka tumpangi melaju perlahan.
Meta bergeming membalas godaan Axel hanya akan membuatnya lebih cepat tua, Meta menggenggam Seat belt yang melingkar di tubuhnya saat ini ia sulit mendeskripsikan perasaannya, yang jelas ia ingin lari dari alur novel ini.
"Kak? apa sebaiknya aku mengaku kalah saja dari pada harus menikah dengan mayat hidup itu?" dengan wajah memelas yang hanya ia ekspresikan di hadapan Axel berhasil membuat kakaknya harus menepikan mobilnya.
Axel menoleh, "Kau yakin? aku tak masalah."
Meta mengimbangi kembali ucapannya, Shit! ia tak serapuh itu. "Aku hanya bercanda kak," sahutnya dengan cengengesan.
Axel menarik napas lega, ia tahu jika adiknya itu masih belum cukup dewasa. "Sudah ku duga, maka bersiaplah dengan si mayat hidup itu."
Meta tertawa geli mendengar kata julukan itu di ucapkan oranglain, karena ia hanya mengucapkannya khusus. Keduanya diam sejenak sesaat lampu merah menghentikan laju mobilnya, nampak Meta ingin kembali bertanya dari gerak bibir yang lebih mirip seperti sedang komat-kamit.
"Ada apa?" Axel kembali bertanya sepertinya pria itu sudah membaca pikiran Meta sebelumnya.
Meta menelan salivanya, lalu menggaruk tengkuknya. "Anu-"
"Kenapa kakak bisa membuatnya mau menemuiku?"
Axel berubah ekspresi wajahnya, pria itu lupa dengan perjanjian terselubung demi menyelamatkan harga diri adiknya, Axel tak ingin mengecewakan Meta yang nyaris prustasi karena kalah taruhan, maka biarkan para pembaca saja yang tahu.
"Dia teman kuliah kaka." Dengan senyuman ringan Axel menjawabnya tak lupa ia perlahan mengelus puncak kepala sang adik. "Apapun demi kamu."
Meta merasa bergidig ngeri, "Kakak tidak jatuh cinta kepada ku bukan?" pertanyaan aneh, mau bagaimana lagi ia harus was-was dengan sikap sang kakak yang selalu memperhatikannya sangat berlebihan.
"Kalau iya memang kenapa?" Axel kembali menggodanya dalam hangatnya perbincangan antara kakak dan adik di sisi lain pria yang mereka maksud sebelumnya sedang menyesap kopi hangat dengan memandangi langi-langit, pria bernama Bara itu sangat antusias dengan penampilan Meta Anderson, adik dari teman kuliahnya yang kelam.
Dia sudah sangat kaya, menerima tawaran dengan harga satu pulau tropis miliknya pribadi. Padahal pria yang di juluki dingin itu memiliki lima pulau tropis pribadi kenapa repot-repot menerima tawaran yang bagi kalangannya mungkin biasa saja.
Bara terus menyesap kopinya tak sabaran, di iringi dengan senyuman smirk yang terpantul dari kaca tepat di mana ia berdiri rasanya tak sabar untuk 'menikmati' gadis yang berusia delapan tahun lebih muda darinya. Meski dingin ia masih butuh penghangat di atas ranjang, percuma kaya.
Seorang pria bernada suara berat itu terus memperhatikan teman bisnisnya. "Sangat tak sabar?"
Bara menyeringai, "Tentu saja, aku akan menghancurkannya."
Lawan bicaranya menggeleng lemah. "Dendam lagi? kapan selesainya?"
Bara membalikkan tubuhnya, melangkah pelan menuju lawan bicaranya yang sedari tadi duduk santai di atas sofa. "Sampai puas."
Singkat padat dan jelas.
