Bab 2
Seketika Meta menghujani pukulan ke arah wajahnya dengan menggunakan bantal, bukan hanya memalukan tapi sangat memalukan. Harus dia mulai dari mana? mendekati sang pria dingin dengan dan tanpa sengajaan? atau bertemu secara formal dengan berterus terang akan pertaruhan gila yang mereka lakukan semalam? atau pilihan terakhirnya dia menyusun strategi agar nampak seperti kecelakaan tanpa sengaja hanya untuk bertatap langsung dengan mimik wajah seorang Billionare tampan dari kota Bandung.
Meta menghela napas lalu menutupi seluruh wajahnya dengan bantal tak menghiraukan beberapa kali pintu kamar miliknya diketuk dari luar, sura bariton khas dari sang kakakpun berhasil membuat Meta kalang kabut beranjak dari posisi rebahannya, Meta mendengkus prustasi ini bukan hal yang tepat untuk mendapatkan siraman kalbu atau introgasi karena ulahnya semalam, Meta yakin jika Axel tahu balapan liar yang ia lakukan semalam.
Matilah kau! Meta mengumpat dengan racauan lemah, seharusnya ia semalam tidur nyenyak dan bermimpi indah itu jauh lebih baik. Meta menarik knop pintu dengan kembali mendengkus, "kak, aku gak budeg loh!" ucapnya dengan nada tak suka sebari bersidekap.
Pria bertubuh tinggi itu dan seksi itu tak begitu menghiraukan protes adiknya, dia memilih untuk segera mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. "Kau balapan lagi?"
Namanya Axel Anderson, dia adalah kakak kandung dari Meta Anderson mereka memiliki sifat yang berbeda, Axel memiliki sifat dingin sedangkan Meta lebih arogan dan susah di atur meski ia berjenis kelamin wanita.
Meta menjawab dengan anggukan kepala dan kembali berniat untuk merebahkan tubuhnya kembali. "Sebaiknya kakak pergi ke kantor, jangan sampai perusahaan bangkrut dan kita menjadi miskin."
"Dasar adik kurang ajar!" Axel menarik selimut tebalnya, dahi mulus Meta tak luput dari kejahilan sang kakak, Axel dengan santai menggetok dahi miliknya.
Meta meringis tak suka, Axel memang selalu melakukan hal demikian. " Dasar kakak laknat! ini jidat bukan pintu yang harus di ketuk, pantas saja sampai detik ini kakak masih jomblo!"
"Itu mulut minta di lakban ya?" Axel menanggapi gurauan sang adik, pria itu berdehem dan kembali dengan niat awalnya. " Kau belum menjawab pertanyaan kakak, malam tadi balapan lagi kan?"
Meta mengangguk lesu sebari mengerucutkan kedua bibir miliknya, sesaat siluet pertaruhan gila itupun muncul.
"Aku kalah."
Tanpa menunggu pertanyaan maraton dari kakaknya, Meta memilih untuk segera jujur agar perdebatan yang tak akan menemukan titik terang itu terjadi, Meta mengalihkan pandangannya ke sisi jendela yang masih tertutupi gorden, haruskah ia jujur saat ini?
"Lalu?" Axel antusias untuk kembali bertanya, tatapannya tak pernah berubah selalu dingin dan datar.
Meta terkesiap, gadis bersurai panjang itu sedikit emosi. " Kak kenal dengan Bara Wijaya?" tanyanya sebari mengikt surai miliknya asal-asalan, "Kenal tidak?" ia mengulangi pertanyaan dengan mimik puppy eyes.
"Tidak kenal."
"Masa kak? dia juga pembisnis seperti kakak." Meta menatap lekat wajah Axel berharap menemukan kebohongan dari jawabannya tadi.
"Dia teman kakak, why?" Axel mengurungkan niatnya untuk segra beranjak bangun dan ia kembali untuk duduk ditempat semula. "Tapi tidak dekat hanya kenal."
"Anu-" Meta menggantung ucapannya.
Axel mulai menerka-nerka, apa hubungan dari kalah balap liar dengan Bara? Axel di buat penasaran, " Apa hubungannya?"
Meta menggaruk tengkuknya, lalu menarik napas. "Janji tidak ada ledekan kali ini? ini sangat-sangat Emergency."
Axel memberikan jari kelingkingnya untuk menyepakati ucapan Meta, bahwa tidak ada ledekan lagi itupun kalau ia kuat menahan tawanya nanti.
Meta mempersiapkan diri beserta mentalnya, terutama gengsinya wanita itu membenarkan duduknya dan meyakinkan diri untuk menatap Axel. "Aku kalah taruhan, dan taruhan kali ini hadiahnya berbeda." Meta mulai memberanikan diri untuk menceritakan asal muasal pertaruhan gilanya dengan Rino, mau bagaimana lagi ia sangat membutuhkan bantuan Axel kali ini.
Axel mulai mencerna ucapan Meta, "Jadi taruhannya Bara? benar begitu?"
Meta menganggukkan kepalanya secara perlahan, ia menelan salivanya sebelum mengucapkan kalimat kedua. " Taruhannya adalah aku harus bisa menjadi istrinya." Meta memejamkan kedua maniknya dengan terpaksa, membiarkan deru napas beserta detak jantung berdetak kembali normal, ia harap-harap cemas menunggu jawaban dari Axel.
Astaga! kedua manik tajam milik Axel sangat menyeramkan, Meta perlahan membuka mata dan cengengesan. "Kakak bisa bantu tidak?"
Nyaris pria itu tertawa lebar namun urung mengingat janjinya tadi dan memilih menelan mentah-mentah kekehannya, pria itu kembali berusaha menahan kedua tangannya untuk tak menjahili adiknya, ia terlalu sayang. "Butuh bantuan?" tawarnya Axel.
"Bisakah ekspresimu itu sedikit lebih lembut? kalau seperti ini terus berasa di tatap oleh malaikat pencabut nyawa." ia mengalihkan topik pembicaraan, Meta harus berusaha tetap tenang agar mudah mencari solusi dari kebodohannya.
Axel mengelus puncak kepala adiknya dan tersenyum. "Kakak tidak bisa janji, karena kakak tahu sikap pria itu. Dia tidak begitu baik untuk adik kakak yang bar-bar ini."
"Huh, jadi pria baik itu seperti apa?" Meta bertanya penuh selidik, kedua nya terdiam sesaat. "Jangan bilang seperti kakak?"
Axel nyengir kuda dan sialnya ketampanan pria itu malah semakin bertambah, "Betul sekali."
"Nanti kakak cari tahu dulu mengenai Bara, kalau dia buruk kakak tidak akan membantumu dan kau jangan macam-macam berulah di belakang kakak."
"Siap bos "
Masalah selesai, Meta memilih untuk menunggu kabar baik dari Axel semoga saja ada kabar baik.
***
Di dalam ruangan berinterior nuansa biru dari mulai cat dan warna sofanya sangat serasi dengan tataan rapi, Axel tengah menduduki kursi kebngsaannya dengan pikiran-pikiran yang sama yaitu permasalahan yang diperbuat oleh Meta, benar-benar menyebalkan! Axel membatin, pria itu memainkan jemari tangannya di atas keyboard laptop.
"Bantu tidak?"
"Bantu tidak?"
Setelah kuliah selesai, Axel tak banyak mendapati informasi dari teman semasa kuliahnya itu mereka memiliki kesibukan masing-masing. Dan saat ini, mau tak mau ia harus menggali informasi kebenaran dari seorang Bara Wijaya ia tak ingin adiknya menikah dengan sembarang pria, Meta terlalu polos untuk disakiti.
Axel tak paham betul kenapa pertemanannya harus berakhir tragis, kali ini hal yang paling memberatkan pria berusia tiga puluh dua tahun itu harus menepati janjinya yang bodohnya ia tak memikirkan dengan sempurna bagaimana konsekuensinya.
Meta terlalu muda untuk menikah apalagi dengan Bara yang memiliki usia sama dengannya itu tandanya Meta harus menikah dengan selisih usia delapan tahun.
Axel menyandarkan punggungnya dengan meremas pelan dahinya, bukan penat atau lelah setelah bekerja. Rasa sakit yang menjalar di area kepalanya membuat Axel sedikit kesulitan mendapatkan ide untuk membantu Meta.
Damn!
Axel merasa jauh lebih sulit ketika ia mencari jodoh, sekarang ia sibuk untuk membantu adiknya yang kembali berulah tak tanggung-tanggung sang adik benar-benar membuatnya kalang kabut. Axel berusaha untuk menetralkan suasana hatinya apapun yang terjadi ia harus memisahkan urusan pribadi dengan pekerjaannya, dan menunda sejenak masalah yang harus menipa dirinya.
Axel fokus dengan setumpuk pekerjaannya, meski sesekali pria itu terus mendesah lelah.
Menyerahpun percuma, Axel tak ingin melihat Meta menderita dengan menikahi Bara namun Axelpun tak begitu yakin jika adiknya itu bersedia kalah melawan image-nya.
"Benar-benar menyusahkan!"
Axel menyerah hanya karena adiknya semua urusan pekerjaannya menjadi berantakan dan itu menyebalkan.
