Bab 1
Seperti biasanya Meta berpura-pura tidur ketika sang mama mengecek keberadaannya, sepertinya insting seorang ibu memang selalu kuat. Malam ini, tepatnya jam satu dini hari ia akan pergi menemui teman-temannya di ujung jalan, bukan tawuran melainkan balapan liar yang selalu Meta lakukan di akhir pekannya.
Meta memang terlahir dari keluarga yang cukup, semua kebutuhannya terpenuhi dan kedua orangtuanya sangat memanjakan Meta.
Meta memang sosok wanita manja yang berbalut dengan penampilan tomboy, maklum semua temannya hanya pria. Bahkan di universitas tempatnya kuliah tak ada satu wanitapun yang mendekati dirinya.
Katanya ia seperti monster, tampilan yang terlalu cuek seperti layaknya pengamen jalanan.
Masa bodo dengan julukannya, Meta merapikan posisi tidurnya agar ia nampak terlihat sedang tertidur pulas. Dugaannya benar, sang Mama mengendap masuk tanpa menekan saklar lampu, ia ingin memastikan bahwa gadis semata wayangnya tak kembali melakukan ulah.
Jam terus berdetik maju, suasana kembalo hening. Hentakan langkah kaki mulai lengap seiring dengan pintu kamar yang kembali terutup rapat.
"Aman," ucapnya setengah bergumama.
Meta menyibakkan selimut tebalnya, meraih benda pipih yang ia letakkan di atas meja nakas. "Sudah siap Bro?"
Di sebrang sana suara bising para kaum pria bersorak ria, menantikan kehadirannya untuk menaklukkan jalanan malam. Setelah menutup panggilannya, Meta menyiapkan diri lalu lompat dari jendela memang tak cukup tinggi hanya beberapa centi meter, dan bodohnya lagi kenapa kedua orangtuanya tak memindahkan kamarnya di lantai atas jika sudah lelah dengan ulah badungnya.
Meta menyiapkan mobil lain untuk balapan malam ini, bukan mobil kesayangannya yang ia sebut dengan Swety menggelikan memang namun itulah panggilan kesayangan Meta untuk mobil bermerk Honda jazz berwarna hitam.
Taruhannya si mobil kesayangan, mau tak mau Meta menyanggupi taruhan teman pria nya. Sejujurnya ia takut kalah, namun gengsi terlalu berdominan.
"Are you ready?" Meta berteriak ketika sampai di tempat kerumunan para manusia yang suka dengan kekacauan.
Suara sorak dan tepuk tangan menghangatkan suasan, Meta cukup populer dalam laju balapan liar. Dan jangan lupa penampilan tomboynya selalu menjadi cirikhas dari seorang Meta.
Tanpa basa-basi setelah kesepakatan itu terjalin, Meta masuk ke dalam mobil. kali ini ia membawa mobil sedan yang sebelumnya sudah di modifikasi, dengan percaya diri wanita itu mengacungkan jempol tangannya. "Aku akan menang bung!"
Dengan percaya diri Meta melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, kedua manik miliknya hanya terfokus ke atas aspal jalanan. Degup jantungnya berdetak semakin nyaman, sedikit mengalihkan konsentrasinya. Bukan ia tak siap hanya saja taruhan kali ini bukan hadiah mewah yang akan ia dapatkan. Dan Meta ingin mengumpat lalu menyumpahi siapapun orangnya yang seenak jidat membuat pertaruhan konyol yang bukan seleranya.
Menikah?
Come on! Usianya masih dua puluh empat tahun bahkan kuliah saja ia terasa ogah-ogahan. Kuliah di bidang hukum jelas bukan keinginannya jika bukan karena sang ayah seorang pengacara terkenal di kota bandung, ia memilih menjadi seorang montir mobil.
Kembali menuju jalanan, Meta semakin gelisah karena kecepatan mobilnya tak sebanding dengan musuhnya. Rino sudah melesat jauh di depannya. Meta bersusah payah untuk berusaha memenangi balapan kali ini, sayang keberuntungan tak selalu berpihak padanya.
Ia kalah dalam satu putaran.
"Damn!" Meta mengumpat dengan mencengkeram stir mobil kuat-kuat. Bukan hanya mobil kesayangannya yang raib melainkan harga dirinya ikut terseret.
Meta berniat menampakkam diri menerima kekalahan atas kesombongannya, wanita itu nampak tak bersemangat untuk menemui Rink si pembuat taruhan gila.
Rino mengulurkan tangan kanannya, "Kau siap menikah ladies jalanan?" ejeknya penuh percaya diri, akhirnya dendamnya terbalaskan setelah beberapa kali ia kalah dalam balapan.
Meta tak mengindahkan pandangannya, bahkan ia menepis pelan uluran tangan Rino. "Jangan pernah berpikir kau akan mengalahkanku!"
Meta mempertahankan image-nya dengan penuh percaya diri ia mengangkat kedua bibirnya, "Aku akan memenangkan taruhanmu, menikah dengan ceo pemilik perusahaan Bimbo Textile."
"Bahkan membuatnya jatuh cinta terhadapku!" Meta menambahkan ucapan bodohnya, jika bukan karena gengsi demi apapun ia tak ingin mendekati si ceo kaku itu.
Rino menepuk-nepukan kedua tangannya di ikuti oleh teman mereka yang lain, "Baiklah, kita menantikan undanganmu."
Meta merutuk dirinya sendiri, membuat pria kaku itu jatuh cinta terhadapnya? sepertinya itu bukan hal yang bagus.
Meta menoleh ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya sudah mendekatu jam empat pagi, wanita itu segera memgundurkan diri jika tidak bisa saja besok uang jajan bulanannya akan habis kena potong.
Meta memasuki mobil sedan itu dengan tergesa-gesa perasaannya bercampur aduk tak menentu, namun lebih condong ke dalam permasalahan yang akan ia hadapi.
Bagaimana ia mendekati Bara Wijaya?
