Bab 11
Golden Flowers Club
Suara dentuman musik yang di alunkan oleh seorang disc jockey mengalun merdu baginya, bagi seorang Bara tempat laknat inilah tempatnya mengadu.
Entah sudah berapa kali ia kesana, entah di saat ia setres, bersenang-senang atau menyalurkan hasratnya. Pria yang jarang tersenyum itu sangat misterius, Bara memang berkharismatik dengan rahang yang kokoh dan tatapan tajam dari kedua mata elangnya membuat siapa pun lawan jenisnya pasti akan bertekuk lutut padanya, itu hal yang biasa baginya.
Billionaire itu tak naif mengakui bahwa cinta satu malam atau bisa di bilang one night stand selalu menjadi andalannya, pria itu tak ingin berkomitmen atau terikat dengan satu wanita, pria itu hanya ingin hidup bebas. Meski ia berada di dalam negara hukum, sesekali berprilaku nakal tak apa, hanya di atas ranjang seorang iblis muncul dari tubuhnya, siapa menyangka malaikat yang sering dipuja-puja itu berbaur dengan iblis di dalamnya.
Malam ini ia duduk di meja dekat bartender di temani segelas Vodka pria itu nampak sedikit kacau, dengan sekali tenggak minuman beralkohol itu tandas dari gelasnya menyisakan rasa pahit dan panas di kerongkongannya, tak apa itu sudah hal biasa.
Bara mengedarkan mata elangnya untuk mencari mangsa dan matanya tepat sasaran, seorang wanita berambut pendek dengan gaun berwarna coklat serta belahan dada yang rendah menjadi sasarannya, tentu saja ia tak mungkin turun tangan. Bara menjentikkan jemari tangannya memberi tanda untuk sang manager segera menghadapnya.
Pria berkacamata itu lantas setengah berlari menghampirinya setelah mendapatkan kode, tentu saja Bara adalah tamu VVIP di nightclub yang cukup terkenal di kota yang ia tempati, "Jadi mana yang anda pilih, Tuan?" ucapnya sopan dengan setengah membungkukkan diri untuk mendapatkan jawaban.
"Tentu saja, bawa wanita itu dan ini uangnya." Bara memberikan isyarat dengan menunjuk jarak wanita yang ia maksud memang tak jauh dengannya dan nampaknya wanita itu sudah tahu.
"Baik, Tuan." Angguknya paham, pria berkacamata itu menjauh dan Bara melenggang pergi untuk masuk ke dalam kamar hotel yang masih satu bangunan.
Setelah menjauh dan ia menapakkan kedua kakinya untuk melangkah di lorong hotel, suasana kali ini lebih sepi dan sunyi sekejap siluet seorang wanita yang akan ia nikahi muncul tanpa permisi.
"Shit! kenapa aku menginginkannya, lebih tepatnya tubuhnya. Come on! Bara dia hanya gadis kecil!" gumamnya setengah meracau.
Bara meraih benda pipih dalam saku celananya, menekan satu nomor yang langsung terhubung dengan Username Jonathan, "Bawa wanita itu ke apartemenku."
Tut!
Panggilannya ia putus sepihak, pria itu tersenyum smirk dengan memejamkan kedua matanya sesaat, "Sepertinya aku menggilainya, mungkin ini karma."
***
Aaaaaaaaa?!" Meta berteriak cukup histeris.
sedangkan pria yang ia teriaki hanya tersenyum miring, "Bukalah."
Meta menggeleng cepat.
"C'mon Meta sebentar lagi kau akan menjadi isteriku akan biasa melihat penampilanku saat ini" tutur Bara tanpa dosa pria itu segera duduk di mini bar lalu menggoyang-goyangkan Red Wine dalam gelasnya.
Meta perlahan menurunkan kedua tangannya dengan tatapan malu-malu kucing, pemandangan menakjubkan. Dada bidang yang polos tanpa busana atau benang sedikitpun menampilkan kegairahan disana, surai yang setengah acak-acakan dan tatapan mata elang di temani warna biru terang semakin menghipnotis tubuhnya. Shit! rasanya ia ingin mengelus manja tubuh kekar itu lalu memanjakan diri di atas hipnotisnya.
Astaga Meta! terkutuk kau! sempat-sempatnya kau berpikir mesum di saat waktu yang tidak tepat jika pria itu mendengarnya, Malu sudah.
Tanpa ia sadari, tangan kekar itu sudah merengkuh pinggangnya dari belakang. "Kau sedang memandangiku nona, heh?" parfum musk yang lembut lalu aroma mint dari napasnya menyerang tengkuknya secara tiba-tiba. Semakin mengeratkan rengkuhan satu kecupan mendarat di bagian tengkuknya.
Cup!
Entah sejak kapan pria itu menyingkirkan surai panjangnya yang memang menutupi tengkuknya, Meta merasakan ada kupu-kupa dalam perutnya ketika hembusan napas itu masih di titik yang sama. Bahkan sentuhan itu kembali ia rasakan ketika Bara mengecup bagian pundaknya dengan perlahan dan cukup lama membuatnya melayang bebas tanpa beban.
Untuk pertama kalinya ia merasakan sentuhan seorang pria, Astaga! nikmat sekali jadi penasaran bagaimana merasakan miliknya. Tubuhnya masih kaku di sana tanpa penolakan yang seharusnya ia lakukan, Meta masih menikmati permainan yang pria itu lakukan tanpa perlawanan.
Di belakang Bara tersenyum smirk hanya dengan melihatnya dari jarak kejauhan junior miliknya sudah memberikan sinyal bahwa wanita di depannya sangat menggairahkan bagaimana permainannya di atas ranjang? sangat tidak sabar. Bara mengetatkan pelukannya agar semakin merapat, surai panjang yang sempat menutupi tengkuknya ia alihkan dengan perhelai, menampilkan tengkuk yang mulus dan aroma feminim semakin terasa memabukkan.
Bara tersenyum lalu mengecup kembali di bagian pundaknya, rupanya wanita dalam pengaruh kharismanya memakai gaun tanpa lengan dengan mudah ia menyaksikan kemulusannya di sana, Shit! hanya mengecupnya saja kebanggaan nya sudah menegang! Bara membatin tak karuan rasanya ia ingin segera menarik wanitanya lalu menikmatinya di atas ranjang.
Ketika kecupan selanjutnya siap kembali mendarat, Meta sedikit menggerakkan lehernya dan berhasil menghentikan aksi nakal sang Billionaire itu tanpa harus memberikan isyarat yang lebih. "Bisakah kau melepaskan pelukan ini?"
"Kenapa?"
"Aku sulit bernapas."
Bara terkekeh seksi, bukannya menuruti pria itu semakin gemas untuk mengetatkan pelukannya. "Kalau aku tidak mau?"
' Telpon kakak jika pria itu macam-macam ' haruskah ia menelpon Axel untuk membantunya? situasinya saat ini sangat membingungkan dan apalah sebutannya yang jelas ia kesulitan bernapas.
"Kau mau menelpon kakakmu itu, hem?" Bara semakin menenggelamkan wajahnya di tengkuk milik Meta, "Sudah ku amankan ponselmu."
Gedebug!
seperti terlempar dari atas tebing bersusah payah ia meraba tubuhnya sendiri namun kebodohan itu selalu melekat dari tubuhnya. Sejak kapan pria itu merampas tas yang ia kenakan? lalu harus bagaimana? situasi awkward saat ini benar-benar di luar dugaannya.
Coba kalian bayangkan, di belakangmu seorang pria dengan tubuh seksi sedang memelukmu intens tanpa memberikan jarak meski hanya satu centi meter saja, bertelanjang dada di tambah kemungkinan di bawah sana juga sama bertelanjang lalu aroma maskulinnya sangat menggugah gairah jika menghirupnya, menurutmu ini berkah atau musibah? author jadi pengen.
Meta berusaha untuk tetap tenang menghalau semua pikiran mesum yang semakin membuatnya resah di pikirannya Devil dan Angel saling beradu mulut memberikan komentar.
Devil
ayolah Meta rasakan yang lebih aku yakin kau akan ketagihan!
Angel
Jangan! ingat itu dosa, meski dosa indah.
Ada dosa indah? astaga! rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak jika perlu sebari berguling- guling di atas ranjang, suasana semakin mencekam karena ia sibuk berkutat dengan ambigu yang entahlah,memikirkan dan membayangkannya saja membuat siapa pun mengerti dengan suasana hatinya saat ini, Meta memejamkan mata ketika satu kecupan kembali memdarat lebih lama dan intens.
Tubuhmu menikmatinya sweety! batin Bara dengan senyum penuh kemenangan masa bodo dengan perlakuannya yang memalukan tadi, jujur saja ia sangat tak asabar untuk segera menyerang dan mendobrak paksa pertahanannya.
"Maaf, Mr. Bara yang terhormat bisakah kau hentikan perlakuan menjijikanmu itu?" Meta memantapkan hati untuk berdiri teguh menjaga kesuciannya, sebelum ia berdiri di atas altar pernikahan, jika sudah menikah mungkin ia akan mempertimbangkannya siapa tahu khilap bukan?
Bara mendekatkan wajahnya sampai Meta bisa merasakan dengan jelas hembusan napasnya, pria itu menyenderkan dagunya tepat di pundak kanannya lalu berbisik, "Tubuhmu berkata lain Sweety!"
Bugg!
Meta menyikut perutnya cukup keras sampai pelukan itu mulai terurai dan kesempatan baginya untuk melanjutkan penyerangan atas kelancangan yang telah pria itu lakukan.
Bugg!
Meta menendang kebanggaan milik Bara dengan dengkul kakinya.
"Aarrrggghhh!" Bara mengerang menahan nyeri di area sensitifnya lebih tepatnya kebanggannya. "Are you crazy?" decaknya tak karuan seketika rasa sesak menghampirinya.
Meta tertawa puas dan bangga tak sia-sia ia mempelajari ilmu beladiri, "Bagaimana rasanya tuan? sepertinya malam ini kau tak bisa berkencan di atas ranjang."
"Ini kebanggaanku, tanpanya mana mungkin akan ada Bara junior nanti!" Masih dengan erangan yang sayup-sayup mereda perlahan.
"Sebagai gantinya, kau akan menjadi teman kencanku malam ini di atas ranjang. Bagaimana Nona?"
