Bab 12
Meta siap memasang kuda-kuda untuk menyerangnya balik jika pria di hadapannya semakin bertekad untuk melakukan hal yang menjijikan nan mesum. Meta mengepalkan kedua tangannya, "Jaga ucapan anda Mr.Bara," ucapnya penuh dengan rasa was-was.
Bara dengan berani justru merentangkan kedua tangannya seraya cengengesan seperti bocah tanpa dosa, "Come on baby, aku hanya ingin kita berpelukan. Kau lupa bahwa mulai hari ini sampai delapan hari kita harus saling bersama? ku harap kau tak amnesia," ucapnya tepat sasaran melihat ekspresi wanita di hadapannya sangat terkejut.
'Delapan hari bersamanya?' Meta membatin sejenak dengan tatapan yang hanya fokus ke arah pria bertelanjang dada itu, Astaga! dada bidang itu sungguh seksi sekali, apalagi ketika naik turun kebawah. Hentikan Meta! kau ini kenapa, hah?
"Berhenti berpikir mesum, aku tahu tubuhku ini seksi." Bara berucap penuh percaya diri meski kenyataannya memang benar adanya. "Jadi sebelum mengenalku lebih jauh, bagaimana jika kau mengenal aktifitasku dulu di atas ranjang?"
"Eh? maksud anda?" Meta gelagapan kedua kaki jenjangnya memilih untuk melangkah mundur perlahan.
"Astaga! kau bukan anak berusia lima tahun, jadi kau pasti paham dengan ucapanku barusan." Bara kembali merentangkan kedua tangan kekarnya tanpa dosa siap menarik wanitanya masuk ke dalam kharisma nya dan ia berjanji untuk wanita yang satu ini ia tak akan pernah melepaskannya kecuali kematian.
Meta semakin gelisah, apakah maksud aktifitas di atas ranjang adalah berhubungan intim? Oh shit, dasar pria brengsek! setelah mendapatkannya aku yakin ia akan menendangku dari hidupnya, Meta kembali bergelut dengan batin serta otaknya yang terasa membeku melihat seluruh tubuh Bara membuatnya gerah, gerah dalam arti kata lain karena Meta yakin ruangan yang ia pijak bersuhu dingin oleh AC. Dan itu tak mungkin jika tubuhnya tiba-tiba panas karena cuaca.
Meta masih memundurkan high heels hitam yang ia kenakan perlahan namun pasti rupanya ia salah menilai jika seorang Billionaire di hadapannya itu seorang pria kaku dan dingin seperti mayat hidup, mendengar ucapan vulgarnya dan jangan lupakan jalang yang keluar dari apartemennya tadi dan mengatainya seorang Bitch begitu mengejutkan. Meta yakin jika pria di hadapannya penjahat kelamin, Sial!
Meta menelan salivanya seraya menetralkan degup jantungnya yang berpacu dua kali lipat, keringatnya mulai bercucuran dan deru napasnya tak beraturan seperti ia sedang lari maraton, pemandangan di hadapannya jauh lebih menyeramkan, senyuman menyeringai penuh tanda tanya, mata tajam seperti burung elang yang siap menerkam mangsanya, otot-otot yang memenuhi dadanya seperti bantalan empuk di atas ranjang dan rahang yang kokoh saat mengetat begitu seksi untuk di sentuh, Habis kau Meta! kau memperhatikannya sejak tadi.
Bara berdehem seraya mengelis helai rambut yang sempat menghalangi pemandangan di depannya, "Diam-diam memperhatikanku Nona?" Bara mengurungnya dengan kedua tangan kekarnya, ketika tubuh Meta sudah membentur meja pantry di belakangnya. Dan membuat tubuhnya sedikit terdongak ke belakang. "Kau paham dengan ucapanku sebelumnya?"
'Cepatlah, bekerja otakku sayang memangnya pria di hadapanmu ini mengajukan pertanyaan apa?' Meta kembali membatin mengulang memori ingatam sebelumnya untuk menjawab pertanyaannya dan mengusir suasana awkward saat ini yang sangat begitu jelas mengganggu degup jantungnya.
"Aku benar-benar tidak mengerti, bisakah kau jauhkan wajahmu itu?" Meta kembali dengan kesadarannya, kedua tangannya menekan dada bidang milik Bara berusaha untuk mengenyahkan tubuhnya yang cukup sesak karena tubuh mereka berhimpit sangat intens. "Aku bisa mati mendadak kalau seperti ini!" bentaknya.
Bara menautkan senyuman, mungkin menurut wanita lain senyuman itu sangat menghipnotis siapa pun orang di hadapannya, berbeda dengan Meta ia merasa bahwa senyuman smirk itu sangat menakutkan.
"Baiklah aku akan menjelaskan dengan singkatnya, kau ingin menikah denganku bukan?" Bara mulai bertanya.
Meta mengangguk.
'Jika bukan karena taruhan sialan itu aku sungguh tak ingin berurusan dengan pria sepertimu!' lanjut Meta dalam hati.
Bara menikmati reaksi yang tak biasa dari wanita di depannya, kebanyakan wanita yang telah merasakan 'kejantanannya' dan merasakan 'Permainannya' pasti akan kembali memohon untuk merasakannya lagi atau kebanyakn dari para wanita yang hampir seluruhnya menyerahkan tubuhnya dengan begitu saja tanpa embel-embel cinta melainkan karena harta, Bara akui jika hasratnya puas tertuntaskan dan permainan Si wanitanya sangat baik bahkan mengagumkan Bara tak segan-segan memberikannya sebuah hadiah apapun permintaanya akan ia turuti kecuali menikahinya atau menjalin sebuah hubungan.
Itu tak ada dalam kamus seorang Bara!
"Bukankah aku bilang kemarin, kau tak amnesia bukan? kau harus mengenalku terlebih dulu."
Meta ber oh-ria tak perduli dengan ucapan pria di hadapannya yang terkesan berbelit tak bisakah langsung ke intinya saja? sungguh pinggulnya mulai pegal karena menahan dorongan dari tubuh pria di hadapannya, posisinya yang setengah miring itu berhasil membuat pinggulnya sedikit nyeri karena tertekan cukup lama.
"Aku tak amnesia Mr.Bara, jika aku amnesia aku tak mungkin berada di hadapanmu! dan sekarang pinggulku sakit karena tubuhmu terus menekannya!!" ucapnya dengan intonasi tinggi seraya nyaris berteriak, ia sangat kesal dan benar-benar kesal tak bisakah pria itu langsung menyebutkan ke intinya saja kenapa harus berbelit seperti emak-emak yang pusing memikirkan harga sembako yang semakin melonjak naik.
"Bisakah langsung pada intinya saja? atau anda memang berniat ingin mematahkan pinggul saya?" Meta setengah mengegas ucapannya, seperti mobil sport yang siap melaju dengan kecepatan tinggi.
Bara tak merespon keluhannya, yang pertama pria itu tunjukkan adalah kembali tersenyum manis sangat manis dari sebelumnya.
'Kau pikir aku akan diabetes karena melihat senyumanmu yang kau buat-buat sangat manis itu? oh tidak, karena aku siap membeli banyak stok tropicana slim STEVIA gula rendah kalori agar aku tidak Diabetes ketika kau banyak tersenyum mencurigakan seperti ini! kok kamu jadi promosi sih Meta? Meta kembali membatin yang entah keberapa kalinya dan Meta yakin jika wajahnya sudah sangat memerah ketika Bara dengan sengaja semakin mendekatkan wajah tampannya.
Bara berbisik dengan napas seksinya, "Aku ingin kita melakukannya yaitu-" ucapannya ia sengaja terjeda.
"Berhubungan intim."
'What the fuck! pria ini sangat berbahaya. Bukan menjawab Meta kembali merutuk batinnya yang sengaja membungkam kedua mulutnya dan memilih diam saja ketika pria di hadapannya semakin mendekatkan wajahnya dan kini hidung mereka sudah saling beradu, tatapan Bara beralih pandang. Kalian pasti sudah menebaknya, Bara sudah mengincar bibir ranum di hadapannya yang membuatnya candu.
'Jangan saat ini Gusti! ulah! ulah! ulah! pokona mah ulah! saacan aya ucapan SAH! Meta merutuk batinnya yang kembali mengicau tak jelas, dia sangat grogi dengan sentuhan yang Bara lakukan.
Pria itu kembali meraih tengkuknya lalu menekannya untuk semakin memajukan wajah si empunya tengkuk, Bara semakin mendekatkan wajahnya sampai deru napas mint nya menyapu hangat wajah Meta, pria itu memejamkan mata perlahan dan siap mengecup candunya.
