BAB 4
BAB 4
HAPPY READING
___
Udara di dalam coffee shop terasa semakin hangat seiring berjalannya waktu. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi manis pastry yang baru keluar dari oven. Di balik jendela kaca yang mulai berembun, lalu-lalang pejalan kaki tampak samar, seolah menjadi latar yang jauh dari dunia mereka.
Flat white di tangan Alana masih mengepulkan uap tipis. Sesekali ia mengangkat cangkirnya, tetapi perhatiannya lebih banyak tertuju pada pria yang duduk di hadapannya. Percakapan mereka mengalir tanpa jeda yang canggung, berpindah dari topik ringan ke hal-hal yang lebih personal tanpa disadari.
Ada sesuatu dalam cara mereka saling bertukar pandang. Bukan ketertarikan yang terlalu terang-terangan, melainkan rasa penasaran yang tumbuh perlahan. Setiap pertanyaan seolah menyimpan makna lain di baliknya, setiap jawaban terasa seperti potongan kecil yang membuka lapisan baru tentang diri masing-masing.
Alana menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba terlihat santai. Namun sorot matanya sesekali bertemu dengan tatapan pria itu, lalu bertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Cukup lama untuk menimbulkan debar yang tak ingin ia akui.
Di tengah riuh rendah suara mesin kopi dan percakapan para pelanggan lain, meja kecil yang mereka tempati terasa seperti ruang tersendiri. Sebuah sudut kecil di tengah kota London yang sibuk, tempat waktu bergerak sedikit lebih lambat dan dunia di luar seakan kehilangan pentingnya.
Alana menyesap kopinya, lalu mengangguk pelan disertai senyum tipis yang mengundang.
“Kamu benar. Rasanya pas. Tidak terlalu manis. Aku suka kopi seperti ini,” bisiknya, suara lembutnya bergetar menyatu dengan desiran musik jazz.
Morgan tersenyum, memutar cangkir espresso di tangannya dengan gerakan lambat penuh gaya.
“Tebakanku jarang meleset. Apalagi soal rasa,” ucap Morgan, menatap Alana dengan sorot mata yang membuat kulitnya merinding.
Alana mendengus kecil, berusaha menyembunyikan senyumnya yang merekah, tapi matanya bicara lebih lantang. Morgan bersandar santai, tapi tatapannya tetap teguh, menembus jauh ke dalam jiwa.
“Kamu punya nomor ponsel?” Tanya Morgan.
Alana menoleh ke arah Morgan. Jemarinya yang semula melingkari cangkir kopi perlahan mengendur. Ada keraguan yang sempat singgah di wajahnya, tipis namun cukup jelas untuk ditangkap oleh seseorang yang memperhatikan dengan saksama.
Morgan tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak mendesak, tidak pula mengajukan pertanyaan lain. Pria itu hanya menunggu dengan tenang, membiarkan Alana mengambil keputusan. Sikapnya yang santai justru membuat suasana terasa lebih nyaman.
Alana mengembuskan napas pelan. Entah mengapa, ketenangan Morgan membuatnya lebih mudah menurunkan pertahanan yang biasanya selalu ia pasang saat berhadapan dengan orang baru.
Setelah beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya, ia meraih ponselnya dari atas meja. Layar menyala, memantulkan cahaya lembut ke wajahnya. Jemarinya bergerak pelan di atas layar, sementara suara ketukan halus terdengar di sela keheningan yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.
Morgan memperhatikannya tanpa komentar, memberi ruang bagi Alana untuk menyelesaikan apa yang ingin ia lakukan. Di luar jendela, gerimis London masih turun tipis-tipis, tetapi di dalam coffee shop, percakapan mereka seolah baru saja memasuki babak yang berbeda.
“Ada. Berapa nomormu?” jawab Alana pelan.
Morgan menyebutkan nomornya dengan suara nyaris berbisik. Alana mengetik cepat, dan notifikasi langsung muncul di layar Morgan. Dengan senyum nakal, ia mengangkat ponselnya, memperlihatkan layar yang bertuliskan.
“Alana – pecinta Murakami berleher sensitif.”
Alana tertawa tertahan, tangan terangkat menutupi wajah, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Astaga, kamu!”
Morgan tertawa bersama, suara itu dalam dan penuh kenikmatan—bukan sekadar permainan, tapi momen yang benar-benar mereka nikmati.
“Supaya kamu tahu aku bukan cowok Tinder yang ngaku punya bisnis tapi tinggal di basement,” ujar Morgan sambil mencondongkan badan pelan ke depan menghadap Alana.
“Kamu harus datang ke rumahku. Biar kamu percaya.”
Alana membelalakkan mata, terkejut sekaligus geli lalu seketika tertawa.
“Kamu serius?”
Morgan mengangkat bahu santai, “Serius. Tapi bukan hari ini. Aku tidak suka terburu-buru. Tapi suatu hari nanti, setelah kamu cukup percay, aku akan menculikmu seharian.”
Alana menahan tawa, menatapnya penuh tantangan. “Dan kamu pikir dengan bilang begitu aku jadi percaya?”
Morgan tersenyum penuh arti. “Tidak. Tapi kamu masih duduk di sini, jadi aku menyimpulkan kamu tertarik dan percaya aku.”
Tawa Alana akhirnya pecah, ringan dan tanpa dibuat-buat. Suara itu terdengar begitu alami hingga membuat sudut kecil coffee shop tersebut terasa lebih hangat. Untuk sesaat, hiruk-pikuk di sekitar mereka menghilang, tergantikan oleh percakapan yang mengalir semakin mudah.
Mereka kembali menyesap kopi masing-masing. Namun yang tercipta di antara mereka bukan lagi suasana canggung dua orang yang baru berkenalan. Ada rasa nyaman yang tumbuh perlahan, disertai ketertarikan yang belum diucapkan, tetapi sama-sama disadari.
Morgan memperhatikan Alana yang masih menyisakan senyum di bibirnya. Ia tidak terburu-buru. Sejak awal, tujuannya bukan untuk memikat dengan gestur berlebihan atau rayuan yang terlalu terang-terangan. Ada sesuatu yang lebih menarik dari itu.
Baginya, melihat Alana tertawa adalah kemenangan kecil yang jauh lebih berarti. Setiap senyum yang muncul, setiap lapisan pertahanan yang perlahan runtuh, membuatnya merasa semakin dekat dengan perempuan itu.
Morgan tahu hubungan yang baik tidak dibangun dalam semalam. Ada kepercayaan yang harus ditumbuhkan, ada cerita yang harus dibagikan, dan ada ruang yang harus diberikan. Malam itu bukan tentang mencuri momen, melainkan tentang menciptakan alasan agar mereka ingin bertemu lagi.
Dan entah mengapa, pemikiran itu terasa jauh lebih menggoda daripada apa pun.
__
Langit London mulai kehilangan warna saat sore beranjak menuju malam. Semburat jingga yang sejak tadi menggantung di ufuk perlahan memudar, digantikan oleh langit kelabu yang khas. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya keemasan di atas trotoar yang masih basah oleh hujan siang tadi.
Udara terasa dingin, membawa aroma tanah dan dedaunan yang baru tersentuh hujan. Sesekali angin berembus pelan, membuat orang-orang yang berlalu-lalang mempercepat langkah mereka menuju kehangatan masing-masing.
Morgan dan Alana berjalan berdampingan menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh lalu lintas pulang kerja. Tidak ada percakapan yang terburu-buru. Sesekali mereka bertukar cerita, lalu membiarkan jeda hadir tanpa merasa harus mengisinya. Anehnya, keheningan itu justru terasa nyaman.
Alana merapatkan mantel hitam panjang yang membungkus tubuhnya. Jemarinya menyelip ke dalam saku, berusaha menahan dingin yang mulai menggigit. Di sampingnya, Morgan berjalan santai dengan langkah yang mantap. Satu tangannya berada di saku celana, sementara tangan lainnya sesekali merapikan kerah jaket yang tertiup angin.
Mereka tidak bersentuhan. Bahkan jarak di antara mereka masih terjaga dengan sopan. Namun ada sesuatu yang sulit dijelaskan dalam cara mereka saling menyadari kehadiran satu sama lain. Tatapan yang bertemu sesaat, senyum kecil yang muncul tanpa alasan jelas, atau perhatian-perhatian sederhana yang terasa lebih berarti daripada seharusnya.
Di tengah keramaian kota yang tak pernah benar-benar tidur, langkah mereka berjalan seirama. Dan untuk pertama kalinya sejak hari itu dimulai, Alana merasa perjalanan pulang tidak lagi terasa terlalu panjang.
“Biasanya aku naik mobil,”ucap Morgan rendah, “tapi sore ini macet, jadi aku malas membawanya.”
Alana mengangguk, matanya menatap jalanan yang mulai basah berkilap. “Mmmmm.”
Morgan menoleh, tatapannya menyelinap singkat ke mata Alana. “Tapi naik kereta juga bukan pilihan.”
“Kenapa?”
Morgan meringis, senyum tipis menghias sudut bibirnya. “Terlalu sempit, bau, banyak homeless, mereka tidur di stasiun. Menyedihkan.”
Alana terdiam,“Kondisi sosial kota ini memang menyayat hati.”
“Exactly,” Morgan mengangguk, wajahnya sedikit berubah serius.
“Kadang kota besar menyimpan luka paling sunyi. Orang-orang hanya belajar berjalan melewatinya tanpa menoleh.”
Keheningan kembali hadir di antara mereka. Mereka berjalan berdampingan, membiarkan percakapan yang baru saja terjadi mengendap perlahan.
Bagi Morgan, beberapa menit terakhir memberi jawaban yang tidak ia duga. Alana tidak hanya mendengarkan untuk menjaga sopan santun atau mengisi jeda. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Cara perempuan itu menanggapi setiap cerita, mengajukan pertanyaan, dan menunjukkan kepedulian yang tulus membuat Morgan melihat sisi lain yang tidak langsung tampak dari luar.
Di balik penampilannya yang elegan dan kesan tenang yang selalu ia bawa, Alana menyimpan kelembutan yang jarang ditemukan. Bukan kelembutan yang lahir dari kelemahan, melainkan dari kemampuan memahami orang lain tanpa menghakimi.
Tak lama kemudian, langkah mereka melambat saat tiba di depan gedung apartemen tempat Alana tinggal.
Bangunan bergaya klasik modern itu menjulang anggun di salah satu kawasan premium London. Fasad batu berwarna terang berpadu dengan jendela-jendela tinggi yang memancarkan cahaya hangat dari dalam. Gerbang digital yang tertutup rapat, sistem keamanan berlapis, dan doorman yang berjaga di pintu masuk menunjukkan tingkat privasi yang tidak main-main.
Morgan mendongak sejenak, mengamati detail bangunan tersebut. Kemewahannya terasa elegan, tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa penghuni tempat ini terbiasa dengan standar hidup yang tinggi.
Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Alana.
Perempuan itu berdiri beberapa langkah di depannya, diterpa cahaya lampu jalan yang membuat rambut gelapnya berkilau lembut. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Hanya tatapan yang saling bertahan sedikit lebih lama dari biasanya.
Morgan tersenyum tipis. Dia menoleh pelan ke arah Alana, tatapan mata abu-abunya tajam sekaligus penuh arti. Satu tatapan cukup berbicara tanpa kata—
“Kamu tinggal di tempat yang indah,” ucap Morgan.
Alana tersenyum kecil, bibirnya bergetar halus. “Ayahku yang memilih tempat ini.”
Morgan menyipitkan mata, melangkah mendekat satu langkah. Jarak mereka kini nyaris lenyap. Napas mereka seolah saling bertukar udara.
“Kamu gadis yang dibesarkan dengan baik. Dimanjakan, dilindungi oleh ayahmu,” ucap Morgan.
“Tapi aku yakin, di balik semua itu, ada sisi dalam dirimu yang ingin melepaskan semua batasan itu.”
Alana menahan napas saat tatapan mereka bertemu sekali lagi. Ada kegelisahan yang berputar di dalam dirinya—campuran antara rasa ingin tahu, harapan, dan ketakutan yang belum mampu ia beri nama. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha melarikan diri dari perasaan itu.
Morgan memandangnya beberapa detik lebih lama. Sorot mata abu-abunya tampak lembut di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Lalu, dengan gerakan yang nyaris tak terduga, ia mendekat dan mengecup pelipis Alana sekilas.
Sentuhan itu begitu ringan, hampir seperti embusan angin. Namun entah mengapa, jantung Alana langsung berdegup lebih cepat. Kehangatan sederhana itu meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam daripada yang seharusnya.
Morgan mundur setengah langkah, memberi ruang di antara mereka. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
"Selamat malam, Alana."
Suaranya rendah dan tenang, tetapi cukup untuk membuat dada Alana terasa sesak oleh perasaan yang tak bisa ia jelaskan.
Sebelum ia sempat menjawab, Morgan sudah berbalik. Langkahnya santai menyusuri trotoar yang mulai lengang, meninggalkan Alana yang masih berdiri di depan gedung apartemennya.
Alana memperhatikannya hingga sosok pria itu perlahan menghilang di balik keramaian malam London. Baru setelah itu ia menyadari bahwa senyum kecil masih tertinggal di wajahnya.
Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya, tetapi entah mengapa hatinya justru terasa hangat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia pulang dengan seseorang yang terus memenuhi pikirannya.
___
Malam telah larut, Morgan akhirnya tiba di apartemennya di kawasan Mayfair. Dari balik jendela kaca setinggi langit-langit, gemerlap lampu membentang sejauh mata memandang, membentuk lautan cahaya.
Ruang tamu apartemen itu luas dan elegan, didominasi warna gelap yang memberi kesan tenang. Hanya lampu meja di sudut ruangan yang menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan lembut di atas lantai kayu berwarna gelap.
Morgan duduk di sofa kulit hitam favoritnya. Segelas whisky berada di atas meja, sementara pikirannya masih tertinggal beberapa jam yang lalu.
Alana. Nama itu kembali muncul tanpa diminta. Ia mengingat tawa perempuan itu begitu tulus, cara matanya berbinar ketika membicarakan sesuatu yang ia sukai, dan bagaimana ia berusaha terlihat tenang meski sesekali kegugupan masih tampak jelas. Ada sesuatu yang berbeda dari Alana—sesuatu yang membuat Morgan ingin mengenalnya lebih jauh.
Pemikiran itu membuatnya tersenyum tipis. Ia tahu Alana masih menyimpan banyak cerita yang belum sempat ia bagikan. Ada keraguan dalam dirinya, ada tembok-tembok yang dibangun perlahan selama bertahun-tahun. Namun Morgan tidak merasa perlu terburu-buru meruntuhkannya.
Morgan menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berhasil membuat pikirannya tetap sibuk bahkan setelah pertemuan mereka berakhir.
Dan Morgan tidak yakin apakah itu pertanda baik atau justru awal dari sesuatu yang akan mengubah banyak hal.
“Dia sebentar lagi akan menjadi milikku,” bisik Morgan, senyum tipis merekah di bibirnya.
Dengan gerakan tenang, Morgan mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto, dan menatap foto candid Alana di coffee shop sore tadi. Sinar matahari menyentuh lembut pipinya, menyorot senyum polos yang membuatnya terpesona sekaligus merasa hampir bersalah.
Jari Morgan mengusap layar ponsel itu perlahan, seolah menyentuh sesuatu yang manis, sementara pikirannya merajut rencana yang jauh lebih dalam.
Besok pagi, ia akan mengirim pesan undangan makan malam—restoran eksklusif dan privat, itu akan membuat Alana merasa sangat istimewa.
Hari berikutnya, bunga akan tiba di apartemennya. Bukan bunga mahal, tapi bunga sederhana penuh makna, dia akan memilih peony putih atau ranunculus—simbol cinta yang indah tapi berbahaya.
Senyum tipis itu penuh kemenangan, “Kamu akan jatuh cinta, Alana,” ucapnya lirih, “dan saat kamu benar-benar tenggelam...”
Ia berhenti sejenak, napasnya mengencang.
“Aku akan meninggalkanmu. Seperti ayahku ditinggalkan oleh Jordan.”
“Tapi sebelum itu...”
“Aku akan membuatmu menyerahkan semuanya. Tubuhmu, kepercayaanmu, bahkan harga dirimu.”
Morgan memadamkan rokoknya dengan gerakan penuh kendali, lalu bangkit dari sofa. Di walk-in closet yang rapi, ia membuka laci kecil berisi koleksi jam tangan dan kotak perhiasan yang belum tersentuh. Tangannya memilih sebuah kalung mutiara lembut dengan liontin bulan sabit.
“Mungkin ini terlalu cepat,” gumamnya, tapi senyumnya tetap penuh keyakinan.
Karena dalam permainan ini, romantisme hanyalah umpan. Dan Morgan King tahu kalau dia tidak akan pernah gagal.
___
Pagi London tampak pucat, udara dingin, dan cahaya matahari yang muncul malu-malu di balik deretan bangunan tua kota. Dari jendela apartemennya, Alana bisa melihat jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang yang bergegas memulai hari. Ia berdiri di depan cermin kamar tidur, memandangi bayangannya sendiri.
Sweater wol abu-abu membungkus tubuhnya dengan nyaman, dipadukan dengan celana hitam sederhana yang selalu menjadi pilihannya saat harus menghadapi hari-hari panjang di kampus. Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah.
Matanya masih menyimpan jejak kurang tidur. Semalam, pikirannya terlalu sibuk untuk benar-benar beristirahat.
Alana mengembuskan napas pelan sambil meraih tas yang tergeletak di atas kursi. Hari ini ia harus fokus pada kuliah, tugas, dan semua hal yang seharusnya menjadi prioritasnya.
Setidaknya itu yang berusaha ia yakini. Lamunannya terputus ketika bel apartemen berbunyi nyaring. Tak sampai beberapa detik kemudian, suara Lara terdengar dari luar pintu.
"Alana! Cepat! Kalau kita terlambat lagi, Profesor Sienna bakal benar-benar mengeluarkan kita dari kelas kali ini!"
Nada panik yang berlebihan itu membuat Alana tersenyum kecil. Ia membuka pintu dan mendapati Lara sudah berdiri di sana dengan secangkir kopi di tangan dan ekspresi dramatis yang sangat khas dirinya.
"Kamu selalu menganggap semuanya sebagai keadaan darurat," komentar Alana sambil mengambil jaketnya.
"Karena hidup memang darurat," sahut Lara tanpa ragu. "Terutama kalau nilai akhir sudah di depan mata." Alana lalu tertawa pelan.
___
Beberapa jam kemudian, setelah kelas dan presentasi yang melelahkan akhirnya selesai, Alana dan Lara memilih duduk di taman kecil di tengah kampus. Rumput masih basah oleh embun pagi, sementara sinar matahari yang mulai menghangat perlahan mengusir dingin yang sejak tadi menggantung di udara.
Mahasiswa berlalu-lalang di sekitar mereka. Ada yang terburu-buru menuju kelas berikutnya, ada yang duduk berkelompok sambil menikmati kopi, dan ada pula yang sekadar menikmati pagi yang cerah—sesuatu yang cukup langka di London.
Alana menyandarkan tubuhnya ke bangku kayu. Untuk pertama kalinya sejak bangun tidur, ia merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Lalu ponselnya yang tergeletak di atas pangkuan tiba-tiba bergetar. Satu notifikasi masuk. Refleks, ia menunduk. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Morgan.”
Hanya satu kata sederhana yang terpampang di layar.
Good morning, Alana. Hope your day starts better than London's weather.
Tanpa sadar, senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Dan untuk alasan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan pada dirinya sendiri, pagi London yang dingin itu tiba-tiba terasa jauh lebih hangat. Lalu muncul notif lagi.
Semoga harimu berjalan dengan baik, meski aku yakin kepalamu penuh tugas. Kalau kamu mau, izinkan aku menculikmu malam ini. Dinner? Hanya kamu dan aku.
Alana menatap pesan itu lama, detak jantungnya berirama pelan di dada, seperti nada yang mengusik sunyinya pagi. Ada getaran kecil yang menjalar, sulit dijelaskan namun terasa nyata.
Lara yang duduk di samping, menangkap perubahan itu. “Wajah kamu mulai berubah. Ada apa?” tanyanya, matanya menyorot tajam.
Alana berusaha menyembunyikan senyum samar, tapi sia-sia. “Apa?” jawabnya, bingung sekaligus enggan mengaku.
Lara meraih ponsel Alana, membaca pesan itu cepat, lalu menatapnya dengan campuran penasaran dan geli. “Morgan? Yang kamu ceritakan minggu lalu? Si pria misterius yang suka Oscar Wilde dan berani-beraninya mencium lehermu sebagai perkenalan?”
Alana menutup wajahnya, pipinya memerah. “Iya,” gumamnya, suaranya bergetar tipis.
Lara terkekeh, suara riangnya bercampur godaan. “Dan dia ngajak kamu dinner malam ini?”
Alana mengangguk pelan, masih terbelenggu ketegangan yang tak sepenuhnya dia mengerti. “Menurut kamu aku harus gimana?”
Lara mengangkat bahu santai. “Kalau cuma mau dinner dan ngobrol, kenapa nggak?”
Alana menunduk, matanya kembali pada layar ponsel yang masih menyimpan pesan Morgan. Alana menarik napas, berkata pelan, “Aku nggak tahu dia serius atau cuma main-main.”
Lara menatapnya dengan serius. “Mau tahu pendapatku?”
“Apa?” Tanya Alana.
“Dia nggak main-main. Tapi percayalah, dia juga berbahaya.”
Diam sejenak. Pagi yang dingin berubah jadi hangat oleh keputusan yang mulai terbentuk.
“Jadi, aku terima ajakannya?”
“Dinner?” tanya Lara sekali lagi, penuh antisipasi.
Alana tersenyum tipis. “Iya.”
“Why not? Daripada kamu seharian di apartemen, lebih baik berkencan, kan.”
___
