BAB 5
BAB 5
HAPPY READING
___
Alana menatap layar ponselnya, kata-kata Morgan terngiang jelas di kepalanya. Ia membaca ulang pesan itu berulang kali, seolah mencoba meraba makna terselubung di balik undangan yang terdengar manis namun penuh misteri.
Alana meletakkan ponselnya di meja dengan perlahan, lalu menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung yang berdebar cepat.
“Lara, aku perlu bantuanmu,” ucap Alana.
“Alana Striker, pewaris takhta bisnis gelap ayahnya, kini akan berkencan dengan pria misterius yang mungkin psikopat, mungkin miliarder, atau malah keduanya,” goda Lara sambil membuka lemari pakaian Alana dengan penuh semangat.
“Lara!” Alana tersenyum samar, sedikit risih.
“Oke, oke!” Lara tertawa. “Kamu mau tampil manis, menggoda, atau mematikan malam ini?”
“Aku nggak mau kelihatan murahan. Tapi juga nggak pengin kayak mau ngumpul keluarga,” jawab Alana, mencoba tegas.
“Jadi kamu mau jadi versi dirimu yang bikin dia pusing mikirin kamu sampai malam?” Lara mengangkat beberapa pilihan pakaian. “Aku bawa tiga opsi maut: satin biru tua, slip dress backless, atau jumpsuit emerald dengan potongan rendah.”
Dengan gaya dramatis, Lara mengacungkan slip dress hitam itu, “Kalau kamu pakai ini, kamu langsung jadi wanita yang mampu menaklukkan pria mana pun.”
Alana mengangkat alis, senyumnya penuh tantangan, “Aku mau dia ngomong bicara jujur, bukan malah kehilangan kendali karena aku pakai baju sexy ini Lara.”
“Oh, honey,” balas Lara dengan senyum penuh kemenangan, “kadang pria justru bicara jujur saat kehilangan kendali.”
Tawa ringan keluar dari bibir Alana, tapi di dalam dadanya mulai terasa berat. Apakah dia benar-benar siap? Apakah ini terlalu cepat? Namun di sisi lain, ada bagian dirinya yang haus akan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Alana mengambil slip dress hitam itu, menggenggam erat di tangan Lara, lalu berdiri di depan cermin.
“Yang ini,” ucap Alana.
Lara bersiul pelan sambil tersenyum nakal, “Morgan bakal berdoa setiap malam, agar kamu mau tidur di kamarnya.”
Alana hanya membalas dengan senyum tipis, tapi matanya seolah terselubung oleh pertanyaan yang tak berani ia jawab.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu—pria itu bukan hanya akan membuatnya tinggal di kamarnya. Morgan bisa membuatnya menyerahkan segalanya.
___
Sore mulai tiba, Morgan berdiri di tengah ruang utama restoran yang telah ia bangun bertahun-tahun lalu. Restoran belum terlalu ramai karena bukan jam makan malam. Beberapa staf masih bergerak tenang di antara meja-meja, memastikan setiap detail berada pada tempatnya sebelum para tamu berdatangan.
Interiornya didominasi nuansa gelap yang elegan. Dinding berwarna arang, sentuhan kayu walnut, dan pencahayaan hangat menciptakan suasana intim yang menjadi ciri khas tempat itu. Dari pengeras suara tersembunyi, alunan jazz mengalir pelan, menyatu dengan denting gelas dan langkah para pelayan yang nyaris tak terdengar.
Morgan mengamati ruangan itu dengan saksama. Bukan karena ia perfeksionis. Baginya, pengalaman selalu dibangun dari detail-detail kecil yang sering kali luput diperhatikan orang lain.
Linen hitam terpasang sempurna di atas meja. Piring porselen dengan desain minimalis tersusun rapi. Gelas kristal berkilau di bawah cahaya lampu gantung yang temaram. Tidak ada yang berlebihan, tetapi semuanya terasa tepat.
Tatapannya berhenti pada salah satu meja di dekat jendela. Meja yang secara tidak langsung sudah ia pilih sejak pagi. Jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 17.22. Masih ada waktu. Morgan melirik ke arah manajer restoran yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kurangi sedikit pencahayaan di area tengah," ujarnya tenang. "Biarkan suasananya lebih hangat menjelang malam."
"Baik, Mr. Morgan."
Ia mengangguk tipis. Beberapa menit kemudian, lampu-lampu utama diredupkan perlahan. Cahaya keemasan dari lampu dinding dan lilin-lilin kecil di atas meja mulai mendominasi ruangan, menciptakan suasana yang lebih intim tanpa kehilangan kesan elegan. Morgan memperhatikan hasilnya sejenak. “Sempurna.”
Namun pikirannya tidak benar-benar tertuju pada dekorasi, pencahayaan, atau menu malam itu. “Alana.” Sejak pagi, nama itu muncul berkali-kali dalam benaknya. Sesekali saat memeriksa laporan keuangan, saat mencicipi menu baru dari kepala chef, bahkan ketika sedang menghadiri rapat yang seharusnya menuntut seluruh perhatiannya. Namun nama wanita itu cukup mengganggunya.
Jujur ia tidak terbiasa memikirkan seseorang sebanyak ini. Ia menatap keluar jendela restoran. Langit London mulai berubah warna, perlahan bergeser dari abu-abu pucat menuju biru gelap khas senja.
Sebuah senyum kecil terukir di wajahnya. Mungkin malam ini tidak akan berbeda dari malam-malam lainnya. Atau mungkin justru sebaliknya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Morgan mendapati dirinya akan berkencan dengan seorang wanita.
Morgan melangkah ke meja, menyentuh punggung kursi tempat Alana akan duduk malam ini. Ia membayangkan garis leher halus yang akan bergetar saat menyentuh bibir gelas anggur, tangan kecil yang bertaut di atas meja, dan mata yang mencoba menafsirkan maksudnya—namun selalu tersesat dalam tatapan tajamnya.
Posisi duduk Alana dibuat sedikit lebih rendah—sebuah permainan dominasi halus yang telah Morgan rancang. Dalam jarak itu, ia yakin, Alana akan jadi pusat perhatian, matanya tak akan lepas darinya, dan secara tak sadar, akan mencari keberadaannya di setiap sudut ruangan.
Morgan memanggil staf lagi. “Putar Chet Baker, volume rendah. Aku ingin suara kami yang berbicara, bukan musik.”
Menatap botol anggur merah di tangannya, Morgan tersenyum samar. “1996 adalah tahun di mana Striker Group hampir runtuh sebelum ayah Alana melepas dua perusahaannya. Salah satunya milik keluarganya. Ironi manis, bukan?”
Tangannya mengusap label botol, lalu matanya menangkap pesan di ponsel: Dinner sounds good. No kidnapping, okay? I’ll come willingly.
Morgan melangkah ke dapur belakang, meneliti menu dengan cermat. Amuse-bouche: tiram segar dengan mousse lemon yang menggoda selera. Hidangan utama: wagyu lembut dengan saus red wine pekat dan foiegras dan tak terlupakan. Penutup: panna cotta dengan jeruk rasanya manis.
Bukan soal makanan malam ini. Ini tentang menciptakan panggung sempurna agar Alana lupa bahwa dia perlahan melangkah masuk ke jaring permainan yang sudah rencanakan.
Morgan duduk kembali, menatap foto Alana di layar ponselnya. Matanya menyipit penuh harap dan rencana.
Dia hanya perlu duduk di sana, di hadapannya, dan membiarkan malam ini menjadi awal dari. sesuatu yang tak terduga—dan tak bisa lagi dihindari.
___
Pukul 18.58. Sebuah Rolls-Royce hitam berhenti di depan gedung apartemen Alana. Mesin mobil tetap menyala pelan. Di balik jendela berlapis kaca gelap, suasana hangat menyelimuti interior yang didominasi kulit hitam dan aksen kayu walnut. Aroma cedar dan sandalwood yang samar memenuhi ruang, menciptakan kesan nyaman.
Beberapa saat kemudian Morgan keluar dari mobil. Setelan berwarna arang membingkai posturnya dengan sempurna. Kerah kemeja abu-abu muda terbuka pada satu kancing teratas, sementara dasi yang biasanya terikat rapi sengaja dibuat lebih longgar.
Pintu lobi apartemen terbuka. Morgan mengangkat pandangan. Alana muncul dari balik pintu kaca, melangkah perlahan menuruni beberapa anak tangga menuju trotoar. Mantel wol panjang berwarna hitam membungkus tubuhnya dari udara malam yang dingin. Saat ia berjalan, ujung mantel itu bergerak lembut mengikuti langkahnya.
Morgan tidak segera berbicara. Tatapannya berhenti beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Malam itu, Alana terlihat berbeda, wanita itu terlihat semakin menawan.
Alana menghentikan langkah di hadapannya. Senyum kecil muncul di bibirnya.
"Kamu datang lebih cepat."
"Aku tidak suka membuat orang menunggu," jawab Morgan ringan.
"Atau kamu yang terlalu perfeksionis?"
Morgan terkekeh pelan.
"Mungkin sedikit."
Untuk sesaat mereka saling memandang, membiarkan keheningan singkat hadir di antara mereka. Kemudian Morgan membuka pintu mobil untuknya. Namun sebelum Alana masuk, pria itu berkata pelan,
"Kamu terlihat cantik malam ini."
Pipi Alana menghangat seketika. "Terima kasih," jawabnya, berusaha terdengar santai meski senyumnya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Morgan membalas dengan senyum tipis. Morgan membuka pintu mobil memberi ruang bagi Alana untuk masuk terlebih dahulu. Saat pintu tertutup, dunia luar seakan lenyap.
Mobil mulai melaju pelan, membelah malam menuju distrik restoran rahasia yang hanya dia tahu. Suara mesin hampir tak terdengar, menyisakan keheningan penuh ketegangan yang mengalir di antara mereka.
“Tentu aku berterima kasih karena kamu menerima undanganku,” ucap Morgan dengan nada hangat yang menyentuh.
Alana menatap keluar jendela, hatinya bergolak. “Aku hampir tidak mengiyakan.”
Morgan tersenyum tipis penuh makna. “Aku juga hampir tak percaya kamu mau.”
“Tapi aku penasaran bagaimana rasanya makan malam denganmu.”
Alana menoleh, tatapannya bertemu dengan mata Morgan yang intens. “Penasaran itu berbahaya,”
Morgan membalas dengan suara menggoda, “Tapi juga indah.”
Jarak di antara mereka kian mengecil, seperti undangan bisu yang tak terbantahkan untuk memasuki dunia malam penuh gairah dan misteri.
__
Mobil berhenti di sebuah jalan kecil yang tenang, jauh dari keramaian pusat kota. Dari luar, bangunan yang mereka datangi tampak seperti galeri seni eksklusif—fasadnya sederhana, jendelanya tinggi, dan papan namanya nyaris tak terlihat di bawah cahaya lampu malam. Alana menatap sekeliling dengan rasa penasaran.
"Ini restorannya?" tanya Alana.
Morgan hanya tersenyum sebelum berjalan lebih dulu menuju pintu utama. Seorang pelayan berjas hitam segera membukakan pintu untuk mereka. Begitu melangkah masuk, Alana menyadari bahwa tempat itu jauh lebih besar daripada yang terlihat dari luar.
Mereka melewati sebuah galeri kecil yang dipenuhi lukisan kontemporer dan instalasi seni modern. Cahaya hangat menerangi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang tenang dan intim. Di ujung koridor, sebuah pintu kayu besar terbuka perlahan, memperlihatkan ruang makan utama yang tersembunyi di baliknya.
Alana berhenti sesaat. Lampu gantung berwarna emas memancarkan cahaya lembut yang menyelimuti setiap meja. Musik jazz mengalun pelan di latar belakang, cukup terdengar tanpa mengganggu percakapan. Aroma mentega, rempah, dan roti yang baru dipanggang menguar dari arah dapur terbuka, menciptakan kehangatan yang langsung terasa begitu mereka masuk.
Tidak banyak orang di sana. Bahkan nyaris tidak ada. Alana menoleh ke arah Morgan.
"Tempat ini sepi sekali."
Morgan berjalan santai di sampingnya, kedua tangannya masuk ke saku celana.
"Itu memang sengaja."
Alana mengernyit.
"Sengaja?"
Senyum tipis muncul di wajah Morgan.
"Malam ini, restoran ini tidak menerima reservasi lain selain aku."
Alana menghentikan langkahnya.
"Kamu serius?"
"Sangat serius."
"Tunggu." Alana menatapnya tidak percaya. "Jangan bilang seluruh tempat ini..."
"Hanya untuk kita malam ini," jawab Morgan.
Nada suara Morgan tetap tenang seolah itu hal yang biasa. Sebaliknya, Alana justru terdiam beberapa detik.
Tatapannya berkeliling ruangan sekali lagi. Cahaya hangat, meja-meja yang tertata sempurna, alunan musik yang nyaris seperti bisikan, dan suasana yang terasa begitu personal. Tiba-tiba jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Morgan menarikkan kursi untuknya sebelum berkata pelan,
"Aku hanya ingin kita bisa makan malam tanpa gangguan," ucap Morgan.
Tatapan mereka bertemu sesaat. Dan entah mengapa, di tengah ruangan yang nyaris kosong itu, Alana merasa suasana di antara mereka justru terasa semakin penuh.
Alana menoleh, tatapannya bertemu mata Morgan yang tajam. “Kamu menyewa restoran?”
“Saya pemiliknya,” jawab Morgan santai, seolah itu hal kecil, seperti memberitahu dia punya secangkir teh di tangan.
Pelayan segera menarik kursi untuk Alana, sementara Morgan duduk di seberangnya dengan posisi yang sedikit lebih tinggi, mempermainkan jarak dan dominasi halus. Di tengah meja, sebuah vas kecil berisi bunga ranunculus putih—lambang penuh misteri.
Alana menyentuh bunga itu dengan ujung jarinya, lalu bertanya, “Bunga itu artinya apa?”
Morgan menatap bunga itu sesaat, kemudian beralih pada Alana dengan tatapan penuh rahasia, “Pesan tersembunyi. Perasaan yang belum diungkapkan.”
“Apa yang kamu sembunyikan, Morgan?” suara Alana sedikit serak, campuran penasaran dan waspada.
“Banyak,” jawab Morgan sambil menyesap anggurnya pelan, “Tapi malam ini, aku mungkin akan memberimu satu potong kecil dari itu.”
Alana meneguk anggurnya dengan hati-hati, dadanya berdebar. “Aku belum yakin apakah aku penasaran atau tidak.”
Morgan tersenyum tipis, setengah menggoda, “Tapi kamu tetap datang, itu tanda kamu ingin tahu.”
Diam sejenak. Hening itu bukan canggung, melainkan penuh ketegangan, lapisan perasaan yang tak terucap tapi terasa mengambang di udara. Saat hidangan pertama diantarkan, Morgan dengan lembut menyendokkan saus ke piring Alana.
“Kamu sering melakukan ini?” tanya Alana pelan.
“Apa menyusun makan malam ini seperti pentas orchrestra?” jawab Morgan dengan tawa pelan yang menggoda.
“Tidak.”
“Aku menyukai keindahan, Alana,” ucap Morgan.
Jeda singkat. “Jadi, kamu seniman atau manipulator?”
“Kadang keduanya sulit dibedakan. Tergantung siapa yang melihat,” ucap Morgan dengan tatapan penuh arti.
Alana menunduk, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Malam itu belum ada sentuhan kulit, belum ada ciuman, belum ada tangan yang menjelajah. Tapi dia tahu, perlahan—tanpa kata—ia sedang ditelanjangi, disingkap satu demi satu oleh tatapan dan aura yang memikat sekaligus menggoda.
__
Malam semakin larut, sementara percakapan mereka mengalir tanpa terasa. Piring-piring utama telah lama disingkirkan, digantikan oleh gelas dessert wine yang berkilau lembut di bawah cahaya lilin. Suasananya tenang, tetapi bukan keheningan yang canggung. Justru sebaliknya—ada kenyamanan yang perlahan tumbuh, membuat waktu terasa bergerak lebih lambat.
Di hadapan Alana tersaji panna cotta yang nyaris menyerupai karya seni. Lapisan sirup jeruk darah berwarna merah keemasan memantulkan cahaya temaram, sementara kelopak mawar kristal menghiasi bagian atasnya dengan elegan. Aroma citrus yang segar bercampur dengan manis vanilla dan sentuhan floral yang lembut, menciptakan perpaduan yang sulit diabaikan.
Alana menatap hidangan itu beberapa saat sebelum tertawa kecil.
"Rasanya sayang kalau harus dimakan."
Morgan yang duduk di seberangnya memperhatikan ekspresi itu dengan senyum tipis.
"Aku setuju," ucap Morgan.
Alana mengangkat alis. "Setuju?"
Morgan mengangguk pelan. Tatapannya beralih sejenak ke panna cotta sebelum kembali padanya.
"Beberapa hal memang terlalu indah untuk dirusak."
Ada sesuatu dalam cara Morgan mengatakannya yang membuat Alana merasa kalimat itu tidak sepenuhnya ditujukan pada makanan di atas meja.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia segera menunduk, menyembunyikan senyum yang mulai muncul di bibirnya, lalu mengambil sendok kecil di samping piring.
"Kalau begitu, aku akan mencoba merusaknya dengan sangat hati-hati."
Morgan terkekeh pelan. "Pilihan yang bijak."
Cahaya lilin memantul di gelas-gelas kristal di antara mereka. Namun di meja kecil itu, dunia terasa menyempit menjadi dua orang yang masih berusaha memahami apa sebenarnya yang sedang tumbuh di antara mereka.
Alana mengangkat alis, senyum menggoda setengah tersipu, “Kamu selalu ngomong soal dessert se-berat itu?”
Tawa pelan melepaskan kehangatan di antara mereka, mengalun ringan, membuat udara terasa lebih pekat, lebih panas.
“Panna cotta ini bikin aku ingat sesuatu,” ucap Alana sambil menusuk lembut bagian tengah dessert, hampir tanpa sengaja.
“Apa?” Morgan menyandarkan diri, matanya masih mengunci gerak-gerik Alana.
“Satu adegan di Maxton Hall,” jawabnya sambil tersenyum menggoda.
Morgan mengerutkan kening, suaranya rendah dengan sentuhan sarkasme, “Kamu nonton? Serial Netflix itu yang isinya anak-anak kaya dan skandal-skandal konyol?”
“Ya,” jawab Alana singkat.
“Aku juga nonton, hanya penasaran aja, karena semua wanita di internet tiba-tiba mengutip ucapan peran utamanya,” Morgan menyeringai sinis.
Alana tertawa kecil, “Kamu pasti ngomongin James Beaufort.”
Morgan mengangkat alis, menatap dalam, “Ya, si tokoh utama. Arrogan, luka masa lalu belum sembuh dan charming.”
“Persis seperti seseorang yang duduk di depanku,” balas Alana dengan godaan terselip di bibirnya.
Morgan menatap dengan mata berkilat, “Begitu ya?”
“Ya. Kamu punya aura mirip. Tenang, dominan, tapi menyimpan trauma dan rahasia,” bisik Alana.
Tatapan Morgan menusuk, “Apa kamu suka karakter seperti itu, Alana?” tanyanya pelan.
Setelah jeda yang terasa berat, Alana menjawab, “Aku suka karakter yang tidak bisa langsung ditebak.”
Morgan mengangguk perlahan, menyesap anggurnya, “James Beaufort bukan hanya soal trauma. Dia tahu kapan harus menyentuh, dan kapan harus mundur. Dia tidak jatuh cinta dengan mudah. Tapi kalau dia jatuh cinta, dia hancur total.”
Alana menatap panna cottanya, jantungnya berdetak tak beraturan. “Kamu percaya cinta dapat menghancurkan?”
Morgan menatap balik, mata mereka terkunci dalam duel diam, lalu mengulang pelan,
“Ya, cinta dapat menghancurkan segalanya.”
“Justru itu satu-satunya cinta yang benar-benar terasa hidup,” jawab Alana lembut, gairah tersembunyi di balik kata-katanya.
Hening menggantung, bukan karena kata tak tersisa, tapi karena terlalu banyak yang sudah terucap dalam diam itu.
Morgan meletakkan garpunya perlahan, matanya dalam dan menantang, “Kalau kamu jadi Ruby di Maxton Hall, apa kamu tetap pilih James, meski tahu dia menyimpan sesuatu yang bisa menghancurkanmu?”
Alana tak mampu menjawab. Matanya terkunci pada Morgan. Dia terdiam, tenggelam dalam keheningan yang lebih pekat dari malam, sementara napas mereka beradu dalam udara hangat penuh janji.
__
