Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3

BAB 3

HAPPY READING

___

Tiga hari telah berlalu sejak kejadian malam itu. Alana masih belum melupakan ciuman di lehernya, dia merasa ciuman itu menggerogoti ketenangannya setiap hari.

Pagi ini, Alana mengenakan mantel wol hitam yang hangat, dipadukan dengan sepatu bot kulit. Dia melangkah mantap menyusuri jalanan berbatu di antara bangunan tua penuh akan sejarah, namun di dalam dadanya, ada desah samar yang terus bergemuruh, mengganggu irama napasnya, dia berusaha tenang terus melangkah menuju kelasnya.

Di ruang kuliah, Alana duduk di barisan tengah, mencoba fokus pada dosen yang membahas arsitektur kolonial dan dampaknya pada struktur sosial. Namun pikirannya melayang, tangan kecilnya tak henti-henti mencoret margin buku catatan, membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Entah bagaimana, serpihan wajah Morgan muncul di antara goresan itu, yang tidak bisa ia usir.

Setelah kelas usai, ia berjalan ke kafe kecil di belakang perpustakaan, berkumpul dengan Lara, temannya dari Indonesia, dan Jenna dari Yunani. Mereka ngobrol ringan soal tugas, tren fashion, dan gosip tentang profesor muda yang konon dekat dengan mahasiswi baru. Ponsel Alana seketika bergetar. Nama di layar itu membuat tubuh Alana menegang.

“Siapa?” Tanya Lara penasaran setelah melihat ekspresi Alana.

“Papa,” jawab Alana singkat.

“Cepat angkat,” ucap Lara.

Alana menarik napas dalam, menekan tombol hijau. “Halo, Pa,” ucap Alana.

“Halo sayang, bagaimana kabarmu?” Tanya papa, ayah Alana bernama Jordan Striker yang sering menelpon putrinya.

“Baik, Pa. Seperti biasa.”

“Kuliahmu berjalan baik?” Tanya papa lagi.

“Semuanya baik, Pa. Lumayan sibuk akhir-akhir ini.”

“Bagus. Pastikan kamu tetap fokus belajar.”

“Iya, aku tahu, Pa.”

“Nanti kirimkan transkrip nilaimu begitu keluar. Jangan lupa meeting Zoom hari Minggu dengan direksi Striker Group. Papa ingin kamu dengar langsung keputusan soal proyek di Singapura.”

“Iya, Pa.”

Beberapa menit kemudian panggilan berakhir. Alana menghela napas panjang. Dingin London bukan apa-apa dibanding hawa dingin yang mengalir dari suara ayahnya.

Alana tahu bahwa ayahnya bukan pria yang memberi pelukan hangat. Ayahnya memberi arahan kepadanya untuk ikut menangani proyek–proyeknya kepadanya, karena dia pewarisnya.

Pikiran Alana tidak bisa kembali fokus. Bayang-bayang Morgan menyusup di setiap celah ruang kosong di pikirannya.Alana membuka laptop, berusaha menulis esai yang harus ia selesaikan. Namun, tanpa sadar, satu tab browser terbuka perlahan: LinkedIn.

Alana menatap langit yang mendung, seolah mengetahui suasana hatinya. Di antara deretan rak buku tua perpustakaan Bodleian yang ramai, namun kesunyian yang begitu dalam, Alana memeluk bukunya.

Alana melangkah pelan di lorong sastra, jemarinya menyentuh punggung buku-buku klasik yang tertata rapi. Ia mencari referensi untuk esainya, namun hatinya terhenti seketika saat pandangannya bertemu sosok di ujung lorong. Dia tahu betul siapa pemilik mata elang itu, dia adalah Morgan.

Morgan berdiri bersandar santai pada rak, jas panjang navy membalut tubuh tegapnya, turtleneck abu-abu gelap mempertegas lekuknya. Rambutnya masih basah, menambah aura misteri seakan baru keluar dari hujan yang membasahi kota London.

Alana tiba-tiba menegang, denyut nadinya melonjak saat pria itu menatapnya dengan tatapan intens. Pria itu melangkah mendekat dan Alana berusaha setenang mungkin.

“Hei,” sapanya Morgan dengan suara rendah dan hangat.

“Morgan,” ucap Alana perlahan, hampir berbisik, takut itu hanya ilusi.

“Apa kabar?” ucap Morgan lirih, bergema lembut di antara rak-rak kayu dan aroma kertas kuno.

Alana membenarkan syalnya dengan gemetar tipis. “Baik.” Jawabnya singkat, tapi matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang mulai merayap.

Morgan tersenyum lembut, melangkah mendekat menyusutkan jarak hingga hanya beberapa inci. Kehadiran Morgan membakar hati Alana.

“Kita bertemu lagi,” ucap Morgan, nafasnya hangat menyentuh kulit Alana.

“Iya,” jawab Alana pelan.

Morgan mengalihkan pandangan ke rak buku di samping, “Kamu suka sastra?”

Alana mengangguk pelan, “Lagi cari referensi.”

Morgan meraih sebuah buku tanpa melihat judul, hanya untuk memberi alasan berdiri lebih lama dekat Alana. Matanya menatap Alana penuh arti.

“Aku punya buku favorit yang selalu kubaca ulang. Hampir tiap tahun,” ucap Morgan.

“Apa?”

Ia menunjuk buku di tangannya, “The Picture of Dorian Gray, karya Oscar Wilde.”

Alana tersenyum kecil, “Ceritanya gelap, ya?”

Morgan menatapnya, senyum tipis mengambang di bibirnya. “Justru karena itu aku menyukainya.”

Morgan membuka halaman depan dan mengutip dengan suara rendah, “Behind every exquisite thing that existed, there was something tragic.”

Tatapannya menancap di mata Alana saat ia melanjutkan,

“Aku selalu percaya, keindahan sejati lahir dari luka.”

Jantung Alana berdetak keras. Tubuhnya hangat membara. Tanpa sadar, suaranya keluar lirih, penuh rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam,

“Luka?” Tanya Alana.

Morgan tertawa pelan, tawanya bukan tawa bahagia, melainkan desah penuh rahasia, “Aku adalah hasil dari luka. Tapi itulah yang membuatku berdiri di sini.”

Hening menyelimuti. Napas mereka seakan berhenti sejenak, jarak hampir lenyap, berganti magnet yang menarik dua jiwa terperangkap dalam tarian sunyi.

Morgan menyerahkan buku itu ke tangan Alana, jari mereka hampir bersentuhan—sentuhan listrik yang menggetarkan kulitnya.

“Kalau kamu belum pernah baca, aku pinjamkan. Tapi kamu harus mengembalikannya langsung padaku.”

Alana menatap buku itu, lalu menoleh ke Morgan dengan pandangan penuh pertanyaan,

“Kamu sengaja ke sini?”

Morgan membalas dengan tatapan yang membuat Alana terdiam sejenak.

“Mungkin semesta sengaja menempatkanku di sini, agar kamu bertanya seperti itu.”

“Hmmm?”

“Saya memang ingin ke sini kemarin. Karena saya rindu perpustakaan ini dan mungkin rindu bertemu denganmu.”

Jantung Alana berdegup kencang. Matanya bertemu tatapan Morgan yang masih menggenggam The Picture of Dorian Gray, kini berpindah halus ke tangan Alana. Jari mereka bersentuhan sesaat, namun itu membuat Alana terbakar gairah.

“Kamu sendiri, buku favoritmu apa?” tanya Morgan.

Alana menoleh, menatap mata Morgan, “Kafka on the Shore,” jawab Alana, nyaris berbisik.

Morgan menaikkan alis, setengah tersenyum, “Murakami, ya?”

Alana mengangguk pelan, suaranya lirih. “Selalu ada bagian dari diriku yang merasa tersesat di dalam buku itu, dalam setiap kata yang tertulis.”

Morgan diam sejenak, pandangannya lepas dari buku dan tertuju penuh pada Alana, seolah membelai matanya dengan intensitas yang membuat waktu berhenti sejenak.

“Perempuan yang menyukai Murakami biasanya menyimpan luka yang tak terlihat,” ucap Morgan pelan, nyaris seperti bisikkan.

Alana tersenyum samar, “Lalu, bagaimana dengan laki-laki yang menyukai Oscar Wilde?”

Morgan tersenyum, “Biasanya mereka menyimpan obsesi yang dalam dan tak terucapkan,” jawab Morgan.

Mereka lalu terdiam. Sunyi menyelimuti hati mereka, rak-rak buku menjadi saksi bisu ketegangan tanpa kata. Napas Alana bergetar pelan, namun Morgan tak pernah mendesak. Ia hanya menatap, tenang, penuh pengendalian, mengundang tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.

“Bagaimana kita keluar dari sini?” tanya Morgan, suaranya mengalun seperti bisikan rahasia.

“Ke mana?” Alana menatapnya dengan rasa penasaran yang mengintip dari sudut matanya.

“Aku tahu sebuah tempat kecil yang tak jauh dari sini. Sepi, dengan aroma kopi yang menggelitik lidah. Tidak banyak mahasiswa yang tahu.”

Alana menatap mata Morgan, perlahan senyum mengembang di bibirnya. “Ini bukan kencan, kan?”

Morgan mengangguk, “Bukan kencan. Hanya perpanjangan dari percakapan kita.”

Alana menyipitkan mata, senyumnya melebar tipis. “Percakapan tentang Murakami, Wilde, atau tentang luka dan obsesi?”

Morgan membalas dengan senyum lembut, suaranya menembus keintiman ruang mereka,

“Tentang apa pun yang kamu sembunyikan atau yang ingin kamu ungkapkan.”

Alana terdiam, hanya mengikuti langkah Morgan keluar dari lorong buku, meninggalkan sunyi perpustakaan yang kini terasa seperti kenangan yang hangat.

___

Saat mereka keluar, langit mulai meneteskan rintik hujan, mencipta irama lembut di antara mereka. Morgan membuka payung hitam, melindungi Alana. Langkah mereka berjalan beriringan, seolah menari dalam keheningan, pikiran saling menebak arah dan waktu.

Kafe itu kecil, tersembunyi di balik dinding bata tua yang menyimpan aroma sejarah. Jendela besar berembun menutup dunia luar, menciptakan ruang terasing dari hiruk-pikuk London. Saat Morgan mendorong pintu, aroma kopi arabika berpadu kayu manis langsung menyambut mereka—hangat, menggoda.

Alana terdiam sejenak, membiarkan suasana meresap ke dalam dirinya. Lampu gantung temaram menggantung rendah, bayang-bayang menari lembut di wajah mereka. Musik jazz klasik mengalun pelan dari radio tua di pojok ruangan, melingkupi mereka dalam waktu yang seakan berhenti.

Mereka duduk berhadapan di pojok ruangan, hanya dipisahkan meja kecil. Morgan memesan tanpa bertanya kepadanya, flat white untuk Alana, espresso hitam pekat untuk dirinya.

“Kamu terlihat seperti orang yang tidak suka kopi manis,” ucap Morgan saat pelayan berlalu.

Alana menatapnya dengan separuh senyum, mata berkilat penuh rahasia. “Dan kamu terlihat seperti pria yang terlalu yakin aku tak suka kopi manis.”

Morgan terkekeh, suaranya hangat memenuhi ruang kecil itu. “Percaya diri itu seni, bukan dosa.”

Alana menyandarkan punggung, matanya menari. “Jadi, setelah mengantar seorang wanita pulang, mencuri ciuman di lehernya, dan mengajaknya minum kopi saat hujan. Kamu tipe pria yang suka nonton film romantis, ya?”

Morgan mengangkat alis, matanya berkilau penuh tantangan. “Ya.”

“Serius?”

“Sangat serius. Aku sudah nonton ulang Before Sunrise berulang kali. Tak ingat sudah keberapa.”

Alana menyipitkan mata, mencoba menebak sisi lain pria misterius ini. “Kupikir kamu penggemar The Godfather atau Heat.”

Morgan mengangguk pelan, senyum tipis mengambang di bibirnya. “Aku juga suka film tentang pengkhianatan dan darah.”

Kata ‘darah’ dari pria yang penuh kendali ini mengejutkan Alana. Ia menyesap kopinya pelan, lalu mencondongkan badan sedikit lebih dekat ke arah Alana.

“Kamu kerja di bidang apa, Morgan?” Tanya Alana.

Morgan mengangkat cangkir espresso, menghirup aroma sebelum menjawab pertanyaan Alana, “Aku punya perusahaan.”

Alana mengerutkan alis, suara dan sikapnya membuatnya ingin tahu lebih banyak. “Di sini? London?”

Morgan mengangguk santai. “Iya. London.”

“Hebat. Apa yang kamu kelola?”

Morgan tersenyum kecil, penuh misteri. “Investasi. Ceritanya panjang dan membosankan, nanti aku ceritakan.”

Alana tertawa pelan, matanya menyorot penuh godaan. “Kamu terdengar seperti pria di Tinder yang ngaku punya bisnis, tapi tinggal di basement.”

Morgan ikut tertawa, lalu tatapannya berubah menjadi tajam dan dalam. “Aku tinggal di Mayfair.”

Napas Alana tercekat mendengar itu. Mayfair bukan sekadar alamat—itu dunia yang tak semua berani jejakkan kaki. Tempat di mana harga satu rumah sangat fantastis.

“Oke,” ucap Alana dengan senyum mengejek, “jadi kamu bukan pria yang tinggal dibasement.”

Morgan menatap penuh arti. “Dan kamu bukan mahasiswa biasa.”

“Maksudmu?”

“Caramu bicara, caramu menghindar, dan saat kamu penasaran. Kamu terbiasa dengan kemewahan sejak lahir, tapi tidak banyak orang tahu.”

Alana terdiam, menatap cangkir kopi, lalu kembali ke mata Morgan. “Mungkin,” gumam Alana.

Mereka lalu terdiam mengisi ruang, dan hangat. Seolah mereka menunggu siapa yang akan jatuh lebih dulu.

___

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel