Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 2

BAB 2

HAPPY READING

___

Alana dan Morgan kembali ke bar lounge yang mulai lengang. Musik jazz masih mengalun pelan dari sudut ruangan, namun lampu-lampu kini mulai meredup, menciptakan suasana lebih intim, seolah hanya menyisakan ruang bagi mereka berdua.

Alana meraih clutch hitamnya dari atas meja. Morgan dengan sigap menyampirkan mantel hangat berwarna hitam ke pundaknya, sentuhannya ringan Morgan membuat Alana terpana.

“Kamu sendirian malam ini?” tanya Morgan pelan, suaranya hampir seperti bisikan yang hanya untuk Alana.

Alana mengangguk, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Iya. Sahabatku nggak bisa datang, dia sedang sakit.”

Morgan mengangguk paham, kemudian dengan gaya gentleman menyodorkan tangannya. “Kalau begitu, izinkan aku mengantarmu pulang. Aku ingin memastikan kamu sampai dengan selamat ke tempat tinggalmu.”

Alana terkekeh pelan, pipinya merona—entah karena anggur, entah karena jejak ciuman singkat di lehernya yang masih terasa hangat, seperti aliran listrik lembut yang terus menggelitik.

“Okay. Baiklah,” jawab Alana dengan suara rendah dan menggoda. “Tapi aku bukan tipe yang mudah jatuh cinta pada pria yang cuma menawarkan tumpangan.”

Morgan menyeringai tipis, suaranya hampir berbisik, “Aku tahu kamu tidak seperti itu.”

Mereka melangkah keluar, disambut mobil Rolls-Royce hitam berkilau yang terparkir rapi di tepi jalan.

“Itu mobil aku,” ucap Morgan menunjuk mobilnya, sambil membuka pintu untuk Alana.

Alana mengangkat alis, matanya menatap pria itu, lalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dia tidak menyangka kalau mobil mahal ini milik Morgan.

Mobil melaju perlahan, Alana melihat kaca jendela yang mulai sepi. Lampu kota memantul lembut dari kaca jendela, membentuk pola cahaya yang menari-nari di kulit Alana, setengah diterangi remang malam.

Alana duduk bersandar, mantel hitam terlipat rapi di pangkuannya. Matanya diam-diam terus melirik Morgan dari sudut mata, sampai pria itu akhirnya memecah keheningan.

“Kamu tadi bilang, kamu dari Jakarta,” ucap Morgan.

Alana menoleh, tatapannya dalam. “Iya.”

Morgan menyeringai tipis, pandangannya penuh arti. “Sepertinya kita bisa lebih dekat dari yang kamu kira.”

Alana mengerutkan kening, suara halusnya penuh rasa ingin tahu, “Maksudnya?”

Morgan memutar tubuh perlahan, kini menghadap penuh padanya. Tatapan mereka bertemu tanpa kata, saling menembus.

“Ibuku juga orang Indonesia.”

Mata Alana membelalak, terkejut sekaligus senang. “Serius?”

Morgan mengangguk, senyum melunak, penuh kehangatan seperti menemukan rahasia manis yang ingin ia bagi. “Dia lahir di Yogyakarta, menikah dengan ayahku—orang Belanda. Mereka bertemu saat ibuku ikut program pertukaran budaya.”

Alana menatapnya penuh minat, suaranya lembut seperti ingin menyimpan cerita itu, “Wah, aku tidak menyangka.”

Morgan tersenyum, wajahnya mengendur, penuh kebanggaan dan kehangatan. “Banyak yang kira aku lahir dan besar di Eropa. Padahal aku punya darah Asia yang mengalir di nadiku.”

“Kamu pernah ke Jakarta?” tanya Alana.

“Pernah. Beberapa kali,” jawab Morgan sambil menoleh ke jendela, matanya menyapu lampu-lampu kota yang mulai redup. “Terakhir waktu kuliah. Aku pernah ke sana.”

Morgan menoleh lagi, menatap Alana dengan hangat, “Dan aku suka cara orang di sana mencintai, mereka suka tersenyum, menyambut orang baru dengan tangan terbuka.”

Kata-kata Morgan menusuk dalam ke hati Alana. “Kamu nggak pernah pergi lagi, bareng ayah dan ibumu ke Jakarta?”

Morgan terdiam sejenak, matanya redup sedikit, lalu dengan suara yang lebih pelan dan sendu, ia menghembuskan, “Beliau sudah meninggal. Sepuluh tahun lalu. Saat umur aku dua puluh lima. Aku sendiri di sini.”

Alana menatap Morgan dengan dalam, tak menyangka ada luka sebesar itu tersembunyi di balik sosok pria yang berkharisma itu.

“Maaf, aku tidak tahu,” ucap Alana lirih.

Morgan hanya mengangguk pelan. “Setelah kepergian kedua orang tuaku, aku dibesarkan di Belanda bersama kakek dan nenek dari pihak ayahku. Mereka menyayangiku.”

Alana memandangnya diam-diam. Tiba-tiba, di hadapan pria ini, ia tidak merasa sendirian lagi. Sedangkan Morgan tahu cerita sedihnya ini, membuatnya semakin dekat dengan Alana. Morgan tidak berbohong malam ini, dia bercerita tentang kehidupannya pada Alana. Semua itu benar.

“Apartemenmu yang mana?” tanya Morgan tiba-tiba.

“Di sana,” jawab Alana sambil menunjuk gedung apartemennya yang tak jauh dari kampus.

Mobil melambat. Mereka sampai di depan gedung apartemen Alana. Sebelum turun, Alana menoleh ke Morgan, bibirnya membentuk senyum kecil.

“Mungkin lain kali kamu harus ikut aku ke Jakarta,” ucap Alana.

Morgan membalas dengan senyum samar, tatapan matanya dalam dan penuh arti, “Mungkin. Atau mungkin kamu yang akan ikut aku dulu ke Belanda sebelum sampai ke sana.”

Alana mengerutkan alisnya, setengah bingung, setengah geli, “Apa maksudmu?”

Morgan menunduk, sekilas menggenggam jemari Alana dengan sentuhan ringan yang membuat jantung Alana berdetak sedikit lebih cepat, lalu melepaskannya. “Iya, ikut aku ke keliling Eropa.”

“Maksudku, sebelum ke Jakarta, kita akan melalui banyak hal dulu berdua,” jelas Morgan.

“Tawaran yang menyenangkan,” ucap Alana.

Morgan tersenyum penuh arti. Morgan melepaskan jarinya, lalu Alana turun dari mobil, Morgan duduk diam, menatap punggung Alana yang menjauh.

Beberapa detik kemudian. Alana baru saja mengucapkan terima kasih dan tangan kirinya sudah menyentuh kartu akses di dalam tasnya. Tapi sebelum dia benar-benar melangkah masuk, sebuah tarikan. Otomatis Alana menoleh ke belakang. Morgan menangkap pergelangan tangan kirinya, kekuatannya cukup untuk menghentikan pergerakan Alana.

Alana belum sempat bertanya, tubuhnya sudah terjatuh ke dalam pelukan Morgan, rasanya hangat, kuat, dan penuh dominasi.

Alana merasakan satu tangan Morgan melingkari pinggangnya dengan erat, sementara tangan lainnya naik perlahan ke tengkuk, menahan dengan tekanan yang tak bisa dihindari. Tubuh mereka hampir menyatu dalam jarak yang sangat intim.

Dalam sekejap, bibir Morgan kembali menyentuh sisi lehernya—di titik yang sama seperti tadi di lorong hotel.

Namun kali ini berbeda. Lebih lama, lebih panas, dan lebih dalam. Bukan sekadar kecupan ringan, melainkan klaim kepemilikan.

Alana menahan napas, kulitnya langsung merinding. Bukan hanya karena dingin malam yang menyelubungi, tapi karena gelombang rasa yang mengalir deras dari leher hingga tulang belakangnya, membangkitkan getaran asing di antara pahanya—reaksi spontan yang tak bisa ia kendalikan.

Morgan menghirup napasnya pelan di leher Alana, bibirnya masih bersentuhan lembut, menghisap pelan dan menjilat basah, sebelum akhirnya melepaskan ciuman itu.

“Selamat istirahat, Alana,” bisik Morgan, di bawah telinga Alana,

“Semoga kita bertemu lagi.”

Nada suara Morgan yang pelan, itu mampu menusuk langsung ke pusat gairah Alana. Dengan berat hati Morgan melepaskan pelukannya, seolah itu sudah cukup, tanpa perlu penjelasan atau kelanjutan.

Morgan mundur selangkah, menatap Alana dengan mata intens, seolah memberi peringatan kalau wanita itu miliknya. Jantung Alana berdegup kencang, dia tidak bisa berkata-kata.

Pintu mobil tertutup perlahan, dan tubuh Alana hanya bisa berdiri terpaku memandang Morgan. Jantungnya masih berdegup kencang, napasnya belum pulih. Tubuhnya menggigil, merasakan sentuhan yang belum selesai. Dan satu hal yang terus berdengung di kepalanya yaitu Morgan.

__

Pintu apartemen tertutup dengan suara klik yang berat, meninggalkan keheningan. Alana berdiri terdiam, punggungnya menempel dingin pada kayu pintu. Matanya terpejam, bibirnya sedikit terangkat, seolah menahan napas yang bergetar liar di dadanya.

Alana merasakan lehernya masih terasa hangat, di titik saat Morgan mengecup lembut yang begitu dalam. Rasanya masih basah oleh napas pria itu, lembut, penuh gairah.

Alana menyentuh leher itu dengan sentuhan perlahan, mencoba menirukan gelombang sensasi yang terus menari-nari di bawah kulitnya. Dengan langkah-langkah pelan, Alana berjalan masuk ke kamar, melepaskan sepatu hak tingginya satu per satu, lalu melemparkan mantel hitam ke lantai. Kepalanya terasa berat, bukan karena anggur yang masih mengalir dalam darahnya—melainkan karena bayang Morgan yang kini berubah menjadi masalah yang sulit ia lupakan.

Di depan cermin besar, Alana menatap pantulannya sendiri. Bibir merah merekah, wajahnya memancarkan kelelahan tipis, namun matanya menyala dengan sesuatu yang asing—bukan cinta, bukan sekedar suka, melainkan hasrat yang tersamar dalam kebingungan.

“Kenapa cuma dari satu ciuman bisa begini?” gumam Alana pelan, hampir tak terdengar.

“Kenapa aku tidak menolak sentuhan pria yang baru kukenal?”

“Kenapa tubuhku justru merindukan sentuhan itu lagi?”

Alana menggeleng pelan, berusaha menepis pikiran liar itu, namun tubuhnya memberontak tanpa kompromi. Tangannya kembali mengelus lehernya, dan detak jantungnya melonjak tak beraturan.

Morgan mungkin hanya menyentuhnya sebentar—tak sampai sepuluh detik. Tapi sensasi itu menelanjangi jiwanya, tanpa harus melepas sehelai pakaian pun. Ia membenci perasaan ini. Namun ia tak sanggup menghindarinya.

Di dalam hatinya terdalam, Alana berharap pria itu akan kembali menyentuhnya sekali lagi. Tapi kali ini, lebih dari sekadar di leher.

___

Sementara di sisi lain, Morgan duduk di kursi belakang mobilnya, kaki disilangkan dengan paha, tangannya beristirahat tenang di atas lututnya. Wajahnya tampak tenang, namun matanya menatap keluar jendela, memantulkan gemerlap lampu kota London.

Morgan diam, tapi pikirannya bergolak. Alana sudah disentuhnya, bukan hanya secara fisik, tapi lebih dari itu. Wanita itu membiarkan dirinya mencium lehernya dua kali. Tak ada penolakan, tak ada perlawanan.

Jujur Morgan memahami Alana seperti apa. Dia tahu Alana dibesarkan dalam keluarga yang strick parent, manner sopan, menjaga citra dan harga diri keluarga. Namun saat celah kecil terbuka—saat getaran pertama itu masuk—wanita itu runtuh bukan karena dipaksa, tapi karena mau. Morgan tak pernah memaksa. Ia hanya menciptakan ruang nyaman untuk Alana ketika berada di dekatnya.

Dengan gerakan tenang, Morgan mengeluarkan ponsel dari sakunya, membuka galeri foto, dan menatap satu gambar yang baru saja diambil diam-diam saat mereka di bar—wajah Alana yang cantik, bibir merah merekah, mata penuh rasa penasaran. Ia menatap foto itu lama, senyum tipis penuh makna.

“Kamu belum tahu siapa aku, Alana Striker,” batinnya, suaranya seperti bisikan hanya untuk dirinya sendiri.

“Tapi tubuhmu sudah mulai mengingatku. Itu sudah cukup untuk sekarang.”

Besok, atau lusa, ia akan muncul lagi. Dia akan membiarkan kegelisahan tumbuh dalam dirinya. Biarkan dia yang mencari.

Karena Morgan tahu, perempuan yang penasaran datang dengan keinginan yang jauh lebih berbahaya daripada cinta. Dan saat wanita itu datang, dia akan siap, dengan pelukan baru, kebohongan yang manis, dan ciuman yang jauh lebih dalam dari pada malam ini.

___

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel