BAB 1
BAB 1
HAPPY READING
___
Alana Striker menatap langit London malam berwarna kelabu, dia merasakan hawa dingin yang merayap pelan hingga ke tulang. Alana tahu angin musim dingin berembus di antara deretan bangunan tua, membuat jalanan kota tampak sepi dan suram di bawah cahaya lampu-lampu jalan yang temaram.
Alana merasakan suasana terasa berbeda begitu memasuki The Connaught, salah satu hotel paling prestisius di kawasan Mayfair. Dia melihat pintu-pintu kaca yang menjulang tinggi seolah menjadi batas antara dua dunia. Setiap tamu yang masuk disambut dengan kehangatan dan kemewahan.
Alana melihat langit-langit hotel dihiasi lampu kristal raksasa yang berkilauan. Pantulan cahayanya menari di atas lantai marmer, menciptakan suasana elegan. Dia juga merasakan Aroma bunga segar bercampur wangi parfum mahal memenuhi udara, sementara dentingan lembut piano dari sudut lobi menambah kesan eksklusif.
Alana tahu di balik jendela-jendela besar yang menghadap jalanan London, di sana terlihat suram dan dingin. Namun di dalam The Connaught sangat berbeda, semuanya hangat, mewah, dan nyaris sempurna—seolah dua dunia yang berbeda.
Alana berada di sini menghadiri pesta reuni alumni Oxford yang digelar secara eksklusif malam ini, Alana berdiri di dekat salah satu jendela besar yang menghadap jalanan. Dia melihat sekelilingnya, para pengusaha muda yang sukses, dan para sosialita papan atas, mereka sedang bercengkerama sambil menikmati alunan musik jazz yang mengalun lembut dari sudut ballroom.
Segelas rosé wine bertengger di tangan kanan Alana, sementara clutch hitam Saint Laurent yang elegan berada dalam genggaman tangan kirinya. Penampilannya berhasil menarik perhatian banyak orang.
Alana mengenakan gaun hitam panjang dengan potongan belahan dada rendah. Siluetnya jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya, membuat kesan anggun. Detail belahan gaun memberi kesan berani, sementara desain punggung dan bahu yang terbuka membuat penampilannya terlihat semakin sexy. Rambut panjangnya yang itam ditata rapi, membuat wajahnya mempesona.
Alana berdiri dengan tenang, seolah dia terbiasa berada di tengah lingkaran elite London. Sorot matanya yang tajam dan senyum tipis di bibirnya memancarkan rasa percaya diri yang membuat banyak pasang mata diam-diam menoleh ke arahnya.
Namun Alana tidak menyadari tatapan setiap pria di ruangan itu tertuju padanya. Sorot mata mereka seperti bara api, penuh nafsu dan kekaguman. Alana tahu kalau dia sudah sering jadi pusat perhatian seperti ini, dia tetap berusaha tenang.
Jujur malam ini begitu berbeda. Ada satu tatapan yang menatap Alana dari kejauhan. Bukan kagum, bukan pula membara nafsu. Tatapan itu penuh perhitungan, menembus jauh ke dalam jiwa, mengandung niat tersembunyi dan penuh rencana. Dia adalah Morgan King.
Sosok pria berwibawa yang berdiri tegak yang tidak jauh dari posisi Alana. Dia mengamati Alana seperti predator mengintai mangsa yang sudah lama dia pilih. Bukan karena kecantikannya, bukan karena lekuk tubuhnya yang mempesona, melainkan karena nama di belakang wanita itu—Striker.
Morgan berdiri di dekat meja bar, jas abu-abu charcoal membalut tubuhnya dengan sempurna, dasi hitam longgar menambah kesan santai namun berkuasa. Tatapan matanya yang tajam, membuat pria lain ingin menghindar dan wanita-wanita di sana tanpa sadar ingin mendekat. Namun malam ini, Morgan hanya menginginkan satu wanita, yaitu Alana.
Beberapa menit kemudian Alana melangkah perlahan ke arah bar, Morgan menyusul dengan gerakan tenang mengikuti gadis itu. Morgan menarik napas menatap Alana, memperhatikan wanita itu dengan intens.
“Hai,” sapanya Morgan lembut, suaranya merendah, posisinya berdiri tepat di samping Alana.
Alana seketika menoleh ke arah sumber suara, matanya sekilas menatap wajah pria itu. Alana memperatikan pria bertubuh tinggi di sampingnya, dia memiliki rahang tajam, mata elang bisa yang menusuk sampai ke tulang. Pria itu tersenyum kepadanya, senyumnya misterius terlihat berbahaya. Jantung Alana lalu berdegup kencang dia menalan ludah.
Alana menyelipkan rambut di telinganya, “Hai,” jawab Alana pelan, hampir berbisik.
Morgan yang mendengar itu tertawa kecil, suaranya berat seperti bourbon tua yang menghangatkan, “Anggurmu hampir habis. Bolehkah aku traktir yang baru?”
Alis Alana terangkat mendengar logat British Morgan yang dalam dan sexy. Alana berpikir beberapa detik,
“Hemmm, boleh,” jawabnya pelan, ragu namun penasaran.
Morgan menatap Alana dengan intens, tatapan matanya terkunci pada mata bening Alana, membuat jantungnya berdegup kencang. Ia memesan segelas anggur lain dari bartender.
Suasana seketika hening. Mata mereka terpaku pada bartender yang menuangkan anggur ke dalam gelas kristal. Saat keheningan itu memuncak, Alana semakin penasaran.
“Siapa kamu?” Tanya Alana.
Morgan tersenyum miring, dia lalu mengulurkan tangannya kepada wanita cantik di hadapannya ini, “Perkenalkan nama saya Morgan,” jawabnya singkat, tanpa menyebut nama belakang.
Alana menatap beberapa detik uluran tangan pria itu, dia membalas uluran tangan itu, “Alana,” balasnya.
Di saat ini Morgan tahu—babak pertama sudah dia mulai.
“Alumni Oxford?” Tanya Alana lagi.
Morgan mengangguk, “Iya.”
Alana tersenyum, lalu percakapan mereka mengalir begitu saja di tengah-tengan dentingan music yang mengalun lembut. Mereka berbiacara tentang Oxford, seni, dan politik. Alana menikmati percakapan mereka, yang bukan sekadar basa-basi.
Morgan mengamati Alana dia tahu kapan harus mendengar dengan saksama, kapan memberi komentar tajam tapi menggoda, dan kapan menyentuh punggung Alana dengan lembut—sentuhan penuh makna, sinyal halus bahwa dia pria yang tahu cara menyentuh tanpa membuat wanita merasa murahan.
Alana merasa Morgan tidak menggodanya seperti pria lain yang kasar dan penuh nafsu. Alana menatap balik Morgan, tanpa sedikit pun gugup. Sejujurnya ada percik hangat yang mulai menyala di dada Alana, anggur merah yang mengalir menenangkan pikirannya.
“Apa anggur favoritmu?” tanya Morgan, melepaskan jas abu-abunya dan menyandarkan siku di meja bar dengan santai, matanya tetap terpaku pada Alana.
Alana berpikir beberapa detik, dia memicingkan matanya, “Ruby Roman,” jawab Alana.
Morgan mendongak, wajahnya serius penuh ketertarikan. “Yang dari Jepang itu?”
Alana tersenyum penuh kepuasan. “Kamu tahu?”
“Tentu tahu Alana,” jawab Morgan.
Morgan menarik napas, “Aku pernah minum Ruby Roman waktu di Tokyo. Rasanya manis, mahal, dan sangat eksklusif,” ucap Morgan, tatapannya menyelusup dalam ke mata Alana.
“Seperti kamu,” ucap Morgan pelan.
Alana pura-pura melirik bartender, mencoba menyembunyikan senyum yang mulai merekah di bibirnya. “Kamu pandai sekali bermain kata-kata.”
“Dan aku tahu kamu senang saat dipuji,” balas Morgan, disertai tawa ringan yang hangat dan tulus—bukan tawa yang dibuat-buat untuk sopan santun.
Untuk pertama kalinya malam itu, Alana merasa bahwa dia tidak sedang menghadapi pria yang sekadar ingin merayunya, melainkan seseorang yang benar-benar menyamainya. Alana ikut tertawa dan Morgan juga tertawa.
“Kamu alumni Oxford, kan?” tanya Alana sambil memutar gelas anggurnya, pura-pura acuh.
Morgan mengangguk pelan. “Iya. Jurusan hukum. Tapi aku lebih sering menghabiskan waktu di meja bar dan kamar wanita, daripada kelas hukumku.”
Alana tertawa lepas. “Dasar playboy. Tapi kamu hebat. Alumni Oxford, apalagi itu jurusan hukum.”
Morgan menaikkan alis, mata penuh arti menyorotnya. “Kalau kamu?”
“Mahasiswi S2 Arsitektur. Baru semester pertama. Masih belajar di sini.”
Morgan mengangguk pelan mencoba memahami. Suaranya lembut Alana membuatnya betah,
“Oxford akan mencintaimu selama kamu di sini,” ucap Morgan.
Alana menyesap anggurnya perlahan, menikmati hangatnya rasa yang mengalir di tenggorokan. Morgan menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Alana, tanpa menyentuh, hanya jarak yang semakin dekat hingga tidak ada jarak dikeduanya. Kulit mereka bersentuhan membuat Alana tidak nyaman. Alana menarik napas, dia memberanikan diri menatap Morgan.
“Aku ke toilet dulu,” ucap Alana, mengangkat gelasnya sedikit, mencoba mundur dari Morgan.
Morgan tak langsung membiarkan Alana pergi begitu saja, “Biar aku antar,” ucap Morgan.
Alana memutar kepala, alis terangkat dengan senyum kecil. “Aku ke toilet wanita, Morgan.”
Morgan tersenyum tipis. “Aku tahu. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak menghilang dengan pria lain.”
Alana mendengar itu lalu tertawa, dia menatap Morgan dengan serius.
“Kamu juga seorang pria, Morgan.”
“Aku tahu. Tapi aku bukan pria hidung belang, kamu akan aman bersamaku.”
Alana tertawa kecil, membiarkan dirinya ditemani Morgan melangkah pelan di koridor mewah berlapis panel kayu gelap, diterangi lampu dinding keemasan yang hangat. Morgan menjaga jarak sopan, tapi cukup dekat untuk membuat Alana sadar setiap tarikan napasnya.
“Kamu berasal dari negara mana?” tanya Morgan, seolah itu pertanyaan biasa.
Alana menoleh sebentar menatap Morgan, tatapan pria itu lembut. “Indonesia. Jakarta, tepatnya,” jawab Alana.
“Kamu sendiri dari mana?”
Alana balik bertanya dengan senyum tipis dan semakin penasaran. Morgan tak langsung menjawab, melirik lukisan tua di dinding, matanya menyapu detailnya seperti menimbang kata yang tepat.
“Belanda,” jawab Morgan.
“Amsterdam?” tanya Alana.
Morgan menatapnya intens, udara di antara mereka tiba-tiba terasa lebih berat. “Dekat situ. Tapi bukan di tengah kotanya,” jelas Morgan.
“Aku tumbuh di tempat yang sepi,” ucap Morgan lirih, “Banyak angin, hutan, lading, kota yang membosankan.”
Alana tersenyum, “Misalnya?”
Morgan memiringkan kepala, tatapannya mengunci pada Alana, “Misalnya, kalau kamu duduk langsung memikirkan aktor dan aktris yang sering bercerai. Lalu berhayal tentang film Avengers, buku, musik, dan hal-hal lainnya.”
Alana tertawa ringan, memutar bola matanya ke langit-langit. “Aku mengerti.”
Morgan menatap tawa Alana, tawanya sangat cantik, deretan gigi putihnya terlihat, seperti alunan musik yang menyejukkan, “Kamu sangat cantik saat tertawa seperti itu.”
Alana tersenyum, “Terima kasih,” bisik Alana lembut, suara lembutnya hampir menggoda Morgan.
Tanpa sadar, Alana menyandarkan diri pada dinding di bawahnya terdapat plakat bertuliskan ‘Ladies Room’. Tubuh mereka berhadapan, napas terasa berat. Tatapan Alana tajam menatap Morgan yang memandangnya.
Alana tersenyum, lalu mencondongkan tubuhnya dan lalu berbisik, “Tunggu di sini.” Alana Lalu masuk ke toilet, meninggalkan Morgan begitu saja.
Morgan tersenyum penuh arti, melihat tubuh Alana menghilang dibalik toilet. Morgan menyandarkan punggung ke dinding, matanya masih menatap pintu yang baru saja tertutup. Morgan menyadari kalau dia nyaman dengan sikap Alana, nada suaranya, tawa, reaksinya, sentuhannya dan pujian.
Sementara di sisi lain, di dalam toilet, Alana berdiri di hadapan cermin, marmer putih berbingkai emas yang disinari cahaya temaram dari lampu di atasnya yang menciptakan bayangan lembut. Ia menatap wajahnya sendiri dalam keheningan, menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara hangat memenuhi paru-parunya. Dia bersiap untuk menghadapi pria bernama Morgan.
Menurut Alana, Morgan bukan pria biasa. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan tapi ada sesuatu yang berbeda. Sejak tadi dia memperhatikan caara bicara Morgan, pria itu penuh percaya diri dan sangat berkharisma. Cara dia mendengar saat ia berbicara, sentuhan halus yang membuat Alana merasa nyaman berada di dekatnya.
Alana membuka clutch kecilnya dengan gerakan pelan. Di dalamnya, botol parfum mini berbentuk kristal berkilau lembut di bawah lampu. Dia menyemprotkan parfum di sisi lehernya, kemudian satu semprotan lagi di pergelangan tangan, dan terakhir di antara belahan dadanya.
Alana tak tahu mengapa. Ia merasa ingin menarik perhatian Morgan, terasa konyol, karena merea baru kenal, tapi tubuhnya tidak bisa bohong, dia menyukai keberadaan Morgan.
__
Pintu toilet terbuka perlahan. Alana melangkah keluar dengan langkah ringan. Dia menatap Morgan tetap di hadapannya, satu tangan santai dalam saku, tangan lain memainkan dasi hitamnya dengan tenang. Beberapa detik kemudian mereka saling berpandangan.
Mata Morgan menangkap Alana, senyum kecil tersungging di sudut bibirnya,
“Sudah?” Tanya Morgan.
Alana mengangguk, “Iya, sudah,” jawab Alana.
Morgan mengangguk, tatapannya tak lepas dari leher Alana yang kini harum. Aroma lembut bunga mawar putih dan vanila yang begitu menggoda, ingin sekali mencium leher itu.
“Parfummu berubah,” tanya Morgan penuh perhatian.
Alana menahan senyum yang mulai merekah. “Tidak. Aku baru menyemprot parfum di leherku. Mungkin bercampur aroma lain di dalam tadi, atau asap rokok, jadi dia berubah.”
Morgan paham, lalu dia melangkah mendekat, jarak mereka kini nyaris tidak ada jarak. Nafas mereka menyatu, hingga terasa di permukaan wajah mereka.
“Aku peka terhadap hal-hal yang membuatku ingin lebih dekat.”
Alana meneguk ludah pelan. Dadanya bergerak naik turun dengan irama tak terkendali. Tapi dia tak mundur. Dia menatap Morgan dengan tatapan campuran waspada dan namun sekaligus tertarik yang tidak bisa dia elakkan.
Morgan mengulurkan tangan perlahan, jarinya menyentuh lembut rambut hitam Alana yang terjatuh di bahu—sekadar menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu nyaris tanpa jejak, tapi cukup membuat kulit Alana merinding.
“Boleh?” bisik Morgan, suaranya dalam, sedikit bergetar, jarinya kini menyentuh sisi rahang Alana dengan lembut.
“Apa?” Alana membalas, napas tertahan.
“Mencium sisi lehermu. Bukan untuk menggoda. Tapi aku ingin tahu seperti apa aroma yang membuat kepalaku terasa hampir gila.”
Alana tak menjawab, tak menolak. Tatapan Morgan mengandung kekuatan yang membuatnya menyerah tanpa kata.
Morgan perlahan mendekat, bibirnya menyentuh kulit halus sisi leher Alana—tepat di tempat parfum itu disemprotkan. Satu kecupan, lembut, hangat, sangat perlahan, seolah ia menyimpan rasa itu, menghafal setiap sensasi yang tersisa.
Ketika Morgan mundur, Alana tetap diam. Matanya terbuka tapi pandangannya melayang, jantungnya berdetak cepat, tak beraturan.
Morgan menatap dalam, suaranya berbisik, “Terima kasih sudah mengizinkan.”
Alana membalas dengan senyum samar, “Sepertinya aku harus hati-hati dengan pria sepertimu?”
Morgan membalas dengan senyum penuh arti, “Terlambat. Sayangnya, aku sudah menyentuhmu.”
___
