Antah Berantah
**Bab 004: Antah Berantah**
Logika dan insting masih saling beradu di kepalanya, menguji keberaniannya untuk tetap maju di dunia yang baru saja menelannya. Namun pertarungan itu perlahan memudar ketika pandangannya mulai menyerap detail-detail di sekitar.
''Ini sih… keren…'' gumamnya tanpa sadar.
Mata Anindira membesar. Rasa takut yang semula mencengkeram dadanya perlahan digantikan oleh keterpesonaan yang sulit dijelaskan. Di hadapannya, jajaran pepohonan kolosal menjulang begitu tinggi hingga pucuknya hilang tertelan kanopi raksasa. Batang-batangnya tebal, dipenuhi lumut, dan dilingkari liana yang merambat seperti ular malas berjemur.
''Mantap…'' pujinya lagi, hampir seperti anak kecil melihat sesuatu yang hanya ada di buku-buku ilustrasi.
Ia mendongakkan kepala, mencoba mengintip langit di atas sana. Namun payung dedaunan yang rapat membuatnya hanya bisa melihat kilauan cahaya yang menetes seperti percikan emas dari celah-celah sempit di antara daun. Sinar matahari turun dalam garis-garis tipis, memotong udara lembap, menciptakan lorong-lorong cahaya yang membuat hutan purba itu tampak suci sekaligus liar.
Udara di sana sejuk—bukan dingin, bukan panas. Bersih. Segar seperti hutan yang tidak pernah disentuh polusi. Aroma tanah basah, dedaunan, dan vegetasi tropis memenuhi paru-parunya. Tidak ada bau aneh, tidak ada busuk, hanya wangi belantara yang memanjakan indra.
Untuk sesaat, mulutnya terbuka, sulit ditutup kembali. Ia benar-benar takjub.
''Hah, apa itu?!''
Ia tersentak ketika sesuatu bergerak di semak-semak. Tubuhnya menegang, matanya mencari-cari sumber suara. Namun begitu ia mendengar nada renyah dari kicau burung yang bertengger di atas cabang, ketegangannya mereda. Nafasnya turun perlahan.
Suara hutan itu… indah. Ramai namun tetap hening. Serangga musim panas bersahutan dari berbagai arah, nyaring tapi tidak menusuk telinga. Daun-daun saling bergesek ditiup angin, menciptakan gemerisik lembut yang menenangkan. Dan di antara semuanya, kicau burung-burung hutan—beragam, tinggi, rendah, saling menjawab.
Hutan ini bukan angker.
Hutan ini hidup.
Namun kedahsyatannya justru menghadirkan nuansa sunyi yang membuat manusia terasa sangat kecil di dalamnya.
Pemandangan di hadapannya memukau sekaligus menimbulkan sensasi dingin di tengkuk. Belantara lebat itu terbentang luas, tanpa ujung yang terlihat. Pepohonan raksasa berdiri gagah, seperti penjaga zaman lain yang tak tersentuh waktu. Semak-semak di sekitarnya tumbuh tinggi, sebagian bahkan setinggi pinggangnya. Ia bisa membayangkan—jika seekor sapi bersembunyi di baliknya, mungkin ia tidak akan melihat apa pun selain gerakan samar.
Anindira menelan ludah. Matanya tetap awas, menelusuri setiap gerakan kecil.
Di balik rumput yang bergoyang lembut oleh angin… apa yang sebenarnya ada di sana?
Pertanyaan itu muncul begitu saja, seperti bisikan liar yang mengusik dari balik dedaunan purba.
''Keluar-masuk hutan bukan kali pertama buatku… tapi hutan yang seperti ini?'' Anindira memandangi sekeliling dengan dahi berkerut, suaranya berubah lirih.
''Yang ini jelas pertama kali. Ini hutan wilayah mana, sih?''
Kebingungannya makin menjadi ketika ia mengingat kembali detik-detik sebelum tubuhnya terseret air sungai.
''Masalahnya… tadi aku ada di hutan juga. Di sungai. Terus—lah kok bisa pindah ke sini? Caranya gimana?!''
Rasa kesalnya semakin menggunung.
''Kakek-kakekku pasti udah lompat-lompat kegirangan kalau lihat hutan begini…'' Ia mendesah panjang.
''Tapi gimana mau tahu lokasinya kalau smartphone aja nggak kubawa… dasar bodoh. Kenapa tadi nggak dikantongin aja, sih?!''
Ia mendengus, menyesali diri sendiri. Pemandangan di hadapannya terlalu megah—terlalu langka—untuk tidak diabadikan.
---
Meski lahir dan besar di kota, hutan bukan sesuatu yang asing baginya.
Hiking, camping, ikut ayah dan kakaknya berburu kecil-kecilan di kampung, turun ke sawah membantu keluarga—semua itu sudah jadi bagian dari masa kecilnya. Hal-hal yang dianggap menjijikkan oleh sebagian perempuan kota justru jadi nostalgia menyenangkan baginya.
Karena itu, ketakutannya kali ini bukanlah takut hutan.
Tapi takut akan horor hutan yang asing ini.
''Dira, udah cukup melankolisnya!'' serunya tiba-tiba, menepuk pipinya sendiri pelan. ''Kamu sendirian sekarang… beneran sendirian!''
Suasana mendadak menekan.
Sunyi yang tadi terasa menenangkan, kini berubah menjadi penegasan betapa terisolasinya ia.
Beberapa kali dia jatuh ke kepanikan lalu memaksakan diri tenang. Namun kini… ia mulai benar-benar menerima kenyataan itu.
''Bangun, Anindira!''
Ia berseru lagi, lebih keras.
''Kamu harus pantau situasi. Ini baru pohonnya doang. Kalau tiba-tiba muncul predator… tamat sudah!''
Detik berikutnya, naluri survival mengambil alih.
Tanpa menunggu logika menyusul, kakinya bergerak cepat. Ia tidak lagi berjalan—ia melangkah sigap, hampir setengah berlari. Napasnya sedikit memburu, tapi langkahnya tetap terkontrol.
Wajahnya menegang, mencerminkan dua hal sekaligus:
panik yang sulit ditahan, dan tekad untuk tidak menyerah.
Dia menoleh ke kanan, kiri, atas, bawah. Berusaha meraba arah, pola, sesuatu yang bisa dijadikan pegangan.
Satu-satunya pikirannya sekarang hanyalah:
keluar dari tempat ini secepat mungkin. Cari bantuan. Tetap hidup.
Apa pun tempat ini—bagaimanapun ia bisa sampai—Anindira sadar satu hal:
Mulai dari detik ini, setiap langkah bisa saja menentukan apakah ia kembali ke keluarganya… atau tidak pernah kembali sama sekali.
Di sudut lain hutan belantara, tanpa sedikit pun disadari Anindira, seseorang sedang mengawasinya.
Sepasang mata biru safir itu nyaris tidak berkedip. Tersembunyi di balik gelapnya rimbunan pakis raksasa dan batang pohon diameternya hampir selebar pelukan manusia, pemiliknya berdiri membatu—seperti bagian dari hutan itu sendiri.
''Apa aku tidak salah lihat?'' gumam pria itu dalam hati, napasnya tertahan.
''Dia… wanita? Di tempat seperti ini? Sendirian?''
Kebingungan bercampur kewaspadaan tergambar jelas pada wajahnya. Ia mencondongkan tubuh sedikit, memastikan pandangannya tidak terhalang liana yang menggantung. Gerakannya nyaris tak mengeluarkan suara—ia bergerak seperti makhluk yang telah lama menyatu dengan belantara.
Sejak beberapa menit lalu, ia mengamati perempuan itu.
Setiap langkah gugup, setiap gerakan kepala yang mencari arah, setiap desah napas paniknya—semuanya tertangkap oleh pria itu.
Wanita itu tampak jelas bukan bagian dari dunia yang ia kenal.
Pakaian, cara berjalan, bahkan ekspresi terkejutnya… semuanya janggal.
''Dari klan mana dia? Apa dia terpisah dari kelompoknya…'' pikirnya, alisnya mengerut lebih dalam.
''Membiarkan wanita sendirian, cuai sekali mereka.''
Hutan di sekeliling mereka tetap bergemuruh dengan suara serangga, burung, dan desau angin. Namun bagi pria itu, dunia seolah menyempit, fokus pada satu sosok: perempuan asing yang tiba-tiba muncul di wilayah yang seharusnya tidak mungkin dimasuki wanita.
Dari balik dedaunan, mata biru safir itu terus mengawasi—hening, waspada, dan siap bergerak kapan saja.
“Bagaimana ini?!” pekik Anindira, nadanya campur aduk antara bingung dan panik.
‘’Tidak ada apa pun… rasanya aku sudah jalan jauh, tapi tetap saja tidak menemukan apa-apa…”
Ia terus melangkah tanpa arah yang pasti.
Tidak ada jalur setapak.
Tidak ada bekas kapak di batang pohon.
Tidak ada simpul tali, tumpukan batu, atau goresan penanda seperti yang biasa dibuat para pendaki, pemburu, atau warga desa yang keluar masuk hutan.
Hanya belantara murni—rapat, liar, dan seolah belum pernah disentuh manusia.
“Masa’ sih aku masuk hutan yang belum pernah dimasuki?!”
Anindira memekik lagi, suara paniknya terdengar lebih jelas. Teror pelan-pelan menyebar di benaknya, memaksa logika dan instingnya berkonflik.
“Enggak ah… enggak mungkin!”
Tapi semakin ia mencoba menyangkal, semakin kuat rasa tidak masuk akal itu menghantam dada.
“Bagaimana ini?!” serunya lagi, kali ini lebih tinggi.
“Beneran enggak ada… enggak ada tanda-tanda manusia sama sekali…”
Ia menekan kedua pelipisnya, mencoba menenangkan diri. Logikanya kacau, pikirannya berisik, dan hutan yang asing ini terus menambah tekanan.
Anindira menarik napas dalam-dalam, lalu memaksa dirinya berbicara pelan pada diri sendiri.
“Tenang… tenang, Dira. Fokus. Kita telusuri saja jalur yang landai. Minimal harus dapat air dulu…”
Ucapannya terdengar rapuh, tapi ia memaksakan langkahnya kembali stabil.
Ia mengikuti pola yang selama ini ia pelajari saat hiking dan survival ringan: cari sumber air, cari jejak, cari arah matahari, jangan panik.
Namun semakin lama ia berjalan, semakin ia sadar betapa berbahayanya kesunyian ini.
Bukan kosong—karena suara serangga, burung, dan dedaunan tetap hidup—
tapi kosong dari jejak peradaban.
Anindira mulai meraba batang pohon, berharap menemukan goresan pisau atau bekas panen resin. Tidak ada.
Ia memeriksa tanah, mencari tapak sepatu atau kaki telanjang. Juga tidak ada.
Bahkan jalur binatang pun sangat sedikit, tanda bahwa wilayah ini jarang dilewati makhluk besar.
Waktu berlalu tanpa ia sadari. Dan tanpa sadar pula, Anindira justru semakin menjauh dari tempatnya tiba, kian dalam menembus wilayah hutan yang tidak ia sadari sangat berbahaya.
Ia kini berada di ambang Hutan Larangan—wilayah terdalam belantara, tempat dimana hanya mereka dengan peringkat Emerald terbawah yang berani masuk, itupun setelah latihan bertahun-tahun. Area yang bahkan para pria tempuh dengan ketakutan dan kewaspadaan tinggi.
Dan Anindira…
melangkah ke sana tanpa tahu bahaya macam apa yang menunggu di balik setiap semak dan bayangan pepohonan purba itu.
