005 Pribumi
**Bab 005: Pribumi**
Keheningan itu datang perlahan, nyaris tanpa disadari. Anindira berhenti melangkah ketika menyadari perubahan samar itu—suara serangga yang sejak tadi bersahutan kini terdengar menipis, seolah mundur satu per satu.
Hutan masih dipenuhi cahaya lembut matahari yang menyusup di sela kanopi raksasa, namun ada sesuatu di udara yang membuat bulu kuduknya perlahan berdiri.
“Apa hanya perasaanku…?” gumamnya lirih, menimbang ragu antara melanjutkan langkah atau berbalik.
Ia menatap ke depan.
Tidak ada gerakan, tidak ada bayangan yang berubah bentuk, hanya pepohonan besar menjulang diam dan tanah berlumut yang tampak biasa saja.
Namun rasa tidak nyaman itu tetap menghimpit, seperti ada sesuatu yang menunggu di tempat yang tidak terlihat.
Anindira menghirup napas dalam-dalam.
Sebentar saja, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.
“Maju atau balik… sama-sama nggak ada kepastian,” bisiknya.
“Kalau ada sungai di depan… itu satu-satunya harapan.”
Ia memaksakan langkahnya. Butiran tanah berderak pelan di bawah sepatu, satu-satunya suara yang tersisa di tengah hening yang menebal.
Angin datang dari arah depan—dingin, menusuk di antara pakaian tipisnya meski matahari musim panas masih tinggi. Anindira tersentak kecil dan menggosok kedua tangannya.
“Uwah… kenapa makin ke depan makin aneh suasananya,” keluhnya pelan.
Hutan itu tidak gelap, tidak menyeramkan dalam arti penuh bayangan atau kabut—justru megah, terang, dan sangat hidup.
Namun hening yang tidak wajar itu memberi sensasi seolah ia melangkah ke wilayah yang tidak seharusnya didatangi manusia.
“Tenang… jangan takut pada pikiran sendiri,” ujarnya, meski ia sendiri terdengar tidak yakin.
Langkah berikutnya terasa lebih berat.
Ia menahan napas, menekan rasa ingin menangis yang terus merayap naik dari dada.
“Aku benar-benar ingin menangis… tapi malah makin takut kalau nangis beneran…”
Ia menatap ke depan, pada celah di antara batang—barisan pepohonan raksasa yang tampak semakin rapat. Jalan pulang hilang sejak lama, dan hanya satu arah yang bisa ia pilih.
“Ayah… Mom… Kak Gavin… apa aku bisa pulang?” bisiknya sangat pelan, hampir tenggelam di udara.
Angin dingin itu datang lagi, melewati pepohonan tinggi dan menyentuh kulitnya seperti peringatan.
Namun hutan di hadapannya tetap menunggu.
Dan Anindira, dengan seluruh ketakutan yang menempel pada tubuhnya, kembali melangkah masuk ke dalamnya.
Perasaan horor yang sejak awal berusaha diabaikan kini makin menempel di kulitnya, membuat bulu kuduk Anindira berdiri. Di dalam kepalanya, dua sisi dirinya berdebat sengit. Saraf takutnya berteriak lantang:
“Jangan pergi ke sana!”
“Itu menakutkan… suram… gelap… kau bahkan nggak tahu apa yang nunggu di depan sana!”
Tapi sisi lain dirinya—jiwa petualang yang selama ini membawanya keluar masuk hutan tanpa gentar—menentang keras semua itu.
Anindira mengerutkan kening. Naluri dan logika saling melempar argumen di dalam pikirannya, tapi akhirnya dorongan untuk mencoba dulu sebelum takut menang.
“Tahu apa, kalau bahkan nggak dicoba?!” serunya dalam hati, “Jangan jadi penakut! Pengalaman itu guru terbaik!”
Dia menarik napas panjang, mencoba menakar keberanian yang tersisa.
“Sudah berapa lama sih aku jalan?” gumamnya.
Langit di antara celah kanopi tampak menggelap perlahan.
Ia menggigit bibir. “Kalau malam tiba… aku bakal jadi target gampang buat pemangsa nokturnal. Aku harus cari tempat bermalam. Sekarang.”
Ia melanjutkan langkah, lebih waspada, lebih tertekan oleh desakan waktu.
Beberapa menit kemudian, sebuah suara samar menyelinap masuk ke telinganya. Riuh kecil, teratur, deras.
Anindira berhenti, menegang.
Itu… air.
Itu jelas suara air.
“Air!” pekiknya, hampir melompat kegirangan.
“Nggak salah lagi, itu aliran air!”
Ia mempercepat langkah, setengah berlari, menembus kabut tebal yang menggantung rendah di antara pepohonan.
Kabut itu membuat jarak pandangnya sangat pendek—dia tidak tahu apa pun yang berada di baliknya, termasuk betapa besar sungai yang sedang ia dekati. Atau apa pun yang mungkin bersembunyi di seberangnya.
Saat mencapai tepian, hawa dingin langsung menyergap tubuhnya seperti cakar es. Sangat jauh lebih dingin dibanding area sebelumnya—dingin yang menusuk, seperti datang dari udara tipis dataran tinggi.
“Ya ampun… dingin banget…” keluhnya sambil memeluk dirinya sendiri.
Giginya bergemeletuk, tubuhnya bergetar hebat.
Lalu rasa sesak mulai merayap di dadanya. Napasnya terpotong-potong.
“Huft… hufth… hufth…” Ia menekan dadanya, mencoba menarik udara yang rasanya makin sulit masuk.
“Kenapa… ini? Dadaku sesak… apa ini dataran tinggi? Oksigennya… tipis banget… Kalau begini aku nggak bisa terus maju…”
Sebelum pikirannya sempat menentukan langkah selanjutnya—
“BERHENTI!”
Suara seorang lelaki, berat dan tajam, menghentak dari balik kabut. Tidak meninggi, tidak membentak, tapi serasa menebas udara dan mencabut Anindira dari pikirannya sendiri.
Anindira membeku. Napas tertahan di tenggorokan.
Suara itu terlalu dekat.
Terlalu tiba-tiba.
Dan ia tak melihat siapa pun.
“Kau bisa mati jika terus maju,” lanjut pria itu, nada suaranya tetap datar namun penuh tekanan. “Sebaiknya kau kembali ke tempat asalmu tadi.”
“Suara… orang!” Anindira terpekik, antara terkejut dan lega. “Aku nggak berhalusinasi karena oksigen tipis kan?!”
“Hei, kau dengar aku?” panggil pria itu lagi, terdengar heran karena Anindira tidak menjawab dan justru bergumam sendiri.
“Benar-benar suara orang!” Anindira memekik dalam hati. Ia sontak menengok ke belakang, bersiap berlari menghampirinya. “Tuan, tolong aku—”
Namun kata-katanya terputus.
“AH! HAH?!”
Kakinya, yang tadinya siap melesat, langsung terpaku seolah membeku oleh hawa dingin. Tubuhnya kaku; matanya membulat penuh keterkejutan.
Karena sosok itu… berdiri begitu dekat.
Dan ia… besar.
Tinggi pria itu hampir dua meter—bayangan gelap yang menjulang di antara kabut.
Bagi Anindira yang bertubuh mungil, pandangannya hanya sejajar sedikit di atas perut pria itu. Untuk melihat wajahnya, ia harus mendongak tinggi… tapi kabut tebal membuatnya hanya bisa melihat garis dagu yang tajam, tidak lebih.
“Aku nggak bisa lihat wajahnya… cuma siluet dagunya…” pikirnya, ngeri.
Pemuda itu berdiri tegap, aura tubuhnya padat seperti batu yang sudah ditempa lama oleh alam liar.
Rambut hitam panjangnya turun ke bahu, sebagian menempel lembap oleh kabut.
Tidak ada baju yang menutupi tubuhnya—hanya selembar kain atau kulit binatang yang dililitkan di pinggang, diikat seadanya.
Aksesori yang ia kenakan terbuat dari tulang, serat tanaman, dan batu-batu kasar.
“Apa ini… suku pribumi? Atau… apa?” Anindira menelan ludah. “Dia ini penolongku… atau justru sebaliknya?!”
“Kau hanya akan berdiri diam di situ?” suara pria itu kembali terdengar—lebih jelas, lebih dekat. Terdengar seperti orang yang mulai tidak sabar, tapi tidak marah.
Anindira terlonjak kecil. Ia tidak yakin apa yang harus ia jawab.
“Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan,” lanjut pemuda itu, matanya—yang tak bisa ia lihat—terasa menembus kabut. “Tapi kita harus pergi sekarang. Atau kau akan mati kedinginan sebelum mereka yang ada di depanmu menangkap keberadaanmu.”
Anindira tidak menjawab justru wajahnya jelas terlihat kebingungan.
Pemuda itu menghela napas, panjang. “Huft.”
Nada suaranya memberi tahu bahwa ia sadar: Anindira sedang ketakutan setengah mati.
“Aku tahu aku terlihat menakutkan.” Suaranya melembut—sedikit. “Tapi aku tidak akan mencelakaimu.”
Ia mengulurkan tangan besar itu ke arah Anindira. Jari-jarinya panjang, kuat, penuh bekas luka.
“Aku ingin menolongmu,” katanya perlahan, “membawamu pergi dari sini.”
Anindira terpaku. Napas putus-putus.
Wajahnya bingung penuh tanya, sementara pria itu menunggu—tangan terulur, tubuhnya tenggelam dalam kabut tebal yang tidak menunjukkan apakah ia penyelamat…
…atau bahaya yang jauh lebih besar.
