Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

003 Dimana

**Bab 003: Dimana**

''Uhuk… uhuk… uhuk—''

Dadaku terasa seperti diremas dari dalam ketika air memaksa keluar dari tenggorokanku. Aku terbatuk hebat, tubuhku melengkung menahan sakitnya.

''Ueekk—!''

Gelombang mual naik dari perut, dan aku memuntahkan air sungai yang tadi menerobos masuk.

Aku tersungkur, kedua tanganku menahan tubuh yang gemetar hebat.

''Huft… huft… huft…''

Napas tercekat, berat, panas. Jantungku berdetak kacau—

DEG DEG DEG DEG DEG

—seperti berusaha menerobos tulang rusukku.

Aku butuh beberapa detik untuk memastikan aku masih hidup.

Lalu…

''Hah!'' seruku spontan, tubuhku tersentak.

Aku menatap ke sekeliling—dan dunia langsung terasa jungkir balik.

''Mana… sungainya?!''

Tempatku berdiri—atau lebih tepatnya terdampar—

bukan tepian sungai di pegunungan.

Bukan air dangkal yang sempat menarikku.

Bukan suara keluargaku yang memanggil panik.

Yang kulihat justru hamparan tanah asing. Langit asing. Hening asing.

''Aku… yakin aku hampir tenggelam barusan…'' bisikku, nyaris memohon jawaban dari udara.

Tubuhku kembali menegang. Kepanikan yang tadi mereda kini menghantam lagi—lebih keras.

''Apa ini?!''

Kepalaku menoleh cepat ke kanan—kosong.

Ke kiri—tidak ada apa pun yang kukenal.

''Di mana ini?!''

Aku memutar tubuhku, mencari sungai, mencari suara, mencari apa pun yang familiar.

Tidak ada.

''Bukan… aku tidak pernah ke sini…''

Kepalaku mendongak ke langit—langit itu terasa salah.

Aku menunduk—tanahnya asing.

Aku menatap sekeliling lagi, cepat, gelisah, sampai hampir pusing.

''Ini di mana?!''

Aku menelan ludah. Tenggorokanku masih perih, tapi ketakutan jauh lebih menyakitkan.

''Aku tidak tahu tempat ini… aku tidak mengenal tempat ini!''

Semua terasa salah. Terlalu salah.

''Enggak mungkin… pasti aku sedang bermimpi… mungkin aku masih tidak sadar… pingsan…''

Aku memejamkan mata erat-erat.

Berharap.

Memohon.

Lalu kubuka.

Masih di sini.

Kututup lagi, lebih kencang.

Kutelan napasku yang tercekat.

Kubuka.

Masih sama.

Aku mengulangnya—empat, lima kali—sampai lututku mulai goyah dan suaraku sendiri terdengar asing.

''Enggak mungkin…'' bisikku. Suaraku bergetar, seperti akan pecah.

Ingatan terakhirku:

air yang menyeretku,

dadaku yang terbakar,

suara Kak Gavin yang berteriak,

tanganku yang gagal menggapai permukaan…

Tapi tempat ini…

tidak ada hubungan dengan itu.

Aku berdiri terpaku. Angin lewat menyentuh kulitku, tapi rasanya dingin dan tak bersahabat.

Ada rasa ngeri yang merambat pelan, memanjat dari tulang belakang sampai tengkukku.

Degup jantungku kembali naik, liar dan tidak teratur.

Aku membuka mulut, tapi yang keluar hanya napas gemetar.

Aku sendirian.

Di tempat yang tidak masuk akal.

Di dunia yang tidak kukenal.

Udara pertama yang masuk ke paru-paruku terasa asing—lebih lembap, lebih berat, lebih… hidup. Tubuhku masih basah, jantungku masih memukul dinding dada seolah aku masih tenggelam di sungai beberapa detik lalu.

Tapi dunia yang kulihat ketika kupaksa berdiri—

membuatku terdiam.

Aku berada di tengah hutan.

Tapi bukan hutan yang kukenal.

Pepohonan menjulang tinggi—terlalu tinggi. Batang-batangnya besar, berlumut penuh hingga tampak seperti pilar kuno penyangga langit. Dari setiap cabang tumbuh sulur-sulur liana yang melingkar seperti tali raksasa. Pakis-pakis raksasa membuka daun lebar, membentuk payung alami yang menutupi tanah dari cahaya.

Kanopinya rapat, berlapis-lapis, sampai membuat sinar matahari hanya bisa turun sebagai garis-garis tipis—spotlight yang menembus remang hijau, menari-nari bersama debu lembap yang melayang di udara.

Aku menghadap ke atas.

Seberapa… besar hutan ini?

Suara-suara segera menyergapku.

Kicau burung yang asing—nada tinggi yang tidak pernah kudengar, seperti gema dari spesies yang namanya belum tercatat. Serangga bersenandung dalam ritme yang nyaris seperti dengungan listrik. Daun-daun bergesekan tertiup angin, menghasilkan suara bergulung yang terdengar seperti napas panjang hutan.

Semua itu riuh… tapi entah bagaimana tetap terasa hening.

Hening yang membuatku sadar bahwa aku hanyalah titik kecil di pangkuan dunia raksasa ini.

“Wah…”

Bisikan itu keluar tanpa kusengaja. Antara kagum, bingung, dan takut.

Langkah kecilku maju, tanpa memikirkan apa pun. Tanah di bawah kakiku lunak, campuran tanah basah dan guguran daun tua. Setiap kali aku bergerak, aroma tanah bercampur vegetasi memenuhi hidungku—aroma yang terlalu murni, terlalu kuat, seperti dunia yang belum pernah mengenal aspal, knalpot, atau manusia.

Aku menelan ludah.

Bukan karena takut… bukan sepenuhnya.

Tapi karena otakku mulai memproses sesuatu.

Hutan ini…

terasa tua.

Tua sekali.

Jauh lebih kuno daripada hutan mana pun di daerah wisataku. Tidak ada bekas potongan pohon. Tidak ada jejak manusia. Setiap sudut terasa liar, penuh, padat—seolah tumbuhan di sini tumbuh tanpa batas selama ribuan tahun.

Aku memeluk diriku sendiri, mencoba menenangkan napas yang kembali bergetar.

Di satu sisi… indah.

Sangat indah.

Sampai dadaku terasa sesak dibuatnya.

Namun di sisi lain…

Aku benar-benar tidak tahu aku ada di mana.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku sadar, pikiranku berbisik—

Tempat ini bukan lagi tempat keluargaku bisa menemukanku dengan mudah.

Anindira mengambil langkah kecil… satu… dua…

DEG!

Kakinya berhenti mendadak. Tanpa aba-aba.

Tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya—seperti naluri yang menamparnya agar siaga.

''Apa yang harus aku lakukan sekarang?!''

Pertanyaan itu menggema dalam kepalanya, tajam, menusuk, membuat dada serasa mengerut.

Langkah yang tadi mantap berubah ragu. Gerakannya melambat.

Bulu-bulu halus di lengannya berdiri, bukan karena ada sesuatu yang gaib, melainkan karena tubuhnya menyadari betapa kecil dirinya di tengah rimbunan pohon raksasa yang menjulang seperti tiang-tiang dunia.

Suara hutan tetap ada—ramai bahkan.

Kicau burung yang bersahutan dari berbagai ketinggian.

Dengung serangga musim panas dari balik semak-semak.

Desiran angin yang membuat dedaunan saling bergesekan di atas sana, ratusan meter di atas kepalanya, seperti lirihnya ombak yang tidak pernah berhenti.

Namun justru karena itulah, kegelisahannya semakin jelas.

Hutan tidak diam. Tapi ia merasa… ada sesuatu di depan.

Bukan sesuatu yang terlihat—tapi terasa, samar, mengusik.

Hatinya mengkerut. Napasnya menipis.

Anindira menelan ludah, tubuhnya bergetar kecil tanpa ia sadari.

Matanya menyapu sekitar, menakar setiap bayangan, setiap celah cahaya yang menembus kanopi raksasa di atasnya, seperti sorot-sorot tipis yang menandai betapa lebat hutan ini sebenarnya.

Rahangnya mengencang.

Ada perang sengit di balik tatapannya—insting bertahan hidup melawan logika yang memaksanya tetap rasional.

Ia berjalan pendek mondar-mandir, gelisah, seperti hewan kecil yang tahu ada bahaya namun dipaksa memilih arah mana yang paling masuk akal.

''Aku tidak tahu ada apa di depan sana…'' gumamnya pelan. ''Tapi aku juga tidak tahu bagaimana nasibku kalau aku berbalik…''

Di depannya, samar namun konstan, terdengar suara aliran air.

Bukan gemuruh besar—lebih seperti suara sungai ukuran sedang yang membelah hutan tua.

Sungai?

Atau sekadar aliran kecil?

''Kalau benar itu sungai, maka kemungkinan besar ada pemukiman penduduk…'' pikirnya, memaksa logikanya tetap berdiri.

''Kalau pun tidak ada, setidaknya aku bisa dapat air. Aku bisa bertahan sambil terus menyusurinya… mereka pasti sedang mencariku sekarang… sampai bantuan datang, aku harus bertahan…''

Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, membiarkan jantungnya mereda sedikit—walau hanya sedikit.

Logika mendorongnya maju.

Insting menariknya mundur.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel