006 Pertama Kalinya
**Bab 006: Pertama Kalinya**
Degup jantung Anindira berpacu makin liar.
DEG. DEG. DEG.
Dadanya terasa menghantam dari dalam, membuat seluruh tubuhnya kaku mematung. Pandangannya terpaku pada tangan sang pemuda yang terulur—dekat… terlalu dekat.
“Bisakah… aku mempercayainya?” tanyanya dalam hati, getir dan penuh ragu. “Haruskah aku mengikutinya?”
“Wanita.” suara pemuda itu terdengar datar, nyaris tanpa emosi.
“Aku mendengar detak jantungmu dengan jelas. Kau takut… tapi kurasa kau tak punya pilihan selain mengikutiku sekarang.”
SREK.
Daun-daun kering terinjak ketika Anindira justru melangkah mundur, menolak secara naluriah. Kewaspadaannya menolak menerima tangan itu, meski rasa takut sedang membekapnya.
Pemuda itu mengernyit.
Jelas ia tak memahami alasan penolakannya—atau mungkin ia mengerti, tapi tak punya waktu untuk menjelaskan apa pun.
ROARRRRR!!!
Raungan itu meledak dari balik pepohonan.
Brutal.
Dalam.
Tidak wajar.
Anindira membeku.
Raungan lain menyahut dari titik yang berbeda, lalu satu lagi. Hutan gelap di belakangnya seperti hidup… dan marah.
BRAK! DRAG! BRUK!
Suara berat dan menggetarkan bumi menyusul, seolah sesuatu yang besar—sangat besar—sedang merobek jalan di antara pepohonan. Tanah di bawah kaki Anindira bergetar halus, lalu semakin kuat.
Napasnya tercekat. Tenggorokannya seakan tersumbat rasa takut murni.
Ia ingin menjerit.
Ingin lari.
Ingin memohon bantuan siapa pun.
Tapi tidak ada suara yang keluar.
Dadanya sesak. Pikirannya porak-poranda. Bayangan-bayangan mengerikan berkelebat dalam benaknya.
Dan satu pikiran menghantamnya paling keras…
Jika ia mundur satu langkah saja, hidupnya bisa berakhir di sana.
“Apa itu barusan… bukan hanya satu…” gumamnya dalam hati, kacau.
“Ada beragam hal di belakangku… aku tidak tahu apa… Tapi satu hal yang jelas—makhluk di hadapanku ini manusia. Setidaknya… yang satu ini bisa diajak bicara, meski aku sama sekali tidak mengerti apa pun yang dia katakan dari tadi…”
Logika dan nalurinya, untuk pertama kalinya sejak tadi, bersuara serempak. Berusaha menenangkan ketakutannya yang menggerogoti dada; sekaligus menahan perasaan ngeri terhadap sosok pemuda asing yang tak kalah membuat tegang.
Tubuhnya masih kaku. Lututnya gemetar. Tapi pikirannya memaksa—lebih tepatnya memohon—untuk memilih apa pun yang tidak berasal dari kegelapan hutan di belakangnya.
“Bagiku dia mirip grim reaper…” Anindira menelan ludah, wajahnya pucat.
“Tapi setidaknya aku bisa komunikasi dengannya. Minimal itu dulu. Lainnya… terserah. Lihat nanti saja!”
Entah dari mana, sekelebat tenaga baru mengalir ke kakinya. Ia memaksa diri melangkah maju.
Dengan gerakan cepat namun ragu, Anindira meraih tangan pria itu—tangan kekar berotot yang terasa jauh lebih hangat dibanding udara dingin di sekelilingnya. Ia berdiri di belakangnya, seperti mencari perlindungan yang belum tentu aman.
“Tuan…” panggil Anindira dengan suara bergetar. “Tolong…”
Nada itu memelas—bukan dibuat-buat, melainkan jeritan ketakutan yang akhirnya menemukan satu-satunya tempat untuk bergantung.
Pemuda itu sempat tersentak ketika Anindira tiba-tiba meraih tangannya—erat, hampir putus kendali. Refleks kecil itu cepat hilang; beberapa detik kemudian, ia membungkukkan tubuh, setengah berlutut di hadapan gadis itu.
Ia menatap wajah Anindira yang pucat, mata besar yang bergetar memelas… seperti anak kucing yang dibuang di pinggir jalan, menunggu seseorang—siapa saja—untuk menyelamatkannya.
Salah satu tangan pemuda itu terangkat, mengusap lembut kedua tangan Anindira yang masih mencengkeram jari-jarinya.
Sentuhan itu membuatnya tersentak halus. Telapak tangan pemuda itu kasar, seperti kulit yang ditempa pengalaman hidup yang berat—hampir mirip amplas yang hangat.
Tapi anehnya, dari kekasaran itu justru mengalir ketulusan yang membuat dada Anindira sedikit mereda dari gigilan ngeri.
Pemuda itu lalu berdiri. Tanpa berkata apa pun, ia menggenggam tangan Anindira dan menuntunnya pergi dari tempat itu—dari daerah yang jelas ia ketahui terlalu berbahaya jika mereka tetap tinggal.
“Kurasa, kau sudah cukup tenang sekarang…” suaranya terdengar lebih datar daripada lembut, tapi tak lagi sekeras tadi.
Mereka masih berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, Anindira sedikit tertinggal setengah langkah namun tetap mengikuti.
Anindira menatapnya bingung. Ia mendengar jelas pemuda itu berbicara, namun tak mengerti satu pun kata yang diucapkannya.
Beberapa meter kemudian, pemuda itu berhenti.
Ia menoleh sekilas—seakan sadar bahwa sejak awal gadis itu selalu menatapnya, namun tidak pernah menjawab.
Sorot matanya tajam, meski entah kenapa ia tampak seperti sengaja menghindari menatap langsung ke mata Anindira.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Dari desa mana kau berasal? Aku akan mengantarmu ke sana.”
Anindira tetap tidak mengerti bahasanya. Tapi sesuatu dari pemuda itu—cara dia memalingkan wajah, nada suaranya yang tertahan, genggaman tangannya yang tidak mengendur—semuanya terasa… jujur.
Anindira masih takut kepada pemuda itu, namun justru karena ketakutan itulah ia semakin jeli memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Dan satu hal sangat mengganggunya: pemuda itu terus menghindari kontak mata.
Setiap kali Anindira mencoba menatap wajahnya—atau setidaknya, bayangan wajahnya dalam kabut—pemuda itu selalu mengalihkan pandangan.
‘’Ada apa dengannya?’’ pikir Anindira.
‘’Kenapa dia tidak mau menatapku? Memangnya aku menakutkan? Atau… dia yang menyembunyikan sesuatu?’’
Meski pemuda itu tidak memandangnya, Anindira bisa merasakan jelas bahwa ia tahu sedang diteliti habis-habisan. Ketegangan di udara samar berubah; seolah keduanya sama-sama mewaspadai satu sama lain.
“Aku bertanya padamu,” ujar pemuda itu.
Suaranya tetap datar, tetapi ada sedikit ketidaksabaran yang merembes keluar.
“Bisakah kau menjawab? Agar kita tidak buang waktu.”
Anindira masih menatapnya dengan ekspresi bingung. Sorot matanya yang tadi ketakutan kini lebih waspada—tajam, menyelidik, memperhatikan setiap detail dari gestur pemuda asing itu.
“A-anu… Maaf, tuan… aku… aku tidak mengerti apa yang kau katakan,” akhirnya Anindira memberanikan diri menjawab.
Pemuda itu tersentak kecil.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresinya—meski samar dalam kabut—tampak berubah.
“Apa yang kau katakan?” balas pria itu, alisnya terangkat.
Anindira memiringkan kepalanya, memperlihatkan kebingungannya secara gamblang.
Pemuda itu lalu menatapnya lebih lama, masih menghindari kontak mata namun kali ini tidak bisa sepenuhnya menahan rasa penasaran yang mulai menyusup di wajahnya.
“Kau…’’
Suaranya merendah.
“Dari mana asalmu? Aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu.”
Ia kembali memiringkan kepala, mencoba menangkap jawaban nonverbal dari gadis itu.
“Bukan hanya aku… kau juga tidak mengerti apa yang aku katakan, bukan?”
Anindira menelan ludah.
Ia tidak tahu apakah situasinya semakin membaik atau semakin memburuk, tapi setidaknya sekarang mereka menyadari hal yang sama.
“Tuan… aku tidak tahu apa yang kau ucapkan,” katanya pelan namun jelas.
“Tapi aku menebak… kau sama bingungnya denganku sekarang.’’
Kabut di sekitar mereka bergulung pelan, seperti ikut menahan napas. Untuk pertama kalinya sejak bertemu, ketakutan Anindira tidak hanya diarahkan pada pemuda itu—melainkan pada kemungkinan besar bahwa ia benar-benar berada di tempat yang bukan dunia yang ia kenal.
Keduanya saling menatap.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pemuda itu tidak mengalihkan pandangan. Entah karena lengah atau terbawa rasa penasaran yang sejak tadi ia tahan, kepalanya terangkat sedikit, dan matanya—yang indah berkelip sekaligus tajam—menangkap jelas mata hitam Anindira yang jeli menelisik.
Di saat yang sama, Anindira ikut terpaku.
Kabut yang memantulkan cahaya senja membuat bola mata pemuda itu—biru safir, berpendar jernih, terlalu indah untuk seorang lelaki berpenampilan liar—kilatan cahaya menari-nari memantul dari dalamnya.
DEGGG
Pemuda itu terhenyak.
Tubuhnya menegang, seperti seseorang yang baru saja menginjak perangkap yang ia tahu dimana lokasinya.
‘’Celaka!!!’’ pekiknya dalam hati. ‘’Bodohnya aku. Aku lengah!’’
Sementara itu, Anindira memegang dadanya.
Napasnya tercekat. Ada sesuatu—sensasi aneh, hangat, menusuk namun tidak menyakitkan—yang terasa meresap begitu saja ke relung terdalam dirinya, seolah ada sesuatu yang tersambung tanpa ia pahami.
Anindira tidak tahu apa itu.
Tapi pemuda di hadapannya tahu.
Wajahnya berubah drastis, seakan apa yang baru terjadi adalah kesalahan fatal yang seharusnya tak pernah dilakukan.
Melihat respon Anindira, ia makin yakin bahwa gadis kecil di hadapannya… ikut merasakan hal yang sama.
“Wanita,” ucap pemuda itu pelan namun tegas, nadanya berubah tajam—bukan ancaman, melainkan peringatan.
“Apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan padaku?”
Ia menatap Anindira lekat-lekat.
Kali ini tidak menghindar.
Tidak bisa menghindar.
“Aku seorang Safir,” lanjutnya, suaranya serak menahan gejolak yang hanya dia tahu.
“Dan aku tidak akan melepaskanmu setelah apa yang terjadi diantara kita.”
Anindira tidak mengerti sepatah kata pun.
Tapi tubuhnya merinding, bukan karena takut… melainkan karena ia menyadari satu hal aneh:
Nada pemuda itu berbeda.
Lebih serius. Lebih berat. Lebih… personal.
Ia tidak tahu apa arti “Safir”.
Ia tidak tahu kesalahan apa yang ia lakukan. Namun instingnya berkata bahwa pemuda itu tidak sedang mengancam untuk menyakitinya.
Justru kebalikannya.
Entah kenapa, peringatan itu terasa seperti sesuatu yang… ia tidak keberatan dengannya.
Hidung pemuda itu berkedut mencium sesuatu. “Ini buruk. Sebaiknya aku menggendongmu.”
Pemuda itu tidak memberi jeda, tidak menunggu izin.
Dengan gerakan cepat yang hampir tidak terlihat oleh Anindira, ia membungkuk dan mengangkat tubuh mungil gadis itu seolah beratnya tidak lebih dari seikat daun.
“Malam akan segera datang,” katanya datar, tapi nadanya mengandung urgensi yang tak terbantahkan. “Kita harus cepat.”
“Ahh! Tu–tuan! Apa yang kau lakukan?!”
Suara Anindira meninggi, panik merambat ke seluruh tubuhnya.
Kedua tangannya spontan memegang bahu pemuda itu agar tidak jatuh, meski sentuhan itu justru membuat wajahnya semakin panas karena malu dan kaget.
Ia tidak terbiasa disentuh, apalagi digendong begitu saja oleh seseorang yang asing yang baru saja ditemuinya.
“Tuan… tolong turunkan aku!” teriak Anindira sambil meronta, tubuhnya gelisah, berusaha melepaskan diri dari gendongan pemuda itu.
Namun pemuda itu tidak menghiraukan sedikit pun.
Langkahnya mantap, panjang, dan stabil meski melewati akar-akar besar dan tanah berundak yang licin. Seolah berat tubuh Anindira tidak memberi pengaruh apa-apa padanya.
Di balik semua itu, pemuda itu sebenarnya mendengar setiap protes Anindira dengan sangat jelas.
Hanya saja…
Ia memilih mengabaikannya.
