007 Imprint
**Bab 007: Imprint**
Anindira mengamuk sepanjang jalan. Ia meronta, menendang, memukul bahu pemuda itu—apa pun yang bisa ia lakukan sambil tetap digendong seperti karung beras.
“Tuan! Turunkan aku! Turunkan!!”
Suara Anindira pecah antara panik, malu, dan marah bercampur jadi satu.
“Hemat tenagamu,” sahut pemuda itu santai, tidak terguncang sama sekali oleh rontaannya.
“Apa pun yang kau lakukan, kau tidak cukup kuat untuk melepaskan diri dariku. Kau hanya akan makin lelah, jadi lebih baik diam.”
Nada suaranya tidak meninggi, tidak juga peduli.
Ia mengatakan itu seolah menyampaikan fakta sederhana—bahwa melawan hanya akan memperburuk keadaan.
Sementara itu Anindira justru semakin kalut karena betapa tidak berpengaruhnya semua usahanya. Pemuda ini… tubuhnya seperti batu. Keras, kokoh, dan tidak bergeming sedikit pun.
Setelah menempuh jarak yang dirasa cukup jauh dari perbatasan Hutan Larangan, akhirnya pemuda itu berhenti. Nafasnya sama sekali tidak berubah meski tadi berjalan cepat sambil membawa beban manusia.
“Kau lihat itu,” katanya tiba-tiba.
Sesaat kemudian, tubuh Anindira terangkat sedikit.
Pemuda itu menggeser pegangan, mengangkat salah satu kaki Anindira dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh dari gendongan.
Anindira terbelalak.
Telapak kakinya menganga.
Luka sobek lebar yang tersayat batu-batu tajam sepanjang perjalanan—luka yang bahkan belum sempat ia rasakan karena tubuhnya dipenuhi adrenalin dan ketakutan sejak tadi.
“Apa kau tidak menyadarinya?” tanya pemuda itu, masih datar, “Bagaimana kau bisa terus berjalan dengan kaki seperti ini?”
Anindira menatapnya, memelas, bibirnya bergetar, seolah baru sekarang tubuhnya mengizinkan rasa sakit itu menembus kesadaran.
“A-aa-add-dduhhh…”
Rengekannya pecah.
Air matanya terkumpul di sudut mata, dan rasa perih itu akhirnya menyerbu telapak kakinya seperti bara panas.
“Sakit… Kenapa baru terasa sekarang…? Pantas saja… dari tadi kakiku kayak ada yang aneh…”
Pemuda itu memejamkan mata sebentar, entah karena frustrasi atau tak percaya.
“Apa kau baru merasakannya?” tanyanya akhirnya, heran.
“Apa kau setegang itu sampai tidak sadar luka sebesar ini?”
Anindira tidak menjawab.
Ia hanya menatap wajah samar pemuda itu—wajah yang hampir tak terlihat karena kabut dan rambut hitam panjang yang membingkai garis dagunya—dengan mata berkaca-kaca.
Tubuhnya gemetar antara dingin, rasa sakit, dan juga… rasa malu karena ternyata benar: dia sudah melukai dirinya cukup parah tapi tidak menyadarinya sama sekali.
Dan sekarang, mau tidak mau, ia bergantung penuh pada pria asing ini.
Pemuda itu menghembuskan napas panjang, menatap Anindira yang masih memegangi kakinya sambil menahan perih.
“Hufth…” desahnya, kali ini lebih sabar daripada sebelumnya.
“Aku mengerti. Kau wanita tersesat, sendirian, tanpa siapa pun yang kau kenal. Tidak heran kalau kau tegang… karena itu, kuharap kau bisa percaya padaku. Mengingat kau dan aku terikat Imprint sekarang. Kau tidak sendirian. Aku akan melakukan apa pun untuk menyenangkanmu…”
Ucapan itu meluncur begitu saja—seakan penting—namun jatuh percuma.
Anindira hanya terpaku, matanya masih berkaca-kaca karena rasa perih di telapak kakinya; semua kata pemuda itu mengalir lewat tanpa benar-benar masuk ke kepalanya.
Pemuda itu menatapnya lama, lalu mendesah lagi.
“Hufth… aku benar-benar tidak tahu apa yang kau pikirkan. Apakah kau mengerti situasi antara kita atau tidak.”
Matanya menyipit, mencermati.
“Dari baumu, aku tahu kau belum punya pasangan… tapi aku juga bingung, karena aku tidak mencium bau ayahmu. Jadi aku bahkan tidak tahu ke mana harus mengantarmu pulang…”
Namun Anindira tidak sedikitpun mengerti mendengar keluhan itu.
“Tuan, apa ini asli?”
Pertanyaan polos itu memotong keluhan pemuda begitu saja.
Ia menunjuk tepat di bawah mata pemuda itu—masih berada dalam gendongannya, tanpa sadar jaraknya begitu dekat. Mata itu… sejak tadi memikatnya, memancing rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan.
“Dari pakaianmu,” lanjut Anindira, serius meneliti iris pemuda itu yang berpendar di bawah cahaya lembut hutan, “aku tahu kau pribumi. Jadi rasanya tidak mungkin kalau itu kontak lens…”
Kekagumannya begitu murni, begitu asing—dan bagi seorang penduduk dunia ini, begitu bodoh.
Ia tidak menyadari bahwa benda bernama kontak lensa pun bukan bagian dari pengetahuan tanah ini.
Ia juga tidak tahu bahwa tatapan yang memikatnya sejak tadi bukan hanya tampilan fisik, tetapi juga ikatan supranatural yang tak pernah tercatat dalam ilmu pengetahuan mana pun di dunia tempat ia dilahirkan.
Di sisi lain, pemuda itu justru mematung.
Bukan karena pertanyaan Anindira… karena dia pun tidak mengerti satu kata pun yang keluar dari mulut Anindira, tetapi karena sentuhan jari gadis itu di bawah matanya.
Tindakan kecil yang bagi Anindira hanyalah rasa ingin tahu—namun bagi dunia ini, itu adalah gestur yang hanya dilakukan ketika seseorang berniat memikat lawan jenis.
Pemuda itu tampak menelan ludah pelan, tenggorokannya bergerak jelas.
“Ehm…” Ia berdehem, mencoba menjaga nada suaranya tetap normal.
“Sebaiknya kau hentikan itu… atau kau akan menyesalinya jika aku tidak bisa menahan diri.”
Ucapan itu membuat Anindira seolah baru tersadar dari trance.
Tangan yang tadi menyentuh wajah pemuda itu seketika terangkat menjauh, seakan tersengat listrik.
“Maaf!” pekiknya spontan.
“Aku tidak bermaksud buruk, sungguh! Maafkan aku… itu tidak sengaja…”
Wajahnya memerah, panik, malu, bingung—semua bertumpuk jadi satu. Bahkan dalam etika dunia asalnya, apa yang tadi ia lakukan sudah cukup kurang ajar.
“Hei, tenanglah!” seru pemuda itu spontan ketika tubuh Anindira bergerak terlalu heboh dalam gendongannya. “Kau bisa jatuh!”
Anindira langsung membeku.
Pemuda itu menatapnya dengan mata hampir melotot—bukan marah, lebih seperti ngeri karena hampir menjatuhkannya tanpa sengaja.
“Baik…” gumam Anindira lirih, menunduk dalam.
“Aku tidak tahu apa yang kau katakan… tapi kurasa kau kesal padaku dan menyuruhku diam. Terima kasih… karena tidak melemparku ke bawah…”
Pemuda itu mengerjap.
Sejenak ia terlihat bingung—mungkin heran karena instingnya menangkap bahwa kesimpulan gadis itu selalu melompat jauh.
Namun pada akhirnya ia menghela napas panjang.
“Kau sudah tenang sekarang?” tanyanya sambil memiringkan kepala sedikit, memastikan gadis itu tidak lagi bergerak liar.
“Aku akan mencari tempat untuk kita beristirahat.”
Anindira tidak memahami kata-katanya, tapi kali ini ia memilih diam.
Pasrah.
Takut membuat kesalahan lagi.
Dan juga… karena pundaknya mulai terasa letih setelah menangis, meronta, dan panik bergantian sejak tadi.
Pemuda itu pun melangkah kembali, menggendongnya dengan mantap, sementara hutan perlahan pekat memasuki senja.
Di dunia ini, Imprint adalah ikatan yang muncul seketika—sebuah rasa sayang yang menancap begitu dalam hingga tak bisa ditarik kembali. Ikatan itu lahir hanya ketika sepasang mata pria dan wanita saling menatap.
Bagi seorang pria, Imprint hanyalah sekali seumur hidup.
Jika ia sudah terimprint oleh seorang wanita, maka perasaannya akan tetap terkunci pada wanita itu sampai salah satu dari mereka mati. Selamanya.
Namun bagi seorang wanita, aturan itu berbeda. Seorang wanita bisa mengimprint lebih dari satu pria sepanjang hidupnya… tetapi ia hanya bisa terimprint oleh seorang pria saja.
Jika momen itu terjadi pada kedua belah pihak sekaligus—pria dan wanita saling terimprint pada detik yang sama—itu disebut Imprint Sejati.
Ikatan absolut. Tak tergantikan oleh apa pun.
Hanya satu hal yang tidak disadari Anindira:
bahwa tatapan mereka barusan bukan sekadar pertemuan mata.
Pemuda itu merasakannya dengan sangat jelas—serangan emosional yang menghantam begitu kuat sampai membuat napasnya tercekat. Ia tahu apa itu. Ia tahu apa yang baru saja terjadi.
Dan ia tahu, tanpa perlu kata-kata, tanpa perlu janji, tanpa perlu ritual apa pun…
Hari ini, di ambang hutan larangan ini, ia telah menemukan wanita yang akan mengikat hatinya sampai akhir hidupnya.
Anindira.
Gadis tersesat yang bahkan tidak mengerti bahaya ataupun makna dari sentuhan kecilnya barusan.
