002 Awal Cerita
**Bab 002: Awal Cerita**
Di suatu waktu, di suatu tempat.
Di tengah pegunungan hijau yang sunyi dan sejuk, sebuah keluarga kecil tampak sedang menikmati hari libur mereka di tepian sungai dangkal yang airnya jernih dan berkilau tertimpa matahari.
Angin membawa aroma tanah lembap dan dedaunan pinus, sementara suara gemericik air menjadi musik latar yang menenangkan.
Empat anaknya berlarian dengan kaki telanjang menyentuh air dingin, sedangkan kedua orang tua mereka sibuk dengan persiapan yang sederhana tapi penuh kehangatan.
''Mom, berikan padaku!'' seru Andra sambil menghampiri ibunya yang sedang mengeluarkan bahan makanan dari kotak pendingin. Suaranya penuh semangat khas anak pertama yang bertanggung jawab.
''Biar aku saja yang membersihkannya.''
Ibunya tersenyum, mata hangatnya memandangi putra sulungnya sebelum menyerahkan sebungkus ikan segar. Andra segera berjalan ke pinggir sungai, berjongkok, lalu mulai membersihkan ikan dengan hati-hati.
''Lihat, ada banyak udang galah!'' pekik Dira riang. Adik bungsu itu berlari kecil sambil menunjuk-nunjuk ke balik batu besar di sungai.
''Banyak?'' Raffa menoleh dari arah ayah yang sedang mendirikan tenda. Mata anak laki-laki itu langsung berbinar. ''Aku ikut cari!''
Ayahnya yang sedang memasang tiang tenda berhenti sejenak, melirik putranya dengan sedikit kesal tapi lebih banyak sayang.
Beberapa bulan terakhir mereka sibuk tenggelam dalam tumpukan dokumen kantor. Hari ini adalah hari yang akhirnya mereka dapatkan untuk bernapas lega.
''Raffa...'' panggil ayahnya.
''Bantu ayah dulu!''
''Ayolah Ayah, tinggal sedikit lagi, kan... Aku mau cari udang, lumayan buat tambahan camilan...'' rengek Raffa sambil memegang tali tenda.
Ayah menghela napas, kemudian tertawa kecil. Romantisme sang ayah selalu kalah oleh semangat anak-anaknya.
''Okay, aku lepaskan kau kali ini...''
''Thanks Ayah!'' Raffa langsung meloncat kecil, lalu menyusul Dira yang sudah lebih dulu mencari udang di balik batu-batu sungai.
Sementara itu, dari dekat tumpukan kayu bakar, Gavin mengangkat beberapa ranting dan batang bambu.
''Mom, kayu bakarnya sepertinya kurang. Aku cari lagi ya...'' katanya sambil menimbang beberapa batang ringan di tangannya.
Ibunya yang sedang sibuk memasak di atas kayu bakar—sementara mulutnya bersenandung kecil—segera berhenti ketika mendengar itu.
''Jangan jauh-jauh, Gavin!''
''Tidak Mom, hanya di situ,'' jawab Gavin sambil menunjuk rimbunan bambu muda. ''Itu ada bambu. Lebih mudah terbakar meski basah.''
''Okay, tapi hati-hati!''
''Siap, Mom!'' Gavin berlari kecil ke arah yang ditunjukkannya dengan langkah mantap.
Keluarga itu berinteraksi dengan ceria.
Canda dan suara tawa mereka menyatu dengan suara alam.
Semuanya tampak damai, hangat, seperti dunia kecil yang sempurna.
Hingga suara itu memecah semuanya.
Jeritan.
Suara mencabik yang membuat waktu seolah berhenti.
''ARGH... KAKAK!'' suara itu melengking, penuh kepanikan, memantul keras di antara tebing-tebing batu.
Mereka semua menoleh bersamaan.
Anindira.
Tubuh kecilnya tampak terombang-ambing di permukaan air.
Tangan mungilnya menggapai-gapai, berusaha mencari pegangan tapi hanya mencakar kosong.
Mulutnya membuka menjerit, namun jeritan itu terputus lagi dan lagi oleh air yang tertelan.
''AKH... BLR... URRPP...''
Suara tenggelam-timbulnya terdengar menyakitkan, seperti seseorang yang dicekik oleh air sendiri.
''Kamu ngapain sih, Dir?'' tanya ibunya sambil tersengeh, sama sekali tidak curiga. Tangannya tetap sibuk mengaduk masakan di panci, aroma bumbu yang menguap menyatu dengan udara pegunungan yang sejuk.
Anindira terlihat memekik, tubuhnya setengah terangkat-terseret air, mulutnya megap-megap. Tapi dari kejauhan, gerakannya tampak seperti… bercanda.
''Iseng tuh, Mom...'' sahut Raffa dari tengah sungai, suaranya terdengar santai sambil terus mencari udang sambil tertawa kecil. Dia bahkan tidak menoleh penuh, hanya sekilas memandang dan memastikan itu sekadar ulah adiknya yang tomboy dan suka menjahili kakak-kakaknya.
''Pecicilan saja!'' seru Andra sambil geleng-geleng kepala, kedua tangannya tetap sibuk membersihkan sisik ikan. Dia ikut menambahkan komentar tanpa benar-benar melihat kondisi adik bungsunya.
Tak satu pun dari mereka sadar bahwa tubuh Anindira bukan sedang bercanda—tapi sedang ditarik kuat oleh sesuatu yang tak terlihat.
Tangan kecil itu terus menggapai, kuku-kukunya mencakar permukaan air, mencoba mencari pegangan yang tak ada.
Sungai itu dangkal... sangat dangkal.
Arusnya tenang, kecil—nyaris tak ada riak.
Tidak ada alasan untuk panik, tidak ada alasan untuk curiga.
Mereka tahu Anindira tidak bisa berenang, tapi bagi mereka sungai ini hanyalah genangan aman untuk bermain air.
Si bungsu tomboy yang tak pernah gentar pada apa pun… tentu tidak mungkin dalam bahaya.
''Dira!!!''
Suara itu membelah udara.
Gavin.
Kakak kembar Anindira.
Mata Gavin melebar, seolah sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang hanya dimiliki oleh kembar—menusuk jantungnya keras-keras.
Koneksi itu… alarm itu… hanya dia yang merasakannya.
''Tolong Dira! Dia dalam masalah!'' teriak Gavin sekuat tenaga.
Tidak ada tawa, tidak ada canda. Suaranya pecah dan penuh ketakutan.
Dia berlari, memecah air, membelah cipratan kecil yang beterbangan. Tubuhnya melesat seperti panah, napasnya tersengal, wajahnya pucat.
Keluarganya terdiam sepersekian detik—terkejut mendengar kepanikan yang begitu asing dari bocah yang biasanya tenang.
Lalu, seolah akal sehat baru menyusul setelahnya, mereka semua tersentak.
Ibu melepaskan sendok kayu yang sedang ia gunakan.
Ayah membuang palu tenda yang masih di tangan.
Andra menjatuhkan ikan yang sedang ia bersihkan.
Raffa mengabaikan udang yang tadi ia kejar.
Semua melesat, serempak, menyusul Gavin yang berlari seperti dikejar maut.
Air yang tadinya tampak tenang, kini terdengar mengerikan.
Dan jeritan Anindira—yang sebelumnya mereka kira candaan—tiba-tiba terdengar nyata.
Nyata dan menakutkan.
Cahaya mentari yang sejak siang menusuk tajam kini mulai meredup.
Langit perlahan bergeser warna—dari biru terang menjadi jingga kusam, seolah alam ikut berkabung.
Di balik garis pegunungan, matahari turun sedikit demi sedikit, digantikan semburat putih pucat bulan purnama yang mulai naik.
Namun malam yang indah itu terasa seperti ejekan.
Jeritan, langkah tergesa, dan suara air yang diaduk-aduk kini berganti dengan hiruk-pikuk petugas.
Polisi.
Tim SAR.
Penduduk setempat.
Semua telah dikerahkan.
Perahu karet memenuhi aliran sungai dangkal itu, anjing pelacak menggonggong gelisah, lampu sorot menari di antara bebatuan.
Tapi apa daya?
Sungai itu… dangkal.
Tak cukup dalam untuk menelan seseorang.
Namun Anindira lenyap.
Lenyap begitu saja.
Seolah tertarik oleh udara.
Seolah dicabut dari dunia.
Keluarga Anindira hanya bisa berdiri di pinggir sungai, tubuh mereka kaku, pakaian masih basah oleh air dan keringat.
Mereka menyaksikan semuanya.
Mereka berada di sana.
Mereka melihat si bungsu menggapai, menjerit, tenggelam—tanpa alasan, tanpa sesuatu yang tampak.
Dan tetap saja…
Sulit dipercaya.
''Bagaimana mungkin…'' suara ibu tercekat, berulang kali, seakan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tapi suaranya hampa.
Ayah berdiri mematung, tatapannya kosong ke permukaan air yang kini tampak begitu jinak—seolah air itu tidak pernah menelan putrinya beberapa jam lalu.
Gavin duduk di tanah, tubuhnya gemetar, kedua tangan menutupi wajah.
Raffa mondar-mandir, napasnya terengah, tidak bisa berhenti memandang ke sungai yang sama.
Andra berteriak memanggil-manggil nama adiknya sampai suaranya serak, sampai warga harus menariknya agar dia tidak terjun lagi ke air.
Di depan mata mereka semua…
anak perempuan satu-satunya itu—
yang tadi tertawa, memanggil mereka, mengeluh ingin udang lebih banyak—hilang begitu saja.
Tanpa jejak.
Tanpa peringatan.
Tanpa penjelasan.
Meninggalkan ratusan tanya yang menusuk dada.
Tanya yang mungkin takkan pernah mereka dapat jawabannya.
Entah sampai kapan.
