001 Ikatan Meregang
**Bab 001: Ikatan Meregang**
PROLOG
Aku telah kembali...
Aku benar benar telah kembali, ini nyata dan bukan mimpi.
Ayah...
Momy...
Kak Gavin...
Kak Andra...
Kak Raffa...
Kalian ada di hadapanku, bersamaku.
Betapa aku sangat merindukan mereka selama ini. Aku sempat memikirkan berbagai macam cara agar aku bisa bertemu lagi dengan mereka...
Tapi...
Dimana mereka?! Aku... tidak bisa merasakan kehadiran mereka...
Tidak!
Aku benar benar tidak merasakan keberadaan mereka...
Rasa itu masih ada... Ikatan pasangan... masih ada!
Ini artinya, aku masih punya koneksi dengan mereka...
PARA BELAHAN JIWAKU...
Mereka nyata, aku kembali juga nyata!
---
Sore itu, setelah makan malam, aku masih bisa merasakan hangatnya sup di tenggorokan. Suasana rumah tenang; hanya suara angin sore yang menyelinap lewat celah jendela. Aku merenggangkan badan di kursi, mencoba menikmati momen damai yang jarang sekali kudapatkan akhir-akhir ini.
Namun tiba-tiba—
dadaku tersentak, seperti dipukul dari dalam.
“Apa…?” Aku terdiam. Sekejap saja, napasku tersangkut di tenggorokan. Ada sesuatu yang aneh… tidak wajar. Seolah jiwaku sendiri bergeser dari tempatnya.
Lalu datang gelombang kedua.
Lebih kuat.
Lebih tajam.
Aku meraih tepi meja untuk menjaga keseimbangan, tapi rasa sesak itu semakin menjadi. Ada tarikan kuat dari dalam diriku—tarikan yang menguras tenaga dengan cara yang tak bisa kujelaskan.
Dan kemudian—
Air mata mengalir begitu saja. Bukan karena sedih. Bukan karena takut. Tubuhku menangis sendiri… jiwaku menangis.
“Ada… apa ini…? Jangan…” gumamku tanpa suara.
Ada sesuatu yang… akan lepas.
Perasaan itu begitu jelas, begitu menakutkan. Seperti ada tali halus yang terhubung ke pusat hatiku, dan kini tali itu diregangkan paksa oleh sesuatu yang jauh… sangat jauh.
Aku tahu perasaan ini.
Ini bukan sekadar sakit.
Ini adalah… ikatan pasangan.
Ikatan itu—
ikatan kami—
sedang tertarik sampai ke batasnya.
“Tidak… Jangan…” suaraku pecah, napasku bergetar.
Wajahnya muncul di kepalaku.
Laki-laki itu.
Dia.
Sosoknya muncul begitu tajam, begitu nyata, tapi terasa jauh… semakin jauh. Aku berusaha meraihnya dalam pikiranku, tapi bayangannya seperti kabut yang tersapu angin.
“ARRGGHHH…!”
Teriakanku memecah keheningan ruangan.
Lututku goyah, dan aku jatuh berlutut. Kedua tanganku mencengkeram dadaku begitu keras sampai kuku-kukuku masuk ke kulit. Sakit sekali. Tapi rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa robek di dalam jiwaku—rasa yang tidak mungkin kudeskripsikan.
“Tidak… Jangan… Jangan… kumohon… kembalilah… kembalilah…” suaraku pecah, nyaris tak terdengar.
Tubuhku menegang seperti busur ditarik terlalu kencang. Aku meringkuk, gemetaran. Keringat dingin mengalir dari pelipis, menetes ke lantai. Nafasku tersendat; paru-paruku seolah menolak bekerja.
Aku bisa merasakan energinya… menghilang.
Mundur.
Menjauh.
Menarik diri dariku.
Kegelisahanku meledak. Jantungku berdetak tak karuan, seolah mencoba melarikan diri dari dadaku sendiri. Tali yang menghubungkan kami—tali yang tak kasat mata itu—sekarang serasa seperti benang tipis yang hampir putus.
Jiwaku ikut bergetar.
Retak.
Sakitnya tidak tertahankan.
“Jangan pergi…” suaraku hanya bisikan parau.
Aku mencoba menarik napas dalam, tapi yang kudapat hanya sensasi menusuk di dada. Bukan rasa sakit fisik… tapi rasa hampa yang menelan dari dalam. Seolah ada lubang besar yang tiba-tiba menganga di tengah hatiku.
Sosoknya di dalam benakku makin kabur. Makin jauh.
Seperti aku sedang menyaksikan seseorang yang sangat kucintai tenggelam di ujung dunia—dan aku tidak bisa mencapai tangannya.
“Jangan… jangan tinggalkan aku…”
Tangisku pecah.
Aku tidak tahu berapa lama aku terbaring meringkuk seperti itu, tubuh gemetar tanpa henti. Hanya satu yang kurasakan: tali itu hampir putus.
Ikatan pasangan kami…
sekarat.
Begitu sensasi itu mereda sedikit, aku menggenggam udara kosong di depanku—gerakan refleks, seolah aku benar-benar bisa menariknya kembali ke dalam pelukan.
Tapi tidak ada apa-apa di sana.
Hanya udara dingin.
Dan ruang kosong di dalam dadaku.
Aku tersengal, merasakan jiwaku sendiri retak-retak halus.
“…tolong… jangan hilang…” bisikku pelan.
Dan pada detik itu aku tahu—
kalau ikatan itu benar-benar putus…
aku tidak akan pernah kembali menjadi diriku yang sekarang.
Dunia masih terasa berputar ketika suara Ibu terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
“Koza, tolong Dira!” teriaknya.
Aku ingin menjawab, ingin mengatakan kalau aku baik-baik saja—setidaknya secara fisik. Tapi mulutku seperti terkunci. Napasku terputus-putus; tubuhku masih gemetar. Aku hanya bisa memegangi dadaku, mencoba menahan rasa robek itu agar tidak menelanku bulat-bulat.
Langkah-langkah tergesa terdengar mendekat.
“Ada apa?!” suara paman Koza, panik dan bingung. “Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kandungannya?!”
Kandunganku…
Benar. Aku sedang mengandung. Tapi rasa sakit ini bukan dari tubuhku. Ini jauh lebih dalam.
“Aku tidak tahu… panggil Balder sekarang!” seru Ibu, suaranya tegang mencabik udara.
“Tapi, kalian akan sendirian!” Paman Koza terdengar bimbang, suaranya pecah. Aku bisa membayangkan wajahnya yang panik, tapi mataku terlalu basah, penglihatanku buram.
“Dia akan datang, pergilah!” bentak Ibu, “Dia pasti sudah tahu keadaan Anindira.”
Aku mendengar langkah Paman Koza menjauh, terburu-buru. Ruangan terasa bergetar—atau mungkin itu jiwaku sendiri yang mengguncang.
Belahan jiwaku…
Ya.
Dia pasti merasakannya.
Ikatan pasangan tidak mungkin tidak bereaksi saat hampir putus.
Ruangan bergetar. Atau mungkin itu jiwaku sendiri yang runtuh.
Tiba-tiba aku merasakan energi yang kuat mendekat—hangat dan mendesak, seperti hembusan kehidupan yang memaksa masuk ke tubuhku yang mulai mati rasa.
Saat itu—
ada yang mendekat dari arah pintu. Energinya seperti menghantamku dari dalam, gelombang hangat yang membelah rasa hampa di dadaku.
Dia.
Sedikit lebih cepat dari Pak Balder yang masuk buru-buru, satu langkah lain, lebih cepat, lebih berat, lebih putus asa. Aku merasakan kehadirannya bahkan sebelum melihat sosoknya.
“Dira!”
Suara itu seperti mengoyak kabut tebal di pikiranku.
Tapi tubuhku tidak bereaksi cepat.
Aku mendongak perlahan… seperti boneka yang kehilangan sendinya.
Wajahnya pucat.
Mengerikan.
Seolah dia yang sedang sekarat.
Aku tidak melompat; tubuhku bergerak dengan sendirinya, lebih seperti jatuh ke arahnya daripada memeluk. Tanganku terangkat dengan gemetar kecil yang tidak bisa kukendalikan.
Begitu lengannya merengkuhku, barulah aku runtuh.
Tapi bukan dengan tangis—air mataku keluar, namun wajahku tetap kosong.
Tidak ada suara.
Tidak ada teriak.
Hanya diam yang menyakitkan.
“Ada apa?… Ada yang sakit?” suaranya bergetar keras.
Ketakutan memancar darinya, membuat dadanya berguncang setiap dia menarik napas.
Tapi aku tidak bisa menjawab.
Aku bahkan tidak bisa menggeleng.
“Balder, periksa dia!” suaranya pecah. “Cepat! Kenapa dengannya?!”
Aku menggenggam bajunya, tapi genggamanku lemah, terputus-putus, seperti seseorang yang hampir kehilangan kesadaran.
Aku menyembunyikan wajah di dadanya.
Tidak karena ingin menangis—tapi karena aku takut jika aku melihat dunia lagi, aku akan benar-benar jatuh ke dalam kehampaan itu.
Dekapannya erat… terlalu erat, seolah dia juga merasakan ikatan itu hampir putus. Napasnya tersengal. Aku bisa merasakan tangannya gemetar di punggungku.
“Aku… aku takut…” tapi suaranya tidak pernah keluar dan hanya bisa kupikirkan saja.
Tanganku meremas bajunya dengan sisa tenaga yang tersisa.
“Ikatannya…”
Napasku tetap terasa tercekat.
Tidak terdengar, perasaanku tidak bisa terucapkan.
Seolah kata-kata itu sendiri menyayatku.
“…akan… putus…”
Tetap tidak tersampaikan. Suaraku mati di tenggorokan.
Dia menegang.
Seketika.
Tapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dia hanya merasakan rasa sakitku—bukan penyebabnya.
Namun dia merasakan keputusasaan yang mengguncang jiwaku, dan aku… merasakan ketakutan yang sama dari dirinya.
Dua jiwa yang saling menggenggam, sama-sama takut kehilangan… tanpa tahu apa yang sebenarnya hampir hilang.
‘’Balder cepatlah!’’ Desak ibu, suaranya terdengar panik.
Pak Balder datang mendekat dengan gerakan cepat namun terukur.
Dia tidak panik, tetap tenang dan sabar meski di bawah tekanan.
Tangannya langsung meraba denyut leherku, lalu memeriksa pola napasku yang tersengal.
“Ini syok berat,” gumamnya cepat.
“Dia harus ditenangkan sekarang sebelum tubuhnya runtuh.”
Pak Balder menggeser kepalaku perlahan, menopang tengkukku dengan lengan.
Lalu dari tas kulit kecilnya, dia mengambil wadah kayu kecil berisi campuran tanaman herbal yang telah dilumat jadi pasta cair.
Ramuan penenang alami: pahit, menyengat, dan bereaksi langsung pada saraf pusat manusia.
“Pegang dia,” perintah Pak Balder singkat.
Dia menahan bahuku, namun tangannya bergetar.
“Balder, hati-hati—”
“Jika tidak segera, tubuhnya tidak akan kuat menahan syok ini.”
Tanpa menunggu lagi, Pak Balder menempelkan ujung jari berisi ramuan itu ke gusi dan bagian dalam pipiku—tempat penyerapan tercepat.
Rasanya pahit… sangat pahit.
Seperti akar busuk yang dihancurkan.
Tubuhku bergetar sekilas menolak, tapi Pak Balder menekan titik saraf di bawah telingaku dan di dekat tengkuk.
Tekanannya tepat, terfokus, cukup untuk membuat tubuhku melemas perlahan.
“Baik… napasnya mulai turun,” Pak Balder bergumam.
Dia mencengkeramku lebih erat, seakan takut aku hilang begitu saja.
“Dira… dengar aku… jangan kalah, kau harus berjuang…” suaranya pecah.
Aku ingin menjawab.
Namun suara itu hanya terperangkap di tenggorokan.
Mataku berat.
Sangat berat.
Ramuan itu menyeret kesadaranku turun… perlahan… lembut… pasti.
Dunia memudar seperti tirai yang ditarik.
Dan di tengah kegelapan yang datang, sesuatu terbuka dari dalam diriku.
Ingatan masa laluku.
Ketika aku baru saja hadir di dunia aneh ini…
