Bab 5 Babi gendut dan lumpur vulkanik
‘Babi gendut dan lumpur vulkanik’
Pada malam hari, Lusiana pergi ke pemandian. Biasanya dia akan berendam di kolam air panas di tempat tertutup. Kali ini dia pergi karena ingin memastikan sesuatu. Semua yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Rena dan Andi kembali bertemu di tempat yang sama, di bawah sinar rembulan, mereka kembali bermesraan.
Lusiana langsung memutar badan dan berniat kembali tapi sialnya kakinya malah tersandung dan tubuh gendutnya membautnya kesulitan.
“Akh! Sialan! Tubuh gendut ini sungguh merepotkan!” keluhnya.
Andi dan penjaga yang menunggu di luar pemandian mendengar suaranya mereka bergegas untuk memeriksanya. Dan Andi segera membantu Rena untuk keluar dari dalam kolam.
“Kamu bersembunyilah, aku akan memeriksa sebentar,”
Rena menganggukkan kepalanya, dia segera pergi untuk bersembunyi.
Andi melihat Lusiana berjalan dengan kaki tertatih-tatih dari kejauhan. Arah wanita itu sedang menuju ke dapur istana.
“Dasar gendut! Dia pasti kelaparan, sudah hampir larut malam dan dia masih ingin makan! Tubuhnya itu sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi!”
Rena di belakang Andi ikut melihat. “Lusiana?”
“Ya, aku rasa dia terjatuh ketika ingin ke dapur.”
“Untuk apa dia ke dapur? Banyak pelayan di kediamannya, bukan?” tanya Rena dengan curiga. “Apa jangan-jangan dia mengintip kita?”
“Mengintip? Tidak mungkin! Apa kamu lupa Lusiana seperti apa? Dia wanita pencemburu dan tidak bisa mengendalikan diri! Jika dia benar-benar melihat kita apakah menurutmu dia bisa bersikap tenang seperti itu? Wanita itu pasti akan langsung menggila dan berkata, ‘teganya kamu padaku – Andi, Rena, teganya kalian berdua,’ hahahaha!” Andi berpura-pura menirukan perkataan Lusiana kali terakhir saat memergoki mereka sebelumnya.
Tidak lama kemudian, mereka melihat Lusiana keluar dari dalam dapur sambil menggenggam dua buah bakpao. Lusiana sedikit gemetar dan memakannya dengan sedikit memaksakan diri, sebelumnya dia sudah berencana untuk menguruskan badan tapi situasi sekarang sama sekali tidak menguntungkan. Lusiana berjalan menuju ke kediamannya.
“Untungnya mereka tidak curiga! Jika mereka tahu aku tidak sengaja mengintip dua orang itu pasti akan menceburkanku ke dalam air, dan nyawaku pasti melayang! Sebaiknya aku terus bersandiwara dan lebih peduli pada diriku sendiri, tubuh gendut ini sangat merepotkan!”
***
Pada keesokan paginya, Lusiana memakai masker sambil melakukan beberapa gerakan sederhana. Dia tidak bisa leluasa untuk berolahraga karena kondisi tubuhnya sangat gemuk. Keringatnya mulai mengucur deras dan dia tengkurap di beranda depan.
Rena sengaja datang untuk melihat kondisinya, dan melihat wajah Lusiana penuh dengan krim hitam serta keringatnya yang membasahi tubuh dia langsung tertawa.
“Hahahahaha! Kakak Lusi, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah kehabisan akal untuk menjadi cantik? Kenapa wajahmu dipenuhi dengan kotoran babi? Hahahaha!”
Lusiana menelan ludahnya.
Ko-kotoran Babi katamu? Rena ucapanmu ini terdengar sangat keterlaluan. Tung-tunggu apa dia sudah memakai krim yang aku berikan padanya?
Lusiana bertanya-tanya dalam hati. Melihat wajah Rena sepertinya wanita itu pasti sudah membuang benda tersebut.
“Ah, ini? Adikku sayang! Ini bukan kotoran Babi, ini adalah lumpur vulkanik dan bagus untuk meregenerasi kulit! Dengan lumpur ini kulitmu bisa menjadi lebih halus.” Tuturnya.
Rena mengipasi wajahnya sendiri dengan sombong.
Apa kamu pikir aku akan percaya dengan omongan sialmu? Aku tidak akan termakan jebakanmu lagi. Karena ulahmu kemarin perutku sampai mulas dan diare! Wanita sialan, meski bersaing denganku untuk menjadi cantik. Beberapa tahun pun berusaha kamu si gendut jelek tidak akan pernah berhasil!
“Kakak pakai saja sendiri! Aku tidak butuh itu!” tolaknya cepat.
Lusiana pergi untuk menemuinya dan duduk di sampingnya. “Kali ini kamu datang ke sini, aku tidak menyiapkan apa pun,” ujarnya basa-basi.
“Kakak, aku sudah menerima hadiahmu kemarin tapi sepertinya salep krim buatanmu sama sekali tidak cocok, aku datang untuk mengembalikannya!” ujarnya sambil meminta pelayannya untuk meletakkan salep itu di meja.
Lusiana mengambilnya dan menggenggamnya erat. Dia meremasnya seperti ingin menghancurkan benda di genggaman tangannya itu.
Seharusnya aku tahu cara ini tidak akan pernah berhasil.
“Kakak, aku doakan kamu bisa menjadi lebih cantik, hahahaha! Semoga sukses dengan usahamu!”
“Tentu saja! Aku pasti akan menjadi cantik, dan aku akan menikah dengan Pangeran Andi, kami akan bersama selamanya, tidak lama lagi....”
Wajah Rena seketika memucat dan dia menoleh ke arah Lusiana dengan sinis. Diam-diam dia mengumpat, sengaja tidak merendahkan nada suaranya.
“Babi jelek gendut sepertimu, hanya akan membuat Pangeran Andi muntah! Lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya!”
Lusiana sangat geram sekali. Dia berdiri sambil berkacak-pinggang.
“Sisil! Buang ini ke tempat sampah!” perintahnya sambil menyerahkan salep yang dikembalikan oleh Rena tadi.
Sisil menerimanya dan melakukan perintahnya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Lusiana sengaja pergi ke klinik Tabib Alex. Dia pergi ke sana bersama Sisil. Sebenarnya dia sangat kesal dan marah jadi dia ingin menghibur diri. Lusiana bukan sengaja ingin berebut pria dengan Rena tapi harga dirinya sudah diinjak-injak dan dia merasa sangat terluka. Lusiana juga tidak bisa membahas masalah itu dengan siapa pun. Melihat Andi yang selalu berusaha untuk menyingkirkannya agar bisa lepas dari ikatan pernikahan serta terus berusaha untuk membungkam mulut Lusiana agar tidak membocorkan aibnya membuat Lusiana merasa muak.
Alex kaget sekali melihat Lusiana datang tiba-tiba.
“Yang-mulia? Kali ini apa yang membawa Anda datang ke sini?”
“Entahlah, apa kamu punya obat untuk menguruskan badan?” nada suaranya terdengar lelah dan putus asa. Sebelumnya Lusiana sudah memutuskan untuk melakukan olahraga tapi tubuhnya yang terlewat besar membuatnya kesulitan, dan dia hanya bisa melakukan beberapa gerakan kecil.
Tabib Alex menatap penampilan Lusiana dari ujung kepala sampai ujung kaki. Meski dengan obat, untuk menjadi kurus juga butuh waktu yang tidak sebentar. Prosesnya juga tergantung pada setiap individu masing-masing. Dia tahu Lusiana adalah seorang yang suka makan dan malas bergerak.
“Yang-mulia, sejak kapan Anda ingin menguruskan badan? Tubuh Anda terlalu lemah dan Anda paling tidak bisa menahan lapar,”
Lusiana mengukir senyum kaku lalu menganggukkan kepalanya. “Ya, karena aku sangat suka makan, berikan aku obat pencegah lapar!”
Tabib Alex mengambil obat dari rak laci lalu menyerahkannya. “Ini ada sepuluh pil, Yang-mulia bisa mengonsumsinya sehari dua pil, jika tidak manjur saya akan membuat obat lain dengan dosis yang lebih kuat.”
Lusiana membuka tutupnya lalu mencium botol, aromanya sangat khas dengan rimpang-rimpang berkhasiat serta daun obat yang biasa digunakan untuk diet.
Ternyata di zaman kuno obat seperti ini sudah diproduksi, tapi sepertinya hanya di istana kerajaan.
Lusiana tersenyum dan kedua matanya bersinar senang.
“Kalau begitu aku akan membawanya! Sampai jumpa Tabib Alex! Buatkan aku dosis yang lebih tinggi!” perintahnya.
“Baik, Yang-mulia!” Tabib Alex mengangguk patuh.
“Sisil, berikan uangnya!” perintahnya.
“Ini uangnya,” ujarnya pada Tabib Alex.
Tiga hari kemudian, Lusiana merasa perutnya tidak begitu lapar lagi. Dia begitu giat dan melakukan olahraga setiap hari. Lusiana sengaja fokus dengan jadwalnya untuk menguruskan badan.
Di sisi lain, Rena tidak pernah melihat Lusiana ikut hadir dalam jamuan di istana, dalam acara pesta bunga para tuan putri pejabat dan sosialisasi lainnya juga tidak pernah datang.
“Sebenarnya apa yang dilakukan wanita itu? Ayahanda terus memintaku untuk menggantikannya memimpin acara di dalam pertemuan para putri pejabat! Kalau terus begini bagaimana aku bisa melakukan semua rencanaku untuk mempermalukan babi jelek itu di depan orang-orang!” keluhnya dengan frustrasi.
Pagi ini Rena kembali datang mengunjungi Lusiana untuk melihat kondisinya. Sudah beberapa hari sejak dia datang terakhir kali. Saat dia tiba di kediamannya, dia melihat wanita dengan tubuh lebih kurus dari sebelumnya tengkurap di beranda depan kediaman. Baju yang dipakainya masih sama dan wajahnya juga masih sama diolesi dengan lumpur yang dia sebut ‘tai babi’ di pertemuan beberapa hari yang lalu.
