Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Tantangan baru

“Kakak Lusi!” sapanya seraya mengukir senyum palsu di bibirnya.

Lusiana bangun dari posisinya lalu duduk di alas yang dia gunakan untuk berolahraga. Melihat Rena datang mengunjunginya keningnya mengernyit.

Untuk apa dia datang ke sini? Bukankah dia selalu sibuk untuk datang memenuhi undangan pertemuan para wanita pejabat?

Karena Lusiana tidak bereaksi, Rena berjalan lebih dekat dan membungkuk untuk melihat ekspresinya. Dia mendapatinya sedang melamun.

“Kakak? Kakak melamun? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya berpura-pura perhatian.

Lusiana bangun dan duduk di kursi. Dia sebenarnya hanya ingin fokus melatih diri dan membuat aneka ramuan herbal kecantikan.

Rena pura-pura sedih lalu menyentuh lengan Lusiana. “Kakak? Bukannya Kakak baik-baik saja selama ini? Kenapa tidak mau datang ke acara pertemuan? Aku terus ditanya para tamu undangan. Mereka bilang aku sengaja datang menggantikanmu untuk merebut posisimu!” lanjutnya.

Lusiana menuang teh ke dalam cangkir, dia masih belum menjawab.

“Kakak?”

“Minumlah,” Lusiana meletakkan cangkir di depan Rena.

Rena takut diracuni, dia yakin Lusiana selalu memiliki niat jahat terhadapnya. Melihat Rena tidak menyentuh cangkirnya sedikit pun, Lusiana kembali mendesaknya.

“Kenapa? Kamu tidak mau aku pergi ke acara?”

“Ka-kakak, aku sudah minum teh tadi, jika minum lagi aku bisa bolak-balik pergi ke toilet,” tolaknya.

“Ya sudah, kamu tidak ingin aku pergi? Kalau begitu kamu tetap gantikan aku pergi ke acara, aku akan tinggal di kediaman saja. Masalah gosip yang tersebar, suatu hari nanti aku akan meluruskannya.”

Rena tidak menyangka Lusiana akan berkata demikian bukan malah menindasnya seperti kemarin-kemarin.

Apa ini? Apa emosinya sudah membaik? Sebelumnya dia mati-matian ingin membalasku! Apa Lusiana yang dulu sudah kembali? Tapi jika aku tidak meminum tehnya, kapan aku bisa membuatnya dipermalukan di depan semua tamu undangan? Pokoknya dia harus datang!

Rena bertanya-tanya dalam hatinya.

“Kak, aku akan meminumnya, berjanjilah padaku kamu akan datang besok! Besok acaranya pameran bunga. Putri pejabat yang mengadakannya, aku dengar dia masih saudaranya Pangeran Andi,”

Lusiana menganggukkan kepalanya.

“Ya, baiklah, aku akan datang ke acara itu.”

Rena sangat senang karena dia berencana ingin mempermalukan Lusiana besok, dengan begitu semua pangeran tidak akan pernah sudi mendekatinya lagi.

Pada sore hari Lusiana berendam dengan ramuan racikannya, kulitnya terlihat lebih halus dan pinggangnya juga jauh lebih langsing sekarang.

“Rena....Rena, dia pasti ingin mempermalukanku di depan semua orang! Wanita itu sungguh-sungguh ingin menyingkirkanku! Coba saja, aku akan melayanimu sampai akhir!”

Lusiana menyentuh air seputih susu di dalam bak mandinya, kulitnya terasa lebih tenang dan nyaman.

***

Pagi-pagi di kediaman Lusiana.

Lusiana sudah bersiap-siap, dia tidak berdandan menor seperti putri pejabat kebanyakan. Dia hanya memoles beberapa bedak dasar untuk melembapkan kulit dan sedikit tabir surya, make up yang dia pakai dulu dengan yang sekarang sangat jauh berbeda. Penampilannya juga terlihat lebih elegan. Lusiana sangat pandai memilih warna baju dan dia memutuskan untuk memilih warna yang tidak terlalu mencolok karena kurang cocok dengan warna kulitnya.

Sisil sejak tadi memperhatikannya, dia takjub dengan penampilan Lusiana yang sekarang.

“Yang-mulia, Anda terlihat sangat cantik dan elegan! Selain itu tubuh Anda juga tampak lebih ramping sekarang, sangat berbeda dengan yang dulu!”

Lusiana hanya mengukir senyum dan tidak menjawab.

“Hari ini aku akan pergi ke acara pameran bunga, aku dengar mereka masih saudaranya Andi, kamu ikutlah bersamaku!” ajaknya.

“Baik, Yang-mulia!”

Raja Yudistira sangat senang karena Lusiana bersedia keluar dari kediaman setelah beberapa minggu mengurung diri di kediamannya. Pikirnya putrinya itu tidak akan sembuh dan terus bersedih karena masalah di masa lalu. Yudistira sendiri tidak tahu masalah apa sebenarnya yang menyebabkan Lusiana sampai meminum racun waktu itu, dia tidak pernah menceritakannya.

Lusiana naik kereta kuda bersama Sisil, sementara Rena bersama pelayan pribadinya.

Sampai di lokasi, Lusiana turun dari dalam kereta ditemani Sisil.

Rena menyelipkan pisau di balik lengan bajunya, dia berencana merobek gaun yang dikenakan Lusiana agar Lusiana merasa malu.

Lusiana berjalan tenang di samping Sisil lalu masuk ke dalam. Bunga-bunga mekar dalam vas diletakkan di berbagai sisi. Sungguh pemandangan yang sangat cantik. Lusiana tidak begitu tertarik dengan pertemuan seperti itu.

Undangan di acara tersebut tidak hanya didatangi oleh para putri pejabat melainkan juga para pangeran dari beberapa negara.

Sisil tampak sangat senang dan bersemangat karena baru kali ini dia pergi ke acara seperti itu. Gadis itu terus mengekor ke mana pun Lusiana pergi.

Di tengah kerumunan para tamu, Rena mencari cara untuk berpura-pura terjatuh. Dengan begitu dia bisa membuat ujung pisaunya merobek sisi gaun Lusiana.

Lusiana yang sekarang sangat berhati-hati, dia tahu kalau sejak tadi Rena mengawasinya dari belakang. Ketika Rena berjalan dengan lebih cepat dan mendekatinya, Lusiana langsung mengambil langkah ke samping dan berpura-pura kehilangan keseimbangan. Sialnya dia malah jatuh memeluk seorang pangeran tampan. Sementara Rena yang sasarannya berubah posisi malah menabrak putri pejabat yang mengadakan acara hingga ujung pisaunya membuat lengan gadis itu terluka.

“Kamu siapa? Kenapa malah melukaiku!? Apa kamu sengaja datang ke sini untuk membunuh orang!” teriak Wilda pada Rena.

“Maaf-maaf, aku tidak sengaja! Maaf! Aku sungguh tidak sengaja, aku tidak tahu pisau ini punya siapa, aku-” Rena ketakutan melihat lengan gadis itu terluka.

Plak! Wilda langsung melayangkan tamparan keras ke pipi Rena.

Andi dan semua orang melihat kejadian itu dan dia sangat malu sekali.

Pangeran Anan yang tidak sengaja bertabrakan dengan Lusiana mendengar teriakan adiknya.

“Nona, maaf aku harus pergi mengurus adikku!” Pamitnya pada Lusiana.

“Ya-ya, aku yang seharusnya meminta maaf pada Tuan,” balasnya.

Anan masuk ke dalam kerumunan, dia berjalan mendekati Wilda dan melihat lengan adiknya berdarah.

“Wilda, apa yang terjadi?” tanyanya.

“Kakak, wanita ini datang dengan pisau di tangannya, dia menabrakku dan membuatku terluka! Aku adalah putri kerajaan, kalau aku cacat siapa yang mau menikahiku? Kakak! Kamu harus menghukum wanita ini!”

Anan sebenarnya tahu, ketika Lusiana tiba-tiba mengambil langkah ke samping tadi, jelas-jelas pisau itu ditujukan untuk Lusiana bukan untuk Rena. Anan terus menatap ke arah Lusiana yang berdiri tenang di belakang kerumunan.

Lusiana berjalan selangkah demi selangkah, gerakannya sangat tenang dan berkarisma.

“Putri Wilda, salam hormat,” Lusiana membungkuk untuk memberikan salam padanya.

“Kamu, siapa?”

“Aku Lusiana, putri Raja Yudistira, dan Rena adalah saudariku,” ujarnya,

Rena yang masih berlutut terlihat sangat kesal.

Lusiana! Kalau bukan karena kamu, aku tidak akan pernah dipermalukan seperti ini! Wanita sialan! Aku akan membalasmu nanti!

“Kenapa Putri menyela? Apakah aku tidak boleh menghukum adikmu? Dia benar-benar membawa pisau dan pasti memiliki niat buruk terhadapku!”

Lusiana tidak hanya pandai dalam meracik ramuan kecantikan, dia juga pandai merawat kulitnya hingga semua bekas luka bopeng di wajahnya memudar.

“Sebagai gantinya bagaimana jika aku merawat bekas luka di lengan Putri? Aku janji akan merawatnya sampai tidak membekas lagi,” tuturnya dengan senyum lembut.

“Oke! Kalau begitu kali ini aku akan melepaskanmu! Wanita kurang ajar!” balas Wilda seraya memarahi Rena.

“Terima kasih, Putri Wilda.”

Lusiana mengulurkan tangan untuk membantu Rena berdiri. “Rena sayang, ayo berdiri!”

“Lusiana, kamu sengaja menghindar dan membuatku dipermalukan!” desisnya.

Lusiana berpura-pura memeluk Rena. “Adikku sayang, tenanglah, kamu harus banyak belajar jika ingin mencelakaiku....”

Anan melihat dari samping Wilda, dia tahu hubungan Lusiana dengan Rena hanya terlihat baik di luarnya saja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel