Bab 4 Racun cacar
‘Racun cacar’
Di sisi lain, Andi sudah mendapatkan laporan tentang perkembangan Lusiana. Salah satu pelayan yang dia tugaskan datang ke penginapan untuk melaporkan semua yang terjadi baru-baru ini.
“Yang-mulia, baru-baru ini Putri Lusiana lebih banyak menghabiskan waktu untuk meracik obat-obatan, dia juga mengirimkan ramuan untuk Nona Rena. Menurutnya ramuan itu sangat bagus untuk kesehatan, belakangan ini hanya itu saja yang terjadi.”
“Selain itu, bagaimana kondisinya? Apakah dia masih tidak ingat tentang masa lalunya?”
“Ya, Putri Lusiana hanya fokus untuk memulihkan diri, dia juga mempelajari beberapa bahan untuk membuat krim,”
Andi mengernyitkan keningnya. “Si jelek gendut itu ingin membuat krim?”
“Ya, benar, itu untuk mengobati iritasi di kulit wajahnya,” lanjut pelayan itu.
Andi menyunggingkan senyum licik, dia tahu sejenis racun. Dan dia bisa menggunakan racun itu dengan dicampur krim milik Lusiana, dengan begitu efeknya akan lebih mudah. Racun itu tidak sungguh-sungguh akan membunuhnya secara instan tapi bekerja secara perlahan. Setelah rutin menggunakan krim baru efeknya akan bisa dirasakan.
Andi sudah menyiapkannya, malam tadi penjaga yang dia perintahkan untuk membelinya sudah mengantarkan barang itu. Andi mengambil botol racikan racun lalu dia serahkan pada pelayan yang dia tempatkan di sisi Lusiana untuk terus mengawasinya.
“Kamu campurkan obat dari Barat ini pada krim yang dibuat Lusiana. Setelah satu minggu memakainya tubuhnya akan menjadi lemas dan tidak bertenaga! Racun ini memiliki efek lambat tapi menyerang sel-sel di dalam tubuh. Tidak hanya wajahnya yang akan memiliki ruam-ruam merah seperti cacar kulit! Dia juga tidak akan pernah bisa punya anak! Lakukan perintahku, jangan menunda lagi!” perintahnya dengan senyum licik. Dia pikir dengan begini dia tidak akan merasa cemas lagi.
Pelayan itu segera meninggalkan penginapan dengan patuh untuk melakukan perintah Andi.
Andi terlihat sangat senang, dia memesan beberapa menu di restoran dekat penginapan. Pria itu menuang anggur ke dalam gelas, dia ingin merayakannya.
“Setelah wajahnya menjadi sangat jelek dan tubuhnya menjadi lemas maka dia tidak akan memiliki alasan lagi untuk menolak pernikahanku dengan Rena! Hahahaha! Raja Yudistira juga pasti akan memberikan restu pada aku dan Rena! Karena Lusiana juga akan mandul setelah menggunakan krim beracun itu! Hahahaha!”
Di luar restoran, Lusiana bersama Sisil sedang membeli beberapa barang yang dia butuhkan. Dia melihat Andi sedang duduk sendiri di meja restoran. Pengawal yang menemani pria itu berdiri agak jauh.
“Sisil, bukankah itu Andi?”
“Ya, benar, itu Pangeran Andi,”
“Menurutmu haruskah aku pergi menyapanya?” tanyanya.
“Belakangan ini yang saya dengar dari para pelayan beliau beberapa kali bertemu dengan Nona Rena, lebih baik kita kembali saja ke Istana,” bujuknya.
Semua orang sebenarnya sudah tahu kalau Andi sangat tertarik pada Rena bukan Lusiana. Melihat Lusiana selalu peduli dan perhatian pada Andi yang diam-diam berselingkuh di belakang punggung Sang Putri membuat Sisil merasa kasihan pada Lusiana.
“Kenapa kamu menghalangiku bertemu dengannya? Eh? Bukannya pria itu adalah calon suamiku?” Lusiana sengaja menanyakan itu pada Sisil.
Sisil menghela napas panjang dan dia tidak menahan langkah Lusiana lagi.
Melihat Lusiana berjalan dengan anggun ke arahnya, Andi yang hampir meminum minumannya langsung menumpahkannya.
“Lu-Lusiana? Ka-kamu bagaimana bisa datang ke sini?” Andi sangat gugup, dia selalu khawatir Lusiana akan membongkar aibnya.
Lusiana membungkuk di depannya lalu menuang minuman ke dalam cangkir Andi. Dia tersenyum lembut dan berpura-pura ramah. “Pangeran Andi, Anda terlihat tidak baik-baik saja, kenapa tidak segera kembali? Anda juga menolak tinggal di Istana kerajaan tapi malah tinggal di penginapan, lihatlah Anda menjadi tidak terurus begini,” ujarnya sambil menyodorkan cangkir itu di depannya.
Wanita sinting ini, dia sudah sangat jelek tapi masih menghinaku! Apa maksudnya dia bilang aku tidak terurus! Apa dia benar-benar hilang ingatan atau hanya berpura-pura?! Dia dulu selalu memujiku, aku yakin wanita ini hanya berpura-pura!
Lusiana melihat matanya, Andi menatapnya dengan tatapan kesal, marah, jijik, dan curiga.
“Apa Yang-mulia baik-baik saja?” tanya Lusiana.
“Ya, aku baik-baik saja, kenapa kamu tidak pulang dan malah berkeliaran di restoran minuman?”
“Ah, ini, aku membeli wadah obat, ini untuk tempat krim. Aku datang ke sini hanya untuk menyapa,” Gumamnya sambil menunjukkan beberapa wadah salep yang dia beli dari toko. “Kalau begitu, Pangeran lanjutkan, aku akan kembali ke Istana,”
Andi melihatnya sekilas lalu kembali acuh.
“Ya, pulanglah!” ujarnya dengan nada mengusir.
***
Di kamar Lusiana, pelayan yang ditugaskan Andi untuk mencampurkan racun sudah selesai melakukan tugasnya lalu diam-diam menyelinap keluar.
Ketika Lusiana tiba di dalam kamarnya, dia mengeluarkan wadah krim dari bungkusnya. Dia sengaja membeli wadah krim yang sama persis dengan milik Rena. Dia memasukkan krim buatannya ke dalam wadah. Saat melakukan itu dia menyadari spatula yang biasanya dia gunakan. Benda itu terlihat penuh dengan gumpalan krim di ujungnya. Selama ini saat dia menggunakan masker benda itu selalu dia cuci bersih. Saat mengamatinya lebih lanjut Lusiana mencium aromanya, dan dia merasakan aroma obat yang lebih pekat seperti racun!
Sisil sejak tadi berdiri di sana, dia langsung bertanya karena melihat kening Lusiana mengernyit.
“Ada apa, Yang-mulia?”
Lusiana menggelengkan kepalanya lalu menutup wadah salep buatannya.
“Kamu berikan ini untuk Rena, bilang saja aku membelinya di toko langganannya!” Lusiana mengukir senyum lembut saat menyerahkan barang itu.
“Baik, Yang-mulia,” ujarnya.
Setelah Sisil pergi, Lusiana membuang semua krim buatannya itu dan meminta pelayan untuk membersihkan sisa-sia racikannya.
“Kenapa Yang-mulia membuang semua ini? Anda membuatnya dengan susah payah,” tanya Aning.
“Aku tidak membutuhkannya lagi, pastikan kamu benar-benar membuangnya ke dalam selokan!” jawabnya singkat.
“Baik, Yang-mulia!”
Setelah semua orang keluar, pada sore hari Lusiana diam-diam menyelinap keluar, dia ingin mengamati apa yang terjadi.
Di kediamannya tidak ada hal-hal aneh, hanya dua pelayan baru yang terus mengawasi gerak-geriknya.
Pelayan itu terus mengikutinya ke mana pun dia pergi. “Kenapa kalian mengikutiku?”
“Kami hanya khawatir pada Yang-mulia,” jawab mereka.
Lusiana sengaja pergi sebentar ke dapur lalu masuk kembali ke dalam kamar. Dia menggunakan krim yang baru untuk merawat wajahnya, dan dua pelayan itu menatapnya dengan wajah antusias. Kedua bola mata mereka terlihat bersinar dan bersemangat. Lusiana merasa penasaran jadi dia sengaja mengujinya.
Kalian sepertinya terlihat bersemangat sekali, tidak sabar melihatku memakainya, oke, aku akan menunjukkan tontonan yang menarik di depan kalian!
“Kenapa? Apa kalian ingin mencobanya?”
“Ti-tidak! Kami merasa kulit Anda menjadi lebih halus dengan krim itu, Yang-mulia sangat cocok memakainya!”
Lusiana berjalan mendekat dan mengoleskan krim buatannya ke wajah dua pelayan itu.
“Yang-mulia, tidak!”
“Jangan! Kami tidak mau memakainya!”
Dua orang itu langsung panik dan kabur untuk mencuci wajah masing-masing. Sisil melihatnya jadi dia segera mendekati Lusiana.
“Yang-mulia, apa yang terjadi pada mereka?”
“Entahlah, aku tidak tahu, mereka sepertinya sangat takut, reaksinya yang histeris seperti sedang terancam, seolah-olah memakai racun! Apa kamu tahu dari mana para pelayan itu berasal?” tanyanya.
“Aku dengar dari pelayan lain, mereka adalah hadiah yang diberikan pada Anda dari Pangeran Andi, Pangeran Andi ingin merawat Anda dengan baik jadi mengirim mereka ke sini.”
