Bab 4. SOMEONE NEW
Liviana mencengkeram dasbor sewaktu Kalina membelok di tikungan berikutnya.
Ban mobil berdecit. Mobil tergelincir ke bahu jalan lalu naik lagi ke jalan.
"Kalina ... hati-hati!" pekik Liviana.
"Dia masih di belakang kita!" seru Kalina dengan suara bergetar. "Dia nyaris menabrak bumper belakang kita! Apa yang harus kita lakukan?"
"Tenang dulu!" seru Liviana. "Ini pasti bagian dari lelucon juga. Jangan bicara soal pengintai lagi. Sekarang putar mobil ke rumah Mr. Richie. Dia pasti akan kabur begitu kita tiba di tempat pesta."
"Apa kau sudah gila?!" seru Kalina, kedua tangannya mencengkeram setir mobil. "Kalau dia membuntuti kita ke rumah Mr. Richie—"
"Dia pasti akan kabur!" potong Liviana dengan tegas. "Dia takkan berani ikut masuk ke rumah. Kita aman di sana."
"Tapi ...."
"Apa kamu punya ide yang lebih baik sekarang?" tukas Liviana sambil mengerutkan alisnya makin dalam.
"Tidak," jawab Kalina. "Kau betul."
Kalina berbelok ke kiri di lampu merah berikutnya dan melajukan mobil dengan kencang ke arah rumah Mr. Richie.
Namun, setiap kali Kalina berpindah jalur, mobil yang di belakang mereka juga ikut berpindah. Sewaktu Kalina mempercepat atau memperlambat laju mobil, mobil itu juga menyesuaikan kecepatannya, terus menguntit mereka.
"Setiba di rumah Mr. Richie, aku akan langsung menelepon polisi," janji Kalina.
***
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Kalina tiba di jalan mobil yang melingkar dan lebar di depan rumah Mr. Richie. Begitu juga dengan mobil sang penguntit yang berhenti tepat di belakang mereka.
"Bagaimana sekarang?" seru Kalina. Dia menarik rem tangan dan memandang ke arah kaca belakang. "Aku tidak mau keluar kalau dia masih di sana!"
"A ... aku tak tahu harus berbuat apa," ucap Liviana dengan tergagap-gagap. "Mungkin sebaiknya kamu bunyikan klakson ...."
Kalina melirik ke kaca spion, tampak wajahnya tegang ketakutan. Liviana melihat sorot matanya yang ketakutan.
"Oh, tidak!" pekik Kalina tertahan. "Dia keluar dari mobilnya dan dia hendak menuju ke sini! Kita terjebak!"
"DANIEL!" seru Kalina lega. Ya, ternyata orang yang keluar dari mobil itu adalah Daniel.
"Huh, ternyata dia!" geram Liviana. Dia membuka pintu mobil dengan segera melompat keluar lalu menghadang Daniel. "Kenapa kau menguntit kami?!"
"Woo ...." kata Daniel seraya menyengir. Matanya berbinar diterangi sinar lampu mobil. "Aku cuma bercanda kok. Hanya untuk menakut-nakuti kalian."
"Bercanda kau bilang?!" pekik Kalina dengan suara melengking. "Kau hampir melemparkan kami dari jalan!"
"Sori." Cengiran Daniel makin lembar hingga menunjukkan deretan gigi putihnya. "Aku rasa aku cuma ingin dekat lagi dengan Liviana."
Liviana menghela nafas. "Daniel begitu kekanak-kanakan," pikirnya. "Aku tidak peduli meskipun dia manis."
"Liv," bisik Daniel sambil mendekati Liviana, sangat dekat hingga Liviana dapat mencium nafas Daniel yang beraroma peppermint. "Aku mau bicara."
Liviana menjauh. Dia menjadi marah karena Daniel berani mendekatinya. "Hanya dalam mimpimu!" sahut Liviana ketus tanpa memperdulikan raut wajah Daniel yang terluka. Setelah itu Liviana menyusul Kalina yang telah terlebih dulu berjalan menuju ke rumah Mr. Richie.
Liviana membuka pintu. Dia disambut oleh dentuman musik, suara gelak tawa dan suara orang-orang yang sedang berbincang dengan suara keras-keras. Rangkaian balon berwarna warni menempel di langit-langit ruang tamu Mr. Richie.
"Wah, coba lihat siapa yang datang," seru Mr. Richie seraya menghampiri Liviana dan Kalina. "Nona pemeran utama!"
"Terima kasih, terima kasih," kata Liviana sambil membungkuk dalam-dalam.
"Pizza dan soda ada di meja dekat perapian," kata Mr. Richie. "Ambillah makanan, lalu segera kembali ke sini. Aku ada pengumuman penting."
"Pizza, hmm! Aku lapar," ujar Liviana.
"Aku juga," sahut Kalina. "Tapi aku memang selalu lapar sih. Hahaha."
Akhirnya Liviana dan Kalina bersama melangkah menuju meja makan hendak mengambil makanan. Ketika berjalan ke meja makanan, Liviana dapat melihat hampir seluruh anggota klub drama sudah hadir. Dia pun melihat Aline yang sedang berbincang dengan Jordan.
"Aku harus menanyakan perihal mawar hitam dan surat tadi pada Jordan," gumam Liviana yang mengingatkan dirinya.
"Hei, siapa pemuda tampan itu?" tanya Kalina ketika Liviana menuang minuman ke dalam gelas kosong. Mata Liviana akhirnya beralih ke arah pemuda yang dimaksud oleh Kalina. Di sebelah Mr. Richie kini tengah berdiri seorang pemuda tampan nan tinggi.
Liviana memperhatikan pemuda itu. Pemuda itu memiliki rambut cokelat yang sedikit panjang. Matanya yang hitam dengan sorot mata tajam. Mulutnya yang serius saat berbicara, tetapi terlihat lembut.
"Aku belum pernah melihatnya," jawab Liviana. Dia terlihat lebih dewasa bila dibandingkan dengan para pemuda yang ada di pesta itu. Liviana terkejut ketika dengan tiba-tiba pemuda itu menolehkan pandangan ke arahnya, pemuda itu memandang Liviana seolah dia kenal dengannya.
"Perhatian semuanya!" seru Mr. Richie. "Berkumpullah ke sini."
Liviana mengisi piringnya dengan pizza dan potato chips, lalu dengan hati-hati berjalan menuju kursi yang berada agak di depan.
"Ini Felix Langley," kata Mr. Richie yang merupakan seorang pelatih drama itu, menunjuk pemuda yang ada di sampingnya. "Dia mahasiswa drama tingkat dua di West End Junior College. Sebagai bagian dari kuliahnya, Felix akan bergabung dengan kita selama sisa semester ini. Dia akan ikut di kelas akting drama dan membantu kita mempersiapkan drama musim semi."
"Aneh," bisik Kalina pada Liviana. "Selama ini kita belum pernah menerima orang luar."
Liviana nyaris tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kalina. Matanya terus terpaku pada pemuda yang berada di sebelah Mr. Richie itu. Pemuda itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, sesekali menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada setiap orang. Namun, Liviana ingat bagaimana pandangan pemuda itu tadi.
"Sepertinya aku pernah melihatnya," bisik Liviana kembali pada Kalina.
"Kalau aku pernah melihatnya, aku pasti ingat!" goda Kalina. "Kuharap dia mau menjadi petugas panggung."
Liviana berpaling pada sahabatnya itu sembari tersenyum. "Kenapa kamu tidak menanyakannya sendiri?"
Kalina menyeringai. Dia bangkit dengan susah payah dari kursi di samping Liviana, lalu berjalan melangkah menghampiri Felix dan Mr. Richie. Beberapa saat Liviana melihat mereka berbincang, lalu Kalina pergi mengambil makanan lagi.
Liviana sedang berpikir-pikir untuk mengambil makanan juga ketika Felix tiba-tiba duduk di kursi sebelahnya yang kosong.
"Hai," sapa Felix sembari tersenyum menawan. "Sejak dulu aku ingin berkenalan denganmu. Aku Felix."
"Selamat datang di kota kami," balas Liviana yang juga tersenyum. "Aku Liviana."
"Semua orang pasti tahu siapa dirimu," kata Felix. "Aku sudah menonton semua drama tahun ini. Kamu sangat berbakat."
"Terima kasih," kata Liviana dengan suara yang bergetar, dia merasa agak malu.
"Mungkin kamu sudah terbiasa mendapatkan pujian," lanjut Felix. "Kamu mempunyai bakat alam. Waktu kamu menggantikan Terry dua tahun yang lalu, menurutku aktingmu bagus sekali. Itu peran utama pertamamu, 'kan?"
"Um, yeah," jawab Liviana. "Darimana kamu tahu?"
"Aku menontonnya," jawab Felix.
"Kamu bercanda!" seru Liviana sembari mengangkat kedua alisnya, heran.
"Sudah dua tahun penuh Felix menontonnya?! Dan dia masih ingat bagaimana aktingnya waktu itu," pikir Liviana sambil menatap Felix. Liviana bermenatap lebih dalam, dia merasa ada yang amat dikenalnya pada pemuda itu ....
