Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. BAD SURPRISE

"Hampir semua dramamu sudah ku tonton," ujar Felix. "Menurutku kamu hebat, prestasimu di sekolah terus meningkat, meskipun kamu main drama banyak sekali. Cuma sedikit orang koh yang bisa begitu."

"Yah, aku memang harus berprestasi kalau ingin melanjutkan ke perguruan tinggi." Liviana menyahuti perbincangan dengan ogah-ogahan. Kepalanya menjadi pusing karena memikirkan bagaimana Felix bisa mengetahui tentang prestasinya di sekolah.

"Kamu sepertinya tahu banyak tentang diriku," kata Liviana, dia berusaha riang.

Felix menatapnya tajam. "Aku juga tahu banyak tentang keseluruhan kelas drama ini," katanya menjelaskan. "Lagi pula, aku 'kan bergabung dengan kelasmu."

Sesaat Liviana terdiam, dia merasa ada yang sangat aneh dengan minat Felix terhadap dirinya. Sejak duduk di sebelahnya, pemuda itu terus menerus memandanginya. Liviana pun memperhatikan wajahnya, tapi yang dilihatnya di sana hanya ada keramahan.

"Kapan kamu akan mulai bergabung?" tanya Liviana kemudian.

"Di saat seleksi pemeran Romeo dan Juliet," jawabnya. Lalu tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya mendekati Liviana dan berbisik, "Aku sudah tidak sabar melihatmu jadi Juliet."

Liviana tidak tahu harus bersikap bagaimana. Felix terus menatap dirinya. Manik hitam Felix terasa seperti menusuk.

"Felix!" Suara Mr. Richie menyadarkan Liviana dari lamunannya. "Kemari lah. Aku ingin memperkenalmu dengan seseorang."

"Baiklah, sampai nanti," kata Felix sembari tersenyum, lalu bangun dari duduknya dan melangkah pergi. Sekali lagi senyuman Felix meluluhkan hati Liviana.

"Mencoba akrab dengan anggota baru, hmm?" Liviana menengadah ketika Kalina menjatuhkan dirinya ke kursi.

"Begitulah," jawab Liviana, masih merasa agak linglung. "Dia hebat sekali."

"Dan manis." Kalina menambahkan.

"Oh, betulkah? Kenapa aku tak menyadarinya," kata Liviana dengan nada bercanda. Tidak lama kemudian saat dia mengedarkan pandangannya, Liviana melihat Jordan sedang duduk sendirian di pojok ruangan. Liviana bangkit dari duduknya. "Aku akan segera kembali."

Liviana melintasi ruangan dan duduk di sofa sebelah Jordan. "Hai, teman!" sapa Liviana. Tubuh yang didudukannya membal sedikit di sofa.

"Hei, Moon," jawab Jordan dengan lesu.

"Ada apa?" tanya Liviana. "Kamu tampak murung."

"Kenapa?" sahut Jordan dengan nada ketus. "Memangnya ada peraturan yang mengharuskan orang selalu bergembira?"

"Tidak, tentu saja tidak," sahut Liviana, dia bergerak menjauh dan membatin, "Kenapa Jordan mendadak mudah tersinggung begini?"

"Oh iya," kata Liviana perlahan. "Apakah tadi kamu meninggalkan hadiah buat aku di sekolah?"

"Hah? Hadiah apa?" tanya Jordan dengan heran, terlihat dari alisnya yang mengerut.

"Buket mawar hitam yang indah di loker-ku?" balas Liviana.

"Kau gila?!" tukas Jordan. "Bicara apa kau ini?"

"Tenang! Aku hanya bertanya," kata Liviana. Dia mencebikan bibirnya. "Ada seseorang yang mengirimiku buket bunga, kupikir orang itu mungkin saja kamu. Kamu kan selalu bikin lelucon."

"Yah, akhir-akhir ini aku tidak sedang ingin bercanda," gerutu Jordan. "Lagi pula mawar hitam itu rasanya tak terlalu lucu."

Liviana mengangguk, lalu melanjutkan perkataannya. "Selain itu aku juga mendapatkan surat. Isi surat itu, inilah malam terakhir penampilanku."

Jordan memandang Liviana dengan mulut menganga karena kaget. "Itu lelucon? Itu sinting!" pekiknya.

"Sebenarnya bukan masalah bagiku," kata Liviana. "Tapi setelah ada orang yang memanjat tangga dan mengintip aku dan Kalina dari jendela kamarku. Kami jadi mempunyai dugaan lain."

Jordan menelan ludahnya kala mendengar cerita Liviana. "Mungkin sebaiknya kau ceritakan itu semua pada Mr. Richie. Atau laporkan saja ke polisi, tunjukkan surat itu."

Liviana terdiam sesaat, dia sedang memikirkan apa yang telah Jordan katakan. "Mungkin aku akan menceritakan kepada Mr. Richie." Akhirnya Liviana bangun dari tempat duduknya dan menyeberangi ruangan untuk menghampiri gurunya yang tidak biasanya berdiri sendirian.

"Ada apa Liviana?" tanya Mr. Richie saat Liviana menghadapnya. "Kau tampak serius."

"Ya, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda," jelas Liviana. "Mungkin bukan apa-apa, tapi ...."

Belum sempat Liviana meneruskan, terdengar suara pintu depan digedor-gedor begitu keras sehingga mengalahkan suara musik dan suara orang-orang yang ada di ruangan yang penuh sesak itu.

"Hah?" Liviana terkesiap dan menolehkan kepalanya ke arah pintu, begitu juga dengan para tamu yang lainnya.

Pintu terbuka pelan-pekan.

Erangan dari luar membelah ruangan yang tiba-tiba menjadi sunyi. Lalu sosok yang sudah tidak asing itu terhuyung-huyung memasuki ruang tamu.

Liviana terkesiap kaget. "DANIEL!" Wajah yang biasanya terlihat tampan itu sekarang berlumuran darah.

"Tolong!" rintih Daniel. "Liviana!"

Daniel melangkah sempoyongan. Tangannya yang berlumuran darah terulur ke arah Liviana, lalu sambil mengerang dia terjatuh di dekat kaki Liviana. Daniel tergeletak di situ, tidak bergerak.

"Aahh ...." Liviana menjerit. Dia memandang Daniel yang tergeletak di kakinya. Daniel terbaring di genangan darah yang menghitam.

Nafas Liviana tersengal-sengal. Pikirannya kalut. Dia terdiam membeku, begitu takut bergerak. Begitu takut menolong Daniel.

Daniel kembali bergerak dan mengangkat kepalanya. Dia mengerang. "Lebih baik aku mati daripada harus hidup tanpa kamu, Liviana."

Liviana terkesiap, badannya menjadi gemetar. "Seriuskah dia? Benarkah Daniel bunuh diri karena dirinya," tanya Liviana dalam hati.

"Daniel ... jangan!" Liviana menjerit.

Daniel tiba-tiba bangun. Menarik sapu tangan dari sakunya. Dia mengelap darah di wajahnya, lalu menyengir. "Haha ... siapa aktor paling hebat di sini?"

"Kau ... kau ... GILA!" teriak Liviana.

Daniel mendongakkan kepala dan tertawa. "Ayolah, Liv! Kau tak bersungguh-sungguh mengira aku mau mati demi dirimu, 'kan?"

Liviana melotot tajam ke arah Daniel. Dia sadar semua orang yang ada di ruangan itu sedang memperhatikan dirinya. Orang-orang itu pasti sedang menertawakannya.

Daniel menggelengkan kepalanya. "Wow, Liv. Kau pasti orang yang paling besar kepala di muka bumi ini."

Dengan wajah yang memerah, Liviana berbalik membelakangi Daniel. Terdengar suara gelak tawa, orang-orang pun mulai berbisik.

Liviana mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya.

"Hebat sekali, Daniel." Liviana berusaha membuat suaranya sedingin es. "Kamu berhasil memenangkan Academy Award untuk kategori peran paling menyebalkan."

"Ulahmu tadi konyol sekali, Daniel!" tukas Mr. Richie dengan nada galak. "Kau benar-benar membuat kami ketakutan."

Daniel berdiri. "Saya tidak bisa menahan diri. Saya cuma ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa saya bisa akting. Sekarang semua orang tahu siapa yang pantas menjadi Romeo!" ujar Daniel.

"Aku tak tahu apakah kami ingin kau tampil di drama musim semi nanti!" kata Mr. Richie sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tingkahmu tadi sungguh ...."

"Itu cuma lelucon!" protes Daniel.

"Dan kami jadi terbahak-bahak," sahut guru itu kasar kemudian dia berbalik menuju ke tempat CD player. "Ayo, putar lagi musiknya, oke?"

Liviana yang ingin menghirup udara segar, dia segera menyeberangi ruangan hendak menuju pintu teras belakang.

"Aku heran kau pernah kencan dengan pemuda itu," bisik seseorang yang bersuara dalam.

Karena terkejut, Liviana yang sudah memegang pegangan pintu teras belakang tidak jadi memutarnya. Dia menoleh ke sumber suara dan melihat wajah tampan Felix. "Bagaimana kamu tahu hubunganku dengan Daniel?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel